MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 22


__ADS_3

Posisi Pak Handoko yang berada di balik tembok membuatku sampai saat ini bingung. Satu sisi aku meyakini Mas Diki tidak dapat melihat Pak Handoko karena terhalang tembok rumah. Namun, di satu sisi aku yakin dari posisinya tadi, seharusnya ia masih dapat melihat badan Pak Handoko.


"Tapi kenapa, ya, Mas Diki tidak melihat Pak Handoko? Ada beberapa keanehan lagi, dari mana Pak Handoko tahu kalau yang datang ke rumahnya adalah Mas Diki? Bukankah ia membelakangi kami? Dan ia bertemu dengan Mas Diki sudah belasan tahun yang lalu. Dari mana juga dia tahu kalau aku ini istrinya Mas Diki? Dan ... ia juga tahu perihal Nur. Tadi dia bilang, belum saatnya anakku datang ke tempat itu ... YA TUHAAAAAN!!!!! Dia itu pasti bukan manusia biasa. Dia pasti arwaaaaah!!!!"


"Ayo Mas, dipercepat motornya!!" teriakku pada Mas Diki sambil memukul-mukul pundaknya.


Rumah Pak Handoko memang sudah tertinggal di belakang, tapi rasa ngeri itu membuatku merasa tidak aman jika kendaraan kami masih berada di jalan yang menghampar di antara sawah-sawah pertanian itu.


"Ini sudah cepat, Dik. Ada apa sih, kok kamu kayak ketakutan begitu?" tanya suamiku.


"Nanti saya jelasin kalau kita sudah sampai di jalan yang agak rame. Pokoknya Mas Diki sekarang ngebut saja dulu!" jawabku sambil memeluk pinggang suamiku semakin erat.


"Kamu ini, Dik. Nggak tahu saya lagi bingung mikirin anak kita. Kamu malah ngajak mesra-mesraan saja," cetus suamiku dengan polosnya.


SREK!


Sebuah cubitan keras langsung kudaratkan ke perutnya.


"Aduh!!" pekiknya menahan sakit.


"Kapok!" pikirku.


Dan motor itu pun melaju semakin kencang meninggalkan area persawahan yang bagiku sudah hilang nuansa keindahannya berganti dengan suasana magis yang membikin bulu kuduk merinding.


*


"Dik, ini sudah di jalan besar. Sebentar lagi kita akan sampai di sekolah Nur. Cepat kamu sampaikan yang ingin kamu utarakan tadi di tengah sawah!" ujar suamiku memecah kebisuan di antara kami berdua.


Aku mendongakkan wajahku ke atas setelah sekian lama kubenamkan di punggung Mas Diki yang kokoh. Benar saja, pemandangan sawah sudah berganti menjadi pemandangan jalan raya yang cukup ramai. Rasa ngeri itu perlahan sirna dari perasaanku. Kutarik napas dalam-dalam sebelum aku memulai bercerita kepada suamiku.


"Mas ... tadi saya ngeliat hantunya Pak Handoko di rumah itu." Aku mengawali ceritaku.

__ADS_1


"APA???" pekik Mas Diki.


"Iya, Mas. Saya ngeliat hantu Pak Handoko di sana." Aku mengulangi perkataanku untuk meyakinkan ketidakpercayaan Mas Diki.


"Kamu pasti salah lihat, Dik. Bukankah kemarin lusa kamu bilang kalau kamu melihat sosok mirip Pak Handoko di sana? Itu tandanya Pak Handoko masih hidup, bukannya jadi hantu seperti yang kamu bilang barusan," jawab suamiku.


"Bisa jadi sosok yang saya lihat kemarin lusa itu juga hantunya Pak Handoko juga, Mas!" jawabku dengan tegas.


"Ah, kamu ini yang benar saja, Dik. Jangan karena tadi saya tidak melihat Pak Handoko, tapi kamu melihatnya. Lantas kamu yakin itu hantunya Pak Handoko. Bisa jadi, saya tidak dapat melihatnya karena posisi Pak Handoko terhalang sesuatu untuk dilihat, misalnya terhalang tembok. Saya tadi kan agak jauh posisinya dari kamu, Dik!" ujar suamiku dengan nada serius.


"Tidak, Mas! Bukan itu alasannya kenapa saya yakin yang saya temui tadi itu hantunya Pak Handoko," jawabku.


"Oh, ya? Bagaimana kamu bisa yakin kalau yang kamu temui tadi hantunya Pak Handoko?" Suamiku bertanya dengan penuh selidik.


Motor yang kami naiki tetap melaju dengan kecepatan lumayan cepat. Sebentar lagi kami berdua akan sampai di sekolah anakku.


"Tadi, saya berbicara dengan hantu itu dalam keadaan ia membelakangiku. Sementara capil berwarna merah tetap ia kenakan," Aku memulai penjelasanku.


"Kalau dia itu manusia biasa, dengan tubuh membelakangi saya seperti itu, tidak mungkin ia tahu siapa yang sedang datang ke rumahnya saat itu. Tapi nyatanya, ketika saya menanyakan padanya apakah ia melihat anak laki-laki seusia anak SMP lewat di sana atau barangkali mampir di rumahnya, Mas tahu apa yang dia katakan?" Ujarku.


"Apa yang ia katakan, Dik?" tanya Mas Diki dengan penuh rasa penasaran. Saking penasarannya, ia sampai menoleh sejenak ke arahku. Mungkin ia sudah tak sabar menunggu jawabanku.


"Dia bilang begini, Mas. 'Tidak, Nduk. Hanya suamimu dulu yang pernah mampir ke rumah ini. Anakmu belum saatnya datang ke rumah ini'." Aku mengulangi jawaban hantu tadi kepada Mas Diki.


"YA TUHAN!!! Berarti kamu beneran ketemu hantunya Pak Handoko, Dik!" pekik suamiku dengan nada agak bergetar.


Mas Diki masih bisa menyetir dengan stabil meskipun dalam kondisi terkejut dan gemetar seperti itu.


"Iya, Mas. Saya sudah tidak peduli tadi itu Pak Handoko atau hantunya, tapi yang saya khawatirkan kenapa ia bilang belum saatnya Nur datang ke tempat itu. Berarti suaru saat anak kita akan ...," pekikku.


"Tenangkan pikiranmu, Dik! Jangan berpikir macam-macam dulu! Sebaiknya sekarang kita berkonsentrasi untuk menemukan anak kita dulu. Kalau sudah ketemu, kita jaga anak itu baik-baik, Dik!" tegur suamiku.

__ADS_1


"Iya, Mas. Kalau Nur sudah ketemu nanti, jangan sampai Nur lewat di jalan itu, Mas. Saya tidak mau anak kita nanti diapa-apakan oleh hantu tadi. Kasian anak kita, Mas!" pekikku sambil berurai air mata. Bayangan kejadian semalam ketika aku mendapati Nur hampir sekarat diganggu pocong kembali hadir di pikiranku.


Akhirnya kendaraan yang kami naiki sudah sampai di depan gedung sekolah Nur. Mata kami langsung mengedar pandangan ke sekeliling untuk mengamati situasi di sekitar gedung sekolah tersebut. Gedung tersebut tampak lengang dari luar, seperti tidak ada aktivitas lagi di dalamnya. Ketika pandanganku menumbuk pintu gerbang yang tertutup rapat, hatiku serasa diiris karena merasa misi pencarian kami berdua gagal. Menurutku, Nur tidak ada di gedung sekolah ini. Dan tidak mungkin Nur pulang sendirian ke rumah dalam kondisi ia sedang takut berada sendirian di rumah kami.


"Mas, sepertinya tidak ada siapapun di gedung ini. Pasti semua penghuninya sudah pulang," ujarku sambil melangkah mendekati gerbang sekolah. Kupegangi gembok gerbang yang terkunci itu untuk memastikan bahwa gerbang tersebut benar-benar terkunci.


"Kemana lagi kita akan mencari Nur, Dik. Apakah kita akan mencari di rumah kita sendiri?" tanya suamiku yang terlihat ragu dengan pertanyaannya sendiri.


"Tidak mungkin ia pulang ke rumah sendirian, Mas. Kamu lihat sendiri tadi malam, bagaiamana Nur sangat ketakutan di kamarnya setelah melihat pocong yang datang tiba-tiba," jawabku sambil berbalik badan dan bersandar di gerbang yang terkunci itu.


Selama beberapa detik aku dan Mas Diki saling menatap dalam kebingungan. Kami tidak tahu lagi apa yang akan kami perbuat saat itu. Otak kami benar-benar buntu saat itu.


Tiba-Tiba mata Mas Diki melotot dan mulutnya ternganga. Pandangannya tajam ke arah belakangku.


"Dik ... Dik ...," pekik suamiku seperti kesetanan.


"Apa, Mas?" tanyaku penasaran.


"I-itu di belakangmu!" ucap suamiku terbata-bata sambil menunjuk ke arah belakangku.


Melihat suamiku seperti itu, aku tergagap seketika. Aku merasa ketakutan. Sementara dari arah belakangku, aku hanya mendengar suara langkah seseorang yang semakin lama semakin keras di telingaku.


Bersambung


Terima kasih kepada para oembaca yang sampai saat ini masih setia mengikuti alur cerita MARANTI.


Saya hanya mengingatkan bahwa novel cetak KAMPUNG HANTU sudah bisa diorder melalui penerbit maupun penulis dengan harga promo 60 ribu rupiah saja.


Ditunggu like dan komentarnya, ya, Kak!


Salam Seram dan Bahagia

__ADS_1


__ADS_2