MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 141 : AKHIRNYA


__ADS_3

Ternyata Jamila sedang berangkat menuju rumah Pak Salihun.


“Assalamualaikum …,”


“Waalaikumsalam. Loh kamu, Mil? Ada apa kok tumben datang ke rumahku?”


“Boleh duduk, nggak?”


“Eh iya, Maaf kelupaan. Silakan duduk, Mil! Mau minum apa?”


“Nggak usah, Pak. Aku ke sini hanya sebentar, kok!”


“Loh, kok keburu begitu? Mau ke mana, sih?”


“Aku keburu mau bantu-bantu di rumah Bu Reni, Pak!”


“Oh iya … Oke, ada perlu apa kamu ke sini?”


Jamila menarik napas dalam.


“Pak, tadi pagi setelah Pak Salihun ke rumah itu, tak lama kemudian Minul juga datang ke rumah”


“Minul? Ada perlu apa dia datang ke  rumah kamu? Apa ada hubungannya denganku?”


“Iya. Jadi, Pak Salihun kan ngomong ke aku sebelumnya bahwa Pak Salihun lah yang menyamar menjadi Pak Ratno dan menerima kencah dari orang yang dikira aku sama Pak Ratno, kan?”


“Iya benar, Mil. Tapi, kan, kamu menyangkalnya? Kamu bilang kalau itu bukan kamu dan kamu mengaku kalau kamu saat itu nggak jadi mengembalikan kencah karena kamu ketemu hantu dan kencahmu jatuh saat berusaha lari dari kejaran hantu itu?”


“Iya. Memang bukan aku yang mengembalikan kencah itu. Dan Pak Salihun tahu siapa yang mengembalikan kencah itu kepada Pak Salihun?”


“Siapa, Mil?” Pak Salihun semakin penasaran saja.


“Tadi, Minul yang ke rumah itu dia datang untuk meminta maaf kepada aku karena sudah menakut-nakutiku dengan cara menjadi hantu-hantuan dan merebut kencah dari aku,.”


“Apa? Jadi, maksud kamu Minul lah yang menyerahkan kencah itu ke aku?” Pak Salihun syok mendengar kenyataan itu.


“Iya, Pak. Malam itu Pak Salihun menerima kencah bukan dari aku, tapi dari Minul,” jawab Jamila dengan tegas.


“Ya Tuhan!” pekik Pak Salihun.


“Kenapa, Pak?” tanya Jamila.


“Nggak apa-apa, Mil!” jawab Pak Salihun berpura-pura.


Padahal di dalam hati Pak Salihun sedang tidak karuan. Bagaimana tidak? Peristiwa bersentuhannya tangannya dan tangan perempuan secara tidak sengaja malam itu adalah salah satu sebab malam-malam Pak Salihun susah terlelap. Pria itu sempat kecewa karena ketika ia yang awalnya mendekati Jamila, ternyata rasa deg deg ser nya tidak ia rasakan seperti saat malam itu. Bahkan, hatinya sendiri yang berbicara bahwa ia sangat nyaman berada di sisi Minul. Tapi, Minul ia sangka bukanlah pemilik tangan empuk yang sudah membuatnya mabuk kepayang malam itu. Dan ternyata saat ini dia baru mengetahui bahwa pemilik tangan empuk yang selalu ada di dalam bayangan Pak Salihun adalah orang yang sama dengan yang sikapnya ia kagumi. Dia adalah Minul.


“Loh, kok aku ditinggal melamun, Pak?” tegur Jamila.


“Eh, maaf, Mil!” jawab Pak Salihun.


“Pak, aku pulang duluan, ya? Mau rewang di rumah Bu Reni.”


“Oh, ya sudah deh. Makasih banyak ya informasinya.”


“Sama-Sama. Gud Lak, ya?”

__ADS_1


“Gud Lak?”


Jamila tidak menggubris omongan Pak Salihun lagi. Ia langsung berangkat menuju rumah Bu Reni. Ibunya Gio itu tidak menyadari bahwa sedari tadi ada sepasang mata yang sedang mengintip apa yang ia perbincangkan dengan Pak Salihun.


*


Ini adalah malam ketujuh selamatan di rumahnya Bu Reni. Minul dan Jamila malam itu rewang di rumah Bu Reni. Begitu acara selesai, Pak Salihun berusaha mendekati Minul. Jamila tersenyum ke arah Minul.


“Nul, aku pulang duluan, ya?”


“Loh, tunggu aku, Mil!”


Tapi suara Minul sengaja tidak didengarkan oleh Jamila. Perempuanitu sengaja memberi kesempatan agar Minul bisa berdekatan dengan Pak Salihun.


“A-pa bo-leh aku an-tar kamu, Nul?” Pak Salihun menawarkan diri kepada Minul dengan terbata-bata.


“I-iya, Pak,” jawab Minul dengan malu-malu.


Akhirnya mereka berdua pun berjalan berdua menyusuri lorong sepi dusun Delima. Tidak ada kekhawatiran terhadap hantu di hati mereka saat itu. Mereka sedang mengkhawatirkan keadaan hatinya masing-masing. Tak satu patah kata pun terucap dari kedua mulut mereka saat itu. Rasa malu jauh lebih menguasai hati mereka masing-masing. Ketika Minul sudah sampai di depan rumahnya, barulah perempuan itu berani berucap.


“M-makasih banyak ya, Pak!” ucap Minul sambil menunduk.


“Sama-Sama, Nul!” jawab Pak Salihun dengan malu-malu.


“Aku tinggal ke dalam ya, Pak?”


“Tunggu, Nul!”


“Ada apa, Pak?”


Pak Salihun mengumpulkan segenap keberaniannya.


“I-iya. Tadi siang Jamila yang mengatakannya kepadaku. Aku juga minta maaf karena aku sudah menyamar menjadi Jamila dan membuat Pak Salihun kecewa,” ucap Minul dengan tersendat-sendat karena malu.


“Tidak, Nul! Aku tidak kecewa. Aku malah senang setelah tahu bahwa itu adalah kamu. Kayaknya kamu yang kecewa, ya, karena yang kamu temui bukan Ratno, tapi aku?” timpal Pak Salihun.


“Ti-tidak, Pak! Nggak apa-apa …,” jawab Minul dengan wajah bersemu merah.


“Nul … aku boleh berkata jujur sama kamu?” tanya Pak Salihun.


“Apa, Pak?” tanya Minul denan deg-degan.


“Jujur, sejak malam itu, aku nggak bisa melupakan pemilik tangan empuk itu? Dan, aku nggak bisa membohongi diriku kalau aku itu ada perasaan sama kamu,” ucap Pak Salihun dengan penuh keberanian.


Minul hanya diam karena ia kaget laki-laki yang ia kagumi sifatnya itu ternyata diam-diam memendam perasaan yang sama kepadanya.


“Nul, mau kah kamu menjadi istriku dan ibu dari anak-anakku?” Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Pak Salihun.


“P-pak?” Minul tergagap mendengar ucapa Pak Salihun.


“Kenapa, Nul? Apa kamu memiliki pria yang lain di hatimu?” tanya Pak Salihun dengan penasaran.


“Bukan begitu, Pak? Aku tidak menyangka ternyata Pak Salihun juga memiliki perasaan yang sama denganku.”


“Maksud kamu? Kamu bersedia?”

__ADS_1


Minul mengangguk sambil tersenyum.


“Alhamdulillah!!!!” pekik Pak Salihun dengan sangat keras sambil melompat tinggi ke udara.


Untunglah suaranya tidak sampai terdengar ke telinga tetangga-tetangga Minul.


*


Sementara itu Jamila yang berjalan mendahului Minul ternyata tidak berjalan sendirian. Ada Pak Ratno yang membuntuti di belakangnya.


“Mil, tunggu!” teriak Pak Ratno.


Jamila menoleh. Ia terkejut karena di belakangnya sudah ada laki-laki yang selalu ada dalam mimpi-mimpinya.


“Kok sendirian, Mil? Mana Minul?”


“Iya, Pak. Hm … Minul lagi sama seseorang.”


“Salihun?”


“Iya. Kok tahu?”


“Aku ini sahabat Salihun, Mil. Aku tahu segala hal tentang dia. Termasuk hubungannya sama kamu ternyata tidak berhasil, kan?”


“Bukan tidak berhasil, tapi tidak berjodoh. Pak Ratno sama Minul juga nggak sukses, kan?”


Pak Ratno tersenyum kecut.


“Gimana mau berhasil, Mil. Di hati kita masing-masing sudah ada orang lain.”


Giliran Jamila yang terdiam.


Ketika Jamila sudah hampir sampai di rumahnya, Pak Ratno menarik lengan Jamila.


“Mi, aku mau ngomong serius sama kamu.”


“Ngomong apa, Pak?”


“Mil … Aku tidak bisa menerima kehadiran orang lain di hatiku karena ada orang lain yang selalu aku harapkan untuk mengisi hatiku. Dan kamu tahu siapa orang itu?”


“Siapa, Pak?”


“Kamu …,” jawab Pak Ratno sambil tersenyum ke arah Jamila.


“Yakin? Nggak salah orang?” tanya Jamila.


“Aku yakin, Mil! Apa kamu bersedia menjadi makmumku?” tanya Pak Ratno ala-ala Romeo.


“Nggak mau …,” jawab Jamila.


Raut wajah Pak Ratno memerah seketika.


“Nggak mau nolak!” jawab Jamila sambil tersenyum manis ke arah Romeonya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Bagi teman-teman yang suka novel romatis dan drama. Coba deh baca novelku yang berjudul "SUAMI RAHASIA PENYANYI DANGDUT"


Dijamin suka .... Aku tungguin, ya?


__ADS_2