
Setelah keluar dari kamar mandi, Mas Diki berganti baju dan bersiap-siap untuk salat Magrib berjamaah di masjid bersama Nur. Sementara aku salat sendirian di rumah. Sambil menunggu mereka datang dari masjid, aku menghangatkan sayur yang sudah aku siapkan tadi. Sebenarnya sayurannya masih segar, tapi kalau dihangatkan pastinya akan lebih terasa nikmat.
Tepat setelah aku selesai menghangatkan sayur, suami dan anakku datang dari masjid. Mereka langsung menyerbu makanan yang ada di meja makan. Mereka makan lahap sekali. Melihat mereka lahap makan, aku senang sekali apalagi lauk dan sayuran yang aku masak hampir habis semuanya. Masakan sederhana seperti itu memang favorit Mas Diki dan Nur. Mas Diki pernah bilang kepadaku bahwa lidahnya itu lidah desa. Jadi, ia lebih suka masakan khas desa, bukan makanan ala ornag kota seperti spageti dan semacamnya. Tentunya aku juga merasa senang karena aku juga sebenarnya tidak begitu suka makanan yang aneh-aneh seperti itu. Dan juga akan lebih menghemat pengeluaran, sehingga sisa uang belanja bisa aku gunakan untuk menambah modal butik kembali.
Setelah nakan malam yang begitu mengasyikkan, kami pun menunggu datangnya salat Isya sambil bercengkrama di depan televisi.
"Gimana sekolahnya, Nur?" tanyaku.
"Alhamdulillah, menyenangkan, Bu. Kayaknya mulai bulan depan saya bakalan sibuk banget di sekolah karena saya terpilih menjadi panitia pementasan seni yang diadakan sekolah dua tahun sekali," jawab Nur.
"Wah, acara apaan itu, Nur?" tanyaku penasaran.
"Ya, semacam unjuk kebolehan semua siswa. Biasanya kami menyewa gedung untuk menampilkannya, Bu," jawab Nur.
"Siapa saja yang menonton, Nur?" tanyaku.
"Ya, semua siswa dan juga biasanya siswa-siswa dari sekolah lain juga ikut menonton. Dan juga sebagian anggota komite sekolah dan semua guru juga hadir, kok," jawab Nur.
"Wah, berarti itu acara besar, ya?" tanyaku.
"Iya, Bu. Setiap sekolah di kota ini kayaknya punya acara yang sejenis seperti itu, vuma nama saja yang berbeda," jawab Nur.
"Berarti butuh dana besar, dong? Dananya dari mana saja itu? Apa nanti setiap orang tua dimintai sumbangan?" tanyaku.
"Dananya dari banyak sumber, Bu. Termasuk dari iuran setiap siswa. Selain itu juga dananya dicari dari sponsor. Nah, itu dia salah satu tugas saya dan teman-teman adalah mencari perusahaan yang mau menjadi sponsor buat acara kita, Bu. Doakan kami mendapatkan banyak sponsor ya, Bu, supaya kami tidak kekurangan dana?" ucap Nur.
"Aamiiiin ... Ngomong-Ngomong kalau sekiranya menguntungkan, mungkin kami mau jadi sponsornya," jawabku.
"Benerin nih, Bu? Banyak loh keuntungannya. Kami akan mempromosikan produk sponsor kepada khalayak ramai," jawab Nur.
"Beneran. Tapi, kami tentunya harus melihat dulu seperti apa bentuk promosinya. Kalau sekiranya cocok, kami mau kok menjadi salah satu sponsornya. Ya kan, Mas?" tanyaku pada Mas Diki.
"Iya, Benar, Nur. Kebetulan toko bapak dan butik ibumu lagi gencar-gencarnya mencari konsumen. Kalau sekiranya tawaran dari panitia acara di sekolahmu oke, kami mau lah," jawab Mas Diki.
"Oke, Pak. Nanti akan saya rundingkan dengan teman-teman dulu. Siapa tahu teman-teman berminat," jawab Nur.
"Wah, sudah azan Isya tuh. Buruan sudah ke.masjid biar tidak terlambat," potongku.
__ADS_1
"Oke, kami pamit, Bu," ucap Nur sambil berjalan menuju pintu diikuti oleh bapaknya.
Melihat suami dan anak yang rajin menunaikan salat jamaah di masjid adalah kebahagiaan terbesar seorang istri. Aku berniat untuk berwudlu di kamar mandi saat aku mendengar Ponselku berdering. Aku pun berjalan untuk mengambil Ponselku. Ternyata ada panggilan masuk dari nomor baru.
"Assalamualaikum ...," sapaku.
"Waalaikumsalam ... Ini saya, Dik Sinta," jawab orang dari seberang sana yang ternyata adalah Pak RT.
"Apa-Apaan sih Pak RT ini kok menelpon pakai nomor baru segala sehingga aku tidak tahu kalau itu nomornya," gerutuku di dalam hati.
Seandainya saja aku tahu yang menelpon itu Pak RT, pasti akan aku abaikan panggilan teleponnya.
"Ada apa, Pak, menelpon saya malam-malam. Ini waktunya saya salat Isya?" tanyaku ketus.
"Oh, salihah banget ternyata Dik Sinta ini, ya. Salatnya tepat waktu sekali," jawab Pak RT
"Ada apa, Pak? Saya keburu nih," potongku.
"Hm ... Dik Sinta sudah memeriksa vidionya semua apa belum?" tanya Pak RT.
"Ooo itu belum. Tinggal sedikit lagi. Kenapa, Pak?" tanyaku balik.
"Oooo ... Tapi saya belum puas kalau belum melihatnya sendiri," jawabku.
"Iya saya tahu. Tapi, saya baru ingat kalau ada CCTV lain yang lebih dekat posisinya dengan halaman Ningrum," jawab Pak RT.
"O ya? CCTV yang mana?" tanyaku penasaran.
"Itu, Dik. CCTV yang dipasang di rumahnya Pak Seno," jawab Pak RT
"Pak Seno yang pengusaha properti itu?" potongku.
"Iya benar," jawab Pak RT
"Bukankah Pak Seno sudah tidak tinggal di sana lagi. Rumahnya kosong, kan?" tanyaku.
"Iya benar. Rumah Pak Seno memang sudah lama tidak ditempati karena Pak Seno sekarang tinggal di rumah barunya yang ukurannya jauh lebih besar. Tapi, CCTV di rumah itu tetap terpasang dna berfungsi dengan baik," jawab Pak RT serius.
__ADS_1
"Nah, terus gimana Pak?" tanyaku.
"Nah, rencananya saya mau mengajak Dik Sinta untuk pergi ke rumah Pak Seno untuk meminta ijin meminta rekaman CCTV pada tanggal yang sama," jawab Pak RT.
"Loh, bukannya hal itu bisa dilakukan lewat WA saja. Mungkin Pak RT punya nomor WA nya, saya minta dong!" jawabku.
"Nggak bisa, Dik Sinta. Pak Seno sudah ganti nomor juga. Jadi kita harus ke tempatnya untuk bisa menghubunginya," jawab Pak RT.
"Di mana sih rumah Pak Seno? Mungkin saya bisa langsung ke sana sendiri nanti," tanyaku.
"Dik Sinta yakin mau ke sana sendirian?" tanya Pak RT.
"Emangnya kenapa?" tanyaku.
"Istri Pak Seno itu pencemburu berat, Dik. Takutnya nanti malah ada salah paham dengan Dik Sinta," jawab Pak RT.
"Ya sudah kita nanti berangkat ke rumah Pak Senonya pas sore saja. Biar saya bisa bareng Mas Diki dan Pak RT," jawabku.
"Nggak bisa kalau sore, Dik. Pak Seno kalau sore dan malam biasanya ada acara dengan teman-temannya. Dia bisanya pagi sampai sekitar jam sepuluh, itu pun selain hari libur," jawab Pak RT.
"Waduh, kalau pagi suami saya nggak bisa menemani, Pak. Soalnya sekarang-Sekarang ini lagi sibuk-sibuknya droping barang di toko-tokonya," jawabku.
"Nah itu dia, Dik. Gimana kalau kita berangkat bertiga bareng Ningrum?" tanya Pak RT.
"Duh. Mbak Ning sedang nggak enak badan, Pak," jawabku.
"Loh, mulai kapan? Terus gimana?" tanya Pak RT.
"Mulai kemarin. Gini saja wes, nanti ke rumah Pak Senonya setelah selesai tujuh harinya Bude Yati saja. Jadi siapa tahu Mas Diki audah ada waktu atau Mbak Ning sudah sehat," jawabku.
"Lah, nggak bisa, Dik Sin. Kapasitas penyimpanan memory CCTV punya Pak Seno kan juga terbatas? Lebih cepat lebih baik, kan?" ucap Pak RT.
Duh ...
Apa yang harus aku lakukan?
BERSAMBUNG
__ADS_1
Pak RT ini terlalu baik, ya?