
Malam itu acara doa bersama berjalan lama dari biasanya karena tamu yang datang lebih banyak daripada dua hari sebelumnya, sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk membagikan makanan dan juga kue tiga macam yang sudah disiapkan sebelumnya. Entah sengaja atau tidak, saat aku mencuci piring kotor, tiba-tiba Pak RT datang dengan membawa setumpuk piring dan diletakkan di samping saya.
"Mau dibantuin, Dik Sinta?" sapanya pelan.
"Eh ... Tidak usah," jawabku gelagapan karena terkejut dengan munculnya Pak RT yang tiba-tiba itu.
Tidak hanya sekali, Pak RT membantu mengangkut piring kotor dari depan ke dapur. Ia melakukannya sebanyak dua kali. Selama dua kali itu pun ia sempatkan untuk berbicara kepadaku. Jujur, aku risih sebenarnya dengan keberadaannya, tapi tidak mungkin aku bereaksi terlalu berlebihan.
"Sudah dilihat videonya, Dik?" tanyanya lagi.
"Belum semua, Pak," jawabku berusaha santai.
"Kalau sudah kabari, ya?" tanyanya lagi.
"Iya," jawabku singkat.
Untunglah semua piring sudah selesai diangkut oleh orang-orang. Kalau tidak, aku bisa mati risih di sini.
Saat itu aku merasa tidak nyaman menyelesaikan pekerjaan itu setelah kemunculan Pak RT itu. Tapi, karena memang niatku menginap di sini untuk membantu Mbak Ning, aku pun melanjutkan pekerjaan sampai selesai dibantu oleh Bu Dibyo, Mbak Srintil dan beberapa ibu yang lain.
"Til, kamu ini ganjen juga ternyata, ya, masa suami saya yang umurnya jauh di atasmu, pantasnya jadi bapakmu, juga mau kamu embat?" ledek Bu Dibyo.
"Kenapa tidak, Bu? Saya lihat Pak Agung masih sehat, kok. Dan lumayan ganteng, kan? Pekerjaan juga oke, jadi anak-anak saya tidak akan terlantar. Saya rasa Pak Agung tidak akan menolak kalau disuruh menikahi saya menjadi istri kedua. Palingan istri pertamanya yang nggak bisa ikhlas," goda Mbak Srintil.
"Oooo ... Dasar gragas kamu, Til!" umpat Bu Dibyo yang disambut tawa cekikikan oleh Mbak Srintil.
Akhirnya Mbak Srintil mengetahui titik lemah untuk merundung balik Bu Dibyo yang selama ini selalu merundungnya.
Malam itu pekerjaan di dapur selesai agak malam. Aku sengaja memberi uang kepada Mbak Srintil dan Bu Dibyo sebagai ucapan terima kasih atas bantuannya.
"Duh, uang apa ini, Mbak?" tanya Bu Dibyo.
"Nggak usah repot-repot, Mbak. Kami ikhlas membantu di sini. Namanya juga tetangga," jawab Mbak Srintil.
"Ambil saja, Bu ... Mbak ... Ini tidak seberapa dibanding bantuan kalian. Anggap saja ini sedekah untuk almarhumah Bude Yati.
" Terima kasih, Mbak. Semoga Bu Yati ditempatkan di surga-Nya. Aamiiin," jawab Mbak Srintil.
"Aamiiiin," jawabku.
__ADS_1
Pukul sepuluh malan semua penghuni rumah sudah terlelap dan baru terbangun keesokan harinya. Pada saat tengah malam sebenarnya saya mendengar suara langkah seseorang lewat di depan kamar yang aku tempati, tapi karena aku tak kuat menahan kantuk, aku pun melanjutkan tidurku kembali.
"Tumben nggak salat tahajud, Dik?" sapa suamiku pas azan Subuh.
"Ngantuk banget, Mas," jawabku.
"Kecapekan ya, seharian membuat kue ?" tanya Mas Diki.
"Iya, Mas. Untung dibantuin para tetangga. Kalau tidak, entahlah ...," jawabku.
"Apakah hari ini kita akan menginap lagi, Dik?" tanya Mas Diki.
"Hari ini kita pulang saja, ya, Mas. Hari keenam dan ketujuh baru kita menginap lagi," jawabku.
"Hm ... baiklah, Dik. Ngomong-Ngomong sudah lama loh ...," ujar Mas Diki.
"Apanya yang lama, Mas?" tanyaku.
"Pak Taninya lama tidak mengunjungi sawah untuk bercocok tanam," jawab Mas Diki.
"Hm ... nanti saja, ya, Mas kalau sudah di rumah," jawabku.
"Emang kenapa kalau di sini, Dik?" tanya Mas Diki.
"Pak Taninya kan bisa pelana-pelan pas bercocok tanam, Dik?" desak Mas Diki.
"Bisa ditahan sampai nanti saja, nggak?" tanyaku.
"Kayaknya Pak Taninya sudah nggak sabar, Dik," jawab Mas Diki.
Akhirnya kami berdua pun melaksanakan salat Subuh secara berjamaah setelah menghabiskan stok shampo di kamar mandi Mbak Ning.
*
Seperti biasa aku membersihkan rumah Mbak Ning. Hari itu cukup banyak sisa-sisa sampah gelas air mineral yang harus aku singkirkan. Aku sengaja mengumpulkannya dengan cara memasukkannya ke dalam sak plastik. Biasanya nanti siang datang pemulung yang akan mengambil gelas bekas air mineral itu untuk dijual ke tempat penjualan besi tua. Lumayan lah, kami dapat bersihnya, pemulung itu dapat uangnya. Biasanya kami sengaja memberi uang kepada pemulung itu sebagai ucapan terima kasih sudah mau mengambil sisa-sisa gelas air mineral di tempat kami.
Mas Wisnu sudah bangun untuk menunaikan salat subuh. Setelah salat Subuh, Mas Wisnu menyapaku.
"Mbak Ningmu kayaknya nggak enak badan, Dik Shin," ujarnya.
__ADS_1
"Oh ya? Mungkin kecapekan ya, Mas," jawabku.
"Entahlah. Semalam ia sempat mengigau," jawabnya.
"Sudah diberi obat, Mas?" tanyaku.
"Sudah. Sekitar jam dua dia minum paracetamol, alhamdulillah bisa tidur nyenyak meskipun badannya masih anget," jawab Mas Wisnu.
"Duh, semoga segera pulih, ya, Mas. Soalnya kami rencananya mau pulang dulu hari ini," jawabku.
"Loh. Nggak mau menginap lagi?" tanya Mas Wisnu heran.
"Nanti, kami mau menginap lagi pas hari keenam dan ketujuh. Sekarang, kami mau pulang dulu. Mau beberes rumah dan butik juga, Mas," jawabku.
"Iya sudah, Dik. Nggak apa-apa kalian pulang dulu," sela Mbak Ning tiba-tiba muncul dari balik kamar sambil memegang kepalanya.
"Eh, Mbak Ning. Gimana keadaanya, Mbak? Kata Mas Wisnu badanmu panas semalam?" tanyaku.
"Alhamdulillah, sudah mendingan, Dik. Iya semalam tiba-tiba badan saya demam dan nggak bisa tidur," jawab Mbak Ning.
"Mbak Ning nggak apa-apa kalau kami pulang hari ini?" tanyaku merasa tidak enak.
"Nggak apa-apa, Dik. Tapi, nanti harinkeenam balik lagi, kan?" tanya Mbak Ning.
"Iya, Mbak. Tapi, saya kepikiran dengan sampean, Mbak," jawabku.
"Saya tidak apa-apa, Dik. Biar nanti agak siangan, saya mau minta antar ke Mas Wisnu ke tempat praktik dr. Ilham di RW sebelah," jawab Mbak Ning.
"Oh, ya sudah kalau begitu. Terima kasih banyak ya, Mbak," jawabku.
"Iya. Saya mau salat Subuh dulu, Dik," ucapnya.
"Iya, Mbak," jawabku.
Mbak Ning pun berjalan ke kamar mandi dengan langkah terhuyung. Mas Wisnu membantu memapahnya dari kamar sampai ke kamar mandi.
"Semoga kamu hanya sakit biasa karena kecapekan, Mbak Ningrum," ucapku di dalam hati.
Aku menatap bagian belakang tubuh Mbak Ning yang melangkah dibantu oleh Mas Wisnu ke kamar mandi. Tapi, dari kamar mandi ke musala, Mbak Ning tidak mau dipapah, mungkin karena menjaga dari batal wudhu. Mbak Ning berjalan sambil tangannya berpegangan pada embok supaya tidak terjatuh karena kepalanya yang saat ini tengah pening.
__ADS_1
BERSAMBUNG
Jangan lupa like dan share-nya!