
Kutunggu like-mu lo ...
Mas Diki memacu motor dengan kecepatan agak tinggi. Sepertinya ia memang sangat mencemaskan keadaan Nur.
"Dik, kamu yang teliti, ya, menengok semua kendaraan yang berlawanan dengan kita? Jangan sampai salipan sama Nur, tapi nggak kelihatan!" ucap suamiku.
"Ya, Mas!" jawabku.
Kami berdua sudah tidak peduli dengan indahnya pemandangan di kiri dan kanan jalan yang biasanya kami nikmati selama perjalanan. Yang ada di dalam pikiran kami berdua hanyalah keinginan untuk segera bertemu dengan Nur.
"Tau bakal begini, mending Nur saya jemput duluan tadi, Dik!" ucap Mas Diki dengan nada kebingungan.
Aku bisa saja mengingatkan Mas Diki atas penolakannya tadi yang tidak mau menjemput Nur di sekolahnya. Tapi, aku takut dia malah merasa menyesal dan tambah bingung.
Selama perjalanan, aku selalu berzikir dan berdoa supaya anakku baik-baik saja di sana.
"Mas, kita sudah hampir sampai di rumah Pak Handoko," ujarku.
"Iya, Dik!" jawab Mas Diki.
"Apa tidak sebaiknya kota mampir sebentar ke rumah itu untuk menanyakan perihal anak kita?" Aku berkata.
"Nggak usah, Dik. Rasanya tidak mungkin Nur ada di sana!" jawab Mas Diki tegas.
"Kan, bisa saja Nur mampir di rumah itu, Mas. Seperti kamu dulu mampir karena bannya kempes," protesku.
"Tapi, kemungkinannya kecil sekali, Dik!" protes Mas Diki.
"Apa salahnya mampir sebentar? Daripada kepikiran, Mas," Aku bersikukuh.
"Okelah kalau begitu," jawab Mas Diki dengan intonasi melemah.
Tepat di depan pintu gerbang rumah Pak Handoko, Mas Diki menghentikan laju motornya.
"Kamu turun, Dik! Dan panggil orangnya!" ujar suamiku.
Aku yang sebenarnya merasa agak merinding berada di tempat itu pun turum dari boncengan serta berjalan menuju pintu gerbang.
"ASSALAMUALAIKUM!!" teriakku dengan agak keras.
Sepi, tidak ada jawaban dari arah dalam.
"Mas, sepertinya orangnya sednag keluar. Apa tidak sebaiknha kita melanjutkan perjalanan saja ke sekolahnya Nur?" tanyaku kepada Mas Diki.
"Kamu panggil sekali saja, Dik. Siapa tahu orangnya sedang tidur di dalam!" ucap suamiku
__ADS_1
"ASSALAMUALAIKUM!!!" Aku mengucapkan salam dengan berteriak lebih keras daripada sebelumnya.
Masih sepi, tidak ada jawaban. Aku menggeleng kepad suamiku sebagai tanda kekecewaan.
"Dik, coba kamu masuk ke dalam gerbang mumpung gemboknya tidak terkunci. Mungkin kalau kamu memanggil dari tempat tepat di rumah itu, suaramu bisa didengar oleh keluarga Pak Handoko," ucap Mas Diki dengan entengnya.
"Saya, Mas? Masuk ke dalam?" tanyaku tidak yakin dengan ucapan Mas Diki.
"Iya, Dik. Siapa lagi, kan cuma ada kita berdua di sini. Kenapa? Kamu takut?" tanya suamiku dengan entengnya.
"Kalau kamu takut, biar saya yang masuk ke dalam dan kamu menunggu di sini," ucap suamiku lagi.
Selama beberapa detik aku menimbang ucapan suamiku.
"Kalau aku yang masuk, Mas Diki bisa mengawasiku. Kalau aku yang di luar, berarti aku yang mengawasi Mas Diki. Terus, siapa yang mengawasi aku? Kalau tiba-tiba ada orang asing di belakangku bagaimana? Tentunya Mas Diki bisa saja tidak mengetahui kalau aku dibekap dari belakang,"
"Biar saya saja yang masuk, Mas. Tapi tolong diawasi, ya!" jawabku kemudian.
"Tenang, Dik. Saya akan mengawasimu dari sini." jawab suamiku.
Aku pun secara perlahan membuka pintu gerbang yang tidak terkunci. Awalnya agak sulit aku membuka pintunya karena sudah agak berkarat. Tetapi setelah kucoba sebanyak tiga kali, akhirnya pintu gerbang itu bisa kubuka.
KRIEEETTT!
"ASSALAMUALAIKUM ...," Kembali aku mengucapkan salam dengan berteriak.
Lagi-Lagi aku tidak mendengar jawaban dari dalam rumah tersebut. Aku merasa rumah tua tersebut sudah lama tidak dihuni.
"Ah, mungkin itu hanya perasaanku saja. Bukankah kemarin aku melihat Pak Handoko sedang berdiri membelakangiku di rumah ini?"
"ASSALAMUALAIKUM!!!" Kembali aku mengucapkan salam. Dan lagi-lagi tidak ada suara sahutan dari arah dalam.
Aku sudah bersiap untuk berbalik badan dan berjalan menuju suamiku, ketika tiba-tiba aku melihat seseorang sedang duduk di timurnya rumah tersebut, orang tersebut duduk membelakangiku. Dan orang tersebut menggunakan capil berwarna merah.
"P-p-pak Handoko!!!" pekikku dengan terbata-bata.
Aku menoleh ke arah suamiku, suamiku tersenyum kepadaku. Berarti suamiku sudah mengetahui kalau aku sudah bertemu dengan penghuni rumah ini.
"Ada perlu apa kamu datang kemari, Nduk?" ucap orang tersebut dengan tetap duduk membelakangiku.
"Orang tersebut tidak menyangkal aku panggil dengan nama Pak Handoko. Berarti dia memang Pak Handoko yang pernah menolong suamiku dulu. Tidak ada alasan bagiku untuk takut kepadanya. Dia pasti orang baik,"
"Anu, Pak Handoko. Saya ingin tanya. Apakah Bapak melihat anak laki-laki seusia SMP lewat di depan atau mampir ke rumah ini?" tanyaku memberanikan diri.
"Tidak, Nduk. Hanya suamimu dulu yang pernah mampir ke rumah ini. Anakmu belum saatnya datang ke rumah ini," jawab Pak Handoko mengejutkanku.
__ADS_1
"Loh .. kok Bapak tahu ...," pekikku setelah beroikir sambil menunduk.
"Kemana Pak Handoko? Kok, dia tiba-tiba menghilang?"
"PAK HANDOKO!!!! PAAAAAK!!!" panggilku dengan keras.
Tidak ada suara sahutan.
"Dik, ayo ke sini!" suara panggilan suamiku mengagetkanku.
"Tapi, Mas!" jawabku.
"Ayo cepat!!!" panggil Mas Diki lagi.
Aku pun berjalan dengan cepat ke arah Mas Diki dengan penuh kebingungan.
"Ayo buruan naik, Dik!" perintah Mas Diki yang langsung aku turuti. Mas Diki pun menstarter dan menjalankan motornya membelah jalan di depan.
"Mas kok panggil-panggil saya sih?" tanyaku kesal.
"Lah kamu sih lama banget di dalam sana," jawab Mas Diki.
"Lah, saya kan lagi ngobrol sama Pak Handoko, Mas!" jawabku kesal.
"Ngayal kamu, Dik. Lah wong tadi saya lihat kamu sendirian saja di dalam. Kamu mengucap salam, tidak ada seorangpun yang keluar," jawab suamiku.
"Loh, tadi Mas kan lihat sendiri, saya sedang ngobrol dengan Pak Handoko?" ucapku dengan nada keras untuk mengingatkan Mas Diki.
"Kamu ini ada-ada saja, Dik. Ayo, kita fokus mencari Nur lagi!" jawab Mas Diki dengan polosnya.
Aku berpikir selama beberapa detik, menimbang-nimbang ucapan suamiku.
"Mas, kamu beneran tadi nggak tahu kalau saya lagi ngobrol dengan Pak Handoko?" tanyaku mendesaknya.
"Enggak, Dik. Mas tidak melihat ada ornag lain tadi selain kamu yang celingak-celinguk," jawab Mas Diki dengan nada. serius.
"Ya Tuhan ... kenapa tadi Mas Diki tidak melihat Pak Handoko? Apa tembok rumah itu menghalangi pandangan suamiku? Atau jangan-hangan ...,"
Bersambung
Ayo, tulis komentar terlucumu, Kawan!
Aku selalu baca komentarmu loh!
Salam seram bahagia
__ADS_1