
Sore itu aku sedang duduk santai di dalam rumah sambil menonton acara televisi. Tiba-tiba sayup-sayup aku mendengar pintu depan diketuk seseorang dari arah luar.
"Siapa sore-sore begini main ke rumah? Kalau Nur, anakku rasanya tidak mungkin, suamiku juga tidak mungkin, karena mereka terbiasa membuka pintu sendiri tanpa harus mengetuk terlebih dahulu?" Aku bertanya-tanya di dalam hati.
Aku berjalan mendekati pintu. Suara ketukan itu tidak terdengar lagi.
"Loh, kok sudah tidak terdengar lagi ketukannya? Jangan-Jangan barusan itu hanya kerjaan anak tetangga yang iseng saja? Tapi, kayaknya selama ini tidak ada anak tetangga yang senakal itu." Aku semakin bertanya-bertanya.
[Tok tok tok]
Aku terkejut sekali karena suara ketukan di daun pintu itu kembali terdengar ketika aku sudah sangat dekat posisinya dengan daun pintu. Aku pun membuka daun pintu untuk memastikan siapa sebenarnya yang baru saja mengetuknya dari luar.
"Assalamualaikum,"
"Wa-a-laikumsalam,"
Aku melihat sosok perempuan cantik sedang berdiri di balik pintu.
"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" tanyaku pada perempuan berambut panjang tersebut.
"Eh, Mbak. Kenalkan nama saya Clara. Sebelumnya saya ingin meminta maaf karena sore-sore begini sudah mengganggu waktu istirahat Mbak. Saya baru saja mengontrak rumah pak RW di depan," jawab perempuan tersebut.
"Oalah, monggo silakan masuk ke dalam! Nggak enak ngobrol di pintu begini," jawabku sambil mempersilakan perempuan yang lebih muda dariku tersebut untuk masuk. Dan perempuan bernama Clara itu pun masuk ke dalam rumahku. Aku sempat melirik ke arah rumah pak RW yang berada tepat di depan rumahku. Rumah tersebut sudah lama tidak ditinggali oleh pak RW karena pak RW membangun rumah yang baru yang letaknya tidak jauh dari rumah lamanya tersebut, hanya selisih satu gang saja.
Sebelum ikut masuk ke dalam, aku melihat di depan rumah pak RW ada seorang anak kecil sedang duduk santai di depan rumah pak RW. Pasti anak itu adalah buah hati Clara.
"Silakan duduk, Mbak Clara!" ujarku pada tetangga baruku tersebut.
"Makasih, Mbak. Ngomong-ngomong panggil Clara saja, Mbak. Nggak enak kalau dipanggil 'Mbak' oleh Mbak. Terasa aneh begitu," jawab Clara dengan ekspresi malu-malu. Aku memaklumi hal itu karena secara usia, ia kurang lebih lima atau delapan tahun lebih muda dariku.
Aku pun duduk di kursi yang berada di depan Clara.
__ADS_1
"Oh ya, perkenalkan nama saya Sinta. Clara, sebelumnya kamu tinggal di mana?" ujarku.
"Hm ... Saya sebelumnya tinggal ikut mertua, Mbak," jawab Clara.
"Ooo ... Kalau boleh tahu, rumah mertua Clara di daerah mana?" tanyaku penasaran.
"Itu loh, Mbak. Di dekat pasar," jawab Clara.
..."Oalah, kenapa sekarang memilih ngontrak? Pasti ingin hidup mandiri, ya?" Jiwa kepo-ku menggeliat....
"Eh ... Nggak begitu juga, Mbak Sinta. Saya sebenarnya betah tinggal di rumah mertua, tapi ...," jawab Clara dengan terbata-bata.
"Nggak usah dijawab pertanyaan saya barusan kalau itu memang sifatnya pribadi. Saya paham kok karena sebelum tinggal di sini, saya dan suami juga sempat berpindah-pindah tempat tinggal," potongku karena merasa tidak enak dengan ekspresi wajah Clara yang mendadak berubah ketika aku mengutarakan pertanyaan itu.
"Nggak apa-apa kok, Mbak. Lain kali deh saya ceritakan. Oh ya, kedatangan saya ke rumah Mbak Sinta ini karena saya ingin meminjam sapu. Kebetulan waktu pindahan tadi siang, saya tidak sempat membeli sapu di perjalanan," ujar Clara kemudian.
"Oalah, saya ambilkan sapunya dulu, ya? Apa nggak sekalian sama kemoceng?" kataku sambil berjalan ke arah ruang tengah untuk mengambil sapu.
"Iya sudah, Mbak. Kebetulan saya juga belum membeli kemoceng," jawab Clara.
"Clara!!!" panggilku sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, tapi tak jua kulihat batang hidung perempuan cantik itu.
Muncul kecurigaan dan analisa yang tidak-tidak di dalam pikiranku terhadap kemunculan perempuan itu.
"Ya Tuhan, jangan-jangan Clara itu adalah anggota kawanan penjahat yang akan merampokku atau jangan-jangan dia itu ...," pikirku di dalam hati sambil tetap mengedarkan pandangan mencari keberadaan Clara.
Tiba-Tiba aku melihat Clara berjalan dengan cepat dari arah rumah pak RW menuju ke rumahku.
"Maaf, Mbak. Saya barusan pergi tanpa permisi. Anakku tiba-tiba menangis karena tadi saya tinggal sendirian di teras," jawab perempuan itu yang berjalan ke rumahku sambil menuntun anaknya yang usianya sekitar tujuh tahunan. Anaknya terlihat mengusap sisa-sisa air matanya.
"Oh, saya tadi sempat bingung karena kamu tiba-tiba menghilang. Wah, sudah besar kok masih nangis, Le? Ditinggal lama sama mama, ya?" ujarku sambil menggoda anaknya Clara supaya tidak menangis lagi.
__ADS_1
"Tadi Riki takut Bude karena tangan Riki dipegangi sama nenek," jawab anak kecil itu dengan polosnya.
"Nenek siapa, Le?" tanyaku penasaran.
"Hus! Nggak boleh ngomong macem-macem sama Bude. Nggak usah ditanggepin omongan Riki, Mbak. Dia emang sering kayak gitu," ujar Clara.
"Tidak apa-apa, Clara. Namanya juga anak-anak. Oh ya, ini sapu dan kemocengnya. Riki mau main di sini dulu sama bude, ya?" ujarku sambil menyodorkan sapu dan kemoceng kepada Clara. Clara mengambilnya dariku.
"Tidak usah keburu mengembalikan sapunya karena saya masih ada cadangannya," ujarku.
"Terima kasih banyak, Mbak!" jawab Clara.
"Mbak. Ini saya ada sedikit kue untuk Mbak Sinta. Mohon diterima, ya!" ujar Clara lagi.
"Wah, terima kasih banyak, ya," jawabku.
"Saya pamit pulang dulu, Mbak. Biar rumahnya segera bersih, jadi nanti malam kami bisa tidur dengan nyenyak," ujar Clara.
"Iya, sudah. Apa perlu saya bantuin?" tanyaku basa-basi.
"Ah, nggak usah Mbak. Saya bisa mengerjakannya sendiri, kok" jawab Clara.
Clara pun pamit dan aku pun masuk ke dalam rumah untuk melanjutkan acara menonton televisi kembali sambil menikmati kue yang dibawa Clara.
Tak terasa matahari sudah semakin condong ke ufuk barat. Sudah tiba saatnya bagiku untuk mengakhiri acara menonton televisi dan melanjutkannya dengan bersiap-siap untuk menunaikan salat Magrib. Sebelum menuju kamar mandi untuk berwudlu, aku bermaksud menutup rapat pintu depan. Namun, saat aku akan menutup pintu tersebut, aku sempat melihat ada seorang nenek dengan rambut beruban sedang duduk di kursi di depan rumah pak RW. Bulu kudukku mendadak merinding melihat wajah nenek tersebut yang tanpa ekspresi.
"Siapa nenek tua itu? Apakah itu ibunya Clara? Kenapa tadi Clara tidak bercerita kalau ia juga membawa ibunya tinggal bersamanya? Tapi mengapa tatapan mata nenek tersebut kosong?" pikirku di dalam hati.
Tidak mau terlalu lama larut dalam pikiranku yang berkecamuk, aku pun segera menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Aku pun segera berjalan menuju kamar mandi. Namun, baru beberapa langkah aku berjalan, tiba-tiba daun pintu di belakangku ada yang mengetuk dengan agak keras.
[Tok tok tok]
__ADS_1
Bersambung
Mohon like dan komennya, ya? Author ingin tahu apakah masih banyak yang penasaran dengan Maranti Season Kedua ini?