
Sebuah cubitan keras kulancarkan ke perut Mbak Ning yang seolah merasa tak berdosa sama sekali kepadaku karena telah mengajakku ke rumah Pak RT.
"Rasakan cubitanku ini, Mbak!" omelku pada kakak sepupuku itu.
"Aduuuuuh sakiiiit, Dik Sin. Ada apa sih, kok tiba-tiba kamu nyubit aku?" ronta Mbak Ning dengan tetap tidak merasa berdosa.
"Mbak Ning nggak usah pura-pura polos, ya? Hayo ngaku, Mbak Ning sengaja nggak bilang, kan, kalau Pak RT itu adalah-" jawabku sambil tetap menahan cubitanku di perut Mbak Ning.
"Ada apa dengan Pak RT?" tanya Mas Diki yang tiba-tiba muncul dari balik pintu dengan pakaian rapi.
Di belakang Mas Diki, Nur juga sudah siap dengan seragamnya.
"Enggak, kok, Mas. Ternyata Pak RT punya rekaman CCTV-nya," jawabku tergagap sambil melepas cubitanku di perut Mbak Ning.
"Oalah ... Gimana hasilnya?" tanya Mas Diki serius.
"Eh, anu, Mas. Videonya belum kami tonton penuh, tapi sudah ada di memori Ponselku. Tinggal nanti dicicil nontonnya," jawabku berusaha menguasai diriku kembali.
"Ya sudah kalau begitu. Katanya kamu mau mengantar saya dan Nur ke warung yang satunya?" tagih Mas Diki.
"Oh, iya, Mas. Ayo, kebetulan saya juga sudah lapar," jawabku.
"Ayoooo. Mbak kami pamit dulu, titip Dik Sinta dulu, ya?" ujar Mas Diki.
"Iya, Dik. Hati-Hati di jalan. Awas jangan sampai kecantol yang kain," goda Mbak Ning.
"Enggak lah, Mbak. Saya nggak mau bikin gara-gara. Dik Sinta ini sudah segalanya bagi saya," jawab Mas Diki serius.
"Suiiiit ... suiiiit ...," ledek Mbak Ning sambil berlalu masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Aku tahu sebenarnya Mbak Ning tidak sedang meledek Mas Diki yang polos, tapi dia sedang menyindirku karena tadi aku sempat ketemu salah satu teman akrab di masa lalu.
"Awas, kamu nanti, Mbak!" rutukku di dalam hati.
"Ayo, Dik ... Nur ... kita berangkat sarapan dulu biar tidak terlambat," ajak Mas Diki.
Kami pun berjalan menuju mobil dan segera melaju menuju warung di dekat rumah Mbak Ning yang terkenal dengan masakannya yang lezat dan higienis. Ketika, mobil kami melewati rumah Pak RT, Mas Diki membuka kaca mobil utuk memberi salam kepada Pak RT. Pak RT menyambut salam dari suamiku dengan sopannya. Entah kenapa tiba-tiba di pikiranku aku membandingkan keduanya. Sama-Sama ganteng, sih, tapi bagaimanapun Mas Diki terlihat lebih sopan dan dewasa dibanding Pak RT yang menurutku agak ganjen itu.
Ternyata benar kata Mbak Ning. Masakan di warung yang ini jauh lebih higienis dan enak dibandingkan warung kemarin.
"Perutmu masih sakit, Dik? Kalau iya, ntar pulangnya saya bawakan obat," ujar Mas Diki ketika mengantarkanku kembali ke rumah Mbak Ning.
"Alhamdulillah, sudah mendingan, Mas. Belikan minyak kayu putih saja di apotik. Sekalian beli tiga, yang satu untuk persediaan, yang satunya untuk persediaan di rumah Mbak Ning. Minyak kayu putih yang ini sudah mau habis, Mas," jawabku.
"Beneran kamu nggak apa-apa? Mumpung saya belum berangkat, nih!" paksa Mas Diki.
"Bener, Mas. Ntar kalau say perlu apa-apa, saya mau WA Mas Diki langsung," jawabku.
"Hati-Hati di jalan, Mas. Jangan lupa, Nur dijemput lagi pulangnya," jawabku.
Mas Diki pun berangkat meninggalkanku yang mengantarnya di depan rumah Mbak Ning. Pada saat aku akan balik ke dalam rumah, aku sempat melihat Pak RT sedang menatap ke arahku. Rupanya ia sedang duduk-duduk di terasnya.
Sejak pagi hingga siang aku dan Mbak Ning sibuk di dapur untuk mempersiapkan acara nanti malam. Hari ini kami memang agak kerja keras karena malam nanti adalah malam ketiga jadi sesuai adat kebiasaan di sini, para tetamu yang datang tidak hanya disuguhi sepiring nasi, tapi juga dibawakan kue 3 macam untuk dibawa pulang. Hari itu kami membuat kue nogosari, apem, dan pisang goreng dengan ukuran jumbo dan resep istimewa agar tidak mengecewakan orang yang mengkonsumsinya. Menjelang Zuhur, ketiga kue itu pun sudah selesai kami buat. Aku pamit kepada Mbak Srintil dan kawan-kawan untuk mandi dan menunaikan ibadah salat Zuhur.
"Berani salat sendirian, Mbak?" goda Mbak Srintil padaku.
"Lah, emangnya takut apaan, Mbak Srintil? Kan banyak orang di sini?" jawabku.
"Kali aja orang kota takut kalau tinggal di desa," jawab Mbak Srintil dengan polosnya.
__ADS_1
"Takut apaan, Mbak? Lah wong, nggak ada apa-apa di sini?" protesku.
"Syukurlah, Mbak. Soalnya ada orang itu yang nggak berani tinggal di rumah orang yang baru meninggal. Takut didatangi katanya. Beneran, nih, Mbak Sinta nggak takut nanti pas Bu Yati tiba-tiba datang terus manggil Mbak Sinta. Nduuuuuk ... Nduuuuuk ... Haaaaaum ... gitu," goda Mbak Srintil sambil memasang wajahnya kayak hantu dan memposekan tangannya layaknya harimau yang sedang mengaum.
"Apaan sampean ini, Mbak?" protesku.
"Tiiiil ... kamu kok berani-beraninya bilang Bu Yati jadi hantu. Kamu nggak tahu ada Mbak Ning tuh di sana lagi ngeliatin kamu sejak tadi," ancam Bu Dibyo.
"Apa, Mbak Srintil? Mau tak uyel-uyel tah? Kok berani-beraninya bilang ibu saya jadi hantu?" ucap Mbak Ning dengan wajah yang dibuat seakan marah.
"Aduh, maaf, Mbak Ning. Saya nggak tahu kalau sampean ada di situ. Kirain sampean sedang bersih-bersih di sebelah," rayu Mbak Srintil dengan wajah ketakutan.
"Emangnya kalau saya bersih-bersih di sebelah, kamu mau nakut-nakuti orang-orang dengan membawa-bawa nama ibu saya?" ancam Mbak Ning.
"Enggak juga, Mbak. Hm ... Nggak jadi deh, Bu Yati nggak jadi hantu soalnya rajin salat nggak kayak saya males-malesen," jawab Mbak Srintil dengan ekspresi ketakutan.
"Awas kamu, ya, kalau ngulangi lagi!" ancam Mbak Ning dengan nada serius tapi sebenarnya ia tidak serius-serius amat karena ia pahak bagaimana karakter Mbak Srintil yang kalau bercanda sering kelewatan tanpa sengaja.
"Iya, Mbak!" jawab Mbak Srintil kalem.
"Rasain kamu, Tiiiiil ... Tiiiill.....," ledek Bu Dibyo.
Aku pun mandi dan menunaikan salat Zuhur di kamar. Saat aku selesai berzikir dan berdoa untuk almarhumah Bude Yati, tiba-tiba Ponselku berbunyi. Aku buru-buru mengambilnya di atas kasur. Ternyata ada sebuah pesan masuk di WA. Aku pun bergegas membuka dan membacanya.
"Gimana, Dik. Apa videonya sudah ditonton? Apa ada yang mencurigakan? Bilang sama Mas Galih kalau ada yang mengganggu kamu dan keluarga Ningrum. Biar saya yang akan menghajar mereka semuanya?" Itulah bunyi pesan masuk yang dikirimkan oleh nomor tanpa nama di pesan masuk.
"Pasti ini nomor pria itu. Apa aku harus memblokirnya sekarang, ya?" rutukku di dalam hati.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Duh, gimana ini, ya? Bantu Mbak Sinta dong mengatasi kerisihannya.
Tulis komentarmu di bab ini!