
Aku sangat terkejut melihat ulah kucing peliharaanku yang tidak seperti biasanya. Ia melompat ke arahku dengan ekspresi penuh amarah. Untunglah saat itu secara refleks aku bisa berkelit. Kalau tidak, kuku-kukunya yang tajam bisa saja melukai kulitku.
[Brak]
Suara hantaman si kucing yang mengenai lantai kosong di depanku. Setelah mengatur napas, aku pun menyapa kucing peliharaanku itu.
"Empuuus ... kamu kenapa?"
[Meooong ... meooong ...]
Si Empus masih terlihat sangat marah. Aku meundukkan badan untuk mengelus punggungnya, supaya kemarahannya mereda. Akhirnya setelah beberapa detik aku elus-elus punggung dan kepalanya, emosi si Empus pun reda.
"Masuk lagi, yuk, Pus?" ucapku pada si Empus.
Si Empus merebahkan tubuhnya di lantai sebagai tanda bahwa ia ingin digendong olehku. Syukurlah ia sudah tidak marah lagi. Aku pun meraih badannya yang agak gemuk untuk kuangkat dengan kedua tanganku. Namun, darahku kembali terkesiap manakala dalam posisi itu, secara tidak sengaja aku melihat ada sepasang kaki sedang berdiri di sebelahku. Secara perlahan aku mengamati sepasang kaki tersebut, mulai dari bawah terus ke atas sampai kelihatan siapa pemiliknya.
"Mas Diki??? Bikin kaget saja," pekikku sambil menghembuskan napas lega.
"Iya, Dik. Kamu ngapain keluar rumah malam-malam? Apa kamu sudah sholat?" ujarnya.
"Eh, ini Mas. Ta-tadi sa-saya-" jawabku.
"Ayo buruan masuk! Kalau belum sholat, segera sholat! Si Empus dibawa masuk sekalian! Kasihan, di luar cuacanya dingin," potong suamiku.
"Biar si Empus di luar saja, Mas. Dia kan tugasnya menjaga rumah ini? Takutnya di dalam dia buang air sembarangan juga," protesku.
"Iya juga, sih. Tapi, jatah makanannya di luar cukup, kan? Tempat tidurnya juga aman, kan?" ujar suamiku lagi.
__ADS_1
"Kalau masalah itu aman kok, Mas," jawabku.
"Kalau begitu, ayo kita masuk!" ujar suamiku.
"Mana anak kita, Nur, Mas? Bukankah tadi ia pergi bersama mas Diki?" tanyaku.
"Sehabis sholat, dia masih ada acara kumpul-kumpul dengan teman-temannya. Sebentar lagi, dia pasti pulang," jawab mas Diki.
"Oke," jawabku.
Kami berdua pun masuk ke dalam rumah, meninggalkan si Empus di tempat tidurnya di luar rumah. Keberadaan mas Diki saat itu benar-benar membuang rasa ketakutan yang aku rasakan jauh-jauh.
Aku menunaikan salat Isya, sedangkan mas Diki asik menonton televisi di ruang tamu. Saat aku memasuki rekaat keempat, tiba-tiba aku mendengar pintu depan diketuk seseorang. Aku tetap melanjutkan salatku, kupikir itu anakku dan sebentar lagi pasti mas Diki yang akan membukakan pintu untuk anak semata wayangku tersebut. Namun, sampai aku selesai salam, suara ketukan di pintu itu masih terdengar. Berarti belum ada yang membukakan pintu untuk Nur. Aku segera menghambur ke luar untuk mengingatkan suamiku agar membukakan pintu untuk Nur. Namun, di ruang tamu aku melihat suamiku sedang tertidur nyenyak di atas kursi panjang, aku baru ngeh kenapa ia tidak membukakan pintu untuk Nur.
"Pantesan mas Diki tidak membukakan pintu, lah wong dia tertidur," ucapku di dalam hati. Aku pun segera membuka pintu depan.
Aku menonton tayangan sinetron di depan televisi dengan didampingi suamiku yang sedang tertidur. Aku sudah sering seperti itu. Aku sengaja tidak membangunkannya sebelum sinetronnya selesai. Kalau sudah sampai waktunya tidur, aku segera membangunkan suamiku untuk pindah timur ke kamar kami.
[Srek kesrek kesrek]
Aku mendengar ada suara langkah kaki di depan rumahku. Aku penasaran, langkah kaki siapakah itu? Aku memilih untuk mengintipnya melalui jendela. Toh, sekarang aku tidak sedang sendirian. Ada suami dan anakku di sini. Aku mengintip melalui lipatan korden yang sudah kututup tadi. Semakin lama, suara gesekan antara alas kaki dan paving itu pun semakin jelas terdengar. Dan kali ini si empunya sudah tepat berada di pinggir jalan di depan pelataran rumahku. Orang itu berhenti sejenak dan kemudian berbalik berjalan ke arah pintu depan rumahku.
"Astagfirullah!!!!" Aku memekik terkejut karena melihat sesuatu yang aneh terjadi saat itu. Ternyata orang itu adalah anakku, Nur.
Aku menjadi bingung dan panik dengan apa yang sedang kulihat. Bagaimana mungkin, Nur yang beberapa menit yang lalu sudah masuk ke dalam kamarnya, tiba-tiba saat ini aku melihatnya sedang berada di teras rumah sedang berjalan mendekati pintu rumahku.
"Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Manakah anakku yang asli? Yang sedang berada di dalam kamarnya, atau yang sekarang berada di depan rumah?" pekikku di dalam hati.
__ADS_1
Dalam keadaan kalut seperti itu, aku meraih, tangan suamiku dan kugoyangkan tangannya supaya ia terbangun.
[Tok tok tok]
"Assalamualaikum"
Suara ketukan pintu dan salam Nur dari balik pintu. Mas Diki yang aku goyang-goyangkan tangannya tidak bangun juga. Tidak berputus asa, aku goyang-goyangkan badan suamiku supaya segera bangun, namun hasilnya juga nihil.
Aku panik dan takut, suara ketukan pintu dan salam dari Nur semakin keras. Saat itu aku membutuhkan bantuan mas Diki untuk melewati situasi genting ini. Apakah aku harus membuka pintu atau tidak? Tetapimas Diki tidak kunjung bangun juga.
Akhirnya aku memutuskan untuk memeriksa anakku di kamarnya terlebih dahulu. Suara ketukan dan salam di luar rumah, untuk sementara tidak kuhiraukan.
[Krieeeeeeet]
Aku membuka pintu kamar anakku secara perlahan. Jangan ditanya perasaanku saat itu, antara ngeri dan takut menjadi satu. Tapi, aku harus bertindak. Aku memilih untuk mengecek kamar anakku terlebih dahulu. Karena instingku mengatakan, yang datang lebih awal itulah anakku yang asli. Saat pintu kamar dibuka, di dalamnya gelap gulita. Dengan penuh rasa was-was, tanganku meraba-raba dinding untuk mencari tombol saklar. Syukurlah, aku segera menemukan tombol tersebut dan segera kutekan tombolnya.
[Klek]
Kamr yang semula gelap gulita menjadi ternag benderang seketika.
Aku melihat di atas kasur, ada gundukan yang tertutup selimut rapat-rapat. Aku berjalan secara perlahan mendekati gundukan itu, hingga akhirnya gundukan itu sudah berada tepat di depanku. Dengan gemetar aku menarik secara perlahan kain yang menutupi bagian atas gundukan tersebut. Dan betapa terkejutnya aku ketika kain penutup itu telah tersingkap dan menunjukkan apa yang telah tertutupi oleh kain tersebut sebelumnya. Sesosok wajah sedang melotot tajam ke arahku dengan jarak tak lebih dari satu meter di depan mataku.
"ASTAGFIRULLAH!!!" pekikku karena terkejut.
Bersambung
Jangan lupa membaca novel KAMPUNG HANTU (sudah tamat season kesatu dan kedua)
__ADS_1