MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 127 : TUA-TUA KELADI


__ADS_3

Cintia dan Herman pun meninggalkan rumah Bu Dewi dengan perasaan sedikit lega, tetapi masih menyimpan tanda tanya. Ketika masuk ke dalam mobil itu Cintia langsung mengajak Herman mengobrol.


“Her, bagaimana dengan buku harian yang kita bawa itu? Sampai kapan kita akan merahasiakannya dari Bu Dewi? Lambat laun dia pasti menagih potongan buku harian itu kepada kita,” ucap Cintia mengawali pembicaraan.


“Itu dia yang aku pikirkan sejak tadi. Kita harus bisa mengulur waktu selama mungkin. Terlalu riskan bagi Bu Dewi kalau harus membaca isi potongan buku harian yang kita simpan,” jawab Herman.


“Nah, itu dia maksudku, Her. Aku tidak mau Bu Dewi nanti malah menjadi kecewa setelah membaca isi potongan buku harian itu. Kita juga yang akan berdosa nantinya. Iya, kan? Tapi, sampai kapan Bu Dewi tidak mengetahui hal itu? ” ujar Cintia.


“Kita rahasiakan saja dulu isi potongan buku harian itu dari Bu Dewi karena kita juga belum menguji kebenaran isi buku harian tersebut. Iya, kalau benar. Kalau salah?” ujar Herman dengan tegas.


“Iya, benar katamu, Her. Kita harus merahasiakannya dulu sampai waktunya tepat. Ya, kalau aku sih berharap itu semua tidak benar. Kasihan Bu Dewi kalau sampai yang ditulis di buku harian itu benar semuanya,” jawab Cintia.


“Iya, Cintia. Kamu benar. Oh ya, kita sekarang mau ke mana?” tanya Herman kemudian.


“Kita tanya informasi tentang Pak Ade dulu kepada warga di sini. Siapa tahu dia sudah pulang ke rumahnya,” jawab Cintia.


“Oke!” jawab Herman sambil melajukan mobilnya secara perlahan.


Beberapa menit kemudian Herman menepikan mobilnya ketika melihat ada kerumunan orang-orang yang sedang mengobrol di pinggir jalan. Orang-Oang itu langsung berhenti mengobrol begitu melihat ada mobil behenti di dekat mereka. Herman pun keluar dari dalam mobil sehingga membuat orang-orang itu terbangun dari duduknya karena menghormati kedatangan polisi.


“Selamat pagi, Bapak-Bapak dan Mas-Mas,” sapa Herman.


“Selamat pagi, Pak Polisi. Ada yang bisa kami bantu?” ujar salah satu orang yang paling senior di antara mereka.


Herman pun menoleh ke arah pria itu.


“Anu, Pak. Saya mau tanya rumahnya Pak Ade di mana, ya?” tanya Herman kemudian.


“Ooooo Pak Ade suaminya Bu Nisa yang kapan hari masuk rumah sakit, ya?” tanya mereka balik.


“Iya benar. Kedatangan saya ke sini mau menjenguk beliau,” jawab Herman berpura-pura.


“Oalah! Apa Bapak belum mendengar kalau Pak Ade dirawat di rumah sakit dan masih belum pulang sampai sekarang,” jawab pria itu.


“Oh, belum pulang, ya? Saya kira sudah pulang,” ujar Herman.


“Belum, Pak. Kalau pulang kami pasti tahu semuanya. Iya, kan?” ujar pria itu sambil menoleh ke arah teman-temannya.


“Beluuuum,” jawab teman-temannya kompak.


“Ooooo … Ya sudah kalau begitusaya mengucapkan terima kasih banyak, Pak. Lebih baik saya menjenguk ke rumah sakit saja. Beliau dirawat di rumah sakit daerah, kan?” tanya Herman lagi-lagi berpura-pura.


“Iya, Pak. Lebih baik Bapak menjenguk ke sana,” jawab pria itu.


“Baiklah, saya pamit dulu, Bapak-Bapak dan Mas-Mas semuanya,” ucap Herman sambil melambaikan tangannya kepada oran-orang yang sedang duduk itu.


“Sama-Sama, Pak!” sahut mereka kompak.


Herman pun kembali masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanannya kembali. Ia membunyikan klakson sebagai tanda salam untuk kedua kalinya. Sebagian dari mereka mengangkat tangan untuk menjawab salam dari Herman.


Herman pun dengan tenang melanjutkan perjalanannya kembali bersama Cintia.


“Berarti kita langsung ke warung semalam itu, ya, untuk memeriksa CCTV agar kita bisa memastikan bahwa Nona Larasati ternyata memiliki saudara kembar,” ucap Herman.


“Iya … Semoga saja begitu, Her. Aku juga tidak mau lah ketemu dengan hantu,” sahut Cintia.


“Hantu itu tidak ada, Cin. Semua itu pasti ada yang merekayasa. Pasti saudara kembarnya itu tidak terima Nona Larasati mengalami nasib seperti itu,” jawab Herman.


“Masuk akal juga analisamu, Her. Kalau dipikir-pikir bisa jadi saudara kembarnya itu juga ikut andil dalam kematian Pak Dimas. Iya, kan?” tanya Cintia.


“Bisa jadi, Cin. Makanya kita akan mengecek dulu apakah semalam itu memang saudara kembarnya Nona Larasati? Kalau memang iya, pasti  gambarnya akan muncul di CCTV itu. Dari situ kita bisa mengembangkan ke kasus yang lain. Dengar-Dengar sih, koran kecelakaan di depan gapura perumahan beberapa hari yang lalu itu juga adalah warga dusun Delima dan juga masih memiliki hubungan persahabatan dengan Pak Ade,” jawab Cintia.


“Loh, kasus yang itu kan murni tabrak lari, Cin?” tanya Herman.


“Iya sih, tapi ada beberapa orang yang curiga dengan cara kematiannya. Soalnya Satpam itu terkenal paling mahir menyebrangkan wara perumahan tersebut,” jawab Cintia.


“Iya. Segala kemungkinan bisa saja terjadi. Semua tergantung dari hasil penyelidikan CCTV ini nanti,” jawab Herman.

__ADS_1


“Jika memang ternyata perempuan misterius semalam benar adalah saudara kembar Nona Larasati, berarti canggih juga ya, kejahatannya?” ucap Cintia.


“Iya Cin. Orang-Orang sekarang memang canggih-canggih. Termasuk dalam hal kejahatan,” jawab Herman.


Herman, pelan-pelan! Sepertinya sebentar lagi kita akan sampai di warung semalam,” tegur Cintia.


“Iya, Cin. Itu warungnya sudah kelihatan dari sini,” jawab Herman sambil menunjuk  ke arah depan.


Cintia pun menatap ke arah yang ditunjuk oleh rekan kerjanya itu. Dan benar saja di depan sana memang ada warun yang semalam dkat sekali posisinya dengan mobil mereka.


Setelah berjalan beberapa detik kemudian, sampailah mereka di depan warung yang kondisinya saat itu sedang terbuka. Berbed dengan semalam yang kondisinya tertutup. Setelah menghentikan mobilnya di samping warung tersebut, mereka berdua pun turun dari dalam mobil. Mereka langsung disambu oleh seorang kakek tua yang menjaga warungnya.


“Assalamualaikum …,” sapa Herman pada kakek tua itu.


“Waalaikumsalam …,” jawab kakek tua itu.


“Kek, kami ada perlu sama Kakek. Apa boleh kami masuk ke dalam?” tanya Herman pada kakek tua itu.


“Monggo, Pak! Insyaallah saya siap membantu,” jawab kakek tua itu dengan tegas.


Herman dan Cintia pun masuk ke dalam warung tersebut. Kakek tua memberikan dua kursi kepada Herman dan Cintia untuk diduduki. Baru saja mereka berdua akan memulai menyampaikan rencananya, tiba-tiba seorang nenek tua keluar dari belakang. Begitu nenek tua itu melihat ada dua orang polisi di warungnya, nenek tua tersebut langsung histeris.


“Ya Allah … Pak Polisi kami tidak menjual yang aneh-aneh. Kami hanya menjual sembako da rokok. Kami tidak menjual minuman keras. Tolong jangan tangkap kami!” teriak nenek tua sambil berjingkrak-jingkrak dan menangis meratap-ratap.


Herman dan Cintia yang melihat tingkah aneh nenek tua itu pun hanya bisa melongo melihat keanehan itu.


“Bu …. Ngapain kamu nangis begitu? Pak Polisi sama Buk Polisi ini ke sini bukan untuk menangkap kita! Mereka berdua ada urusan lain dengan kita,” teriak kakek tua sambil memegangi istrinya yang histeris.


Setelah mendengar omongan dari suaminya, nenek tua itu pun terkejut dan buru-buru menghapus air matanya.


“Huh, makanya kalau melihat sesuatu jangan asal merespons sebelum mengetahui dengan pasti kebenarannya!” ucap kakek tua.


“Apa benar ang dikatakan suami saya barusan, Pak Polisi dan Bu Polisi?” tanya nenek tua itu dengan polosnya.


“Inggih, Bener, Bu. Kedatangan kami berdua ke sini memang ada urusan lain. Lagi pula ngapain nenek takut lah wong jualan kakek dan nenek halal dan tidak melanggar undang-undang. Iya, kan?” jawab Cintia berusaha meyakinkan perempuan tua itu.


“Nggak usah sungkem begitu, Nek! Kami berdua sudah memaafkan Nenek, kok!” ucap Cintia berusaha meyakinkan nenek tua itu.


“Terima kasih banyak, Pak Polisi dan Buk Polisi atas pengertianya. Maklum, nenek ini sudah tua,” jawab nenek tua itu lagi.


“Silakan duduk, Nek! Ada sesuatu yang ingin kami perbincangkan dengan kakek dan nenek,” ujar Cintia.


“Baiklah, Buk Polisi. Silakan! Selagi kami mampu membantu, maka kami akan membantu Pak Polisi dan Buk Polisi,” jawab nenek tua itu.


“Nenek dan kakek ini hebat ternyata, ya? Kami tidak menyangka nenek dan kakek akan seramah ini menyambut kami berdua. Maaf juga kalau kami  ke sini tida membawa apa-apa,” ujar Cintia lagi.


“Wah, kalau itu sih nggak penting, Buk Polisi. Yang penting kami tidak ditangkap sudah senang sekali,” jawab nenek tua.


“Nenek ini ada-ada saja! Nggak lah, Nek! Nenek dan Kakek ini orang baik. Tidak mungkin kami akan menangkap orang baik,” jawab Cintia.


“Oh ya, saya buatkan  minum dulu, ya?” tanya nenek tua.


“Eh, tidak usah, Nek! Barusan kami dari dusun Delima sudah dikasih minum,” jawab Cintia.


“Kan beda antara minuman sini dengan minuman di sana?” protes nenek tua.


“Sudah, Nek! Perut kami sudah tidak tahan,” jawab Cintia.


“Ya sudah kalau begitu. Monggo disampaikan saja maksud dan tujuan Pak Polisi dan Buk Polisi datang ke warung kumuh kami ini?” tanya nenek tua kepada mereka berdua.


“Begini, Nek … Kek  … semalam itu kami kehilangan jejak seseorang di sekitar warung ini. Kami sangat membutuhkan identitas orang tersebut. Nah, kebetulan semalam orang tersebut muncul di kamera CCTV yang ada di warung ini. Makanya, kami ingin meminta tolong kepada Nenek dan Kakek untuk memberikan akses kepada kami untuk menyalin file video rekaman yang ada di CCTV di depan,” jawab Herman dengan jelas dan tegas.


“Oooooo itu saja? Ya, monggo! Kebetulan CCTV di depan itu kiriman saudara sayayang bekerja di Jepang sebagai TKI. Kalau tidak salah dia masih bisa menyimpan rekaman Video sekitar seminggu lebih,” jawab kakek tua.


“Wah, banyak banget memorinya, Kek?” tegur Cintia.


“Ya, namanya juga gratisan. Saya ambil saja. Memang sih katanya memorinya itu jarang ada di pasaran,” jawab kakek tua.

__ADS_1


“Baguslah kalau begitu. Kami jadi tidak khawatir dengan hasil rekamannya,” jawab Herman.


“Dijamin aman, Pak Polisi. Kapan hari malah ketika di sini ada karnaval, ada orang yang menyalin isi rekamannya selama karnaval tersebut,” jawab kakek tua.


“Berarti kami tidak perlu mengeluarkan surat-surat ini?” tanya Herman pada kakek tua itu sambil berpura-pura merogoh kertas di dalam tas yang ia bawa.


“Nggak usah, Pak Polisi. Yang penting jangan dirusakkan saja,” jawab kakek tua.


“Ya sudah, kalau begitu kami salin sekarang filenya, ya? Karena kami juga diburu oleh waktu,” tanya Herman.


“Monggo, Pak Polisi!” jawab nenek tua.


Herman dan Cintia pun langsung keluar warung dan melihat-lihat kondisi kamera CCTV yang terpasang di sana. Setelah melihat saluran CCTV tersebut mereka berdua pun segera menyalin file yang ada di saluran CCTV itu ke dalam laptop yang dibawa oleh Cintia. Tak sampai satu jam, mereka sudah mendapatkan file video yang mereka inginkan. Setelah itu mereka pun ijin pamit kepada kakek dan nenek tua itu sambil menjulurkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan kepada kakek tua sebagai ucapan terima kasih.


“Waduh, kok ada gini-gininya, Pak Polisi? Nggak usah!” ucap kakek tua itu dengan tulus.


“Terima saja, Kek. Anggap saja itu sedekah dari kami untuk kakek dan nenek yang masih produktif di usia yang sudah tak muda lagi,” jawab Herman.


“Terima kasih banyak kalau begitu, Pak Polisi,” ucap kakek tua.


“Sama-Sama, Kek. Kalau begitu kami langsung pamit, ya?” tanya Herman.


“Kok sudah keburu, sih? Apa tidak mau duduk-duduk dulu mengobrol di sini?” tanya nenek tua.


“Lain kali saja, Nek. Sekarang kami benar-benar sedang diburu waktu untuk segera menyelesaikan sebuah urusan,” jawab Cintia dengan wajah serius.


“Ya sudah, Semoga urusan Pak Polisi dan Buk Polisi segera selesai dan diberikan kelancaran,” doa nenek tua.


“Aaamiiiiin …,” jawab Cintia dan Herman secara bersamaan.


“Assalamualaikum …,” sapa Herman sebelum pulang.


“Waalaikumsalam …,” jawab nenektua dan kakek tua.


Kakek tua dan nenek tua selanjutnya mengantar Cintia dan Herman menuju mobilnya. Mereka berdua merasa senang mendapatkan kunjungan dua polisi baik itu. Herman dan Cintia juga merasa senang karena sudah berhasil mendapatkan rekaman CCTV di warung tersebut.


Kakek tua dan nenek tua itu menatap kepergian kedua polisi itu dengan perasaan haru. Namun, ketika mereka berdua akan kembali ke dalam warung, ada insiden yang kurang mengenakkan.


“Pak, ayo masuk! Nggak usah lama-lama di luar. Giliran ada cewek cantik saja kamu semangat jaga tokonya,” omel nenek tua itu lagi.


“Loh, barusan itu kan aku menyambut kedatangan polisi di warung kita lah. Aku nggak sampai mikir ke arah situ, kok!” jawab kakek tua.


“Halah alasan! Siapa yang tidak kenal kamu, Pak! Sekalinya lihat cewek cantik pasti langsung berbunga-bunga!” protes nenek tua itu dengan perasaan cemburu.


“Loh, masa aku harus cemberut sama tamu, Bu?” sahut kakek tua.


“Tapi, nggak segitunya juga Bapak sampai-sampai senyum sendiri tadi. Ingat umur, Pak!” protes nenek tua dengan emosional.


“Yang tidak ingat umur siapa, Bu? Ibu juga haru singat umur! Masa mau cemburuan terus mulai dulu sampai setua ini?” protes kakek tua itu.


“Apaa? Bapak tega ngomong kayak gitu sama aku?” teriak nenek tua itu sambil berlari menuju ke belakang dengan ekspresi orang yang mau nangis.


Bukannya prihatin, kakek tua itu malah meledek istrinya.


“Duh, digituin saja nangis? Sudah, nangis saja terus! Aku mau berangkat ngopi saja di warung lain!” gerutu kakek tua.


Suara kakek tua didengar si nenek tua. Nenek tua pun berteriak memanggil suaminya yang sedang kesal.


“Pak, mau ke mana?” teriak nenek tua dari dalam warung.


“Aku mau nyari istri muda!” teriak kakek tua sengaja merundung istrinya.


“Bapaaaaaaaak!!!” teriak nenek tua dengan sedihnya.


Kakek tua pun tetap berangkat ngopi di warung lain tanpa memperdulikan istrinya yang sedang merengek


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2