
Pak Ade menarik menghela napas cukup dalam. Ia tidak pernah membayangkan bahwa ia akan menceritakan semua rahasia itu kepada istrinya sendiri.
“Dik, aku tidak tahu pasti apa yang telah dilakukan Pak Hartono kepada Laras, tapi aku yakin dia mati dibunuh oleh arwahnya Laras. Pak Hartono yang kukenal adalah orang yang sangat berhati-hati terutama di jalan raya. Tidak mungkin tengah malam ia sampai terlindas truk begitu. Biasanya ia standby berjaga di posnya pada jam-jam segitu,” jawab Pak Ade.
“Iya juga, sih? Tapi, segala kemungkinan bisa saja terjadi, Mas? Setahuku Pak Hartono juga bukan orang yang senang main perempuan,” protes Bu Nisa.
Hampir saja ia menertawakan omongan istrinya. Tapi, kalau ia mengatakan bahwa Pak Hartono itu paling senang mangku Purel di tempat karaoke, itu sama saja dengan ia memberitahu istrinya bahwa ia juga laki-laki seperti itu. Sedangkan, ia sendiri tidak mau terlihat tidak setia di mata istrinya karena itulah satu-satunya kesalahan yang tidak bisa dimaafkan oleh istrinya. Bu Nisa memang seorang pencemburu kelas berat.
“Iya, kamu benar, Dik. Pak Hartono memang bukanlah orang yang suka main perempuan. Tapi, aku pernah memergoki Pak Hartono dan Pak Dimas sedang bertengkar. Mereka berdua itu seperti sedang memperebutkan Laras. Dan keduanya seperti saling menantang begitu. Yah, selama ini aku juga tahu sebenarnya mereka berdua itu saling iri terutama tentang perlakuan aku kepada mereka berdua. Yang satu teman kecilku. Yang satunya lagi teman akrabku saat hidup susah. Tapi, aku mendengar dengan telingaku sendiri mereka berdua seperti menjadikan Laras sebagai barang taruhan,” jawab Pak Ade serius.
“Oh, begitu? Tapi, Mas. Bagaimana dengan nasib kita sekarang. Aku tidak mau Laras juga akan membunuh Mas Ade? Aku tidak mau kehilangan Mas Ade,” jawab Bu Nisa dengan merengek.
“Begini, Dik! Selagi kamu bisa bersikap tenang maka semua akan baik-baik saja. Jatmiko dan ibunya sudah memberikan jalan kepada mas supaya bisa selamat dari ancaman kematian Laras,” jawab Pak Ade.
“Oh ya? Tapi, kenapa arwah Laras masih berkeliaran Mas?” tanya Bu Nisa dengan kebingungan.
“Dik, hanya ada satu cara untuk mas supaya bisa selamat dari kematian yaitu dengan memusnahkan arwah Laras,” jawab Pak Ade.
“Oh ya? Apa bisa Mas Ade memusnahkan arwah Laras? Mas bukan dukun atau kyai yang memilik kemampuan supranatural seperti itu?” protes Bu Nisa tidak percaya.
“Ya, tentunya mas perlu dibantu oleh Jatmiko dan ibunya, Dik!” jawab Pak Ade datar.
__ADS_1
“Gimana caranya, Mas?” tanya Bu Nisa.
“Mas belum tahu, Dik. Tiga hari lagi ibunya Jatmiko akan memberitahuku,” jawab Pak Ade.
“Apa? Tiga hari lagi? Sedangkan arwah Laras barusan sudah menggangguku di kamar mandi? Kalau harus menunggu tiga hari apa itu akan menjamin Laras tidak akan membunuh Mas Ade atau kita duluan?” protes Bu Nisa.
Pak Ade tersenyum kepada istrinya.
“Kamu nggak usah takut, Dik! Laras tidak akan bisa menyentuh dan menyakiti kita bertiga. Setidaknya selama tiga hari ini,” jawab Pak Ade dengan nada lembut.
“Bagaimana bisa kamu berkata seperti itu, Mas? Lah wong barusan arwah Laras sudah menggangguku di kamar mandi sampai aku ketakutan begini,” protes Bu Nisa lagi.
“Apa? Jadi, Mas Ade sudah memasukkan jampi-jampi ke dalam minuman kami berdua Kenapa itu Mas Ade lakukan kalau akibatnya malah aku dan Revan bisa melihat arwah Laras? Kami berdua bisa mati ketakutan karena itu,” protes Bu Nisa.
“Setelah mengkonsumsi jampi-jampi itu kalian berdua memang bisa melihat dan merasakan makhluk halus, tapi Laras tidak bisa melihat dan menyentuh kita bertiga. Cara kerja ramuannya memang seperti itu. Dan itu akan bertahan selama tiga hari,” jawab Pak Ade.
“Nggak kelihatan bagaimana, Mas? Jelas-Jelas tadi arwah Laras itu menatapku?” protes Bu Nisa.
“Iya, karena kamu yang memberi dia energi dengan rasa ketakutan berlebihanmu itu. Itu pun, dia hanya bisa melihatmu samar-samar. Ia tidak akan bisa menyakiti kita bertiga selama tiga hari ini,” jawab Pak Ade.
“Oh, maksud mas kalau aku besikap tenang, maka kemampuan penglihatan Laras akan berkurang?” tanya Bu Nisa.
__ADS_1
“Ya, begitulah. Maka dari itu kita harus tetap tenang. Supaya Laras tak sedikitpun dapat melihat kita,” ujar Pak Ade.
“Oke, Mas. Tapi kenapa Laras ada di sekitar kita, Mas?” tanya Bu Nisa.
“Kekuatan arwah penasaran itu adalah kebencian atau cinta. Laras pasti sangat benci kepada mas, Dik. Makanya dia gentayangan di sekitar mas berada,” jawab Pak Ade.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang, Mas? Apa kita pergi jauh saja dari kota ini? Sejujurnya, aku tidak bisa seratus persen lepas dari rasa ketakutanku pada Laras. Apalagi kalau aku sedang sendirian,” jawab Bu Nisa.
“Percuma, Dik. Menurut ibunya Jatmiko, ke manapun aku pergi, arwah Laras akan selalu mengikuti karena ia mengenali energi kebenciannya kepada mas. Ia bau bisa tenang kalau semua dendamnya telah terbalaskan dan juga orang-orang yang dicintainya ikhlas melepas kepergiannya,” jawab Pak Ade.
“Mas ngomong kayak gitu aku kok malah takut, ya?” jawab Bu Nisa.
“Nggak usah takut, Dik. Ada mas di sini,” jawab Pak Ade sambil membelai rambut istrinya.
Bu Nisa menikmati perasaan damai yang menghinggapi dadanya karena berada di pelukan orang yang paling ia sayangi. Namun, karena situasi yang sepi, perempuan itu kembali merasa takut dengan Laras. Perasaan takutnya semakin lama semakin besar. Terlebih ketika ia mendengar suara bunyi air di kamar mandi yang tidak sempat ia matikan kerannya. Semakin lama bunyi air itu mengingatkan perempuan itu pada sosok arwah Laras yang menyeramkan. Hayalan terhadap Laras semakin lama semakin terbangun di pikiran perempuan itu. Mula-Mula suara air itu semakin mirip dengan suara derap langkah Laras. Dan benar saja semakin Bu Nisa memiripkan suara air itu dengan suara derap langkah Laras, suara derap Langkah Laras semakin nyata didengar oleh Bu Nisa. Dan kini suara langkah itu benar-benar menjelma utuh di telinga perempuan itu. Berawal dari kamar mandi, suara derap langkah itu terus bergerak menuju bagian luar kamar mandi. Saking paniknya, Bu Nisa melirik ke arah tembok yang membatasi antara posisi dipan dan kamar mandi. Ada kekhawatiran arwah Laras akan muncul di balik tembok itu. Kekhawatiran itu semakin memuncak dan benar saja dari balik tembok itu Bu Nisa melihat ada sesosok wajah menyeramkan dengan pakaian berwarna putih sedang melangkah ke arahnya dengan membunyikan suara yang terdengar berat di telinga.
“Maaaaaas! Laras datang!!!!” teriak Bu Nisa sambil memeluk Revan dan suaminya dengan erat.
BERSAMBUNG
Jangan lupa memberikan like dan komentar dari awal bab sampai bab akhir tanggal 30 November 2022. Pengundian pemenang dilakukan awal Desember 2022.
__ADS_1