MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 64 : JATMIKO


__ADS_3

Bu Nisa pun mendampingi Jatmiko menuju suaminya yang sedang berbaring terlelap di atas dipan. Jatmiko pun akhirnya bisa melihat Revan yag sedang asyik dengan mainannya di atas dipan satunya.


“Itu Revan, Nis?” tanya Jatmiko sambil menoleh ke arah perempuan itu.


“Iya, Mas,” jawab Bu Nisa sambil melempar senyuman kepada jomlo akut itu.


“Sudah besar Revan ternyata,” gumam Jatmiko sambil berjalan mendekati anak kecil itu.


“Revan!” panggil Bu Nisa pada anaknya.


“Iya, Bu,” sahut Revan sambil memegang mainan dengan salah satu tangannya dan ia pun menoleh ke arah Bu Nisa dan Jatmiko.


“Apakah kamu inget dengan om ini?” tanya Bu Nisa mencoba menguji ingatan anaknya.


Jatmiko melebarkan senyumannya kepada buah hati Pak Ade dan Bu Nisa itu.


“Revan sudah lupa ya sama om?” tanya Jatmiko dengan merengek karena Revan tak kunjung menyebutkan namanya.


Revan memfokuskan matanya pada pria di depannya. Sesekali ia mengernyitkan dahinya sambil berusaha mengingat-ingat siapakah sosok pria berambut gondrong di depannya itu.


“Masa sih Revan sudah lupa sama om?” tanya Jatmiko sekali lagi pada anak kecil yang tampak kebingungan itu.


Revan berusaha keras untuk mengingat-ingat pria di depannya, tapi usahanya sepertinya gagal.


“Sepertinya anakmu sudah lupa sama aku, Nis?” ucap Jatmiko pada Bu Nisa.


“Yah, gimana dia mau ingat sama kamu lah wong rambut kamu sekarang gondrong. Paling dia mikirnya kamu ini preman pasar mana gitu,” jawab Bu Nisa.


“Sialan kamu, Nis!” umpat Jatmiko pada istri temannya itu.


“Revan ingat nggak sama baju Superman warna merah yang dua tahun lalu paling Revan senangi?” ucap Bu Nisa sambil membantu anaknya mengingat-ingat kenangan dua tahun lalu.


“Baju yang ada sayapnya itu ya, Bu?” tanya balik Revan.


“Iya. Baju yang ibu cuci hampir setiap hari karena setiap kering langsung kamu pakai lagi itu?” tanya Bu Nisa.


“Iya. Revan ingat, Bu. Kenapa dengan baju itu, Bu?” tanya Revan lagi.


Jatmiko tersenyum senang karena pakaian yang ia belikan di pasar induk saaat ulang tahun Rvan dua tahun lalu itu ternyata sangat disukai oleh anak itu.


“Revan ingat bajunya, tapi kok alah lupa sama orang yang memberinya?” ucap Bu Nisa sambil menoleh ke arah Jatmiko untuk memberi kode kepada anaknya bahwa orang di sebelahnya itulah yang telah memberikan baju itu dua tahun yang lalu tepat di hari ulang tahun Revan.


Revan menoleh ke arah Jatmiko dan sekarang sepertinya ia sudah mengenali pria berambut gondrong di sebelah ibunya.


“Om Ijat?” pekik Revan sambil berusaha turun dari dipannya dan berlari untuk memeluk pria berambut gondrong itu.


Jatmiko terharu mendapat pelukan mendadak dari anak kecil itu. Ia pun menggendong Revan yang sekarang sudah semakin berat itu. Batin pria itu tiba-tiba menjadi syahdu. Ia membayangkan dirinya yang tidak bisa sebahagia Ade, temannya. Dalam usianya yang sudah tidak muda lagi, ia masih belum memiliki pasangan hidup, apalagi buah hati. Semua itu ia lakukan demi baktinya kepada ibunya yang sudah cukup renta.


Bu Nisa terharu melihat Revan memeluk Jatmiko dengan eratnya. Jarang-Jarang anaknya itu bisa dekat dengan orang lain.  Selain ia dan Pak Ade, paling-paling Revan hanya dekat dengan Bu Dimas yang begitu penyayang dan penyabar. Dan Jatmiko menjadi orang keempat yang bisa sedekat itu dengan Revan.


“Om Ijat ke mana saja,sih, kok nggak pernah ngajak ketemuan?” tanya Revan sambil mengusap air matanya. Air mata kerinduan lebih tepatnya.


“Om nggak ke mana-mana, Revan. Om kan nggak tahu alamat rumah Revan. Tiap om tanya ke ayahmu di mana rumahmu, nggak pernah dijawab. Ayahmu kayaknya nggak suka om main ke rumah kamu dan ketemu sama Revan,” jawab Jatmiko.


“Ayah memang aneh, Om. Masa teman-temannya nggak ada yang dibolehin main ke rumah. Tiap ketemu musti di luar rumah,” protes Revan pada Jatmiko.


“Mungkin ayahmu sibuk, Revan. Jadi, dia nggak mau digangguin kalau di rumah. Maunya fokus sama Revan mungkin, kalau sudah ada di rumah,” jawab Jatmiko.


“Enggak juga, Om. Revan sering dicuekin malah sama ayah. Ayah lebih fokus sama laptopnya,” jawab Revan.

__ADS_1


Memang benar perkataan anak kecil itu. Pak Ade adalah seorang pekerja keras. Bahkan di rumah pun waktunya banyak dihabiskan untuk mengerjakan desain bangunan yang seang digarap. Bu Nisa yang sebenarnya punya hobi jalan-jalan itu pun terpaksa harus gigit jari karena sering dicuekin oleh suaminya.


“Revan harus sabar. Ayah Revan kayak gitu demi masa depan Revan juga. Biar Revan bisa tercukupi semua kebutuhannya. Bisa beli mainan, bayar uang sekolah, beli tas, sepatu, dan sebagainya. Iya , kan?” jawab Jatmiko berusaha meredakan gejolak di hati anak kecil itu agar bisa mengerti kondisi ayahnya.


Bu Nisa hanya bisa tersenyum karena semua yang dikatakan oleh Revan dan Jatmiko benar adanya. Meski Bu Nisa kadang jengkel karena hobi masa mudanya tidak bisa tersalurkan semenjak menikah dengan Pak Ade. Namun, di satu sisi ia sangat menghargai suaminya untuk mengejar kemerdekaan finansial dengan kerja keras dan segala cara dilakukan untuk mencapai kesuksesan ekonomi itu.


“Siapa yang berani membicarakan ayah di belakang ayah?” Tiba-Tiba terdengar suara Pak Ade memecah kesunyian yang terjadi selama beberapa detik.


Revan yang sedang berada di gendongan Jatmiko pun menoleh ke arah ayahnya dan turun dari gendongan pria itu.


“Maafkan revan ya, Yah? Revan tidak bermaksud seperti itu,” ucap Revan dengan nada lembut.


Pak Ade menatap wajah anaknya yang polos itu. Setelahnya ia pun berkata.


“Maafkan ayah, ya? Ayah tidak bermaksud menjauhkan Revan dari Om Jatmiko ini. Ayah terlalu sibuk dengan pekerjaan ayah, Nak,” jawab Pak Ade dengan lembut pada Revan.


Revan pun akhirnya bisa tenang karena tidak dimarahi oleh ayahnya.


“Hai, Jat! Gimana kabarmu?” sapa Pak Ade pada teman masa kecilnya itu.


“Kamu sendiri gimana, De? Kok betah kamu berada di sini?” sapa Jatmiko.


Bu Nisa pun kemudian memanggil Revan.


“Revan, ikut ibu, yuk!” panggil Bu Nisa.


Revan berlari ke arah ibunya.


“Mau ke mana, Nis?” tanya Jatmiko.


“Mumpung kamu ada di sini. Aku mau mengajak Revan untuk membeli snack di kantin. Kasihan Revan sejak pagi tadi belum makan snack,” jawab Bu Nisa.


Deg.


Hampir saja Bu Nisa tertawa mendengar ucapan teman suaminya itu tentang ritual. Jujur, perempuan itu tidak begitu suka dengan ritual klenik yang dimaksudkan oleh Jatmiko Itulah alasan sebenarnya kenapa ia enggan berlama-lama dengan Jatmiko karena ia tidak mau melihat ritual atau apapun itu yang menurutnya aneh.


“Iya, Mas!’ sahut Bu Nisa santai sambil menarik revan meninggalkan ruangan itu.


Sesampai di depan pintu kamar kembali Bu Nisa harus menarik napas dalam-dalam karena ia melihat ibunya Jatmiko sedang menabur bunga di pintu masuk kamar sambil kmat-kamit membaca sesuatu.


“Duh, aku tidak boleh berbicara macam-macam di dalam hati. Ntar nenek tua ini tahu isi hatiku. Oke, aku akan berkata yang baik-baik di dalam hati. Ritual ini baik … Ritual ini untuk keselamatan suamiku … Dokter dan Suster nggak akan marah meskipun melihat bunga ini berserakan di pintu,” ucap Bu Nisa pada hatinya sendiri.


“Biar aku yang ngomong ke dokternya kalau nanti dimarahin!!” Tiba-Tiba nenek tua itu berkata dengan suara agak tinggi.


“Maaf, Bu!” sahut Bu Nisa dengan perasaan malu dan buru-buru pergi meninggalkan nenek tua itu yang masih melanjutkan ritualnya.


Sesampai di kantin, Bu Nisa pun bernapas dengan lega karena ia bisa lepas dari Jatmiko dan nenek tua yang sakti itu. Ia pun menyuruh Revan memilih snack yang ia sukai, sementara ia sibuk memikirkan nenek tua itu.


“Kok bisa nenek tua itu tahu isi hatiku? Duh, bagaimana ini? Kalau nenek tua itu sampai marah, gimana? Aku bisa kena marah juga sama Mas Ade. Ah, aku bingung gimana caranya menghadapi nenek tua itu. Tiap berada di dekat nenek tua itu, otakku tidak bisa diajak berkompromi. Aku langsung saja mikirin tingkah aneh yang ia lakukan. Duh, apa yang harus aku lakukan?” Bu Nisa sibuk memikirkan tingkah konyolnya setiap berhadapan dengan ibunya Jatmiko.


“Sebaiknya aku minum yang segar-segar dulu di sini biar nanti aku bisa lebih tenang menghadapi mereka berdua!” ucap Bu Nisa pada dirinya sendiri.


Sementara itu di dalam ruangan VIP tempat Pak Ade dirawat, Jatmiko mulai menanyakan alasan Pak Ade menghubunginya.


“Jat, kedua temanku sepertinya dibunuh oleh hantu,” ucap Pak Ade pada Jatmiko.


“Hantu gimana maksudmu, De?” tanya Jatmiko.


“Yah, di dekat rumahku ada seorang wanita yang baru saja meninggal. Sepertinya arwahnya penasaran dan mulai membunuh orang-orang yang pernah berbuat jahat kepadanya selama hidup,” jawab Pak Ade.

__ADS_1


“Dua temanmu itu dibunuh oleh arwah penasaran itu karena kejahatan yang pernah mereka lakukan pada wanita itu?” tanya Jatmiko lagi.


“Ya, sepertinya begitu,” jawab Pak Ade.


“Jawab yang tegas!” desak Jatmiko.


“Iya!” jawab Pak Ade lagi.


“Dan sekarang kamu sedang ketakutan karena kamu juga melakukan kejahatan pada wanita itu?” ucap Jatmiko dengan suara cukup keras dan penuh emosi.


“Jangan keras-keras, Jat!” jawab Pak Ade sambil menutup mulut temannya itu.


“Kamu ini dari dulu tidak berubah\, Ade! Selalu saja melakukan sesuatu tanpa pikir panjang. Kejahatan apa yang sudah kamu lakukan pada wanita itu? Pembunuhan? Perk*s**n?” Jatmiko memarahi temannya itu.


Lagi-Lagi Pak Ade menutupi mulut temannya itu. Akut didengar oleh istri dan anaknya yang bisa datang kapan saja.


“Tidak begitu ceritanya, Jat! Pls, tolong aku! Aku tidak mau mati, Jat!” rengek Pak Ade.


“Entahlah! Kamu ini tidak kasihan pada istri dan anakmu itu! Anakmu itu masih kecil, De! Kalau terjadi apa-apa sama anakmu, bagaimana? Kasihan dia!” omel Jatmiko.


“Aku khilaf, Jat!” sahut Pak Ade.


“Begini kamu bilang khilaf? Kalau khilaf, tidak mungkin arwah wanita itu sampai penasaran begitu dan membunuh orang yang telah berbuat jahat kepadanya seperti ini?” omel Jatmiko kali ini suaranya agak dipelankan.


“Plis, bantu aku, Jat!” rengek Pak Ade.


“Enggak, De! Kamu nggak ada kapok-kapoknya mengumbar nafsumu!” jawab Jatmiko.


“Tolong aku, Jat! Aku akan membayar berapapun yang kamu minta,” balas Pak Ade.


“Apa? Serendah itu kamu menilai persahabatan kita?” bentak Jatmiko.


“Bukan itu maksudku, Jat! Aku benar-benar bingung harus meminta bantuan kepada siapa? Dia sudah datang tadi malam ke dalam mimpiku, Jat. Mungkin, kalau kamu tidak menolongku, malam ini dia akan membunuhku, Jat! Apa kau tidak kasihan sama aku, Jat? Apa kamu tidak kasihan sama Revan?” rengek Pak Ade.


Jatmiko hanya terdiam saat itu. Ia benar-benar marah dengan temannya itu karena tidak pernah berubah di usia yang sudah dewasa ini. Tapi, di satu sisi ia juga tidak ingin temannya itu celaka karena ia sangat menyayangi temannya dan juga keluarganya itu.


Jatmiko teringat dengan kejadian dua tahun yang lalu. Saat itu Pak Ade datang ke rumahnya untuk meminta tolong kepada Jatmiko karena kantornya dikirimi santet oleh seseorang. Pak Ade datang sendiri ke rumah Jatmiko. Usut punya usut ternyata yang mengirim santet ke kantor Pak Ade adalah suami dari seorang wanita yang sedang berselingkuh dengan Pak Ade. Jatmiko hampir saja tidak mau membantu Pak Ade waktu itu, tapi karena saat itu kondisi Pak Ade sangat memprihatinkan, maka ia pun kasihan dan menyelamatkan temannya itu. Pak Ade waktu itu bilang kepada Jatmiko kalau ia sudah tiga bulan tidak bercinta dengan istrinya karena mendadak adiknya tidak mau bangun setelah mendengar suara ledakan di atas plafon kantornya. Pak Ade cerita kalau istrinya sudah mulai uring-uringan dan sering marah tanpa alasan yang jelas karena efek hal tersebut. Karena tidak tega, Jatmiko pun turun tangan membantu Pak Ade dengan satu syarat Pak Ade berjanji tidak akan mengganggu istri orang lagi. Dan setelah dibantu oleh Jatmiko, kelelakian Pak Ade pun pulih seperti sedia kala.


“Plis! Bantu aku, Jat!” Pak Ade menangis sesegukan memohon bantuan Jatmiko.


Tiba-Tiba terdengar suara dari arah belakang Jatmiko.


“Aku yang akan membantumu, Nak Ade!” ucap nenek tua ibunya Jatmiko.


Jatmiko dan Pak Ade sama-sama terkejut mendengar ucapan nenek tua itu.


“Tapi, Bu!” cegah Jatmiko.


“Kamu mau temanmu ini mati, Jat? Arwah yang mau membunuh Nak Ade ini memiliki kekuatan yang luar biasa. Dia sebenarnya sudah pernah ke sini meski hanya melalui mimpi. Dan itu adalah caranya untuk mengancam Nak Ade. Sepertinya ia sengaja melakukan hal itu karena dia tidak ingin Nak Ade mati dengan cepat. Dia ingin membunuh Nak Ade secara perlahan …,” ucap nenek tua itu dengan tatapan mata dan suara yang membuat orang yang mendengarnya menjadi ketakutan karena ceritanya.


“Terima kasih, Bu. Terima kasih …,” ucap Pak Ade pada nenek tua itu dengan perasaan haru.


“Jangan senang dulu, Nak Ade! Arwah yang akan membunuhmu ini memiliki kekuatan dahsyat. Tidak mudah untuk melawannya. Kamu harus siap  dengan segala risikonya,” balas nenek tua itu.


“Aku akan melakukan apa saja agar aku bisa selamat dari arwah wanita itu, Bu!” jawab Pak Ade dengan sedikit kebahagiaan karena akan dibantu oleh ibunya Jatmiko.


Nenek tua itu pun tersenyum mendengar jawaban Pak Ade. Entah apa yang ada di dalam pikirannya saat itu.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Jangan lupa like dan tulis komentar di setiap BAB untuk mengikuti GAME novel MARANTI


__ADS_2