MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
BAB 19 : PAMIT


__ADS_3

Aku meraung histeris memanggil-manggil nama Bude Yati. Kemunculan sosok Bude Yati yang tiba-tiba dengan membawa seorang anak kecil barusan benar-benar membuatku syok. Kerinduanku terhadap sosok Bude Yati yang begitu keibuan dan penyabar sungguh tak dapat dibendung saat itu. Mungkin karena mendengar suara teriakanku, ada beberapa ibu-ibu tetangga yang mendatangiku, padahal posisi rumah mereka agak jauh dari rumahku, tapi saking kerasnya suaraku, mereka dapat mendengarnya.


"Mbak Sinta kenapa?" tanya Bu Rofi.


"Eh, saya nggak apa-apa, Bu," jawabku sambil mengusap air mata.


"Apa Mbak Sinta habis bertengkar dengan Mas Diki?" desak Bu Dana.


"Mboten kok, Bu," jawabku lagi.


"Lah, terus kenapa Mbak Sinta teriak-teriak sambil nangis sore-sore begini? Kami mencemaskan keadaan Mbak Sinta, loh?" balas Bu Dana.


Aku mulai bingung mau jawab apa kepada mereka. Kalau aku menjawab dengan jujur, mereka tidak mungkin percaya. Kalau aku tidak menjawab, takutnya malah memberikan ruang bagi mereka untuk memfitnah atau menggosipkanku. Aku pun berpikir keras bagaimana caranya untuk membuat mereka tidak kebingungan lagi.


"Anu, Bu. Barusan itu pas saya enak-enak duduk di depan, tiba-tiba saya mendapatkan kabar duka," jawabku dengan nada berhati-hati.


"Oh, ya? Siapa yang meninggal, Bu? Mas Diki nggak apa-apa, kan?" tanya Bu Rofi cemas.


"Eh, anu, Bu. Bude saya meninggal," jawabku sambil berpura-pura sedih padahal Bude Yati sudah meninggal tiga hari yang lalu. Tapi, aku tidak punya pilihan lain saat itu.


"Innalillahi wainnailaihi roojiuuun ...," ucap ibu-ibu itu secara bersamaan.


"Terus, Mbak Sinta apa tidak ada rencana ke rumah budenya sekarang? Atau menunggu Mas Diki datang?" desak Bu Dana.


"Nah, itu dia, Bu Dana. Bude saya ini jauh tinggalnya di luar provinsi. Tidak mungkin rasanya saya bisa ke sana sekarang," jawabku mengada-ada karena aneh juga kalau ibu-ibu itu masih melihatku seliweran di sini hari ini kalau kubilang rumah budeku dekat. Sementara, kalau aku harus ke rumah Bude Yati hari ini juga tidak lucu karena aku memang berniat pulang selama beberapa hari untuk melihat kondisi rumah dan beristirahat.


"Ya Allah, Mbak Sin. Terus gimana? Kapan Mbak Sin bisa ke sana?" tanya Bu Rofi.


"Itu dia, Bu Rofi. Kalau saya dan Mas Diki mendadak hari ini ke sana, tidak mungkin juga bagi kami untuk ikut mengurus jenazah bude karena jaraknya terlalu jauh. Lagipula bagaimana dengan toko-toko kami kalau ditinggal secara mendadak? Karyawan seniornya masih terbatas. Kalau ditutup, kasian para reseller yang mengandalkan toko kami sebagai tempat kulakan mereka. Jadi, kami butuh dua atau tiga hari untuk melatih mereka agar bisa mengelola toko tanpa pantauan kami. Itu pun hanya untuk sementara.


"Terus gimana, Mbak?" tanya Bu Rofi lagi.

__ADS_1


"Mungkin lusa saja saya ke tempat bude. Jadi kami masih punya waktu dua hari untuk mempersiapkan toko dan juga nantinya kami bisa lebih lama menginap di sana," jawabku serius.


"Nah, itu lebih baik, Mbak. Yang penting doanya, Mbak," balas Bu Dana.


"Iya, Bu. Tapi, bagaimanapun bude itu adalah orang yang sangat berjasa dalam hidup saya. Miris rasanya di saat kepergian beliau, saya tidak bisa ikut mengurus jenazahnya," jawabku bersedih.


"Mbak Sinta mau saya kasih masukan, nggak?" tanya Bu Dana selaku pengurus kegiatan PKK di tempatku ini.


"Mau, Bu. Apa?" tanyaku penasaran.


"Sampean nanti ketika sampai di rumah budenya tanya ke anak-anaknya budenya atau siapapun saudara budenya Mbak Sinta yang tinggal di sana. Tanyakan, siapa saja tetangga yang banyak membantu selama persiapan pemakaman dan selamatan di sana. Kalau sudah ketahuan siapa saja, nanti Mbak Sinta bisa bagi-bagi rejeki kepada mereka sebagai sedekah yang pahalanya diniatkan untuk alamrhumah budenya Mbak Sinta. Gimana?" tutur Bu Dana.


"Begitu, ya, Bu?" gumamku.


"Iya, Mbak. Insyaallah mereka akan senang menerimanya," tambah Bu Dana


"Terima kasih idenya, Bu Dana. Sepertinya itu sangat baik," jawabku.


"Ya sudah. Berhubung ini sudah sore, apa Mbak Sinta sudah tidak apa-apa untuk kami tinggal?" tanya Bu Rofi.


"Sama-Sama, Mbak Sinta. Kalau butuh apa-apa, jangan sungkan-sungkan untuk WA di group RT, ya?" ucap Bu Dana.


"Iya, Bu. Terima kasih," jawabku.


"Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam,"


Ibu-Ibu itu pun pergi meninggalkan aku sendirian. Kedatangan mereka cukup membuat hatiku lebih tenang dari sebelumnya. Aku ingat dengan ucapan anak kecil tadi bahwa pemberianku itu sangat ditunggu-tunggu oleh Bude Yati.


"Berarti benar kata Bu Dana, aku bisa bersedekah kepada orang-orang yang ikut sibuk di rumah Mbak Ning. Hm ... Aku akan memberikan sejumlah uang dan sembako untuk Bu Dibyo, Mbak Srintil, dan ibu-ibu yang lain. Tunggu! Apa tidak sebaiknya, aku memberikan pekerjaan saja kepada Mbak Srintil? Tapi, pekerjaan apa, ya? Kalau di toko-toko Mas Diki kayaknya karyawannya sudah penuh semuanya. Hm ... pekerjaan apa, ya? Oh iya. Kenapa aku baru ingat, ya? Bukankah butikku ini butuh satu orang karyawan untuk bisa membantu pekerjaanku? Oke, aku akan minta saran Mas Diki dulu, nanti." Aku berbicara di dalam hati.

__ADS_1


Aku pun masuk ke dalam rumah dan menutup pintu dari dalam. Aku memutuskan untuk mandi sore sambil menunggu Mas Diki dan Nur datang. Selama di kamar mandi, aku masih teringat dengan sosok anak kecil dan Bude Yati tadi. Aku sempat berpikir kalau anak kecil itu akan mengetuk pintu kembali atau malah ia balik lagi sama Bude Yati. Tapi, kalau dari cara mereka tadi berkomunikasi denganku, sepertinya itu adalah pesan terakhir dari Bude Yati untukku.


"Selamat jalan, Bude Yati. Semoga kamu diberikan tempat yang terbaik di sisi-Nya. Aamiiin," ucapku di dalam hati.


Tepat saat aku keluar dari kamar mandi, aku mendengar bunyi mesin mobil Mas Diki yang berhenti di depan.


"Assalamualaikum ...,"


"Waalaikumsalam ...,"


Setelah bersalaman dengan mereka berdua, aku pun menyuruh suami dan anak laki-lakiku itu untuk bergantian mandi karena sebentar lagi magrib. Nur mandi duluan, sedangkan Mas Diki memasukkan mobil ke garasi terlebih dahulu.


"Gimana seharian di rumah, Dik?" tanya Mas Diki.


"Hm ... Saya seharian istirahat, Mas," jawabku.


"Baguslah kalau begitu," jawab Mas Diki.


"Mas, kamu tahu Mbak Srintil, kan?" tanyaku


"Iya. Kenapa?" tanya Mas Diki.


"Gimana kalau saya merekrutnya untuk membantu pekerjaan di butik?" tanyaku dengan menatap serius ke arah mata Mas Diki.


"Kamu serius, Dik?" tanya Mas Diki.


"Iya, Mas," jawabku.


"Tapi, Dik-" sela Mas Diki.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Di tempat kakak, kalau orang meninggal diselameti sampai berapa harinya? Terus, tetangga yang bantu-bantu, dikasih-kasih, nggak, pas selesai hari terakhir?


Jangan lupa like, vote, dan komentarnya ditunggu banget.


__ADS_2