
Sosok perempuan berbaju putih tertawa menyeringai setelah berhasil mengambil tas berisi kencah yang direbut dari Jamila yang lari terbirit-birit karena ulah jahil perempuan berambut panjang dan bertubuh bongsor itu.
“He he he … rasain kamu, Mil! Aku kan sudah bilang sama kamu jangan ganggu-ganggu Pak Ratno tersayangku. Beginilah akibatnya kalau kamu berani bersaing denganku! Cantikan juga aku lah! Dan satu lagi otakku ini cerdas makanya kamu bisa aku kelabui dengan menyamar jadi hantunya Laras. He he he …,” ujar perempuan yang ternyata adalah Minul tersebut.
Minul pun berjalan dengan menenteng tas yang telah ia ambil dari Jamilah. Dibukanya isi tas yang dibawanya dan Minul pun senang karena ada kencah di dalamnya. Benda yang akan membawanya bertemu dengan Pak Ratno pujaan hatinya.
“Huh, dasar perempuan nggak berkelas! Norak! Tas kayak gini aja dipakai. Tas yang bagus itu warnanya harus ngejreng biar kelihatan Wow begitu. Ini mah warnanya puyeh-puyeh nggak jelas!” umpat Minul sambil membuang tas itu seenaknya di jalan.
Tas itu dibeli oleh Jamila saat mendatangi pameran produk lokal di kota. Tas itu memiliki motif dan warna yang lembut dan sesuai dengan selera fashion terkini. Dalam hal fashion,memang Jamila cukup bagus seleranya. Sedangkan Minul terkenal agak norak dan kurang pandai memadu-madukan warna dan model pakaian atau tas. Itu sudah menjadi rahasia umum di dusun Delima, tapi tidak ada yang berani mengomentari cara berpakain Minul karena perempua itu juga dikenal galak.
Tidak hanya itu, Minul yang saat itu sedang berdandan ala kuntilanak juga terlihat aneh. Seandainya Jamila melihat bagian wajahnya, ia pasti akan tertawa terpingkal-pingkal karena make up Minul saat itu tidak seperti kuntilanak, tetapi lebih mirip badut. Sayangnya, Jamila sudah takut duluan dan berlari menjauh sebelum Minul menoleh.
“Duh,aku sampai lupa mau menghapus make up ini. Kalau sampai Pak Ratno Sayang melihat aku seperti ini, dia bisa ketakutan dan terkena serangan jantung. Maklum, Pak Ratno Sayang kan sudah tua. Tapi, ganteng sih …,” ucap Minul pada dirinya sendiri.
Perempuan yang sebenarnya manis itu pun menghapus riasan di wajahnya dengan menggunakan kain putih yang ia kenakan. Alhasil, kain yang semul putih itu pun menjadi sangat kotor setelah digunakan untuk menghapus riasan badut di wajah Minul.
“Hi … kotor dan jijik sekali!” ucap Minul sambil membuang pakaian berwarna putih yang semula ia kenakan.
Kini Minul sudah bersih dari riasan aneh dan secara penampilan masih terlihat aneh karena ia mengenakan atasan berbentuk jaket dengan bahan jeans berwarna kuning variasi bunga berwarna merah berukuran agak besar dan ia mengenakan bawahan training berwarna hijau tua dan bergaris-garis ke arah samping sehingga membuat tubuh perempuan itu terlihat lebih lebar lagi. Itu adalah baju terbaik menurut Minul untuk bertemu dan memikat hati Pak Ratno.
Minul berjalan dengan penuh semangat meninggalkan pertigaan yang cukup gelap itu menuju rumah Pak Ratno. Tak ada rasa ketakutan yang ia rasakan saat itu karena saking semangatnya ia yang akan menjumpai pria tua idamannya.
Setelah berjalan selama kurang lebih lima menit, sampailah ia di depan rumah Pak Ratno. Awalnya ia kaget karena lampu di rumah Pak Ratno tidak dihidupkan. Minul sempat berpikir untuk kembali karena ia menyangka Pak Ratno belum datang dari rumah Bu Dewi, tapi sejurus kemudia ia mendengar suara deheman khas pria dari dalam rumah tersebut seolah-olah memberi kode kepada Minul bahwa Pak Ratno sudah menunggunya.
“Ya Tuhan … Pak Ratno berdehem padaku?” pikir Minul.
Minul pun merasa senang karena mendapat kode dari Pak Ratno.
“Ih, Pak Ratno ini ternyata romantis juga, ya? Dia sengaja mematikan lampu. Mungkin dia ingin ngasih kejutan dengan aku. Kalau lampu amti begini, tentunya Pak Ratno dapat melihat dengan jelas siapa yang akan masuk ke dalam rumahnya. Pasti, barusan ia melihat aku dari kejauhan makanya ia buru-buru mematikan lampu,”pikir Minul.
Minul pun berjalan secara perlahan menuju ke arah pintu. Sesampai di pintu, perempuan itu pun berpikir.
“Duh, kalau Pak Ratno main seru-seruan sama aku. Kayaknya aku harus main seru-seruan juga. Aku mau pakai suara kecil ah biar tambah romantis,” pikir Minul.
“Paaaaaaak …,” panggil Minul dengan suara sengaja diperhalus dan dibuat mendesah.
“Mau ngapain ke sini sayang?” suara seseorang juga dibuat mendesah dari arah dalam rumah Pak Ratno.
__ADS_1
“Ih, gemesin banget si, Pak!” balas Minul tetap dengan suara mendesah.
“Kamu kan emang gemesin,” jawab suara seseorang dari dalam.
“Aku mau balikin kencah, nih!” ucap Minul.
“Iya, kamu julurin tanganmu, ya?” ucap suara dari dalam.
“Ih, kenapa begitu, Pak?” tanya Minul.
“Kita kan belum muhrim, nggak boleh berdua-duaan,” jawab suara itu.
“Ih, Bapak ini bikin hatiku gimana gitu. Aku jadi tambah kagum sama Bapak,” jawab Minul.
“Begitu kah? Aku kan sudah tua,” balas suara itu.
“Tua-Tua tapi baik orangnya. Sudah ah, aku malu,” jawab Minul.
“Ya udah. Mana kencahnya!” jawab pria itu.
Pria itu menjulurkan tangannya untuk mengambil kencah yang disodorkan oleh Minul. Tapi, karena kondisi gelap, malah tangan pria itu memegang tangan Minul yang cukup berisi.
Deg.
“Kok, tangan Jamila segemuk ini? Apa ada yang salah?” pikir pria itu.
“Ih, tanganku kok dipegang, Pak?” protes Minul tapi tetap membiarkan tangannya dipegang orang itu.
“Enggak, kok. Nggak apa-apa. Tangan kamu bagus,” jawab pria itu.
“Gombal ah?” protes Minul.
“Beneran, nih! Bolehkah aku-“ jawab pria itu.
“Boleh!” jawa Minul kegirangan.
“Beneran?” tanya pria itu.
__ADS_1
“Bener!” jawab Minul. Padahal perempuan itu tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh pria di balik pintu itu.
Muah!!!
Tiba-Tiba pria itu mengecup tangan Minul.
“Ah!” Minul terkejut.
Perempuan itu buru-buru menarik tangannya dari balik pintu dan menjatuhkan kencah yang ia pegang. Ia tidak menduga pria itu nekad melakukan hal itu. Saking malunya, Minul pun berlari menjauhi rumah itu dan menerobos jalan untuk pulang ke rumahnya.
“Maaf,Mil!” teriak pria itu yang mengira perempuan yang baru ia cium tangannya menajdi marah karena ulahnya.
Ia pun buru-buru membuka pintu dan berusaha mengejar perempuan yang ia sukai itu. Sayangnya,ia sudah terlambat. Perempuan itu sudah menghilang pergi dari rumah itu.
“Ya Tuhan! Aku sudah salah melangkah. Harusnya aku tidak berbuat kurang ajar seperti itu kepada Jamila. Tapi, kenapa aku merasa ada yang aneh dengan Jamila, ya? Kenapa tangannya lebih gemuk dari yang biasa aku lihat sehari-hari? Atau itu hanya perasaanku saja? Tapi, suara Jamila tadi lebih genit dari yang biasa aku temui. Dan tangannya agak lebih kasar juga. Tapi, kok aku malah tambah suka, ya? Duh, bagaimana kalau Pak Ratno mengetahui hal ini? Dia pasti akan semakin marah sama aku. Tapi, mau gimana lagi, masalah hati tentu tidak bisa dipaksakan. Aku menyukai perempuan misterius seperti Jamila,” ucap Pak Ratno pda dirinya sendiri.
Sinar rembulan mulai terkuak di antara celah-celah awan. Dan sinarnya meyinari pria tua itu. Ternyata, pria tua itu bukanlah Pak Ratno melainkan Pak Salihun.
Beberapa menit sebelumnya, Pak Salihun yang habis dimarahi oleh Pak Ratno pun ahirnya berjalan pulang sendirian ke rumahnya. Rumah Pak Salihun dan Rumah Pak Ratno saling bertetangga. Jadi jalannya masih satu arah. Sepanjang jalan pulang, Pak Ratno berpikir akan kesalahannya kepada Pak Ratno, sahabatnya. Ia sengaja meninggalkan Pak Ratno sendirian melintas di depan rumah Laras. Ia tahu saat itu Pak Ratno sedang tidak fit kakinya dan juga ia tahu bahwa temannya sangat penakut terhadap hantu. Tapi, ia ingin memberi pelajaran pada temannya tu karena telah menyerobot pembicaraanya dengan Jamila.
Namun, saat pria itu akan sampa di rumahnya. Ia jadi teringat dengan Jamila yang sudah membuat janji dengan Pak Ratno untuk mengantar kencah itu ke rumahnya. Ia tidak ikhlas membiarkan Jamila berdua-duaan dengan Pak Ratno, makanya ia berencana untuk berpura-pura menjadi Pak Ratno untuk mengambil kesempatan terhadap Jamila. Toh, Pak Ratno saat ini sedang ngambek dan memilih untuk salat di musalla Ustad Andi.
“Yes! Aku akan menyamar menjadi Ratno!” ucap Pak Salihun sambil berjalan masuk ke rumah Pak Ratno. Ia sengaja tidak menghidupkan lampu supaya Jamila tidak menyadari hal itu.
Baru saja ia masuk ke rumah Pak Ratno, Pak Salihun sudah mendengar bunyi lagkah gedebak-gedebuk seperti orang sedang berjalan. Pak Salihun pun buru-buru bersembunyi di balik pintu.
“Wah, ternyata Jamila kalau berjalan gedebag-gedebug bunyinya kayak gajah saja!” pikir Pak Salihun sambil bersembunyi di balik pintu.
Dan terjadilah kesalahpahaman antara ia dan Minul.
“Jamila, kenapa kok aku lebih suka kamu dalam keadaan gelap, ya? Lebih manja … Lebih ngegemesin pokoknya!” pikir Pak Salihun sambil mesam-mesem sendiri.
Pak Salihun pun buru-buru pulang ke rumahnya untuk menunaikan salat Magrib dan bersiap-siap menuju rumah Pak Hartono untuk mengikuti acara tahlilan bersama di rumah tetangganya itu.
BERSAMBUNG
Kira-Kira Readers di sini pernah ada yang salah paham kaya mereka, nggak? Kalau ada ayo ceritakan! Atau, jangah-jangan sama pasangan yang sekarang berawal dari sebuah kesalahpahaman?
__ADS_1