MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EKSTRA PART 2 : BULEK DARSIH


__ADS_3

Darsih adalah adik dari ibunya Sinta dan juga ibunya Ningsih. Profesi keseharian Darsih adalah pemilik beberapa sekolah swasta di kota ini. Darsih adalah sosok pekerja keras, dingin, dan ceplas-ceplos dalam berbicara. Semakin peduli dengan seseorang, maka perempuan tua itu akan semakin keras berbicara, termasuk kepada guru-gurunya yang ada di sekolah yang ia pimpin dan juga keponakan-keponakannya.


Darsih muda memiliki cita-cita yang sangat tinggi, yaitu ingin memberikan pendidikan yang murah dan berkualitas untuk semua anak Indonesia, terutama yang berasal dari keluarga kurang mampu.


Mengawali karir sebagai guru honorer, Darsih sangat disupport oleh suaminya. Suami Darsih adalah seorang wirausahawan yang ulet dan pantang menyerah. Penghasilan suami Darsih sebenarnya lumayan besar, namun semuanya habis digunakan untuk merintis sekolah yang sudah lama dicita-citakan oleh mereka berdua. Darsih pun demikian, setelah ia mendapat tunjangan sertifikasi dan inpashing dari pemerintah, ia gunakan semua itu untuk membeli semua kebutuhan sekolah yang ia rintis bersama suaminya.


Marisa adalah orang kepercayaan Darsih di sekolah. Anak itu ulet sekali dalam bekerja, sehingga sekolah yang dikelola mereka pun maju pesat. Menjelang kematiannya, suami Darsih sempat membeli satu hektar anak untuk dikelola oleh Darsih. Suaminya berpesan kepada Darsih untuk tidak mengambil keuntungan dari pendidikan yang mereka kelola. Jadi, Darsih mengelola satu hektar tanah itu untuk kebutuhan keluarga sehari-hari.


Kepergian suaminya meninggalkan kesedihan mendalam di hati Darsih. Seseorang yang telah mendukung cita-citanya dan juga melindunginya selama ini telah pergi untuk selama-lamanya dalam keadaan sekolah yang sedang berkembang pesat dan hasil pertanian Darsih yang juga lebih dari cukup. Kalung unik yang pernah dibelikan suaminya waktu rekreasi ke Yogyakarta selalu dipakai oleh Darsih untuk mengenang almarhum suaminya. Usaha yang ditinggalkan suaminya pun tetap berkembang dan dikelola oleh keponakan suaminya.


Kesuksesan Darsih mendirikan satu lembaga pendidikan pun membuatnya dengan berani membangun beberapa sekolah lain di tempat yang berbeda. Para donatur juga berebut menyumbang di sekolah yang Darsih bangun karena bagusnya visi dan misi sekolah tersebut.


Dengan majunya sekolah dan usaha pribadinya membuat Darsih yang dulu tampil sederhana kini sudah berubah drastis menjadi tampil istimewa karena Darsih juga acapkali diundang untuk mengisi seminar-seminar pengelolaan lembaga pendidikan di pelbagai tempat. Mobilnya pun mewah, itu pun tidak dibeli dari dana sekolah, melainkan dari uang pribadinya. Mobil mewah itu pun digunakan untuk mengantar anak-anak asuhnya dari asrama ke sekolah secara antar jemput.

__ADS_1


Tak hanya itu, Darsih pun sering berbelanja di mall, tidak hanya untuk dirinya, tapi juga untuk memenuhi kebutuhan anak-anak asrama. Mereka memang anak-anak yang kurang dipedulikan orang tua, tapi mereka bahagia bisa dirawat oleh Darsih. Darsih sengaja sering mengajak mereka ke mall dan tempat-tempat rekreasi layaknya anak orang kaya, karena Darsih ingin membahagiakan mereka. Tapi, jangan salah, sebagai gantinya setiap ulangan mereka harus mendapatkan nilai yang bagus. Kalau tidak! Darsih sudah siap mengomeli mereka. Anak-Anak yang tinggal di asrama sangat hormat dan patuh kepada Darsih.


Ada suatu kecurigaan yang Darsih pikirkan dengan Wisnu, suami keponakannya. Suatu hari Darsih meminta tolong Wisnu untuk mencarikan armada yang akan mengantar anak-anak yang mau studi wisata. Pada saat itu Wisnu berkoordinasi dengan Marisa tentang masalah biaya sewa dan sebagainya. Marisa diminta oleh Darsih untuk mengantar uang ke rumah pemilik armada itu. Wisnu mengantarnya karena Wisnu yang mengetahui rumah orang tersebut. Tentunya keduanya menggunakan motornya masing-masing karena Marisa tidak suka membonceng pada orang yang bukan muhrimnya.


Keesokan harinya Marisa bersikap tidak seperti biasanya. Bahkan kesehatannya menurun drastis sejak saat itu, terutama paru-parunya. Hingga akhirnya Mariska menghembuskan napas yang terakhir dengan menyisakan duka mendalam di hati Darsih.


Sejak saat itu Darsih mulai curiga dengan Wisnu. Selain kematian Marisa, Darsih juga mencurigai kematian kakaknya yang mendadak. Ia menyangka itu bukanlah kematian yang biasa saja. Pasti ada sesuatu di balik ini semuanya. Sejak semula Darsih memang curiga dengan Wisnu. Ia adalah salah satu keluarga Ningsih yang menolak Wisnu untuk menjadi suami Ningsih. Bahkan ketika kakaknya sudah bisa menerima Wisnu karena Wisnulah yang menolong Ikbal saat Ikbal membutuhkan transfusi darah, Darsih masih tetap menganggap Wisnu bukanlah sosok yang sebaik tampangnya.


Bukan Darsih kalau hanya menyimpan kecurigaan di hatinya. Ia pun mulai menyelidiki tentang aktifitas Wisnu. Ia tidak melakukannya sendiri, melainkan meminta anak temannya untuk melakukan aktifitas itu di luar jam dinasnya sebagai polisi.


Untunglah ia datang tepat waktu. Saat Pak RT menghentikan mobilnya di depan mini market, ia menghampiri mobil Pak RT dan berpura-pura menyapanya sambil melihat ke jok belakang mobil Pak RT. Saat itulah Pak RT langsung meminta tolong Darsih untuk membawa Sinta yang sedang tertidur lelap ke rumahnya. Seandainya ia tidak datang saat itu, mungkin Pak RT sudah berbuat kurang ajar pada Sinta yang sedang berada di bawah pengaruh obat tidur. Ketika Sinta sudah bangun ia sudah tidak cemas lagi dengan keselamatan Sinta karena ia tahu Sinta pernah ikut bela diri. Kalau cuma Pak RT sepertinya masih bisa dilawan oleh Sinta.


Ia tahu Sinta dan Ningsih akhir-akhir ini tidak suka dengan sikapnya yang kasar. Terutama ketika ia ingin mengajak Ikbal tinggal di rumahnya. Saat itu Ningsih marah besar dan bernai.melawan Darsih. Padahal saat itu Darsih khawatir dengan keselamatan Ikbal. Tapi, itu semua Darsih lakukan karena ia sedang berusaha mengelabui mereka semua tentang penyelidikannya. Kalau ia dekat dengan Sinta dan Ning tentunya orang-orang itu akan mewaspadainya, lain halnya kalau ia terlihat tidak harmonis dengan kedua keponakannya. Penjahat-Penjahat itu akan lengah dengan Darsih dan polisi yang ia sewa.

__ADS_1


Ia tidak mau aktifitas detektifnya diketahui oleh siapapun. Bahkan secara diam-diam polisi yang ia sewa telah meletakkan alat pelacak di mobil Sinta, Pak Seno, dan Pak RT. Berkat kecerdikannya itu akhirnya ia berhasil menolong dan menyelamatkan nyawa dua keponakannya dari kebiadaban anggota sekte sesat itu.


Darsih sangat sedih ketika mengetahui ternyata benar dugaannya selama ini. Wisnu adalah orang yang telah menumbalkan kakaknya dan juga orang kepercayaannya. Ia juga merasa kasihan terhadap Ningsih karena selama ini keponakannya itu mencintai orang yang salah.


*


Sudah lengkap belum ekstra partnya?


Kalau belum, silakan tulis di kolom komentar, tokoh siapa yang mau di-spill di ekstra part berikutnya.


Jangan lupa untuk membaca karyaku yang lain


DARAH INDIGO

__ADS_1


KAMPUNG HANTU


SEKOLAH HANTU


__ADS_2