MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 43 : TEGA


__ADS_3

Pak Handoyo tidak melawan sedikitpun ketika dipukul oleh Pak Handoko. Wajahnya sampai lebam akibat mendapat jotosan telak di wajahnya. Perawakan mereka sebenarnya hampir sama, keduanya berbadan tinggi. Tapi badan Pak Handoko lebih berotot dibandingkan Pak Handoyo. Aku hwran, kenapa istri Pak Handoko bisa berselingkuh dengan adik iparnya. Padahal, Pak Handoko lebih ganteng. Mungkin, itulah yang dinamakan perangkap setan.


Ketika sudah terjadi seperti itu. Penyesalan pun tiada gunanya lagi. Meskipun Pak Handoko berkali-kali memukuli adiknya, semuanya tidak akan kembali seperti semula. Ia pasti sudah jijik melihat mereka berdua. Mirisnya, istrinya harua berselingkuh dengan adiknya sendiri.


Di dalam hati aku berpikir, semoga Clara tidak menyaksikan hal ini. Kalau itu sampai terjadi, pasti jiwanya akan terguncang akibat kelakuan orang dewasa yang seharusnya memberikan contoh yang baik untuk perkembangan psikis anak tersebut.


"Pukul aku terus, Mas! Kalau perlu bunuh saja aku, Mas. Kalau itu dapat menebus kesalahanku," teriak Pak Handoyo dengan keras.


BUKKK!


Sekali lagi pukulan telak dilayangkan Pak Handoko kepada adiknya.


"Kamu sangat mengecewakanku, Dik. Kamu tidak ingat bagaimana dulu kita tumbuh bersama? Ayah dan ibu pasti kecewa dengan apa yang sudah kamu lakukan!" teriak Pak Handoko lagi.


"Maafkan saya, Mas. Saya yang salah. Saya akan pergi. Saya adalah adik yang durhaka. Mas Handoko dulu selalu menjaga saya dengan baik. Apalagi semenjak ayah dna ibu kita meninggal, Mas Handoko satu-satunya orang yang menjaga saya," suara tangis Pak Handoyo.


Pak Handoko menangia sesenggukan di depan Pak Handoyo. tangannya berkali-kali memukul tanah karena kesal. Suara tangisnya semakin lama semakin keras. Kedua laki-laki itu sama-sama menangis.


"Tidak, Dik. Saya yang salah. Saya yang tidak bisa mendidik kalian berdua. Saya akan pergi dari tempat ini. Saya akan membawa Clara. Saya tidak ingin melihat wajah kalian berdua lagi. Saya juga tidak mau Clara dibesarkan oleh orang-orang seperti kalian. Semoga kalian berdua bisa hidup dengan bahagi- Aaaaaaaaaaaaahhh!!" ucap Pak Handoko diakhiri dengan pekikan.


"Mbaaaak! Tidaaaaaaaaaaaaak!" teriak Pak Handoyo dengan keras begitu melihat kakaknya dihunjam dengan pisau di bagian dadanya. Pak Handoko sempat memekik sebentar, sebelum akhirnya ia tewas di tangan istrinya sendiri.


"Ya Tuhaaaaan!!!" Aku terkejut dengan kejadian yang terjadi di depanku tersebut. Aku tidak menyangka seorang istri yang sudah ketahuan berselingkuh, tega membunuh suaminya sendiri.


"Maaaaaaaaaas!!! Maafkan saya, Maaaaas!" teriak Pak Handoyo di samping jasad kakak kandungnya. Sementara perempuan itu menatap jenasah suaminya dengan tatapan dingin. Entah twrbuat dari apa hati perempuan itu, sehingga bisa menjadi setega itu.


Aku tidak berani bergerak saat itu. Lama aku menyaksikan Pak Handoyo menangis. Kemudian perempuan itu berbicara pada Pak Handoyo.


"Cepat lempar mayat kakakmu ke kolam ikan itu. Sebentar lagi Clara datang diantar dari tempat lesnya diantar tukang becak langganannya. Kita harus membuat sandiwara seolah-olah kakakmu itu mati terjatuh di kolam ikan saat memancing, kalau kamu tidak ingin masuk penjara!" ancam perempuan iblis itu.


"Apakah Clara tidak akan curiga akan hal itu?" tanya Pak Handoyo sambil mengelap wajahnya dengan bajunyangbia pakai.

__ADS_1


"Anak sekecil itu tidak tahu apa-apa," jawab perempuan itu.


"B--b-baiklah!" jawab Pak Handoyo dengan tergagap.


Mereka berdua kemudian sibuk membuat alibi untuk mengelabui Clara.


Benar apa yang dikatakan oleh perempuanitu. Tidak sampai setengah jam, Clara pun datang. Mereka berdua sudah bersiap untuk berakting mengelabui anak perempuan kecil itu.


"Mana Papa, Ma, kok Clara nggak kelihatan, ya?" tanya Clara polos.


"Nak. Maafkan mama, ya, mama tidal bisa jagain Papamu," jawab perempuan itu sambil berpura-pura menangis.


"Emangnya papa kenapa, Ma?" tanya Clara.


"Papamu terjatuh di kolam ikan saat memancing. Dan ....," jawab perempuam itu.


"Papa tidak kenapa-kenapa, kan, Ma?" tanya Clara penasaran.


"Maafkan mama, ya, Nak?" ucap perempuan itu.


"Papamu meninggal dunia, Clara," jawab Pak Handoyo dengan terisak.


"Tidaaaaaaak!!! Mama dan Paman pasti berbohong!" protes Clara.


"Tidak, Nak. Kuatkan hatimu, ya! Masih ada mama dan pamanmu yang akan menjagamu," ucap perempuan itu.


"Tidaaaaaaaaak!!!!" Clara menjerit dan menangis sesegukan.


Mamanya Clara dan Pak Handoko tersenyum simpul.


"Dasar kalian berdua manusia bejaaat!" pekikku di dalam hati.

__ADS_1


Kemudian view di depanku berubah lagi. Di depanku Pak Handoyo dan Mamanya Clara terlihat sudah lebih tua. Mereka sedang berbincang-bincang.


"Mas, harta warisan Mas Handoko sudah habis kita jual untuk keperluan kita. Ke depannya kita makan apa, Mas? Mas kerja dong, masak aku terus yang kerja. Bayaranku murah, Mas. Tidak cukup untuk biaya hidup kita," protes perempuan itu.


"Diam kamu! Berani-beraninya kamu mengancam suamimu! Awas kamu mengulanginya lagi!" umpat Pak Handoyo.


"Tapi, Mas-" ucap perempuan itu.


"Diam! Tadi malam saya sudah pergi ke seorang dukun," jawab Pak Handoyo.


"Apa, Mas? Dukuuun?" tanya perempuan itu tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Iya. Kenapa? Dukun itu yang akan memberikan jalan kepada kita supaya bisa kaya. Bahkan leboh kaya dariMas Handoko," jawab Pak Handoyo.


"Tidak, Mas. Saya tidak mau!" jawab perempuan itu.


"Diam kau! Sebagai istri, kamu nurut saja. Tidak usah banyak protes!" jawab Pak Handoyo sambil mencekik leher istri kakaknya yang ia rebut.


"I-i-ya, Mas. Ta-ta-tapi saya takut," jawab perempuan itu sambil menahan rasa sakit di lehernya.


"Apa yang kamu takutkan?" tanya Pak Handoyo.


"Sa-sa-saya ta-ta-takut itu akan mem-mem-membutuhkan tu-tu-tumbal," jawab Mamanya Clara itu dengan terbata-bata.


"Ooo .. Jadi kamu takut mati?" ucap Pak Handoko sambil berusaha mencium wajah istrinya.


"Tenang! Saya tidak akan menumbalkanmu sekarang. Karena saya masih ingin kamu layani! Entahlah nanti kalau saya sudah menemukan penggantimu!" jawab Pak Handoyo dengan suara datar.


JEDDEEEEER!!!


Bagaikan disambar petir, perempuan itu tidak menyangka ia akan diperlakukan seperti ini. Ada rasa sesal di hatinya mengapa ia sudah berselingkuh dengan laki-laki yang menjadi suaminya sekarang. Seandainya ia tetap setia dengan suaminya yang dulu, pasti hidupnya tidak akan sengsara seperti sekarang. Nasi sudah menjadi bubur. Mungkin, ini semua adalah balasan yang diberikan Tuhan kepadanya karena telah menyia-nyiakan suami yang sangat baik. Bahkan demi nafsu sesaat, ia telah membunuh suaminya sendiri.

__ADS_1


Mamanya Clara menangis sesegukan karena menyadari nasibnya kini yang begitu malang. Dulu, Pak Handoyo sanggat memujanya. Tapi, laki-laki itu nampaknya sudah mulai bosan dengannya dan mulai mencari pengganti dirinya untuk melampiaskan gairahnya. Ternyata selama ini, ia hanya diperalat oleh Pak Handoyo.


Bersambung


__ADS_2