MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 15 :


__ADS_3

Baca dulu bab sebelumnya biar bisa lebih meresapi alur ceritanya! Selalu awali dengan mengklik tombol "like" dan akhiri dengan menulis komentar. Sapaan Kakak di kolom komentar adalah vitamin bagiku untuk melanjutkan cerita.


Aku lanjutin ceritanya dulu, ya, Kak?


Aku memang sudah teramat lelah dan ingin segera tertidur dengan pulas. Mumpung anakku sudah turun panasnya, tapi bisik-bisik suara Clara di depan, benar-benar menggelitik pendengaranku. Selama beberapa menit, aku tidak bisa memejamkan mata. Ada keinginan untuk mengintip aktifitas Clara melalui jendela ruang tamu, tetapi aku malas untuk keluar kamar ini dan berjalan menuju jendela ruang tamu tersebut.


Akhirnya suara itu pun lenyap seiring dengan terpejamnya mataku.


*


"Dik, bangun! Sudah mau habis waktu untuk salat Subuh." suara


"Ya, Mas. Terima kasih sudah dibangunkan. Nur mana, Mas?" jawabku sambil mengucek-ngucek mata.


"Nur bangun sebelum kamu. Di sedang salat Subuh sekarang," jawab suamiku.


"Syukurlah. Tadi malam badannya panas sekali, Mas. Makanya saya tidur di sini," ujarku.


"Pantes, tadi pagi pas saya mau ehem, nggak ada kamu di samping, Mas" ujar Mas Diki dengan polosnya.


"Tadi malam saya sudah berusaha bangunin Mas, tapi Mas tetep ngorok," ucapku serius.


"Kamu sih cara banguninnya salah, Dik. Coba pake cara yang biasanya pasti saya langsung bangun," ucap suamiku dengan wajah mesumnya.


"Minggir Mas, saya mau berwudhu dan salat subuh saja!" ucapku sambil berlalu meninggalkan Mas Diki yang melongo sendirian.


"Dasar laki-laki! Nggak tau anak lagi sakit, maunya enak-enak terus?" pikirku di dalam hati.


*


Jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Kami semua sudah sarapan pagi, termasuk anak kami, Nur, sudah aku buatin bubur untuk dimakan sebelum kuberi minum obat flu rumahan.


"Mas, saya nggak ikut ke pasar dulu, ya, mau jagain anak kita?" ucapku pada Mas Diki sebelum ia pergi.


"Iya, Dik. Lagipula kamu juga sepertinya juga kurang fit," jawab suamiku.

__ADS_1


"Hati-Hati di jalan ya, Mas." ucapku sambil mencium tangan suamiku.


"Iya, Dik, makasih. Saya sudah menghubungi Bu Rini untuk memeriksa kalian berdua. Tapi, biasanya Bu Rini baru ke sini siang atau sore hari," kata Mas Diki sambil mengecup keningku.


"Makasih, ya, Mas. Mas emang pemimpin keluarga yang bertanggung jawab," ucapku sambil merapatkan badan ke tubuh suamiku.


Mas Diki menatap lekat mataku. Tangannya yang kekar tiba-tiba sudah merangsek di kedua pipiku.


"Mas, nanti ketularan flu, loh!" ucapku di sela-sela ciumannya yang bertubi-tubi.


Mas Diki tidak menggubris omonganku. Dia asik dengan serangannya, sehingga aku kewalahan dan kehabisan napas.


"Kamu istirahat yang banyak, ya, Dik!" ucap Mas Diki dengan terengah setelah lama berkutat dengan serangannya. Ia pun pergi meninggalkan rumah menuju ke pasar. Dari sorot matanya, aku tahu ia sedang merencanakan sesuatu terhadapku. Sesuatu yang terlihat mengerikan bagiku.


*


"Buuuu ... Tadi malam saya mimpi buruk," ucap anakku sambil rebahan di atas tempat tidurnya.


"Kamu mimpi apa, Nak?" tanyaku penasaran.


"Saya mimpi diajak seseorang ke suatu tempat yang sangat indah. Tapi, kemudian orang yang mengajak saya itu tiba-tiba menghilang, dan tempat yang semula terlihat indah itu berubah menjadi tempat yang mengerikan karena dari delapan penjuru mata angin, tiba-tiba datang air bah setinggi bukit menuju ke tempat saya berdiri," tutur Nur.


"Tapi, Bu!" protes Nur.


"Tapi kenapa, Nak? Sudahlah, kamu tidak usah mikir macam-macam. Istirahat yang cukup saja, supaya kondisimu segera pulih," jawabku.


"Bukan begitu maksud saya, Bu. Yang bikin saya kaget adalah orang yang menuntun saya ke tempat itu adalah Tante Clara!" seru anakku sambil menatapku dengan matanya yang sendu.


Jujur aku kaget sekali dengan cerita anakku tersebut, tetapi sebagai orang tua yang harus mengajarkan kepada anaknya untuk selalu berprasangka baik, aku pun merespons cerita anakku tersebut dengan menyungging senyuman.


"Tante Clara itu orang baik. Mungkin dia hadir dalam mimpimu karena kamu sorenya baru bertemu dengan Tante Clara. Sekarang kamu istirahat dulu, ya? Ibu mau bersih-bersih rumah dulu, takutnya nanti Bu Rini datang pada saat rumah sedang berantakan. Nggak enak, kan?" ucapku sambil membelai kepala anakku dengan tujuan untuk menenangkan pikirannya dan juga mengecek suhu tubuhnya. Ternyata suhu badan anak itu hangat.


"Ibu jangan pergi jauh-jauh, ya? Nur takut!" pekik anak lak-lakiku itu.


"Enggak kok. Ibu nggak mau kemana-mana, hanya bersih-bersih rumah saja," jawabku.

__ADS_1


"Ya, Bu!" jawabnya.


Aku meninggalkan anak laki-lakiku itu di kamarnya sendirian. Sedangkan aku segera saja memanfaatkan kesempatan untuk membersihkan rumah. Kumulai dari ruang tamu, ruang makan, dapur, dan beranda. Entah kenapa, saat membersihkan beranda, bulu kudukku tiba-tiba meremang. Aku tidak berlama-lama membersihkan beranda karena perasaan tidak nyaman itu. Toh, keluarga Clara tidak ada yang keluar rumah.


Setelah selesai membersihkan semua bagian rumah, aku memutuskan untuk mandi supaya capek-capek di tubuhku hilang dan sekaligus membersihkan kotoran-kotoran yang menempel selama bersentuhan dengan sampah-sampah di rumahku. Aku tahu dalam kondisi fisik yang kecapekan begini, paling enak mandi dengan air hangat. Maka aku pun memanaskan air untuk aku campurkan nanti dengan air dingin di dalam bak mandi. Setelah air yang kupanaskan mendidih, aku buru-buru membawanya ke kamar mandi. Kutaril handuk mandi kesayanganku dari gantungannya.


BRAK!!


Suara pintu yang kututup dari arah dalam.


"Wah, segarnya mandi air hangat begini. Semoga setelah mandi air hangat badanku kembali fit, biar aku bisa merawat anakku yang sakit secara maksimal," ucapku pada diri sendiri.


Pada saat aku menyabuni sekujur tubuhku dengan sabun mandi, tiba-tiba aku seperti mendengar suara pintu diketuk.


TOK! TOK! TOK!


Aku mengehentikan aktifitasku sejenak untuk memastikan bahwa pintu depan benar-bebar sedang diketuk orang. Biasanya setelah mengetuk pintu, tamu mengucap salam. Namun, sampai beberapa detik aku menunggu, tak kunjung ada ketukan kedua atau salam dari arah luar.


"Ah, mungkin itu hanya perasaanku saja," pikirku dalam hati.


Aku pun melanjutkan kembali aktifitas mandiku yang sebelumnya tertunda sambil bersenandung kecil lagu kesenanganku. Namun, tiba-tiba ...


TOK! TOK! TOK!


Suara ketukan di pintu depan terdengar lebih keras lagi. Kali ini aku yakin memnag benar ada tamu yang sedang berada di luar. Aku pun bergegas menyelesaikan sisa ritual mandiku dengan cepat. Setelah menggunakan handukku sekedarnya, aku pun menggunakan baju kembali dan berlari menuju pintu depan.


"Ya .... Ya ....," teriakku sambil membuka pintu depan untuk mengetahui siapa yang berdiri di balik pintu.


Hawa dingin menerpa wajahku saat pintu depan kubuka.


Bersambung


Hai, Kak ... Seneng, kan, MARANTI update rutin? Nah, sekarang giliran author minta waktu Kakak untuk menulis komentar atau memberikan like.


Kira-Kira, siapa ya orang yang berdiri di balik pintu itu?

__ADS_1


SALAM SERAM BAHAGIA


Tunggu kehadiran novel berjudul KAMPUNG HANTU versi cetak. Beda loh, dengan yang di aplikasi ...


__ADS_2