
Pak Salihun pulang ke rumahnya dengan keadaan bahagia. Meskipun pagi tadi ia sempat kecewa karena Jamila tidak mengaku bahwa perempuan yang menyerahkan kencah padanya malam itu adalah dirinya. Tapi, pertemuannya dengan Minul cukup mengobati rasa kekecewaannya. Karena sebagai laki-laki Pak Salihun merasa senang kalau tenaga dan pikirannya berguna untuk orang lain.
“Mungkin benar kata orang-orang bahwa penyesalan itu datangnya belakangan. Karena kalau di awal namanya pendaftaran. Iya, seandainya saja dulu aku tidak terlalu mengejar-ngejar Jamila, mungkin saja aku sudah bisa dekat dengan Minul. Tapi, sudah terlambat. Minul sudah menjadi milik Ratno. Aku tidak mungkin merebut lagi perempuan yang disukai sahabatku itu. Aku tidak mau kejadian yang kedua terjadi. Aku sudah pernah berbuat salah pada Ratno dengan merebut kesempatannya dekat dengan Jamila, tidak mungkin aku melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya. Oh ya, aku sudah minta maaf kepada Jamila, tapi belum lega rasanya kalau aku belum minta maaf kepada Ratno. Yah, meskipun al itu tidak berarti lagi buat Ratno karena dia sekarang sudah jadian sama Minul. Tapi, tidak ada salahnya aku tetap meminta maaf juga kepada Ratno supaya ke depannya aku lebih berhati-hati lagi dan tidak melakukan kesalahan yang sama. Mumpung sekarang aku lagi nggak ada kesibukan, lebih baik aku ke rumah Ratno saja untuk mengatakan yang sebenarnya.” Pak Salihun benar-benar ingin memulai semuanya dari awal.
Pak Salihun berjalan menuju rumah Pak Ratno. Ternyata Pak Ratno baru pulang dari rumah Bu Reni. Sepertinya ia baru saja membantu mengupas kelapa di rumah janda kembang itu. Di tangan Pak Rato masih membawa badik yang biasa ia pakai untuk berbagai keperluan.
“Assalamualaikum … Apa kabarmu, Rat?” tanya Pak Salihun dengan sengaa memperjelas pergerakan mulutnya agar bisa dibaca oleh temannya yang agak kurang pendengarannya itu.
“Waalaikumsalam … Alhamdulillah sehat, Hun. Dari mana kamu seharian? Kok nggak bantu-bantu di rumah Bu Reni?” tanya Pak Ratno sambil meletakkan badiknya di meja yang memang ada di beranda rumahnya.
Setelah itu Pak Ratno terlihat memutar-mutar lehernya untuk mengurangi kepenatan akibat terlalu banyak mengupas kelapa sambil mendongkrong di rumah Bu Reni. Biasanya Pak Ratno selalu ditemani oleh Pak Salihun kalau urusan mengupas kelapa. Tapi, karena Pak Salihun tidak datang-datang terpaksa ia harus mengerjakan semuanya sendiri.
“Aku tadi pagi ke desa sebelah, Rat. Aku memesan sabit ke rumah Kang Yatno soalnya dua hari lagi sawah yang di sebelah timur kan mau panen. Sedangkan persediaan sabitku nggak ada sama sekali. Terpaksa aku harus ke rumah Kang Yatno untuk memesan sabit,” jawab Pak Salihun dengan perasaan tidak enak karena tidak ikut membantu di rumah Bu Reni.
“Kenapa nggak pesan lewat Ponsel saja? Lagi pula sabitmu kok bisa nggak ada sama sekali? Ke mana saja?” timpal Pak Ratno dengan kening berkerut.
“Sudah. Kang Yatno minta dibayar lunas di depan. Ya sudah terpaksa aku harus ke sana. Kalau masalah sabitku ke mana saja. Hm … dipinjam saudara nggak balik-balik. Pas ditagih katanya sudah hilang. Entahlah! Paling-Paling sudah dijual sama saudaraku itu. Ngomong-Ngomong capek juga ya, ngobrol sambil berdiri? Kita ngobrol sambil duduk, yuk!” tegur Pak Salihun dengan melempar senyuman.
__ADS_1
“Eh iya, Hun. Maaf, lupa tidak menawarkan duduk. Silakan duduk,ya! Tapi, jangan minta minuman, ya? Soalnya persediaan gula di rumah sedang habis. Kecuali kamu mau menunggu aku pergi ke toko dulu,” jawab Pak Ratno.
“Nggak usah minuman. Aku cuma perlu ngomong sebentar, kok!” sahut Pak Salihun sambil duduk di kursi yang ada di beranda rumah Pak Ratno.
“Ada perlu apa kamu kok kayak penting sekali, Hun?” tanya Pak Ratno kemudian, setelah mereka berdua sama-sama duduk di kursi secara berhadap-hadapan.
“Rat, aku mau ngomong sesuatu sama kamu. Ya, intinya aku mau minta maaf kepada kamu atas kesalahan yang pernah aku buat dulu sama kamu,” jawab Pak Salihun memulai pembicaraan seriusnya.
“Serius sekali kamu, Hun? Kesalahan apa, sih?” tanya Pak Ratno menjadi penasaran pada sahabatnya itu karena selama ini tidak pernah sahabatnya itu mengajaknya berbicara seserius itu.
“Iya, Rat. Kali ini aku serius. Aku pernah berbuat kesalahan kepadamu dan sepertinya kamu tidak pernah tahu atas kesalahanku itu. Aku tidak bisa tenang kalau belum ngomong terus terang sama kamu dan meminta maaf kepada kamu,” jawab Pak Salihun dengan raut wajah datar.
Selanjutnya, Pak Salihun nampak tegang dan mengatur napasnya. Masih ada keraguan di hati pria itu. Tapi, ia sudah membulatkan tekad untuk berkata jujur pada Pak Ratno.
“Rat, kamu masih ingat waktu Jamila berjanji mau mengembalikan kencah kepada kamu?” tanya Pak Salihun memulai ceritanya.
“Iya. Kenapa?” tanya balik Pak Ratno.
__ADS_1
“Malam itu aku diam-diam masuk ke rumahmu tanpa sepengetahuanmu. Kemudian, setelah dari kejauhan aku melihat Jamila datang dengan membawa kencah, aku pun mematikan lampu rumahmu dan aku pun menyamar menjadi kamu,” tutur Pak Salihun.
“Tapi, Hun!” potong Pak Ratno.
“Jamila tak sadar kalau yang ada di dalam rumahmu itu bukan kamu, melainkan aku. Apalagi aku sengaja mengubah suaraku menjadi mirip kamu. Dan, alhasil Jamila pun menyodorkan kencahnya melalui daun pintu dan aku pun menjulurkan tanganmu. Namun, karena grogi, tanpa sengaja aku menyentuh tangan Jamila. Mungkin karena malu, Jamila pun langsung pergi,” lanjut cerita Pak Salihun tanpa mempedulikan omongannya yang sempat disela oleh Pak Ratno.
“Sudah, Hun?” tanya Pak Ratno kemudian setelah Pak Salihun berhenti berbicara selama hampir setengah menit.
“Iya, Rat. Aku meminta maaf sama kamu karena sudah sempat berusaha untuk menyerobot kedekatanmu dengan Jamila. Meskipun, sebenarnya saat ini kamu sudah tidak menjalin kedekatan dengan Jamila lagi. Melainkan, kamu sudah mulai serius dengan Minul. Tapi, kalau aku tidak menyampaikan hal ini kepada kamu, seumur hidup aku aka terus dikejar-kejar rasa bersalah,” lanjut omongan Pak Salihun.
“Oke, aku maafkan kesalahanmu itu, Hun. Tapi, perlu kamu tahu bahwa malam itu aku tanpa sengaja bertemu Jamila di musholla. Waktu itu aku mendapati Jamila sedang lari ketakutan dari arah pertigaan menuju musholla. Setelah ketemua dengan aku dia bilang bahwa dia habis diganggu hantu dibawah rumpun bambu di pertigaan. Dan ia juga meminta maaf kepadaku karena ia telah menghilangkan kencahnya saat ketakutan akibat diganggu hantu itu,” tutur Pak Ratno dengan suara jelas dan tegas.
“Loh, maksud kamu yang menyerahkan kencah kepada aku itu bukan Jamila? Aku memang sudah bilang pada Jamila tentang hal ini dan dia juga bilang kayak gitu ke aku. Terus, kalau bukan Jamila yang mengembalikan kencah itu, apa hantu itu ya, yang mengembalikan kencahnya ke aku? Hiiiiii ….,” ucap Pak Salihun dengan perlahan namun tetap jelas.
BERSAMBUNG
Setelah mengecek semua komentar, ternyata yang paling memenuhi syarat untuk menjadi pemenang hanya satu orag saja yaitu akun yang bernama Ahnafal Wafa Tsaqifa. Jadi selamat untuk pemilik akun tersebut mendapatkan pulsa 20 ribu gratis. Untuk peserta yang lain banyak bab yang tidak dikomentari jadi terpaksa hanya dipilih satu pemenang saja.
__ADS_1
Sampai jumpa di kuis berikutnya.