
Sampai pukul sepuluh malam, Bu Dewi belum juga tertidur. Ia masih saja diganggu oleh suara-suara bising dari dapur dan ruang tamu secara bergantian. Awalnya Bu Dewi menutup telinga Panji agar tidak terganggu tidurnya. Tapi, lama kelamaan suara gedoran di pintu itu menjadi sangat menakutkan. Seolah-olah makhluk di balik pintu akan memaksa masuk ke dalam. Bu Dewi sampai kerukupan karena saking takutnya. Tak lupa ia juga membawa serta Panji di dalam selimut tebalnya.
"Eeeeeee ...." Panji mengeluarkan suara.
Mungkin anak kecil itu tidak nyaman berada di dalam selimut tebal. Bu Dewi khawatir Panji akan bangun dan tentunya Balita itu akan meminta susu. Sedangkan susu sudah habis.
Hening. Mendadak suara bising di ruang tamu dan dapur tidak terdengar lagi. Bu Dewi agak bernapas lega.
"Siapa sebenarnya yang melakukan itu semua? Keanehan di dapur ... Suara pintu dibuka ... Suara-Suara itu ... Apakah Laras? Ah, mana mungkin ...."
Bu Dewi pun melafalkan doa untuk almarhumah Mbok Inah dan Laras. Keadaan menjadi lebih tenang setelahnya. Bu Dewi kembali membuka selimut yang menutupi dirinya dan Panji.
"Eeeee ...." Sekali lagi bayi kecil itu bersuara.
Keringat membasahi kening Panji. Bu Dewi mengusapnya dengan handuk kering yang sengaja diletakkan di atas kasur bersama barang-barang kebutuhan Panji yang lain.
"Maafkan ibu ya, Nak. Gara-Gara ibu kamu jadi kegerahan seperti ini. Semoga kamu nggak sampai kena keringet buntet, Nak."
Lagi asyik-asyik mengurus Panji, tiba-tiba terdengar suara pintu depan dibuka.
KRIEEEET
"Ya Tuhan? Suara itu lagi. Makhluk apa sebenarnya yang sedang aku hadapi ini?"
Tap ... Tep ... Tap ... Tep ...
Terdengar suara langkah kaki dari pintu depan menuju kamar yang ditempat Bu Dewi dan Panji.
"Diiiiiik ...," panggil seseorang dari depan pintu kamar Bu Dewi.
"Mas Herman? Apakah benar itu Mas Herman? Atau jangan-jangan itu hantu yang sedang menyamar menjadi Mas Herman agar bisa mengelabuiku untuk membukakan pintu."
"Diiik ... Bangun! Mas datang nih bawa susunya Panji!" teriak suara itu lagi.
"Kalau menelisik dari suaranya, itu memang benar suara Mas Herman. Tapi, aku tidak boleh gegabah. Apa yang harus kulakukan untuk memastikan bahwa itu memang suamiku?"
"Dik, buka puntunya, dong! Atau Mas tidur di kursi saja?" teriak seseorang yang suaranya persis seperti Pak Herman.
__ADS_1
Bu Dewi mulai bimbang dan panik. Di satu sisi dia yakin kalau itu suara suaminya, tapi di lain sisi ia ragu dan takut kalau itu adalah hantu yang menggodanya sejak tadi. Ia pernah menonton film hantu di televisi di mana hantunya menyamar menjadi orang yang dikenal.
"Hiiiii ... Serem!!"
Bu Dewi pun tetap dalam kebingungannya. Ia melangkah secara perlahan bangkit dari tempat tidur menuju ke pintu. Pak Herman memang hanya dipegangi kunci pintu depan. Untuk pintu kamar hanya ada satu. Biasanya kalau pulang malam, Pak Herman membangunkan Bu Dewi terlebih dahulu baru dibukakan pintu. Sering sih Bu Dewi tidak mengunci pintu kamar. Tapi, malam ini dengan kejadian aneh di dapur dan ruang tamu, tentunya Bu Dewi mengunci pintu kamarnya rapat-rapat.
Bu Dewi menyandarkan telinganya di pintu untuk menguping suara dari balik pintu. Ia pikir kalau yang ada di ruang tamu adalah hantu, pasti akan ada suara-suara aneh yang akan ia dengar.
TOK TOK TOK
"Astagfirullah!!!" pekik Bu Dewi terkejut karena ia mendengar suara pintu kamar diketuk dengan sangat keras tepat saat telinganya menempel rapat di sana. Sebenarnya suaranya tidak begitu keras, tapi karena didengarkan dari jarak yang sangat dekat. Tak urung membuat jantung Bu Dewi terasa copot.
Suara pekikan Bu Dewi terdengar dari luar.
"Ayo, Dik. Bukain pintunya buruan!" ucap suara itu lagi.
"Iya, Mas sebentar," jawab Bu Dewi tidak bisa pura-pura tertidur lagi.
Bu Dewi memutar otaknya agar dapat segera mengatasi kebingungannya. Apakah harus membuka pintu atau tidak?
Bu Dewi ingat dengan Ponselnya. Jalan satu-satunya untuk memastikan apakah yang di balik pintu adalah benar-benar suaminya atau bukan adalah dengan menghubungi nomor suaminya.
Bu Dewi buru-buru mengambil Ponselnya yang berada di atas kasur dan ia pun melakukan panggilan kepada nomor suaminya. Terdengar suara dering telepon dari ruang tamu selama beberapa kali dan suaminya pun mengangkat panggilannya.
"Ngapain nelpon segala, Dik? Bukain pintunya buruan! sahut Pak Herman tegas yang terdengar dari microphone dan dari balik pintu sekaligus.
Bu Dewi buru-buru menutup panggilannya dan membuka pintu kamarnya karena sudah yakin bahwa orang itu adalah benar-benar suaminya. Sayangnya, setelah pintu dibuka, Bu Dewi dibuat terkejut.
" Loh!!! Mana kamu, Mas?" ujar Bu Dewi karena tidak melihat suaminya berdiri di balik pintu.
Tidak ada sahutan. Bu Dewi mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang tamu. Perempuan itu tidak melihat siapa-siapa. Bu Dewi mundur secara perlahan. Hanya kepalanya saja yang muncul di balik pintu.
"Maaaaaas!!!" teriaknya lebih keras.
Bu Dewi mulai merasa ketakutan lagi. Ia kembali ragu dengan keputusannya telah membuka pintu kamar.
"Apa, Dik? Kamu terlalu lama buka pintunya, makanya Mas tinggal ke kamar mandi karena sudah kebelet," jawab Pak Herman sambil memasang resletingnya kembali.
__ADS_1
"Ini benar kamu, Mas?" tanya Bu Dewi sambil melakukan panggilan ulang kepada suaminya.
Lagi-Lagi terdengar suara nada dering Ponsel Pak Herman. Bu Dewi pun merasa tenang.
"Alhamdulillah!!" pekik Bu Dewi lega.
"Ada apa sih, Dik. Kamu kok kayak ketakutan begitu? Tidak biasanya kamu seperti ini?" tanya Pak Herman heran.
"Eh, anu Mas. Nggak apa-apa, kok!" jawab Bu Dewi berusaha menutupi ketakutannya.
"Nggak usah bohong. Kamu takut ketemu Laras, kan?" tanya Pak Herman.
"Mas kok bisa tahu, sih?" tanya Bu Dewi.
"Ya, kan emang banyak orang yang takut kalau ada orang baru meninggal di sekitarnya. Takut didatangi arwahnya," jawab Pak Herman.
"Iya, Mas. Aku tadi ketakutan. Tadi pas aku di dapur keran tempat cuci piring nyala-nyala sendiri dan pas aku salat, kayak ada yang buka pintu depan, tapi pas disamperin ternyata nggak ada siapa-siapa. Belum lagi pas aku di kamar, aku mendengar suara alat dapur dibanting dan suara gedoran di pintu kamar ...," ujar Bu Dewi.
"Mungkin itu hanya perasaanmu saja, Dik. Namanya sudah takut duluan, suara pagar dikira suara pintu. Suara kaleng jatuh di luar dikira suaranya dari dapur-"
"Kalau suara pintu kamar digedor, Mas?" sela Bu Dewi.
"Sekarang kan sudah ada Mas, Dik. Kita tidur, yuk! Air panas di termos sudah ada di kamar, kan?" jawab Pak Herman mengalihkan pembicaraan.
"Iya, Mas!" jawab Bu Dewi sambil membuka pintu kamar lebar-lebar.
Setelah memandangi wajah Panji yang sedang tertidur lelap, mereka berdua pun bersiap untuk tidur juga.
"Mas, lampu ruang tamu dan dapur apa sudah kamu matikan lagi?"
"Belum, Dik. Tadi aku lupa. Aku matikan sekarang, ya?" jawab Pak Herman sambil bersiap bangun.
"Nggak usah sudah, Mas. Biar begitu saja," jawab Bu Dewi sambil menahan suaminya yang mau bangun
BERSAMBUNG
Komentar kamu selalu kutungguin loh!
__ADS_1