
Setelah salat Subuh Bu Dewi memulai aktifitasnya di dapur karena hari ini Pak Herman minta dibawakan bekal untuk dibawa ke tempat kerjanya. Selama memasak di dapur, Bu Dewi menitipkan Panji kepada Pak Herman. Pak Herman mengkudang Panji di ruang tamu sambil mengobrol dengan istrinya.
"Mas, nggak mau ke makam Laras dulu? Kemarin Mas Herman kan nggak ada pas pemakaman," ujar Bu Dewi memulai pembicaraan.
"Nanti aku minta antar Pak Salihun saja kalau pas ke sini," jawab Pak Herman.
"Nanti pulang jam berapa, Mas?" tanya Bu Dewi lagi.
"Hm ...,"
"Jangan malam-malam. Hari ini tidak ke luar kota lagi, kan? Kalau bisa sebelum magrib Mas Herman sudah ada di sini biar bapak-bapak ada yang menyambut," potong Bu Dewi.
"Kan sudah ada Pak Salihun sama Pak Ratno, Dik? Aku takutnya kesorean lagi. Kayaknya hari ini ada investor yang mau meninjau gudang," kilah Pak Herman.
"Apa nggak ada orang lain di gudang? Kok mesti Mas Herman terus yang turun tangan? Berilah kesempatan kepada yang lain biar sama-sama merasakan," balas Bu Dewi.
"Maunya mas juga gitu, Dik. Tapi Pak Broto sendiri yang selalu meminta mas untuk menanganinya. Sebagai bawahan, mas bisa apa, Dik?" jawab Pak Herman.
"Entahlah, Mas. Hanya saja aku nggak enak loh sama Pak RT dan Ustad Andi, masa kita ngadain acara tapi Mas Hermannya tidak ada," keluh Bu Dewi.
Pak Herman tidak berani menyahut. Ia takut Bu Dewi akan semakin tersulut emosi. Pak Herman memang pandai mengelola emosinya sebagai suami. Setiap istrinya sudah mulai berbicara dengan nada agak tinggi, ia pasti diam atau merendahkan nada bicaranya.
Sekitar pukul sembilan pagi, Pak Herman membantu memandikan Panji. Anak kecil itu paling senang kalau dimandikan Pak Herman. Bu Dewi juga senang apabila suaminya mau membantu pekerjaannya setidaknya mengurusi Panji. Seemosi apapun kalau Pak Herman mau ngurusi Panji, pasti emosi Bu Dewi cepat reda.
"Assalamualaikum ...," salam seseorang dari depan rumah.
"Waalaikumsalam ... Masuk, Pak Salihun! Langsung duduk saja, saya masih mandikan Panji," jawab Pak Herman dengan sedikit berteriak.
"Inggih, Bapak. Terima kasih," sahut Pak Salihun dan langsung masuk ke dalam rumah kemudian duduk di kursi tamu.
"Tuh, Mas. Kebetulan Pak Salihun datang. Sekalian saja minta anterin ke makam. Tapi, gantiin dulu baju Panji terus taruh di kasur bawah!" ujar Bu Dewi.
__ADS_1
"Panji nggak sekalian mas ajak ke kuburan, Dik?" tanya Pak Herman.
"Jangan dulu, Mas. Banyak nyamuk di sana. Entar malah bentol-bentol kulitnya. Kasihan!" jawab Bu Dewi.
Setelah beberapa menit akhirnya Pak Herman selesai memandikan Panji. Sesuai instruksi Bu Dewi, Pak Herman pun memakaikan baju dan menidurkan Panji di kamar.
"Loh, sama Pak Ratno juga ternyata," ujar Pak Herman.
"Inggih, Pak," jawab Pak Salihun segera.
Pak Ratno hanya senyum-senyum saja. Sepertinya ia tidak begitu mendengar dengan jelas perkataan juragannya.
"Panji bubuk di sini dulu, ya? Bapak mau ke kuburan ibumu dulu," ucap Pak Herman pada Panji sambil memberikan menggerakkan mainan gantung.
Panji tersenyum senang melihat mainan di atasnya bergerak-gerak sendiri. Setelah itu Pak Herman pun menghampiri kedua anak buahnya.
"Ada apa Pak Salihun? Butuh uang buat beli pupuk atau mau kasbon?" tanya Pak Herman.
"Mboten, Pak ...," jawab Pak Salihun sambil lirak-lirik ke Pak Ratno dan Pak Herman secara bergantian
Suara percakapan mereka sampai terdengar ke belakang oleh Bu Dewi. Bu Dewi pun turut penasaran dengan maksud kedatangan Pak Salihun dan Pak Ratno ke rumahnya.
"Anu ... Pak ... Ada isu kurang mengenakkan," jawab Pak Salihun lagi.
"Isu apa, Pak? Tolong katakan dengan jelas! Jangan sepotong-sepotong begitu," jawab Pak Herman mulai tidak sabar.
Pak Salihun dan Pak Ratno makin gelisah saja, apakah ia akan menyampaikan berita tentang Laras atau tidak. Di satu sisi mereka ingin Pak Herman dan Bu Dewi mengetahui hal itu, tapi di sisi lain mereka takut juragan mereka itu akan tersinggung. Tapi sudah kepalang tanggung, mereka sudah terlanjur datang ke rumah Pak Herman dan menyampaikan sedikit informasi.
"M-bak La-ras dii-su-kan meng-hantui be-be-rapa war-ga di si-ni, Pak!" jawab Pak Salihun dengan terbata-bata.
"Apaaaa??" Pak Herman bertanya dengan nada tinggi sambil bangkit dari duduknya dengan penuh emosi.
__ADS_1
"Ada apa, Pak?" Bu Dewi yang berada di dapur tiba-tiba datang bergabung.
Pak Salihun dan Pak Ratno makin takut melihat reaksi kedua juragannya itu.
"Siapa yang meyebarkan isu seperti itu, Pak?" tanya Pak Herman lagi dengan nada agak tinggi.
"Be-gini, Pak. Kami tadi mendapat informasi dari Pak Yadi sewaktu bekerja di sawah. Pak Yadi menyampaikan kepada kami perihal santernya berita tentang munculnya hantu Mbak Laras di dusun Delima. Menurut info yang beredar, yang sudah digangguin oleh hantu Mbak Laras adalah Bu Reni istrinya Pak Hartono dan Bu Nisa istrinya Pak Ade," jawab Pak Salihun berterus terang.
"Oooo ... dua orang itu lagi," gumam Pak Herman.
"Pak Salihun dan Pak Ratno kan tahu bagaimana tabiat kedua perempuan itu? Selama ini mereka emang tidak suka dengan Laras," tambah Bu Dewi.
"Iya, Bu. Kami berdua tahu hal itu. Tapi, isunya sudah menyebar ke mana-mana. Dan masyarakat sudah banyak yang termakan isu tersebut," jawab Pak Salihun lagi.
"Ya Tuhan ... Bagaimana ini, Dik? Laras kok diisukan menjadi hantu? Sudah nggak beres orang-orang ini. Jaman maju begini masih percaya dengan isu-isu tidak jelas," ucap Pak Herman.
"Tenang dulu, Mas. Kita tidak boleh gegabah menghadapi hal ini. Aku yakin, lambat laun masyarakat akan tahu bahwa semua ini hanyalah isu belaka yang dihembuskan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab," jawab Bu Dewi.
"Tidak bisa seperti itu, Dik. Aku akan membuat perhitungan dengan orang-orang yang menghembuskan isu tersebut. Bagaimana pun kita sebagai orang yang menampung Laras tentunya juga terkena dampak adanya isu hantu itu," jawab Pak Herman.
"Iya, aku paham, Mas. Tapi, kita nggak boleh gegabah. Kita hadapi semuanya dengan hati-hati. Nggak baik juga Mas berselisih dengan tetangga. Biar nanti kita lapor ke Pak RT perihal ini," jawab Bu Dewi.
"Benar kata Bu Dewi, Pak. Kita jangan langsung ngelabrak Bu Nisa dan Bu Reni. Kita melapor ke Pak RT saja dulu," imbuh Pak Salihun.
"Oke, Pak Salihun. Saya ikuti idemu, tapi antar saya ke makam Laras dulu, ya? Kamu tahu kan letak makamnya?" tanya Pak Herman.
"Ta-ta-tahu, Pak," jawab Pak Salihun terbata-bata.
"Kamu kenapa, Pak Salihun? Kamu takut mengantar saya ke makam Laras? Berarti kamu sudah terhasut isu itu? Ya Tuhan, Pak Salihun ... Pak Salihun ... Masa di jaman modern begini sampean masih percaya begituan?" Pak Herman berkata sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak, Pak. Mohon saya antar ke makamnya Mbak Laras!" jawab Pak Salihun berusaha menutupi rasa takutnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG
Jangan bosan2 ngelike dan menulis komentar, yq?