
Setelah melalui perjalanan selama kurang lebih setengah jam, akhirnya kami pun sampai di rumah sakit. Mas Diki pun langsung membawa mobil kami ke bagian unit gawat darurat.
Sesampai di depan pintu utama UGD, aku pun segera turun dan menuju ke bagian resepsionis ruang UGD, sedangkan Mas Wisnu dan Ikbal sibuk membopong tubuh Mbak Ning yang semakin lemas. Petugas berpakaian serba putih pun segera membawa brankar ke dekat mobilku. Mbak Ning diangkat ke atas brankar dan dibawa masuk ke ruangan unit gawat darurat. Ada seorang petugas yang sedikit mewawancarai Mas Wisnu sebelum akhirnya petugas itu pun masuk ke dalam ruang unit gawat darurat. Mas Wisnu dan Ikbal tidak diperkenankan masuk ke dalam.
Setelah mengisi beberapa lembar kelengkapan administrasi, aku pun mendatangi Mas Wisnu dan Ikbal yang berdiri di depan pintu ruangan yang tertutup rapat.
"Apa yang ditanyakan petugas medis tadi, Mas?" tanyaku pada suami Mbak Ning.
"Dokter tadi menanyakan perihal keluhan-keluhan sakit Mbak Ning dan sebagainya," jawab Mas Wisnu.
"Ya sudah, Mas. Sebaiknya kita duduk dulu takutnya nanti malah mengganggu lalu lalang petugas UGD yang mau lewat di sini," jawabku.
Kami bertiga pun duduk di sebuah bangku panjang yang letaknya agak dekat dari pintu ruangan UGD tersebut. Setelah duduk selama beberapa menit, akhirnya Mas Diki yang tadi memarkirkan mobilnya itu pun datang.
"Gimana keadaan Mbak Ning, Mas?" tanya suamiku itu penasaran.
"Beluk tahu, Dik. Saya dan Ikbal tidak boleh masuk ke dalam," jawab Mas Wisnu.
Tiba-Tiba pintu ruangan UGD terbuka dan keluarlah seorang petugas medis yang tadi sempat mewawancarai Mas Wisnu. Kakak sepupu Ikbal itu pun segera berdiri dan menyambut petugas medis yang sepertinya memang akan menyampaikan sesuatu kepada kami itu.
"Gimana kondisi istri saya, Dok?" tanya Mas Wisnu dengan ekspresi ketakutan.
"Begini, Pak ... Sepertinya ada masalah dengan lambung Ibu Ningsih. Sementara kami hanya mengupayakan untuk menghentikan muntah darahnya dahulu. Tapi, Bu Ningsih sekarang memerlukan transfusi darah segera karena ia terlalu banyak mengeluarkan darah," jawab dokter berjenis kelamin wanita tersebut.
"Tapi, istri saya tidak kenapa-kenapa, kan, Dok?" tanya Mas Wisnu lagi.
"Kami belum bisa memastikannya, Pak. Karena kondisi Ibu Ningsih sampai sekarang belum stabil. Kami mohon bapak dan ibu membantu kami untuk mencarikan darah golongan A rhesus positif. Kebetulan saya sudah menghubungi pihak PMI katanya darah golongan tersebut untuk saat ini sedang habis. Ada golongan darah yang sama, tapi stoknya ada di luar kota. Paling cepat besok siang bisa sampai di sini. Sedangkan, Ibu Ningsih tidak punya banyak waktu lagi untuk menunggunya," jawab dokter dengan agak dipelankan.
"Saya siap untuk donor darah, Dok!" jawab Mas Wisnu.
"Saya juga siap, Dok!" jawab Ikbal.
__ADS_1
"Saya juga, Dok!" jawab Mas Diki.
Hanya aku yang diam karena golongan darahku memang A tapi rhesus negatif.
"Apa Bapak-Bapak dan Mas ini tahu golongan darahnya?" tanya dokter itu lagi.
"Tidak, Dok!" jawab mereka bertiga secara bersamaan.
"Baiklah, sekarang saya akan memberi surat pengantar kepada kalian untuk melakukan pengecekan darah di Laboratorium. Jika memang ada di antara kalian yang memiliki golongan darah yang cocok dengan Ibu Ningsih, pihak Laboratorium akan segera melakukan transfusi darah dari kalian terhadap Ibu Ningsih," jawab sang dokter yang memakai eblek bertuliskan "dr. Indri" di saku sebelah kirinya itu.
"Baik, Bu Indri," jawabku
"Oke, silakan salah satu dari kalian saya ijinkan untuk masuk ke dalam menemani pasien, tapi ingat, di dalam tidak boleh membuat keramaian karena masih ada beberapa pasien yang sedang dalam masa kritis selain Ibu Ningsih," ujar dokter Indri lagi.
"Baiklah, Bu Indri. Saya yang akan menemani kakak saya di dalam," jawabku tegas.
"Oke, silakan masuk, Bu! Yang lain ikut saya ke meja resepsionis. Akan saya beri surat pengantarnya," ujar dokter Indri.
"Iya, Bu Dokter," jawab Mas Diki dan Ikbal.
"Iya, Mas," jawabku perlahan.
Aku pun masuk ke dalam ruangan UGD setelah dibukakan pintu oleh dokter Indri.
Ternyata di dalam ruangan UGD itu terdapat beberapa ruangan lagi. Terdapat salah satu ruangan yang ukurannya cukup lebar dan di sana terdapat tirai-tirai pembatas antara satu dengan lainnya.
"Bu Ningsih ada di ruangan nomor tiga di sebelah kanan," ucap dokter Indri saat aku masuk ke dalam.
"Terima kasih, Bu!" jawabku.
Dan pintu ruangan UGD pun ditutup kembali oleh dokter Indri. Aku berjalan ke arah kanan sesuai instruksi dokter Indri. Sesampai di ruangan-ruangan yang hanya dibatasi oleh tirai-tirai berwarna hijau itu pun, aku berjalan sambil menghitung ruangan-ruangan yang aku lewati. Ada keanehan yang kurasakan saat itu. Tidak ada suara apapun di dalam ruangan tersebut. Suasananya begitu hening dan mencekam. Saking heningnya, aku sampai bisa mendengar suara tarikan napasku sendiri.
__ADS_1
"Satu ... dua ... tiga ...." Aku menghitung satu persatu ruangan di sebelah kanan hingga sampai hitungan ketiga.
Setelah yakin aku sudah sampai di ruangan penanganan Mbak Ningsih, aku pun secara perlahan meraih kain hijau yang menutupi ruangan nomor tiga tersebut. Aku berusaha mencari pinggiran kain yang terbelah. Warna hijau kain itu mengingatkanku pada kain yang biasa digunakan sebagai penutup keranda jenazah di tempatku.
Setelah mencari bagian kain yang terbelah, aku pum menemukannya dan berusaha untuk menyingkap kain tersebut. Tiba-Tiba ada sebuah tangan menyentuh pundakku. Secara refleks aku pun menoleh ke belakang untuk mengetahui siapakah orang yang berada di belakangku itu. Aku cukup terkejut melihat seseorang dengan mata agak terbelalak sedang berdiri di belakangku. Di tangannya sedang memegang pisau operasi.
"Siapa yang menyuruh Ibu masuk ke ruangan ini?" sapanya dengan suara tegas.
"Ya Tuhan! S-s-saya adiknya Bu Ningsih, Dok. Pasien yang baru saja masuk ke ruangan ini," jawabku terbata-bata karena terkejut.
"Bukan ini ruangan Bu Ningsih. Ini ruangan pasien lain yang baru saja meninggal akibat kecelakaan. Saya akan menjahit luka-lukanya sebelum jenazahnya dibawa ke kamar mayat," jawab petugas yang wajahnya agak seram dan menggunakan name tag bertuliskan 'dr. Reny' di saku kanannya itu.
"Loh, kata dokter Indri. Ruangan Bu Ningsih ada di nomor tiga?" protesku.
"Iya, benar. Tapi, ini bukan nomor tiga. Ini nomor empat," jawab petugas itu.
"Loh! Iya tah? Sepertinya ini nomor tiga. Saya sudah menghitungnya barusan," jawabku.
"Coba Ibu hitung lagi!" jawab petugas itu.
Aku pun mencoba menghitung kembali sambil melangkah meninggalkan petugas itu.
"Satu ... dua ... tiga ... eh iya, empat. Kok bisa salah gitu, ya? padahal tadi ... Ah sudahlah!" Aku berkata pada diriku sendiri.
"Iya, Bu Reny, saya mohon maaf ternyata-" ucapku pada petugas barusan.
"Loh, ke mana perginya Bu Reny barusan? Apa ia sudah masuk ke dalam? Tapi, masa dia masuk ke dalam ruangan itu tanpa menghasilkan suara sedikitpun?" pikirku begitu aku kehilangan jejak dokter tersebut.
BERSAMBUNG
Baca novelku yang lain :
__ADS_1
KAMPUNG HANTU
SEKOLAH HANTU