MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 25


__ADS_3

Akhirnya aku tak tahan untuk update gara-gara kepikiran dengan pembaca yang rutin menulis komentar. Dan juga sebagai wujud kebahagiaan karena ternyata banyak penggemar setia novel KAMPUNG HANTU yang sudah order novel tersebut kepada penerbit.


Thankyou, ya ....


Cekidot ...


Antara rasa senang dan bingung campur aduk jadi satu melihat anakku yang sudah tidak merasa ketakutan lagi. Senang karena melihatnya baik-baik saja, bingung karena tidak tahu penyebab dari semua kekacauan belakangan ini.


Malam pun berlalu, tidak ada kejadian istimewa malam itu. Kami semua tertidur dengan nyenyak. Saking nyenyaknya, Nur sampai bangun kesiangan dan tidak salat Subuh.


"Kamu ngapain saja, Nur, kok sampai kesiangan? Apa kamu tadi malam begadang baca komik?" tanyaku menginterogasinya.


"Enggak kok, Bu. Saya tidur jam delapan malam. Tapi entah kenapa, saya tidurnya sangat nyenyak. Sampai malas bangun. Akhirnya saya terlambat untuk salat Subuh," jawab Nur.


"Apa tadi malam kamu merasakan keanehan?" tanyaku.


"Nggak ada, Bu."


"Syukurlah kalau begitu. Oh ya, kalau kamu mengalami hal aneh di sekolah, kamu lapor sama Pak Arman saja," ucapku.


"Pak Arman satpam, ya?" tanya Nur.


"Iya, dia itu teman ibu dan bapakmu," jawabku.


"Baiklah, terima kasih ya, Bu. Sekarang saya mau mandi dan berangkat ke sekolah. Ibu ikut bapak ke pasar?" tanya anak lelakiku itu.


"Iya Nur. Ibu masih agak ngeri berdiam diri di rumah sendirian," jawabku.


"Bukankah Ibu bisa berbincang dengan Tante Clara," jawab Nur.


"Ma-les!" jawabku.


"Loh ... kok?" Nur melongo.


"Perlu kamu tahu, ya! Ibu bakalan mengungkap siapa sebenarnya Clara yang kamu idolakan itu!" ancamku.


"Ah Ibu, paling cemburu soalnya saya sekarang deket sama Tante Clara, yq kan?" Nur mengira aku bergurau saja.


"Ibu serius lo!" jawabku.

__ADS_1


Nur hanya menjawab dengan senyuman.


"Ah, benar kata Mas Diki. Anak semakin besar, makin lebih percaya pada orang lain yang baik sama dia dibandingkan kepada orang tuanya sendiri. Tapi, khusus masalah ini, aku akan menunjukkan pada anakku bahwa akulah yang benar. Pasti Clara memiliki tujuan tertentu terhadap anakku di balik kebaikannya,"


*


Pucuk dicinta ulam pun tiba. Ketika aku sedang membantu Mas Diki di pasar, tiba-tiba Bu RW datang berkunjung ke stand kami. Mataku langsung berbinar membayangkan aku akan mendapat beberapa informasi tentang Clara dari ibu sosialita ini.


"Assalamualaikum, Bu RW" sapaku.


"Waalaikumsalam ... Waduh sampai dikejar ke depan," jawab perempuan yang masih terlihat cantik ini di usianya yang beberapa tahun di atasku.


"Iya dong, customer terbaik emang harus dikejar. Takut lari ke toko lain ...," bisikku yang disambut dengan tawa renyahnya.


"Mbak Sin, gamis yang cocok buat saya ada nggak?" tanyanya ketika sudah masuk ke dalam toko.


"Ada dong, Bu RW" jawabku spontan.


"Kreditan apa cash?" tanyanya lagi.


"Bu RW ini ngajak gurau saja, masa istrinya tuan tanah mau utang segala," cetusku.


"Duh pake dites segala, kayak mau nyalon Kades saja. Oh ya, saya ada bonus khusus buat Bu RW hari ini," ucapku pada perempuan tersebut.


"Bonus apa?" tanyanya sambil menyipitkan matanya yang lebar.


"Kalau Bu RW membeli produk sejumlah satu juta rupiah, Bu RW akan saya kasih bonus ini taraaaaaaaaaa!" ucapku sambil mengangkat sebuah jilbab model kekinian yang lagi tren.


"Aaaaaaaa ... mauuuuu Mbak Sin! Saya mau banget jilbab model punuk kambing ini. Ini kan langka banget barangnya, Mbak? Mbak Sinta kok nggak bilang-bilang sih, kalau jualan jilbab model ini?" teriak Bu RW histeris.


"Ini emang produk spesial, Bu RW. Dan ini yang ori loh, bukan KW! Stoknya tinggal satu ini saja. Kayaknya, warnanya juga cocok banget sama Bu RW yang cantik," timpalku sambil memberikan jilbab itu ke perempuan itu.


Bu RW langsung menyerobot jilbab yang aku sodorkan.


"Ini saya ambil langsung. Kalau cuma sejuta mah kecil buat saya. Pilihkan saya empat gamis yang warnanya beda-beda. Mbak Sin sudah hapal kan selera saya?" ujar perempuan itu.


"Beres, Bu Bos!" jawabku seraya meninggalkan Bu RW yang lagi menimang-minang bonus jilbabnya. Sedangkan aku langsung memilihkan empat gamis yang paling mahal untuknya. Benar dugaanku, pilihanku selalu sesuai dengan selera istri Pak RW tersebut. Bagaimana tidak, setiap mau membeli pakaian, ia selalu meminta bantuanku untuk memilihkannya. Sewaktu Yu Darmi masih hidup, Bu RW biasanya memintaku menemaninya ke toko Yu Darmi. Dan aku selalu menyetujuinya karena Bu RW ini ornagnya tidak pelit. Sepulang dari mengantarnya membeli baju, ia biasanya mentraktirku makan di kafe dan juga tidak lupa membelikan mainan untuk anakku. Dan aku yakin, tadi dia pasti ke rumahku dulu untuk mengajakku ke pasar, tapi berhubung aku tidak ada di rumah, dia langsung menuju ke sini.


Akhirnya Bu RW sudah selesai bertransaksi di toko kami.

__ADS_1


"Bu RW tadi mampir ke rumah saya, ya?" tanyaku memastikan dugaanku.


"Iya, tapi saya dikasih tahu kalau kamu ikut berjaga di toko suamimu, makanya saya langsung ke sini saja," jawab Bu RW spontan.


"Oooo ... ngomong-ngomong siapa yang memberitahu Bu RW kalau saya ada di sini?" tanyaku kembali.


"Clara yang memberitahu saya kalau kamu ada di sini. Dia datang menghampiri sewaktu saya menggedor-gedor pintu rumahmu," jawab Bu RW.


"O ... perempuan cantik itu yang memberi tahu Bu RW rupanya," jawabku memprovokasi.


Aku paham betul dengan tabiat istri Pak RW ini. Dia paling tidak suka kalau ada orang yang dibilang lebih cantik darinya. Entah darimana datangnya inspirasi itu. Aku sengaja memanaskan hati perempuan ini supaya aku bisa mendapatkan informasi tentang Clara dari istri pemilik rumah yang dikontrak oleh Clara tersebut.


"Ih, kayak gitu kamu bilang cantik, Mbak Sin. Sama Mbak Sinta saja masih kalah jauh lo!" jawab Bu RW dengan nada sinis.


Hampir saja aku melayang dengan omongan perempuan ini, kalau aku dibilang lebih cantik dari Clara. Meskipun pada kenyataannya memang demikian. Aku kembali fokus pada tujuanku semula.


"Masa sih, Bu RW? Kulit Clara kan lebih putih dari saya," jawabku.


"Lebih putih iya, tapi putih pucat. Lagipula dia itu ....," ucap Bu RW dengan nada sewot.


"Dia kenapa, Bu RW?" tanyaku penasaran.


"Jangan bilang-bilang ya? Hanya Mbak Sinta yang saya kasih tahu. Dia itu perempuan nggak bener!" cetus Bu RW kemudian.


"Ah, Bu RW ini mengada-ada. Orang punya suami kok dibilang perempuan nggak bener," jawabku sambil tetap memanas-manasi perempuan di depanku.


Jujur, sebenarnya aku cukup kaget dengan statemen yang diucapkan Bu RW barusan. Namun, aku harus tetap fokus untuk mengorek informasi tentang Clara, makanya aku tetap menunjukkan wajah datar-datar saja.


"Duh, Mbak Sinta ini masa tidak tahu sih!" tukas perempuan ini lagi.


"Tahu apa, Bu RW?" Aku semakin penasaran.


"Suaminya Clara itu sudah tua banget dan ...," bisik Bu RW.


"Dan apa, Bu RW?" Aku semakin dag dig dug.


"Suami Clara itu adalah bapak angkatnya sendiri yang mengadopsinya dari sebuah panti asuhan," lanjut Bu RW yang kontan membuat dadaku sesak.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2