MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 16 : TERNYATA


__ADS_3

Kaki kedua pria tua itu pun langsung gemetaran begitu mereka mengetahui bahwa saat ini mereka sedang berada di dekat makam Laras yang sedang banyak diperbincangkan oleh orang-orang di wilayah tersebut. Sementara, mereka sekarang kehilangan jejak Ustad Andi.


"Hun, ba-gaimana ini? A-pa yang harus ki-ta la-kukan sekarang?" ujar Pak Ratno dengan suara gemetar.


"En-tah-lah, Rat. A-ku juga bingung ini. Duh, mana bau kembang kenanga juga," jawab Pak Salihun.


"Hun, ka-yaknya kita musti la-ri sekarang sebelum Laras datang mengganggu kita!" ucap Pak Ratno dengan suara makin gemetaran.


"Iya, Rat. Benar yang kamu katakan. Sebaiknya kita segera pergi dari tempat ini," jawab Pak Salihun.


"Terus, bagaimana dengan Ustad Andi? Tadi Pak Herman yang hilang. Sekarang masa Ustad Andi juga ikutan hilang?" jawab Pak Ratno.


"Biarin dah Rat. Mereka berdua kan orang-orang yang hebat. Lah, daripada kita berdua yang hilang diculik Laras. Mana mungkin kita sanggup melawan Laras? Ya, kan?" jawab Pak Salihun.


"Iya, benar juga perkataanmu, Hun. Ayo, kita buruan lari! Bareng ya, Hun! Jangan tinggalin aku!" ujar Pak Ratno.


"Oke, Rat, kita lari bareng. Aku hitung sampai tiga, ya? Sa-tu ... Du-a ... Ti-," jawab  Pak Salihun memberi aba-aba.


"Hun, se-pertinya a-da yang me-megangi pun-dak ki-ta," bisik Pak Ratno kepada temannya.


"I-ya, Rat. Si-apa yang ada di be-lakang kita, ya? Perasaanku kok nggak enak ya, Rat?" jawab Pak Salihun.


"Aduh, Hun. Aku kok curiga. Jangan-Jangan yang di belakang kita itu-," jawab Pak Ratno dengan semakin ketakutan.


"Ayo, Rat, kita tetap lari saja!" jawab Pak Salihun.


"Nggak bisa, Hun, pegangannya sangat kuat di pundakku," jawab Pak Ratno.


"Iya, Rat. Aku juga nggak bisa bergerak ke depan. titkalau kita lihat ke belakang, Rat?" ujar Pak Salihun.


"Kamu aja yang noleh, Hun. Aku takut banget!" sahut Pak Ratno.


"Aku juga takut, Rat. Gimana kalau kita noleh bareng-bareng saja!" ujar Pak Salihun.


"Ya udah. Ayo, aku hitung sampai tiga, ya?" jawab Pak Ratno.


"Iya, Rat!" jawab Pak Salihun.


"Satu ... dua ... ti-ga!" Pak Rano menghitung dan mereka berdua pun menoleh ke belakang secara bersama-sama pada hitungan ketiga.

__ADS_1


"Waaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!" teriak Pak Salihun dan Pak Ratno bersama-sama begitu mereka sudah mengetahui siapa yag sedang memegangi pundak mereka.


"Ada apa, Pak Salihun ... Pak Ratno ... kok, kalian sampai ketakutan begini?" sapa orang yang berada di belakang mereka berdua.


"Ternyata Anda, Ustad? Kami kira Anda ini Laras!" sahut Pak Salihun sambil menghela napas dalam-dalam.


"Hus! Nggak boleh ngomong kayak gitu! Itu sama saja dengan memfitnah saudara sendiri. Bapak-Bapak ini mau nanti di akhirat disuruh makan dagin busuk?" ujar Ustad Andi.


"Ya, enggaklah, Ustad. Mending kami makan daging super saja," jawab Pak Salihun.


"Makanya, jangan ngarang-ngarang cerita yang nggak jelas!" ujar Ustad Andi.


"Habisnya, tadi Ustad Andi tiba-tiba menghilang begitu saja! Ditambah lagi kami berdua ketemu ginian," jawab Pak Salihun.


"Lah, saya kan nyari Pak Herman di sisi sana sampai ujung dan ternyata beliau nggak ada. Ketemu apaan, sih, Pak?" tanya Ustad Andi.


"Itu, Ustad?" jawab Pak Salihun sambil menunjuk makam Laras dengan menggunakan matanya. Di daerah itu ada semacam mitos larangan untuk menunjuk makam dengan menggunakan telunjuk.


Ustad Andi langsung menjulurkan kepalanya untuk melihat benda yang ada di balik semak-semak yang ditunjuk oleh Pak Salihun.


"Oalah ... makam Laras to? Emangnya kenapa dengan makam Laras, Pak? Di sini loh banyak makam yang lain. Sama saja, kan?" protes Ustad Andi.


Pak Ratno hanya senyum-senyum saja di sebelah Pak Salihun. Ia tidak begitu mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Ustad Andi.


"Itu juga ada makamnya anaknya Pak Saimin yang meninggal seminggu sebelum Laras. Kenapa Pak Salihun tidak mempermasalahkannya?" protes Ustad Andi.


"Kan masih anak-anak, Ustad," jawab Pak Salihun.


"Itu ada makam Mbah Sainem yang meninggal sepuluh hari sebelum Laras. Kenapa Pak Salihun tidak takut?" tanya Ustad Andi.


"Kan sudah tua, Ustad," jawab Pak Salihun.


"Lah, yang ini terlalu muda, yang itu terlalu tua. Berarti itu hanya alasan Bapak-Bapak ini untuk mendiskreditkan Laras. Artinya, Bapak-Bapak ini sudah termakan isu yang tidak jelas juntrungannya," tutur Ustad Andi.


Pak Salihun pun hanya bisa diam merenungi kesalahannya. Sebenarnya di dalam hati kecilnya ingin sekali melawan isu tersebut, tapi apalah daya rasa ketakutannya jauh lebih kuat dibandingkan logika berpikirnya.


"Bapak-Bapak ini tidak menemukan keberadaan Pak Herman juga, kan?" tanya Ustad Andi kemudian.


"Tidak, Ustad. Kami tidak melihat Pak Herman," jawab Pak Salihun.

__ADS_1


"Kalau begitu, ayo, kita ke rumah Bu Dewi! Siapa tahu Pak Herman sudah pulang," ujar Ustad Andi.


"Iya, Ustad," jawab Pak Salihun!


Ustad Andi pun menarik badan kedua pria tua itu agar bisa melintasi semak-sema dengan mudah. Mereka berdua mulai bernapas lega setelah tidak kelihatan makam Laras kembali.


"Ayo!" ajak Ustad Andi pada mereka berdua untuk meninggalkan area kuburan.


"Monggo, Ustad" jawab Pak Salihun sambil mengikuti langkah Ustad Andi.


Akhirnya ketiga orang tersebut sudah berada di depan pintu pemakaman umum dan melanjutkan perjalanannya menuju rumah Bu Dewi. Sementara itu mereka tidak menyadari bahwa sejak tadi ada seseorang yang selalu melihat gerak-gerik mereka bertiga. Sosok tersebut sedang duduk di dahan sebuah pohon dengan kaki menjuntai ke bawah. Sosok tersebut memandang ke arah mereka bertiga dengan perasaan sedih, terutama ketika memandang sosok Ustad Andi.


Setelah berjalan selama beberapa menit, mereka pun sampai di rumah Bu Dewi. Ustad Andi pun mengucap salam.


"Assalamualaikum ...,"


"Waalaikumsalam ...," sahut Bu Dewi dari dalam rumah.


Bu Dewi buru-buru membuka pintu.


"Eh, Ustad Andi ... Loh, sama Pak Salihun dan Pak Ratno. Monggo masuk!" ucap Bu Dewi pada ketiga tamunya.


"Terima kasih, Bu ...," sahut Ustad Andi dan ia pun masuk ke dalam rumah tersebut diikuti oleh Pak Salihun dan Pak Ratno.


"Silakan duduk, Ustad ... Pak ....," ujar Bu Dewi.


"Inggih, Bu Dewi," sahut Ustad Andi.


Bu Dewi pun mengambil tempat duduk di hadapan mereka bertiga.


"Ada apa ya, Ustad? Tumben datang ke sini pagi-pagi?" tanya Bu Dewi.


"Begini, Bu Dewi ... Saya ingin bertanya kepada Bu Dewi, apakah Pak Herman ada di rumah?" tanya ustad Andi setelah sebelumnya melirik ke arah Pak Salihun dan Pak Ratno.


Bu Dewi cukup kaget mendapat pertanyaan dari Ustad Andi yang terkesan aneh karena tokoh pemuda tersebut datang bersama dua karyawannya yang sebelumnya bersama dengan suaminya pergi ke kuburan.


Pak Salihun dan Pak Ratno merasa takut mendapat tatapan aneh dari Bu Dewi.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2