
Biasakan membaca episode sebelumnya supaya lebih nyambung dengan ceritanya, Gaes.
Dan biasakan memberikan "like" sebelum membaca episode terbaru.
Langsung saja, Gaes!
Aku terkesiap ketika melihat sosok yang berdiri di balik pintu. Kupikir Bu Rini, dokter yang tinggalnya masih satu wilayah denganku. Ternyata bukan! Sosok yang saat ini berdiri tepat di depanku dengan pakaian dress panjang berwarna putih dan rambut panjang terurai adalah Clara, tetangga baru yang tinggal di depan rumah.
"C-clara!!!" pekikku heran dengan kemunculannya di rumahku.
"Iya, Mbak! Nur sakit, ya, Mbak?" perempuan itu berkata dengan nada datar.
Mataku tajam menatap mata perempuan muda di depanku ini. Aku heran dari mana perempuan muda ini tahu kalau anakku sedang sakit. Padahal aku dan suamiku belum memberitahu siapapun selain Bu Rini. Pikiran buruk yang selalu kuhindari mulai berkelebat di otakku.
"Dari mana kamu tahu kalau anak saya sedang sakit, Clara?" Aku memberanikan diri bertanya kepada orang di depanku ini.
"Maaf, Mbak. Tadi malam kebetulan saya mendengar teriakan kesakitan Nur. Nur memanggil-manggil nama Mbak, tapi Mbak Sinta tidak kunjung bangun. Teriakan Nur sangat keras sekali terdengar dari rumah. Kebetulan tadi malam saya bangun tengah malam untuk buang air. Tadi malam saya sampai keluar rumah bermaksud membangunkan Mbak Sinta. Tapi, karena mendengar Mbak Sinta sudah bangun, akhirnya saya mengurungkan niat saya," jawab perempuan muda ini dengan nada serius.
"Silakan duduk dulu, Clara! Tidak enak ngobrol di pintu," ucapku mempersilakan perempuan tersebut masuk ke rumahku. Aku mulai lunak kembali terhadap Clara karena ia dapat menjawab rasa penasaranku tadi malam. Kenapa ia bisa berada di depan rumahku pada dini hari.
"Terima kasih, Mbak!" jawabnya sambil melempar bokongnya ke salah satu kursi di ruang tamuku.
"Kamu, ya, yang memberikan bakso kepada anakku kemarin?" tanyaku kepada Clara dengan pandangan mata menelisik berusaha mencari jawaban dari ekspresi wajah perempuan itu.Tapi, perempuan ini tidak menunjukkan perubahan drastis pada ekspresi wajahnya.
"Iya, Mbak. Kebetulan saya sedang membuat bakso sendiri di rumah. Dan saya melihat anak Mbak Sinta pulang sekolah lebih awal, saya khawatir ia tidak menemukan makanan di rumah, jadi saya sengaja memberikan semangkuk bakso untuknya," jawab perempuan itu dengan nada serius. Tidak ada ciri-ciri kebohongan yang dapat kubaca dari ekspresi wajahnya.
"Lain kali kalau mau memberikan makanan untuk Nur, bilang saya dulu, ya?" ucapku pada Clara.
"Kenapa, Mbak? Mbak Sinta tidak sedang menuduh saya memberi makanan yang menyebabkan Nur sakit, kan?" cetus perempuan muda itu tiba-tiba.
"Bukan begitu, Clara. Nur itu sejak kecil memang punya masalah pada lambungnya. Dia tidak bisa salah makan sedikit saja. Apalagi bakso, itu makanan kesukaan Nur. Kemungkinan ia terlalu banyak mengkonsumsi cabe, sehingga memicu sakit lambungnya kambuh," tuturku.
"Oo ... begitu, Mbak? Kemarin saya memisahkan cabenya, sih. Tapi memang agak banyak jumlahnya, soalnya cabe yang dibawa Nur sudah sisa diambil saya dan Riki," jawab Clara.
"Riki makan cabe juga?" Aku bertanya.
"I-iya .... Eh ... enggak, maksudnya saya dan ibu mertua yang makan," jawabnya lagi.
"Ooo ...," Aku mengangguk-angguk.
"Maafkan saya, ya, Mbak? Gara-Gara saya, anak Mbak Sinta jadi sakit," serunya perlahan.
__ADS_1
"Sudah waktunya dia sakit. Selama beberapa hari belakangan dia juga mungkin kecapekan mengerjakan tugas-tugas sekolah," jawabku.
"Mbak, apakah saya boleh melihat keadaan Nur?" kata Clara kemudian.
"Boleh, tapi sepertinya Nur sedang tertidur. Jadi jangan menimbulkan suara yang dapat membuatnya terbangun. Kasihan, semalam ia tidak bisa tidur nyenyak," kataku.
"Baiklah, Mbak!" jawab Clara sambil bergegas berdiri. Aku pun ikut berdiri dan membimbing Clara berjalan menuju kamar depan tempat Nur beristirahat.
Pintu kamar depan aku buka, sehingga terlihatlah Nur yang sedang tertidur dengan dengkurannya yang terdengar seperti orang yang merintih menahan sakit.
"Kasihan Nur, Mbak!" pekik Clara dengan berbisik.
"Iya Clara. Dulu, sewaktu Nur masih usia Balita, kami hampir kehilangan dia," ujarku pada ibunya Riki itu.
"Maksud, Mbak Sinta?" Clara bertanya dengan mengerutkan dahi.
"Sewaktu masih Balita, anak saya sering demam. Suatu hari karena kecapekan menggendong Nur yang rewel, saya sampai tertidur di sebelah Nur. Saya sampai tidak tahu kalau Nur sedang step. Untunglah ada tetangga yang datang ke rumah dan membangunkan saya yang sedang tidur." Aku bertutur.
"Ya Tuhan! Terus gimana, Mbak?" pekik Clara.
"Saya bingung waktu itu, dengan dibantu tetangga saya itu kami kompres Nur dengan peralatan seadanya, tetapi ia tidak kunjung membaik. Akhirnya, aku membawa lari Nur ke rumah salah satu tetangga yang sering mengobati anak kecil yang sakit," jawabku.
"Maksud Mbak Sinta 'Orang Pintar'?" tanya Clara.
"Lantas apa yang terjadi dengan Nur waktu itu, Mbak?" tanya Clara dengan penasaran.
"Tubuh anak saya dibaluri dengan semacam rempah-rempah sambil dibacakan sesuatu. Syukurlah, akhirnya Nur bisa sadar setelahnya dan panas badannya turun secara perlahan," jawabku sambil menitikkan air mata mengenang kejadian masa lalu tersebut.
"Wow, ajaib, ya?" pekik Clara.
"Iya, Clara ... Padahal saya sudah melakukan segala cara untuk menyadarkan anak saya itu, tapi hasilnya nihil. Sedangkan orang itu cuma sebentar memegang sudah langsung membuahkan hasil," jawabku.
"Mungkin karena orang ifu sudah pengalaman, Mbak?" ujar Clara.
"Iya, Clara. Itulah kenapa saya sangat menghargai orang-orang yang memiliki kemampuan seperti itu. Mungkin Tuhan memang memberi mereka kemampuan lebih untuk menolong orang lain yang membutuhkan. Bayangkan, saat itu uang sepeser pun saya tidak pegang. Dan tidak ada dokter maupun mantri di sekitar rumah kami." Aku bertutur lagi.
"Iya, benar, Mbak!" jawab Clara.
"Orang itu juga menyuruh saya untuk memberi minum satu sendok kopi kepada Nur, minimal seminggu sekali." Aku melanjutkan ceritaku.
"Apa, kopi? Masa anak sekecil itu sudah dikasih kopi?" pekik Clara tidak percaya.
__ADS_1
"Iya benar, kopi. Saya pun menuruti pesan orang itu untuk memberi anak saya satu sendok kopi seminggu sekali," jawabku.
"Loh, bukannya kopi mengandung kafein yang kurang baik untuk lambung Nur?" tanya Clara.
"Entahlah ... yang jelas, sejak diberi satu sendok kopi secara rutin, stepnya sudah tidak pernah kambuh lagi," jawabku sambil geleng-geleng kepala.
"A-neh, ya?" pekik Clara dengan memperlihatkan ekspresi wajah yang tidak percaya.
"Sungguh di luar nalar memang, Clara." Aku berkata.
Selama beberapa detik, kami saling terdiam karena kehabisan bahan obrolan.
"Mbak, saya boleh mengucapkan sesuatu sama, Mbak?" ucapnya memecah kebisuan.
"Apa itu? Katakan saja!" jawabku.
"Mbak tolong pakaikan ini ke tangan Nur, ya?" ucap Clara sambil menunjukkan sebuah gelang berwarna coklat.
"Apa ini, Clara?" tanyaku penasaran.
"Tolong pakaikan gelang ini ke tangan Nur, Mbak. Kalau saya yang memberikan, anak itu pasti tidak mau memakainya. Tapi, kalau Mbak Sinta yang menyuruhnya, dia pasti mau," tutur Clara.
"Untuk apa Nur harus memakai gelang seperti ini, Clara?" Aku bertanya lebih keras.
"Riki juga pakai, Mbak! Plis, ya, Mbak. Ini demi keselamatan anak itu!" pekik Clara sambik menggenggam tanganku.
"Maksud kamu?" Aku bertanya dengan penuh rasa penasaran.
"Saya tidak bisa menjelaskan sekarang, Mbak. Tapi, Nur harus memakai gelang ini. Kalau tidak ...," ucap Clara dengan nada ketakutan.
"Kalau tidak, kenapa?" Aku bertanya lagi.
"Saya jelaskan nanti, ya, Mbak? Plis ... segera pakaikan gelang itu ke tangan Nur, ya, Mbak?" Clara berkata dengan memohon.
Entah kenapa aku menuruti saja perkataan Clara saat itu. Aku merasa anakku sedang dalam bahaya dan gelang itu adalah salah satu cara untuk menyelamatkan anakku itu.
Bersambung
Saatnya menulis komentar lagi, ya, Kak?
Kira-Kira itu gelang apaan, ya? Apakah Nur akan baik-baik saja setelah mengenakan gelang tersebut? Tulis analisamu di sini.
__ADS_1
Novel cetak KAMPUNG HANTU release besok. Yang mau ikutan pre-order bisa disiapkan mulai dari sekarang. Khusus yang pesan lewat penulis, ada tambahan hadiah istimewa.
SALAM SERAM BAHAGIA