MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
BAB 6 : TAK TENANG


__ADS_3

Keberadaan Mbak Srintil di dapur Mbak Ning membawa aura tersendiri dan membuat suasana lebih hidup dan tidak membosankan. Salut juga lama-lama sama perempuan bertubuh sintal tersebut. Dalam keadaan hati yang sedang gundah gulana seperti itu, Mbak Srintil masih bisa tersenyum dan membuat orang-orang di sekitarnya terhibur.


"Til, suamimu sudah datang apa belum?" tanya Bu Dibyo sambil mengiris bumbu.


"Kalau hari Jumat sampai Minggu jangan tanya Mas Joyo, Bu. Dia nggak akan pulang ke rumah karena harus ngurusi proyeknya," jawab Mbak Srintil.


"Proyek apa, Til?" tanya Bu Dibyo lagi.


"Proyek buat anak lagi, Bu. Biasa, istri baru," jawab Mbak Srintil enteng.


"Loh, kamu ini gimana, Til ... Til ... suami nikah lagi kok nggak ada susah-susahnya?" protes Bu Dibyo.


"Mau susah gimana, Bu Dibyo? Lah, kan enak, saya nggak perlu masak banyak kalau hari Jumat sampai Sabtu. Tinggal masak setengah kilo saja wes cukup buat saya sama Sakha, anak kami," jawab Mbak Srintil enteng.


"Tapi, uang belanja lancar, kan?" tanya Bu Dibyo lagi.


"Beh, jangan ditanya kalau uang belanja, Bu. Semenjak nikah lagi, Mas Joyo memberikan kesempatan kepada saya untuk lebih mandiri. Maksudnya saya tidak dikasih uang belanja sama sekali," jawab Mbak Srintil dengan nada bercanda.


"Duh, piye kamu ini, Til? Kok, ya, diem saja punya laki diembat orang," ujar Bu Dibyo.


"Lah terus saya harus ngapain, Bu? Masa saya harus teriak-teriak atau lari keliling stadion? Capek dong saya?" ujar Mbak Srintil.


"Kenapa kamu tidak berusaha melabrak selingkuhan suamimu, Til? Kayak di TV-TV itu?" tanya Bu Dibyo lagi.


"Lah, misalkan pas saya labrak, Mas Joyo malah membela istri barunya, saya kan malu jadinya, Bu?" kilah Mbak Srintil.


"Itu kan urusan nanti, Til? Yang penting kamu bisa menjambak rambut perempuan itu, kan ya enak?" cerocos Bu Dibyo.


"Biar wes, Bu. Capek saya sudah ngurusi Mas Joyo. Bisa gila saya kalau mikirin dia terus," jawab Mbak Srintil.


"Keenakan selingkuhan suamimu, Til. Kamu nggak punya rencana ngeracun mereka gitu?" pancing Bu Dibyo.

__ADS_1


"Kalau pas mereka mati, gimana?" tanya Mbak Srintil.


"Lah, kan emang itu tujuannya, Til?" tanya Bu Dibyo.


"Nggak wes, Bu. racun tikus mahal. Mending uangnya tak buat ngisi tabung gas. Lumayan bisa buat masak seminggu," jawab Mbak Srintil.


"Duh, Tiiiil .... Tiiiil ... gitu aja kamu hitung? Ngomong-Ngomong kenapa suamimu bisa selingkuh? Palingan goyanganmu kurang yahud, Til?" ledek Bu Dibyo.


"Loh, jangan sepelekan goyangan saya, Bu. Dari goyangan walang kekek sampai goyangan patah-patah saya bisa loh," jawab Srintil tak mau kalah.


"Lah, terus kalau kamu memang pinter goyang, kok bisa suamimu lari ke pelukan orang lain?" tanya Bu Dibyo.


"Mungkin Mas Joyo nggak kuat dengan goyangan saya, Bu. Jadi dia nyari yang goyangannya agak kalem sedikit," jawab Mbak Srintil sambil mempraktekkan goyangan ngebornya ala biduan dangdut yang biasa keliling dari kampung ke kampung.


Aku yang menonton adegan Mbak Srintil mempraktekkan goyangan mautnya tak tahan untuk tidak tertawa.


"Kalau goyanganmu kayak gitu pantas saja Mas Joyo kabur ke wanita lain, Mbak Srintil ...," sahut Mbak Ning yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Siapa juga yang nyuruh kamu goyang di sini, Til? Kamu ini kok suka mengada-ada?" protes Bu Dibyo yang merasa sungkan dengan tuan rumah.


"Lah, barusan itu apa, Bu Dibyo?" protes Mbak Srintil.


"Sudah ... Sudah ... nggak usah berebut! Nanti tak suruh joget dua-duanya malahan kalau nggak mau berhenti bertengkar," teriak Mbak Ning untuk meredakan situasi.


Setelah bekerja selama beberapa jam di dapur, akhirnya masakan untuk acara nanti malam pun siap disajikan.


"Ke mana orang-orang, Mbak?" tanyaku pada Mbak Ning selepas salat Zuhur karena tak kujumpai satu orang pun di dapur.


"Mereka baru pulang, Dik saat kamu menunaikan salat Zuhur barusan," jawab Mbak Ning sambil meletakkan piring yang baru dilap ke atas meja.


"Mereka nanti datang lagi, kan?" tanyaku.

__ADS_1


"Iya, Dik. Biasanya habis asar mereka sudah balik lagi ke sini," jawab Mbak Ning.


"Mbak, pohon kelor di depan itu ke mana? Dulu bude kan minta ke aku dahannya untuk ditanam di sini? Terakhir ke sini saya lihat pohonnya tumbuh dengan bagus, sekarang kok nggak ada?" cerocosku.


"Oh, pohon kelor yang itu? Sudah lama mati, Dik," jawab Mbak Ning.


"Loh, kok bisa mati? Apa kena siram sesuatu? Soalnya pohon kelor di rumah saya malah tumbuh bersemi. Pohon kelor itu semakin sering dipanen daunnya maka semakin bersemi tumbuhnya," tuturku.


"Iya. Pohonnya mati sekitar sebulan yang lalu. Waktu itu Bulek Darsih ke sini minta dahan pohon kelor katanya mau ditanam. Sama ibu disuruh ambil sendiri di depan. Ealah, mungkin karena pas motong pohonnya digoyang-goyang atau entah karena apa, sejak itu pohonnya malah layu ... layu ... dan akhirnya mati," jawab Mbak Ning.


"Duh, emannya, Mbak. daun kelor itu baik loh untuk kesehatan dan pohon kelornya bisa untuk menolak sihir," balasku.


"Iya, Mbak, saya juga pernah dengar hal itu. Kalau sampean ke sini lagi, tolong bawain dahan kayu kelor lagi, Dik. Biar saya tanam lagi di depan menggantikan pohon kelor yang sudah mati," rengek Mbak Ning.


"Oke, siap, Mbak," jawabku.


*


Hari itu aku berencana untuk menginap di rumah Mbak Ning. Pukul lima sore Mas Diki datang bersama Nur untuk mengikuti acara tahlilan. Mas Diki memang sudah kubilangi untuk menjemput Nur dan suamiku itu melakukan sesuai apa yang aku minta. Dan sepertinya Nur juga ikut Mas Diki keliling ke toko-tokonya yang lain.


"Mbak Ning, malam ini kami boleh menginap di sini?" tanyaku berbasa-basi.


"Beneran nih? Tentunya saya senang kalau Dik Sinta mau menginap di sini. Tapi, keadaannya ya beginilah. Tidak senyaman di rumah Dik Sinta," jawab Mbak Ning.


"Sama saja kok, Mbak," cetusku.


Malam itu kami menginap di rumah itu. Pukul sepuluh malam semua orang sudah terlelap. Hanya aku yang tidak bisa tidur. Aku memang tidak mudah kerasan kalau tinggal di tempat baru. Tiba-Tiba aku merasa sakit perut dan ingin buang air besar. Aku melangkah badan Mas Diki dan turun dari tempat tidur. Aku dan Mas Diki tidur di kamar depan, sedangkan Nur tidur di kamar belakang sekamar dengan Ikbal. Untuk pergi ke kamar mandi aku harus melewati dua kamar, yaitu kamar Mbak Ning serta bekas kamar Bude Yati.


BERSAMBUNG


Mau crazy up? Like dan komennya dulu, dong!

__ADS_1


__ADS_2