MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 70 : MINUL


__ADS_3

Minul tidak menoleh meskipun dipanggil oleh Pak Salihun. Ia


terus saja berjalan menuju tempat yang lebih gelap yaitu ke arah kuburan. Pak


Salihun sebenarnya sempat tertinggal jauh dari Minul, tapi karena ia berusaha


berlari untuk mengejarnya maka akhirnya pria tua itu pun berhasil mengejar


Minul.


Kali ini Minul sudah berdiri tepat di pintu makam dusun


Delima.


“Minul! Jangan!” teriak Pak Salihun berusaha untuk melarang


perempuan tambun itu untuk masuk ke dalam area makam.


Minul terus berjalan menyusuri jalan setapak di tengah makam


warga tanpa rasa takut sedikitpun dan Pak Salihun pun terus mengejarnya dengan


perasaan cemas. Setelah bersusah payah akhirnya Pak Salihun pun berhasil


mengejar perempuan itu.


“Berhenti, Nul!” teriak Pak Salihun sambil menarik salah


satu tangan Minul.


Minul tidak bergeming. Ia tetap berdiri membelakangi Pak


Salihun seolah-olah ia ingin menunjukkan ketidakpeduliannya terhadap larangan


pria tua itu. Pak Salihun sedikit bernapas lega karena ia sudah berhasil


memegangi tangan Minul. Setidaknya ia cukup yakin bahwa Minul sudah tidak bisa


bergerak lagi karena sedang dipegangi olehnya.


“Kamu kenapa, Nul? Kamu marah sama Ratno? Apa Ratno


menyakitimu? Kamu ngomong sama aku, Nul! Jangan kamu sakiti dirimu sendiri


seperti ini!” Pak Salihun berusaha menasehati Minul.


Minul tidak menjawab. Ia masih memalingkan mukanya dari Pak


Salihun. Pak Salihun menjadi semakin kepikiran karena Minul tidak mengeluarkan


sepatah kata pun.


“Nul, ayo pulang dulu! Tidak baik kamu berada di tempat ini.


Ini kuburan, Nul! Apa kamu tidak takut berada di sini? Di sini banyak ular atau


makhluk halus lainnya. Kalau masalah Ratno yang berbuat semena-mena sama kamu,


biar aku yang akan memberi pelajaran pada orang itu. Tapi, plis ayo kamu pulang


sekarang! Kasihan anakmu pasti sudah menunggumu di rumah.” Pak Salihun terus


saja memberikan siraman rohani kepada Minul di antara deretan batu nisan itu.


Entah dari mana Pak Salihun menemukan keberaniannya saat


itu. Secara normal, tidak mungkin bagi Pak Salihun untuk berani berdiam diri di


area pemakaman apalagi malam hari. Yang ada di pikirannya saat itu adalah ia


tidak mau melihat Minul celaka.


“Nul, pulang Yuk! Nanti kamu bisa masuk angin dan sakit.


Coba kamu lihat tanganmu saja sampai sedingin ini!” ucap Pak Salihun lagi


setelah ia menyadari bahwa tangan Minul benar-benar dingin seperti mayat.


Minul masih tetap tak bereaksi meskipun sudah diajak


berkali-kali oleh Pak Salihun. Di bawah sinar rembulan yang cukup terang malam


itu, Pak Salihun pun mulai menyadari ada ketidakberesan dari tangan Minul saat


itu. Tangan perempuan itu tidak hanya sedingin mayat, tapi juga warnanya tidak


seperti warna kulit manusia pada umumnya. Warna tangan minul terlihat lebih

__ADS_1


pucat dan kotor. Bersamaan dengan kecurigaan di hati Pak Salihun yang mulai


muncul saat itu, kepala Minul pun mulai berputar dan menoleh ke arahnya. Betapa


terkejutnya Pak Salihun setelah mengetahui bahwa sosok di depannya bukanlah


Minul yang ia kenal, melainkan sosok perempuan dengan wajah yang sangat


menyeramkan.


Selama beberapa detik Pak Salihun tidak mampu berkata


apa-apa. Otot-Otot kakinya mendadak kaku dan sulit untuk digerakkan. Pak


Salihun hanya bisa melihat betapa mengerikannya wajah perempuan di depannya


tanpa berbuat apa-apa. Setelah beberapa detik berada pada fase freeze seperti


itu, akhirnya Pak Salihun pun dapat menemukan kekuatannya kembali.


“Han-Han-Hantuuuuuuuuuu!!! Teriak Pak Salihun sambil berlari


menjauhi sosok menyeramkan itu.


Pak Salihun terus saja berlari menjauhi sosok menyeramkan


yang ia sangka sebagai Minul itu. Betapa terkejutnya Pak Salihun setelah


mengetahui bahwa sosok perempuan itu ternyata mengejarnya dai belakang.


“Toloooooong!!!!” teriak Pak Salihun dengan suara keras dan


penuh ketakutan.


Pak Salihun berlari tunggang langgang untuk mengindari


kejaran hantu perempuan yang sangat menyeramkan itu. Ia tidak peduli betapa


rusaknya jalan yang ia lewati. Yang ada di pikiran Pak Salihun saat itu adalah


bagaimana caranya ia bisa bertemu dengan penduduk dan lepas dari kejaran hantu


itu.


“Tolooooong!!!!” Pak Salihun terus saja berteriak karena


hantu perempuan iu terus saja mengejarnya.


ada sekelompok orang sedang berlari menuju ke arahnya. Pak Salihun semakin


bersemangat untuk meminta pertolongan.


“Paaaaaak!!!” teriak Pak Salihun pada sekelompok orang yang


sedang berlari menuju ke arahnya.


Pak Salihun akhirnya kehabisan tenaga dan tidak sanggup


untuk berlari lagi. Pak Salihun pun sudah pasrah seandainya hantu wanita di


belakangnya berhasil mengejarnya. Pak Salihun pun tidak berani menoleh ke


belakang lagi. Kali ini iamenggunakan sisa-sisa tenaganya untuk berjalan.


Untunglah, sekelompok orang yang berada di depan Pak Salihun sudah sampai di


depan Pak Salihun. Ternyata itu adalah Ustad Andi dan beberapa warga sekitar.


Ada Jamila di belakang mereka.


“Apa yang terjadi, Pak Salihun?” tanya Ustad Andi dengan


panik.


Pak Salihun tidak bisa langsung menjawab karena ia masih


mengatur napasnya yang tersengal. Pak Salihun hanya bisa menunjuk ke arah


belakangnya di mana ia melihat hantu perempuan itu mengejarnya.


“Tidak ada siapa-siapa, Pak?” protes Ustad Andi.


Pak Salihun mengatur napasnya lagi. Beberapa warga membantu


Pak Salihun untuk dapat mengatur napasnya lagi dan menenangkan perasaannya.


“Ba-rusan, hantu itu mengejarku dari kuburan ke sini,” jawab

__ADS_1


Pak Salihun menenangkan perasaannya.


“Bapak-Bapak! Tolong sebagian tolong jaga Pak Salihun!


Sebagian lagi ikut aku ke kuburan!” perintah Ustad Andi.


“Siap, Ustad!” sahut orang-orang itu.


Ustad Andi pun mengajak beberapa orang untuk menyisir area


dari posisi mereka menemukan Pak Salihun sampai di kuburan. Di sepanjang jalan


yang dilalui oleh mereka, tak lupa Ustad Andi membaca doa. Sesampai di area


kuburan, ada seorang penduduk yang berkata kepada Ustad Andi.


“Sebaiknya kita kembali saja, Ustad! Rasanya, tidak ada


gunanya kita mencari hantu tersebut. Lagipula tadi Jamila bilang kalau ia


sendiri tidak dapat melihat apa yang dilihat oleh Pak Salihun. Yang penting Pak


Salihun sudah bisa kita selamatkan!” ucap orang tersebut.


“Iya, kamu benar. Ayo, kita segera kembali ke Pak Salihun


saja! Sekalian kita bawa Pak Salihun ke tempat Bu Reni biar kita bisa berdoa


bersama di sana!” jawab Ustad Andi.


Ustad Andi didampingi oleh beberapa warga pun kembali ke tempat


Pak Salihun beristirahat.


“Gimana, Ustad?” tanya Pak Salihun.


“Tidak ketemu, Pak!” jawab Ustad Andi.


“Ya sudah nggak apa-apa, Ustad. Namanya juga makhluk halus.


Mungkin juga aku salah lihat,” jawab Pak Salihun tidak mau berpanjang lebar. Ia


khawatir warga akan semakin gencar menggosipkan keluarga majikannya.


 “Ya sudah. Sekarang


Pak Salihun dan Mbak Jamila ikut ke rumah Bu Reni saja untuk doa bersama biar


lebi tenang! Pak Salihun sudah kuat, kan?” ajak Ustad Andi.


“Iya, Tad. Lebih baik begitu. Sekalian saya mau menumpang


sholat di rumah Bu Reni,” jawab Pak Salihun.


“Nah, itu lebih baik. Ya sudah, ayo kita berangkat sekarang


supaya tidak terlambat!” ajak Ustad Andi.


“Terima kasih banyak,Ustad. Kalau tidak ada Ustad, mungkin


saya sudah mati ketakutan,” bisik Pak Saihun pada Ustad Andi.


“Jangan bilang begitu, Pak. Semua itu sudah ditakdirkan oleh


Allah SWT. Berterima kasihlah kepada Mbak Jamila ini karena beliau yang


mengabari kami tentang peristiwa yang dialami Pak Salihu,” jawab Ustad Andi.


Pa Salihun menoleh kepada Jamila.


“Makasih banyak ya, Mil! Maafkan juga tadi aku sudah


memarahimu,” ucap Pak Salihun.


“Iya, Pak. Tidak apa-apa. Yang penting Pak Salihun sudah


selamat,” jawab Jamila.


Dala hati Jamila sebenarnya masih sakit dengan bentakan yang


dilontarkan oleh Pak Salihun tadi. Ia tidak menyangkan Pak Salihun  yang terlihat tertarik kepadanya itu tega memarahinya


hanya karena ia tidak melihat hantu yang menyerupai Minul itu.


“Kenapa Pak Salihun bisa semarah itu, ya? Atau jangan-jangan


…,” pikir Jamila sambil berjalan di samping Pak Salihun yang sedang dijaga oleh

__ADS_1


salah satu warga di sisi kirinya.


BERSAMBUNG


__ADS_2