
Beberapa waktu kemudian, setelah Pak Herman kepada istrinya untuk memasang lampu di rumah Laras, Minul datang bersama Jamila ke rumah Bu Dewi.
“Assalamualaikum …,” ucap mereka berdua.
“Waalikumsalam … Wah, alhamdulillah akhirnya kalian datang juga,” sambut Bu dewi dengan perasaan bahagia.
“Iya, Bu. Kami berdua datang untuk membantu Bu Dewi untuk menyiapkan acara sore nanti. Kasihan Bu Dewi kalau harus bekerja sendirian di rumah,” ucap Jamila.
“Iya, Mbak. Saya senang sekali karena kalian berdua menyempatkan waktu untuk datang ke sini. Meskipun semua kue dan masakan untuk berkat sudah pesan semua kepada Bu Yana, tapi saya khawatir nanti para tetangga banyak yang datang. Nggak enak, kan, kalaunggak disuguhi apa-apa?”jawab Bu Dewi lagi.
“Iya lah, Bu. Sampean nggak tahu mulut orang di sini itu jelek semua. Kalau ada tetangganya yang punya gawe, ada saja yang dipergunjingkan,” jawab Minul.
“Kamu ada-ada saja, Nul … Oh ya, sekali lagi saya mengucapkan terima kasih kepada kalian berdua, ya?” balas Bu Dewi.
“Sudahlah, Bu, nggak usah dipikir. Bu Dewi juga sudah banyak membantu kami selama ini. Kalau Cuma membantu memasak di sinimah nggak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan bantuanBu Dewi selama ini kepada kami,” jawab Jamila.
“Ih, nggak usah bahas itu, Mil. Saya sudah ikhlas kok membantu kalia berdua. Ya, kalau ada rejeki. Kalau nggak ada ya, dipending dulu bantuannya,” sahut Bu Dewi.
“Oh ya, apa yang harus kami kerjakan sekarang, Bu? Kalau ngomong terus kayaknya nggak bakalan selesai-selesai pekerjaannya. Tahu-Tahu sudah sore nanti,” protes Minul.
“Duh, semangat sekali Minul, nih. Ya sudah, rencananya saya mau membuat nasi rawon dan membuat kue apem, iwel-iwel, dan pisang goreng. Gimana?” tanya Bu Dewi.
“Wah, mantap itu, Bu. Jamila membuatkue itu semuanya,” jawab Minul.
“Loh, kok aku yang kamu aju-ajukan? Kan, kamu yang semangat barusan bertanya kepada Bu Dewi?” protes Jamila.
“Kenapa? Kamu nggak mau mebantu Bu Dewi? Kualat kamu, kamu yang palng banyak mendapat bantuan dari Bu Dewi setiap bulan!” jawab Minul.
“Ih, bukannya kamu yang paling banyak?” protes Jamila.
“Suda-Sudah! Kok malah bahas bantuan lagi. Ntar pahala saya dihapus oleh Allah SWT, bagaimana? Kalau misalnya kalian berdua nggak ada yang bisa membuat kue tadi, kita buat kue yang lain saja. Kebetulan bahan-bahan di belakang lengkap, kok,” jawab Bu Dewi dengan ramahnya.
__ADS_1
“T-tidak, Bu. Saya bisa membuat kue-kue yang Bu Dewi sebutkan tadi! Cuma, kalau membuat rawon itu kayaknya saya kurang sreg. Rawon buatan saya kurang ,maknyus … Kalau kue sih, Bu Dewi nggak usah khawatir. Saya jamin tidak akan gagal dalam proses pembuatannya,” sahut Jamila buru-buru.
“Syukurlah kalau begitu. Biar saya sendiri yang mengolah rawonnya. Hanya saja, dagingnya ini kan saya taruh di freezer, saya nggak kuat untuk mengambil dari dalam freezer. Plus nanti bagian memotong daging dan bumbunya, saya juga kurang kuat tangannya,” jawab Bu Dewi.
“Nah, biar saya, Bu yang mengeluarkan dagingnya dari dalam freezer dan juga memotong-motong daging dan bumbunya,” sahut Minul dengan suara keras.
“Kamu yakin bisa, Nul? Kalau nggak kuat biar nanti saya panggilkan suami saya dulu,” jawab Bu Dewi.
“Kuat, Bu! Saya kuat, kok. Saya sudah pengalaman kalau dalam hal mengeluarkan daging beku dari dalam freezer. Bu Yana saja sering minta tolong ke saya untuk mengeluarkan daging beku dari dalam freezernya padahal Pak Yana ada kok di rumahnya. Seksi-Seksi begini, tangan saya ini masih berguna tenaganya!” sahut Minul sambil mempertontonkan bagian lengannya yang gempal.
Bu Dewi dan Jamila memperhatikan bagian lengan Minul yang terlihat besar dengan melongo dan sambil menahan senyuman.
“Baiklah, Nul. Ayo, bantuin saya mengeluarkan daging beku dari dalam freezer!” ajak Bu Dewi sambi mengajak Minul masuk ke dapurnya.
Mereka bertiga pun masuk ke dalam dapur. Jamila langsung mempersiapkan alat-alat untuk membuat kue sedangkan Minul membantu mengeluarkan daging beku dari dalam freezer.
“Saya ambilkan pisau dulu ya, Nul!” tawar Bu Dewi.
Bu Dewi dan Jamila tertegun melihat aksi heroik yang dilakukan oleh Minul. Dalam hitungan detik, daging beku itu sudah keluar dari dalam freezer hanya berbekal tangan kosong Minul yang berotot. Setelah berhasil mengeluarkan daging beku itu, Minul membawa daging beku itu ke wastafel tempat mencuci piring. Perempuan itu langsung merendam daging itu ke dalam bak yang diisi air.
“Bu, biar dagingnya direndam dulu supaya lunak. Sekarang Bu Dewi siapkan saja bumbu-bumbunya, biar saya yang memotong dan menguleknya nanti,” ujar Minul kemudian.
“Iya, Nul. Tapi, nanti bumbunya nggak usah diulek. Saya punya blender, kok!” jawab Bu Dewi.
“Jangan, Bu Dewi. Eman blendernya kalau dibuat menggiling bumbu nanti bau bumbunya nggak ilang-ilang dan jua bisa cepat rusak. Iya kan, Mil?” protes Minul.
“Iya, Bu Dewi. Dieman-eman blendernya, biar Minul nanti yang mengulek di cobek batu besar itu. Dia sudah biasa melakukannya,” sahut Jamila.
“Tenang, Mil … Nul … blender saya ini memang khusus untuk bumbu memang. Jadi, insyaallah tidak akan cepat rusak,” jawab Bu Dewi meyakinkan kedua janda muda itu.
“Biar, Bu Dewi. Blendernya untuk membuat jus sehat saja buat kami berdua. Untuk urusan mengulek bumbu, pasrahkan saja kepada saya. Biar saya ada gunanya datang ke sini. Saya mau menunjukkan bahwa perempuan cantik dan seksi itu juga harus bisa bekerja di dapur,” jawab Minul dengan menternya.
__ADS_1
“Ih, kamu kok minta-minta sama Bu Dewi, Nul! Jangan malu-maluin aku, dong!” protes Jamila.
“Nggak apa-apa kok, Mil. Ntar saya buatin deh jus sehatnya campuran sayur dan buah biar kalian berdua tambah cantik dan sehat kayak Minul,” goda Bu Dewi,
Minul yang digoda Bu Dewi tidak menyadarinya. Jadi, ia semakin percaya diri dengan penampilan fisiknya. Jamila senyum-senyum sendiri sambil menakar bahan-bahan kue ke dalam tempat adonan.
Selanjutnya, mereka bertiga pun asyik dengan tugasnya masing-masing untuk membuat makanan dan kue yang akan disuguhkan kepada tamu yang akan datang siang atau sore hari. Dua jam kemudian, kue yang dibuat oleh Minul sudah hampr selesai. Rawon buatan Bu Dewi juga sudah selesai. Tentunya semua tidak terlepas dari bantuan Minul yang dengan tenaga supernya membantu meringankan pekerjaan fisik yang dikerjakan oleh Jamila dan Bu Dewi.
Sampailah waktunya Bu Dewi untuk mengajak Minul dan Jamila makan siang.
“Mil … Nul … Makan siang dulu, yuk! Sambil mencicipi rawon buatan saya apa sudah pas rasanya atau tidak?” ajak Bu Dewi.
“Ayo! jawab Minul dengan antusias.
“Giliran makan saja kamu semangat, Nul! Kamu tadi sudah habis tiga gelas jus sehat loh!” tegur Jamila.
“Habis, enak sih jus buatan Bu Dewi. Makanya saya jadi doyan,” jawab Minul.
“Alasan saja kamu, Nul!” protes Jamila.
“Nggak apa-apa, Mil. Minul sudah kehabisan banya tenaga tadi mulai dari mencuci panci besar dan mengganti tabung gas. Ayo, buruan makan siang biar tidak sakit perut!” ajak Bu Dewi.
Mereka berdua pun langsung mengambil piring diraknya. Setelah mengambil nasi dan rawon ke atas piring, Jamila ingat sesuatu.
“Loh, Pak Herman ke mana, Bu Dewi? Kata Bu Dewi Pa Herman hari ini ibur kerja?” tegur Jamila.
“Ya Allah … Sayabaru ingat. Mas Herman sedang memasang lampu di rumah Laras. Saya ijin ke sana memanggil suami saya , ya? Saya titip Panji sebentar. Kalau anaknya menangis tolong ditemani dulu!” ucap Bu Dewi sambil meletakkan nasinya dan langsung berlari ke luar rumah.
“La-ras?” pekik tertahan Minul dan Jamila secara bersamaan.
Mereka berdua saling bertatapan dan baru menyadari bahwa mereka berdua sebenarnya sama-sama takut ditinggal hanya berdua saja di ruma Bu Dewi.
__ADS_1
BERSAMBUNG