MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
BAB 2 FIRASAT


__ADS_3

Sepulang dari rumah Bude Yati, aku, Mas Diki, dan Nur memilih untuk mampir terlebih dahulu di sebuah warung makan yang cukup terkenal karena kami sudah benar-benar kelaparan. Bayangkan, sejak pagi buta kami hanya makan roti isi kismis masing-masing sepotong yang kebetulan aku temukan di kulkas sebelum kami bertiga berangkat ke rumah Bude Yati untuk bertakjiah. Maklumlah, aku dan Nur sama-sama menghindari makanan untuk selamatan kematian. Kalau Mas Diki memang sudah terbiasa untuk tidak ikut makan kalau kami berdua tidak makan. Solidaritas, katanya. Huh ... He is really a sweet husband for me.


"Kenapa tadi nggak makan, Mas?" tanyaku pada Mas Diki yang dengan lahapnya makan nasi pecel dengan lauk ikan cakalan yang kami pesan barusan.


"Mas nggak selera makan, Dik. Terlebih, tadi do rumah Bude Yati banyak yang harus mas kerjain. Ya, sudah nggak kepikiran untuk makan, deh," jawab Mas Diki setelah mengunyah habis nasi di mulutnya.


"Pecelnya enak ya, Mas?" tanyaku pada Mas diki sambil meneguk air putih di gelas.


"Iya, Dik. Saya sampai imbuh 2 kali, nih?" jawab Mas Diki.


"He he he ... Hati-Hati dijaga gulanya biar nggak naik lagi," cetusku.


"Nggak lah, Dik. Insyaallah mas sudah sehat," jawabnya.


"Sehat ... sehat. Ntar kalau gulamu naik lagi, kayak kapan hari itu?" protesku.


"Yang kapan hari?" gumam Mas Diki.


"Iya, yang kamu baru pulang dari Solo itu," jawabku sambil mengingatkan suami pada momen yang aku maksud.


"Hm .... Ya ... Ya saya ingat sekarang. Waktu itu mas kecapekan, Dik. Maklum berapa hari di Solo. Itu bukan karena gula darah mas naik seperti dugaanmu," protes Mas Diki.


"Padahal waktu itu saya pas kangen-kangennya sama Mas. Malah cuma bentar," ujarku dengan nada sedikit menggoda suamiku.


"Oke, nanti malam, ya, gantinya yang waktu itu?" ancam Mas Diki sambil berbisik di telingaku.


"Ih, Mas Diki ini. Nggak tahu kita lagi di tempat orang masa ngomong begituan. Ntar kalau ada yang dengar, gimana?" protesku.


"Makanya, jangan suka meledek Mas Diki," cibirnya.


"He he he ... Eh, Nur kok lama, ya, ke belakangnya?" tanyaku pada suamiku.


"Palingan dia lagi BAB. Kayak nggak tahu anak kita saja. Tiap habis makan, tidak menunggu lama sudah mau buang air," jawab Mas Diki.


"Iya, sih ...," jawabku sambil tersenyum.


Baru saja kami berhenti berbicara, tiba-tiba datang dua orang ibu-ibu berpakaian guru. Keduanya duduk di sebelahku.


"Sudah dengar belum? Tadi malam Bu Mariska kumat paru-parunya," ujar perempuan yang memiliki ukuran badan lebih kecil.


"Duh kok aku jadi mikir aneh-aneh, ya?" ujar perempuan yang berbadan lebih besar.

__ADS_1


"Emangnya, kamu mikir apaan, Bu?" tanya perempuan yang berukuran badan lebih kecil.


"Ini. Aku mikir, kok, setiap tahun guru kita ada yang sakit atau meninggal. Dan secara kebetulan, yang sakit atau meninggal adalah orang kepercayaan yayasan," kata orang yang berbadan besar.


"Ah, mungkin kebetulan saja, Bu. Semoga Bu Mariska segera sembuh. Aamiiin," jawab perempuan berbadan kecil.


Sayangnya, aku baru saja keasyikan menyimak perbincangan mereka berdua, tiba-tiba Nur datang dan mengajak kami langsung pulang.


"Pulang, yuk, Bu ... Pak ...," ujar Nur.


"Kenapa emangnya? Kamu nggak mau imbuh lagi makannya?" tanyaku pada Nur.


"Enggak sudah, Bu. Aku mau buru-buru sampai di rumah. Sudah capek betul badan Nur, Bu," jawab anakku.


"Ya, sudah kalau begitu. Ayo, kita pulang! Permisi ya, Mbak!" sapaku pada dua perempuan di sebelahku.


"Iya, Mbak," jawab kedua perempuan itu sambil membetulkan posisi duduknya.


Pada saat lewat di sebelah kedua guru perempuan tersebut, tanpa sengaja aku melihat sampul buku tebal yang dipegang salah satu dari mereka.


"TK AMANAH BANGSA 3??" pekikku di dalam hati.


Aku hapal sekali dengan nama tersebut karena itu adalah nama sekolah yang selalu digunakan oleh Bulek Darsih. Yang membedakan hanya angka di belakangnya saja.


"Iya, Mbak. Kenapa?" tanya perempuan yang lebih kurus.


"Nggak apa-apa, kok. Hanya bertanya saja soalnya sangat familier dengan nama sekolahnya," jawabku asal-asalan saja.


"Iya, Bu. Emang di kota ini kami membuka beberapa cabang dengan nama yang sama," jawabnya polos.


"Terima kasih, ya. Kami pamit dulu. Assalamu'alaikum," sapaku.


"Waalikumsalam," jawab mereka berdua.


Setelah itu kami bertiga pun melanjutkan perjalanan yang tinggal separuh. Di dalam mobil aku masih teringat dengan percakapan kedua guru di lwmbaga milik Bulek Darsih itu. Otakku liar berpikir dan mengingat kejadian yang menimpa Bude Darsih.


"Mungkinkah mereka semua itu sakit dan mati karena penyebab yang sama? Ada apa dengan Bulek Darsih?" pikirku di dalam hati.


"Ada apa, Dik?" tegur Mas Diki tiba-tiba.


"Nggak apa-apa,kok, Mas," jawabku berbohong.

__ADS_1


"Nggak ada apa-apa, kok ngelamun barusan?" tanya Mas Diki lagi.


"Hm ... saya hanya kecapekan saja, Mas," jawabku.


"Beneran nggak bohong?" desak Mas Diki.


"Benar, Mas. Ngapain saya berbohong?" protesku.


"Ya, siapa tahu ...," jawab Mas Diki.


*


"Nduuuuuk ...," suara seseorang memanggil namaku.


"Siapa?" teriakku.


Tidak ada suara sahutan.


"Nduuuuk ...," suara panggilan itu terdengar kembali.


Kalau didengar baik-baik, aku sepertinya hapal dengan suara itu.


"Tapi, nggak mungkin lah ...," Aku berbicara di dalam hati.


"Siapa?" teriakku sambil berjalan ke luar kamar tempatku beristirahat setelah perjalanan jauh dari rumah Bude Yati.


"Ya Tuhan, kenapa suara panggilan itu mirip demgan suara Bude Yati? Bukankah Bude Yati sudah meninggal?" Tidak mungkin! Aku pasti salah dengar!" Aku berbicara pada diriku sendiri sembari melangkah mendekati suara itu.


"Tolong saya, Nduuuk!!!" suara itu semakin jelas terdengar dari arah ruang tamu.


Jantungku berdegup dengan kencang dan darahku terasa mendesir. Tapi, aku tetap melangkah menuju ruang tamu sebagai perkiraan arah sumber suara itu. Sambil berjalan otakku terus berpikir bahwa pasti ada alasan logis kenapa suara panggilan itu bisa sedemikian mirip dengan suara Bude Yati.


Baru saja aku meyakinkan diri bahwa itu hanyalah suara orang lain yang kebetulan terdengar mirip karena aku masih kepikiran dengan Bude Yati, ternyata yang aku lihat justeru sebaliknya. Di ruang tamu tempat semalam aku menjamu Bude Yati dan Bulek Darsih, aku melihat sosok Bude Yati sedang berdiri membelakangiku. Postur tubuhnya benar-benar persis sama dengan Bude Yati. Sehingga aku pun terperanjat.


"Budeeeeeeeeeeeeee!!" pekikku dengan gemetar dan diselimuti rasa ketakutan.


"Maaaaaaaaaaaas!!!! Nuuuuurrrrrr!!!" Aku berteriak sekuat tenaga, akan tetapi suara teriakanku tidak keluar, hanya tercekat di kerongkonganku saja.


BERSAMBUNG


Suka???

__ADS_1


Like dan komen, dong! Biar aku tambah semangat melanjutkan ceritanya.


__ADS_2