MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 14 : INSIDEN


__ADS_3

Pak Herman pun diantar oleh Pak Salihun dan Pak Ratno menuju ke kuburan Laras. Baru sampai di pintu gerbang pemakaman saja kedua karyawan Pak Herman sudah bergidik ngeri dan mereka pun memberi kesempatan kepada Pak Herman untuk berjalan di depan.


"Kalian berdua ini kayak anak kecil saja. Kita semua ini pasti suatu saat akan mati juga. Orang kalau sudah mati itu tidak mungkin memikirkan untuk menghantui orang lain. Yang ada ya mempertanggungjawabkan perbuatannya selama hidup," tegur Pak Herman kepada kedua orang di depannya yang terlihat ketakutan berada di kuburan.


"Mboten, Pak. Kami tidak takut. Kami hanya nggak enak kalau berjalan di depan Bapak. Tuh dengar kamu, Ratno!" jawab Pak salihun.


"Oh begitu. Ya sudah, kalian berdua berjalan di depan. Biar saya dibelakang," balas Pak herman berusaha memberi pelajaran untuk kedua anak buahnya.


"Eeeeee ....," gumam Pak Salihun sambil kakinya mendadak gemetaran.


"Ayo, silakan jalan duluan!" suruh Pak Herman.


"Mohon maaf, Pak. Mata saya agak rabun. Biar Pak Herman saja yang di depan. Pak Herman kan masih muda," jawab Pak Salihun.


"Oke, tidak masalah. Tapi, di mana-mana dedemit itu sukanya mengganggu orang yang berada paling belakang," sahut Pak Herman sambil mendahului lagkah mereka menyusuri jalan setapak di tengah kuburan.


"Tunggu, Pa herman. Jangan tinggalkan kam!" teriak Pak Salihun dari arah belakang diikuti oleh Pak Ratno.


Pak Herman senyam-senyum sendiri melingkah kekonyolan tingkah kedua karyawan sawahnya itu. Sementara itu Pa Salihun dan Pak Ratno menggerutu di dalam hatinya. Mereka berdua menyesal telah bersedia mengantar majikanya itu berziarah ke makam Laras kalau tahu keadaannya akan seseram ini.


Setelah berjala selama beberapa menit di tengah area kuburan, akhirnya mereka pun sampai di dekat makam Laras.


"Sebelah mana makamnya, Pak Salihun?" tanya Pak Herman ketika mereka sudah hampir mencapai ujung dari jalan setapak yang mereka pijak.


"Di sebelah sana, Pak herman! Itu, tanahnya yang masi terlihat basah!" jawab Pak Salihun sambil menunjuk ke arah makam yang baru ditimbun.


Posisi Pak Salihun saat itu agak merapat dengan Pak Herman. Omongan Pak Herman tadi benar-benar mempengaruhi kondisi psikologisnya.


"Hun, Jangan nunju-nunjuk kuburan! Pamali!" teriak Pak Ratno tiba-tiba sesaat setelah melihat temannya menunjuk kuburan Laras.


"Kenapa, Rat?" tanya Pak Salihun kaget ke dekat telinga Pak Ratno.


"Kamu pernah dengar belum, Somali tetangga kita itu pernah didatangi memedi sehabis menunjuk kuburan," jawab Pak Ratno dengan wajah serius.


"Ya Tuhan. Amit-Amit .. Aku barusan khilaf saja. semoga aku nggak mengalami kejadian seperti yang dialami Somali," jawab Pak Solihun dengan bibir bergetar karena takut.


"Sudah, nggak usah takut, Pak Salihun. Itu hanya mitos belaka," jawab Pak Herman.

__ADS_1


"Aamiiin ...,"jawab Pak Herman.


"Ayo, temani saya ke kuburan Laras!" ujar Pak Herman pada kedua karyawannya.


"I-i-iya, Pak," jawab Pak salihun agak terbata-bata.


Sedetik rasanya setahun bagi Pak Salihun dan Pak Ratno saat itu. Setiap jengkal langkah mereka semakin dekat dengan kuburan rasanya sangat berat sekali. Demi menunjukkan loyalitas mereka kepada majikannya, mereka pun menguatkan hati yang sebenarnya sudah terasa copot sejak tadi.


Akhirnya, mereka pun sampai tepat di makam Laras. Makam Laras saat itu masih basah tanahnya. Pak Herman menyuruh Pak Salihun dan Pak Ratno untuk berdiri di sisi yang lain. Dengan gemetar Pak Salihun dan Pak Ratno pun berjalan memutari makam Laras.Kali ini mereka berdua sudah behadapan dengan Pak Herman. Pak Herman dengan tenangnya langsung duduk di dekat batu nisan Laras dan mulai membaca doa untuk almarhumah Laras. Sedangkan Pak Salihun dan Pak Ratno masih berdiri di samping makam laras. Jangankan mengirim doa, melihat makam Laras saja mereka sudah ketakutan. Mereka berdua hanya bisa melihat majikannya yang berdoa dengan khusyu di depan mereka.


"Pak Salihun dan Pak Ratno tidak mau mengirim doa kepada Laras? Sesama umat manusia kita harus salng mendoakan loh!" tegur Pak Herman setelah selesai berdoa.


"I-iya, Pak," sahut Pak Salihun merasa malu dengan teguran Pak Herman.


Pria tua itu pun buru-buru duduk seperti Pak Herman untuk berdoa meskipun mereka sebenarnya ingin segera pergi dari tempat itu.


Blessss


Tiba-Tiba tanah yang dipijak oleh kedua pria tua itu amblas.


"Tolong!" pekik Pak Salihun.


"Kalian kenapa?" teriak Pak Herman sambil memegang tangan Pak Salihun dan Pak Ratno agar tidak terperosok semakin dalam ke makam Laras.


"Jangan Laraaaas! Jangan tarik kaki bapak!" pekik Pak salihun ketakutan sambil menangis.


"Ampun, Laraaas!!" pekik Pak Ratno juga dengan ketakutan.


Pak Herman yang semula panik dengan kejadian yang menimpa kedua anak buahnya itu pun menjadi terpingkal karena reaksi mereka berdua yang terkesan berlebihan.


"Pak Salihun dan Pak Ratno ini nggak usah aneh-aneh deh. Kalian itu cuma terperosok setengah meter saja sudah ketakutan begini. Ayo, saya bantu naik!" teriak Pak Herman sambil menahan tawanya.


Pak Salihun dan Pak Ratno masih memejaman matanya ketika Pak Herman menertawai tindakan mereka. Ketika majikannya berusaha menarik tangannya, barulah mereka berdua berani membuka matanya kembali. dan benar saja, Pak Herman sedang tertawa terkekeh-kekeh dan kaki mereka hanya terperosok setengah meter saja.


"Terperosok segitu di makam bau mah biasa, Bapak-Bapak. Mungkin kemarin pas menimbun tanahnya kurang ditekan sehingga kerapatan tanahnya kurang. Nggak apa-apa, kok. Laras nggak mungkin menghantui kalian Bukankah kalian berdua sudah membantu mengurus jenazah Laras. Iya kan. Laras?" ujar Pak Herman.


"Ih, Pak Herman ini malah ngobrol sama nisannya Mbak Laras," omel Pak Salihun sambil naik ke atas.

__ADS_1


"Biar kalian nggak terlalu tegang. Ayo, buruan timbun lagi bekas kaki kalian dengan tanah!" ucap Pak Herman.


"Iya, Pak. Terima kasih atas bantuannya" jawab Pak salihun.


"Saya yang harusnya berterima kasih karena kalian berdua sudah mau mengantar saya ke sini," jawab Pak Herman.


Pak Salihun dan Pak Ratno pun menutup bekas kakinya dengan tanah yang ada di seitar makam tersebut. Setelah itu mereka pun berdoa sejenak dan langsung berjalan kearah Pak Herman kembali.


"Ayo, pulang, Pak!" ucap Pak Salihun perlahan.


"Nggak mau mengiap di sini, Pak?" goda Pak Herman.


"Makasih, Pak. mau dibayar sejuta pun saya nggak mau, Pak," sahut Pak Salihun.


"Ya, sudah. Ayo, pulang!" ujar Pak Herman sambil menyungging senyum.


Kali ini Pak Salihun dan Pak Ratno dengan sigap berjalan di depan Pak Herman. Pak Herman senyam-senyum sendiri meihat tingkah kedua karyawannya itu.


"Pak, silakan duluan! Saya ditinggal nggak apa-apa!" teriak Pak Herman.


"Tidak, Pak. Enak barengan saja," jawab mereka tanpa menoleh ke belakang.


Pak Salihun dan Pak Ratno  terus berjalan hingga sampai di pintu gerbang makam. Pada saat sampai di pintu makam, barulah Pak Salihun menoleh ke belakang.


"Pak, mau langsung ke rumah Pak RT sekarang atau nan-?" tanya Pak Salihun.


"Rat ... Rat ...," ujar Pak Salihun dengan terbaa-bata.


"Kenapa, Hun? tanya Pak Ratno yang kebingungan melihat tingkah temannya yang terlihat panik.


Tidak panjang lebar, Pak Salihun pun memutar badan temannya itu menghadap ke belakang dan kali ini Pak Ratno ikutan panik.


"Loh, mana Pak Herman, Rat?" teriaknya panik.


"Itu di, Rat, saya juga bingung. Sebaiknya sekarang kita ka-ka-kabuuuuuuuuur ...," teriak Pak salihun dan ia pun langsung lari meninggalkan tempat tersebut diiuti oleh Pak Ratno.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2