MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 37


__ADS_3

Aku yang sedang bersembunyi di balik batu menjadi histeris dan tidak tega melihat laki-laki yang paling aku cintai berada dalam keadaan seperti itu. Tanpa pikir panjang lagi aku segera melompat ke luar dari tempat persembunyianku dan buru-buru mengambil pisau kecil dari pinggangku. Aku mengambil posisi di belakang harimau itu agar tidak dilihat oleh hewan buas itu. Dengan langkah gemetar aku berjalan mendekati si kucing raksasa dan dengan kekuatan penuh kuhunjamkan pisau kecil itu ke leher makhluk menakutkan itu.


BEEEEEKKKK


Bukannya mengeluarkan darah, ketika aku menusuk bagian lehernya, pisau kecilku yang sangat tajam itu tidak dapat menembus kulit harimau tersebut. Seolah-olah kulitnya terbuat dari logam.


Aku terkejut dan terheran-heran dengan pemandangan di depanku. Sekuat-kuatnya hewan tersebut, rasanya tidak mungkin tidak terluka kalau tertusuk pisau kecilku yang sangat tajam ini. Seingatku pisau kecil ini dengan mudah dapat memotong pipa dan batang kayu. Tapi, anehnya kulit harimau di depanku tidak tergores sedikitpun ditusuk dengannya.


BEEEEK BEEEEEK


Aku pun mengulangi menusuk bagian tubuh yang lain dari harimau putih tersebut. Namun sama saja, kulita harimau itu sangat kuat dan tidak lecet sedikitpun karenanya. Untunglah, harimau itu tidak berbalik untuk menyerangku. Ia masih tetap berkonsentrasi untuk menyantap tubuh Mas Diki yang semakin tidak berdaya.


Aku mundur selama beberapa detik karena merasa putus asa tidak dapat melukai harimau tersebut. Mas Diki menatapku dengan pandangan keputusasaan. Aku semakin tidak tega melihatnya. Aku berpikir sejenak,


"Kenapa harimau di depanku ini tidak bisa dilukai dengan pisau kecil di tanganku? Padahal aku yakin sudah menusuknya dengan benar. Jika kulitnya memang terbuat dari jaringan otot dan lemak, pasti ia akan terluka. Atau jangan-jangan, harimau ini bukanlah harimau biasa, melainkan ia adalah makhluk jadi-jadian. Kalau memang demikian, tentunya ia tidak akan semudah itu terluka akibat diserang oleh benda fisik biasa. Lantas, bagaimana caranya untuk melukai dna membinasakan harimau putih ini, ya? Ah, aku bingung. Aku tidak mau Mas Diki sampai terluka atau terbunuh olehnya. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri seandainya hal itu sampai terjadi. Lantas, apa yang harus aku lakukan untuk menyelamatkan Mas Diki?" Aku berkata pada diriku sendiri.


Selama beberapa detik aku berpikir dengan keras. Aku ingat dengan pesan pakdenya Siti bahwa hanya aku yang bisa menyelamatkan anakku.


"Apakah itu berarti bahwa Mas Diki akan terbunuh malam ini? Tidaaaaaaaaak!!!" ucapku di dalam hati.


Aku menarik napas dalam-dalam. Kuoandangi suamiku yang sudah tidak berdaya dalam terkaman harimau itu. Aku menghunuskan kembali pisau kecil itu. Kuangkat pisau kecil itu ke depan mukaku, kemudian aku mendekatkan pisau kecil itu ke dekat mulutku, kemudian dengan mengucap basmalah, aku pun meludahi seluruh permukaan pisau kecil tersebut. Aku pun berlari menuju harimau putih itu kembali. Sesampai di dekat harimau putih itu, aku melihat mulut harimau itu turun ke bawah dan bersiap menggigit kepala Mas Diki. Di bawah sana Mas Diki sudah tidak memiliki tenaga sama sekali. Kuayunkan pisau kecil itu dengan kuat dna kuhunjamkan ke bagian leher harimau putih tersebut.


AAAAAAAAAAAAAARRRRRRGGH Suara erangan yang keluar dari mulut harimau itu.

__ADS_1


Ujung pisau kecil yang kutusukkan akhirnya berhasil menembus leher harimau putih itu dan dari bagian yang kutusuk muncratlah darah berwarna merah kehitaman.


Kutarik kembali pisau kecil itu dan kuayunkan lagi ke bagian mata harimau itu dengan lebih kuat.


ARRRRRRRRRRGGGGHHHH


Untuk kedua kalinya harimau putih itu mengerang kesakitan. Kali ini ia sampai menghempas-hempaskan keempat kakinya sehingga tanpa sengaja akibat gerakannya yang acak itu, tubuh Mas Diki yang berada di bawahnya terkena cakaran dan terlempar ke samping.


"Aduuh!" Mas Diki berteriak kesakitan karena bagian dadanya terkena cakaran harimau sehingga terluka agak lebar. Aku berlari mendekati suamiku tersebut.


"Maaaaas, kamu tidak apa-apa?" tanyaku cemas.


"Tidak, Dik. Mas tidak apa-apa. Hanya dada mas yang terluka. Dan mas tidak punya tenaga sama sekali saat ini. Terima kasih, ya, kamu sudah menyelamatkan nyawa mas. Kamu hebat, Dik," ucap Mas Diki.


"Hati-Hati, ya, Dik!" jawab Mas Diki.


Aku pun berdiri dan berjalan mendekati harimau putih itu kembali. Entah mengapa, setelah melihat harimau putih itu bisa terluka oleh pisau, aku menjadi percaya diri. Harimau itu terus mengerang kesakitan setelah mendapat dua tusukan dariku di bagian leher dan mata kanannya. Harimau di depanku itu sedang menggelepar-gelepar karena kesakitan. Ia berusaha bangkit berdiri dan bersiap untuk menyerangku. Aku menghunuskan kembali pisau kecil di tanganku.


AAAAAUUUMMMM


harimau itu kembali mengaum seolah ingin menunjukkan sisa-sisa kekuatannya yang masih luar biasa. Tapi kali ini aku sudah memiliki keberanianku. Yang ada di dalam pikiranku hanyalah keselamatan suami dan anakku, tentunya juga Riki. Harimau itu berlari ke arahku. Aku juga berlari ke arahnya, dan ...


HIAAAAAAAAAAT

__ADS_1


Harimau itu melompat. Aku melompat ke samping. Mungkin karena penglihatannya terganggu, harimau itu bisa aku kecoh. Aku berguling ke arah kiri sehingga harimau itu tidak dapat melihatku karena mata kanannya sudah terluka. Dan dengan gerakan cepat aku pun naik ke punggungnya. Harimau itu terkejut karena aku sudah berada di punggungnya. Belum sempat ia menjatuhkanku dari punggungnya, aku sudah menusuk mata kirinya dengan pisau yang kubawa. Tak cukup sampai di situ, aku pun menarik pisau itu kembali dan kugunakan untuk menggorok leher harimau itu kembali. Aku pun berguling ke samping, turun dari punggung harimau itu. Aku pun terjatuh ke tanah, sedangkan harimau putih itu pun menabrak pagar dan mengerang kesakitan.


ARRRRRRRRRGH


Beberapa detik kemudian, harimau putih itu pun lenyap menyisakan asap putih yang mengepul.


"Alhamdulillah ...," pekikku sambil menarik napas dalam-dalam.


Aku bersyukur dulu pernah belajar ilmu bela diri bersama Arman kepada seorang guru silat waktu kami berdua masih sama-sama bujang. Akhirnya, saat ini aku menggunakan ilmu bela diri tersebut. Beberapa meter di sebelahku, Mas Diki sedang tersenyum kepadaku. Mungkin ia ingin mengatakan bahwa ia bangga memiliki istri serba bisa sepertiku. Menyadari bahwa misi kami beluk selesai, kami pun sama-sama bangkit dan berdiri kembali. Aku mendatangi suamiku yang sedang kesakitan di bagian dadanya akibat cakaran harimau putih itu.


"Mas, bagaimana dengan lukamu?" tanyaku cemas.


"Tidak apa-apa, Dik. Aku masih kuat menahannya. Ngomong-Ngomong, atraksimu tadi hebat banget, loh?" ucapnya sambil merobek bajunya dan digunakan untuk mengikat dadanya yang terkelupas.


"Besar juga lukanya, Mas," ucapku sambil memegang pinggiran lukanya.


"Tidak apa-apa, Dik. Ayo kita lanjutkan misi kita! Sepertinya kita sudah tidak punya banyak waktu lagi, Dik. Kamu dengar suara itu?" ucap suamiku.


Aku memfokuskan pendengaranku. Lamat-Lamat aku mendengar suara tangisan.


"Apakah itu suara Nur atau Riki?" tanyaku di dalam hati.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2