
Minul tidak menoleh meskipun dipanggil oleh Pak Salihun. Ia
terus saja berjalan menuju tempat yang lebih gelap yaitu ke arah kuburan. Pak
Salihun sebenarnya sempat tertinggal jauh dari Minul, tapi karena ia berusaha
berlari untuk mengejarnya maka akhirnya pria tua itu pun berhasil mengejar
Minul.
Kali ini Minul sudah berdiri tepat di pintu makam dusun
Delima.
“Minul! Jangan!” teriak Pak Salihun berusaha untuk melarang
perempuan tambun itu untuk masuk ke dalam area makam.
Minul terus berjalan menyusuri jalan setapak di tengah makam
warga tanpa rasa takut sedikitpun dan Pak Salihun pun terus mengejarnya dengan
perasaan cemas. Setelah bersusah payah akhirnya Pak Salihun pun berhasil
mengejar perempuan itu.
“Berhenti, Nul!” teriak Pak Salihun sambil menarik salah
satu tangan Minul.
Minul tidak bergeming. Ia tetap berdiri membelakangi Pak
Salihun seolah-olah ia ingin menunjukkan ketidakpeduliannya terhadap larangan
pria tua itu. Pak Salihun sedikit bernapas lega karena ia sudah berhasil
memegangi tangan Minul. Setidaknya ia cukup yakin bahwa Minul sudah tidak bisa
bergerak lagi karena sedang dipegangi olehnya.
“Kamu kenapa, Nul? Kamu marah sama Ratno? Apa Ratno
menyakitimu? Kamu ngomong sama aku, Nul! Jangan kamu sakiti dirimu sendiri
seperti ini!” Pak Salihun berusaha menasehati Minul.
Minul tidak menjawab. Ia masih memalingkan mukanya dari Pak
Salihun. Pak Salihun menjadi semakin kepikiran karena Minul tidak mengeluarkan
sepatah kata pun.
“Nul, ayo pulang dulu! Tidak baik kamu berada di tempat ini.
Ini kuburan, Nul! Apa kamu tidak takut berada di sini? Di sini banyak ular atau
makhluk halus lainnya. Kalau masalah Ratno yang berbuat semena-mena sama kamu,
biar aku yang akan memberi pelajaran pada orang itu. Tapi, plis ayo kamu pulang
sekarang! Kasihan anakmu pasti sudah menunggumu di rumah.” Pak Salihun terus
saja memberikan siraman rohani kepada Minul di antara deretan batu nisan itu.
Entah dari mana Pak Salihun menemukan keberaniannya saat
itu. Secara normal, tidak mungkin bagi Pak Salihun untuk berani berdiam diri di
area pemakaman apalagi malam hari. Yang ada di pikirannya saat itu adalah ia
tidak mau melihat Minul celaka.
“Nul, pulang Yuk! Nanti kamu bisa masuk angin dan sakit.
Coba kamu lihat tanganmu saja sampai sedingin ini!” ucap Pak Salihun lagi
setelah ia menyadari bahwa tangan Minul benar-benar dingin seperti mayat.
Minul masih tetap tak bereaksi meskipun sudah diajak
berkali-kali oleh Pak Salihun. Di bawah sinar rembulan yang cukup terang malam
itu, Pak Salihun pun mulai menyadari ada ketidakberesan dari tangan Minul saat
itu. Tangan perempuan itu tidak hanya sedingin mayat, tapi juga warnanya tidak
seperti warna kulit manusia pada umumnya. Warna tangan minul terlihat lebih
__ADS_1
pucat dan kotor. Bersamaan dengan kecurigaan di hati Pak Salihun yang mulai
muncul saat itu, kepala Minul pun mulai berputar dan menoleh ke arahnya. Betapa
terkejutnya Pak Salihun setelah mengetahui bahwa sosok di depannya bukanlah
Minul yang ia kenal, melainkan sosok perempuan dengan wajah yang sangat
menyeramkan.
Selama beberapa detik Pak Salihun tidak mampu berkata
apa-apa. Otot-Otot kakinya mendadak kaku dan sulit untuk digerakkan. Pak
Salihun hanya bisa melihat betapa mengerikannya wajah perempuan di depannya
tanpa berbuat apa-apa. Setelah beberapa detik berada pada fase freeze seperti
itu, akhirnya Pak Salihun pun dapat menemukan kekuatannya kembali.
“Han-Han-Hantuuuuuuuuuu!!! Teriak Pak Salihun sambil berlari
menjauhi sosok menyeramkan itu.
Pak Salihun terus saja berlari menjauhi sosok menyeramkan
yang ia sangka sebagai Minul itu. Betapa terkejutnya Pak Salihun setelah
mengetahui bahwa sosok perempuan itu ternyata mengejarnya dai belakang.
“Toloooooong!!!!” teriak Pak Salihun dengan suara keras dan
penuh ketakutan.
Pak Salihun berlari tunggang langgang untuk mengindari
kejaran hantu perempuan yang sangat menyeramkan itu. Ia tidak peduli betapa
rusaknya jalan yang ia lewati. Yang ada di pikiran Pak Salihun saat itu adalah
bagaimana caranya ia bisa bertemu dengan penduduk dan lepas dari kejaran hantu
itu.
“Tolooooong!!!!” Pak Salihun terus saja berteriak karena
hantu perempuan iu terus saja mengejarnya.
ada sekelompok orang sedang berlari menuju ke arahnya. Pak Salihun semakin
bersemangat untuk meminta pertolongan.
“Paaaaaak!!!” teriak Pak Salihun pada sekelompok orang yang
sedang berlari menuju ke arahnya.
Pak Salihun akhirnya kehabisan tenaga dan tidak sanggup
untuk berlari lagi. Pak Salihun pun sudah pasrah seandainya hantu wanita di
belakangnya berhasil mengejarnya. Pak Salihun pun tidak berani menoleh ke
belakang lagi. Kali ini iamenggunakan sisa-sisa tenaganya untuk berjalan.
Untunglah, sekelompok orang yang berada di depan Pak Salihun sudah sampai di
depan Pak Salihun. Ternyata itu adalah Ustad Andi dan beberapa warga sekitar.
Ada Jamila di belakang mereka.
“Apa yang terjadi, Pak Salihun?” tanya Ustad Andi dengan
panik.
Pak Salihun tidak bisa langsung menjawab karena ia masih
mengatur napasnya yang tersengal. Pak Salihun hanya bisa menunjuk ke arah
belakangnya di mana ia melihat hantu perempuan itu mengejarnya.
“Tidak ada siapa-siapa, Pak?” protes Ustad Andi.
Pak Salihun mengatur napasnya lagi. Beberapa warga membantu
Pak Salihun untuk dapat mengatur napasnya lagi dan menenangkan perasaannya.
“Ba-rusan, hantu itu mengejarku dari kuburan ke sini,” jawab
__ADS_1
Pak Salihun menenangkan perasaannya.
“Bapak-Bapak! Tolong sebagian tolong jaga Pak Salihun!
Sebagian lagi ikut aku ke kuburan!” perintah Ustad Andi.
“Siap, Ustad!” sahut orang-orang itu.
Ustad Andi pun mengajak beberapa orang untuk menyisir area
dari posisi mereka menemukan Pak Salihun sampai di kuburan. Di sepanjang jalan
yang dilalui oleh mereka, tak lupa Ustad Andi membaca doa. Sesampai di area
kuburan, ada seorang penduduk yang berkata kepada Ustad Andi.
“Sebaiknya kita kembali saja, Ustad! Rasanya, tidak ada
gunanya kita mencari hantu tersebut. Lagipula tadi Jamila bilang kalau ia
sendiri tidak dapat melihat apa yang dilihat oleh Pak Salihun. Yang penting Pak
Salihun sudah bisa kita selamatkan!” ucap orang tersebut.
“Iya, kamu benar. Ayo, kita segera kembali ke Pak Salihun
saja! Sekalian kita bawa Pak Salihun ke tempat Bu Reni biar kita bisa berdoa
bersama di sana!” jawab Ustad Andi.
Ustad Andi didampingi oleh beberapa warga pun kembali ke tempat
Pak Salihun beristirahat.
“Gimana, Ustad?” tanya Pak Salihun.
“Tidak ketemu, Pak!” jawab Ustad Andi.
“Ya sudah nggak apa-apa, Ustad. Namanya juga makhluk halus.
Mungkin juga aku salah lihat,” jawab Pak Salihun tidak mau berpanjang lebar. Ia
khawatir warga akan semakin gencar menggosipkan keluarga majikannya.
“Ya sudah. Sekarang
Pak Salihun dan Mbak Jamila ikut ke rumah Bu Reni saja untuk doa bersama biar
lebi tenang! Pak Salihun sudah kuat, kan?” ajak Ustad Andi.
“Iya, Tad. Lebih baik begitu. Sekalian saya mau menumpang
sholat di rumah Bu Reni,” jawab Pak Salihun.
“Nah, itu lebih baik. Ya sudah, ayo kita berangkat sekarang
supaya tidak terlambat!” ajak Ustad Andi.
“Terima kasih banyak,Ustad. Kalau tidak ada Ustad, mungkin
saya sudah mati ketakutan,” bisik Pak Saihun pada Ustad Andi.
“Jangan bilang begitu, Pak. Semua itu sudah ditakdirkan oleh
Allah SWT. Berterima kasihlah kepada Mbak Jamila ini karena beliau yang
mengabari kami tentang peristiwa yang dialami Pak Salihu,” jawab Ustad Andi.
Pa Salihun menoleh kepada Jamila.
“Makasih banyak ya, Mil! Maafkan juga tadi aku sudah
memarahimu,” ucap Pak Salihun.
“Iya, Pak. Tidak apa-apa. Yang penting Pak Salihun sudah
selamat,” jawab Jamila.
Dala hati Jamila sebenarnya masih sakit dengan bentakan yang
dilontarkan oleh Pak Salihun tadi. Ia tidak menyangkan Pak Salihun yang terlihat tertarik kepadanya itu tega memarahinya
hanya karena ia tidak melihat hantu yang menyerupai Minul itu.
“Kenapa Pak Salihun bisa semarah itu, ya? Atau jangan-jangan
…,” pikir Jamila sambil berjalan di samping Pak Salihun yang sedang dijaga oleh
__ADS_1
salah satu warga di sisi kirinya.
BERSAMBUNG