MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 98 : MENGHILANG


__ADS_3

Cintia kebingungan mencari ke mana perginya perempuan muda yang baru mereka temui. Ia memeriksa betul jok belakang dan ternyata perempuan itu memang tidak ada di sana. Kemudian karena penasaran ia pun keluar dari dalam mobil.


“Mbaaaaak … Mbaaaaak …,” panggil Cintia sambil memutari mobil dan memeriksa kondisi sekitar.


Cintia juga berjalan menuju bagian belakang mobil. Ternyata orang yang ia cari juga tidak ada di situ. Cintia dibuat terkejut oleh tepukan di pundaknya yang tiba-tiba.


“Eh, kamu, Her? Bikin kaget saja!” protes Cintia.


“Ngapain kamu keluar dari mobil, Cin?” tanya balik Herman.


“Aku keluar karena mencari perempuan yang tadi kita tolong, Her. Dia tiba-tiba  menghilang setelah memberikan sesuatu kepadaku,” jawab Cintia.


“Perempuan tadi menghilang ke mana, Cin? Di dalam mobil barusan nggak ada siapa-siaa?” tanya Herman lagi.


“Itu dia aku juga nggak tahu, Her. Dia ngilangnya cepat banget. Setelah ngasih barang itu pas aku toleh dia sudah nggak ada,” jawab Cintia dengan kebingungan.


“Oh ya? Secepat itu dia menghilang?” tanya Herman.


“Iya, Her, Aku menoleh karena aku kaget dia memanggil namaku. Aku heran dari mana dia bisa tahu namaku padahal aku belum berkenalan dengannya,” jawab Cintia.


“Kok aneh begitu, ya? Kamu sudah mecari ke mana-mana, Cin?” tanya Herman.


“Sudah, Her. Aku sudah mencari sampai ke kolong mobil juga, tapi dia emang nggak ada. Dia menghilang begitu cepat,” jawab Cintia.

__ADS_1


“Tunggu! Itu warung, ya? Jangan-Jangan dia masuk ke warung itu?” tanya Herman.


“Enggak lah, Her. Warungnya itu tutup kok sejak mobilmu mogok. Mana mungkin dia masuk ke warung yang sedang tertutup,” sahut Cintia.


“Kamu bilang tadi perempuan itu memberikan sesuatu buat kamu. Boleh aku melihatnya?” tanya Herman.


“Boleh. Barangnya ada di tasku di dalam mobil. Mobilnya gimana, Her? Apa kamu sudah menemukan trobelnya?” tanya Cintia.


“Sudah, Cin. Mobilnya sudah bisa lagi,” jawab Herman.


“Syukurlah. Emangnya tadi apanya yang rusa kok sampai mogok?” tanya Cintia.


“Setelah aku cek ternyata nggak ada yang rusak atau bermasalah. Mobilnya baik-baik saja. Barusan aku coba nyalain sudah bisa lagi, kok. Aku juga heran tadi kenapa mendadak mati,” jawab Herman.


“Aneh! Ya sudah, yang penting sekarang mobilnya sudah bisa digunakan lagi. Ayo, kita buruan cabut saja!” ajak Cintia.


Kali ini mereka berdua sudah ada di dalam mobil. Cintia masih menoleh ke belakang untuk memastikan di jok belakang memang tidak ada perempuan tadi.


“Mana barang pemberian perempuan tadi, Cin?” tanya Herman.


“Oh ya. Ini, Her …,” jawab Cintia sambil merogoh ke dalam tas yang ia bawa.


Cintia mengeluarkan barang berupa potongan buku diary dari dalam tasnya.

__ADS_1


“Tadi, perempuan itu bilang kepadaku untuk menyerahkan ini ke budenya. Tapi, identitasnya saja kita nggak tahu. Bagaimana kita bisa tahu budenya yang mana?” gerutu Cintia.


Setelah mengetahui bahwa barang yang diberikan oleh perempuan tadi adalah potongan buku harian, kedua polisi itu pun saling berpandangan.


“Potongan buku??” pekik Cintia.


“Cin, coba kamu baca tulisan yang ada di dalamnya!’” perintah Herman.


Cintia pun membaca tulisan itu dengan perlahan dan penuh penghayatan.


“Aku tidak tahu berapa lama aku tertidur. Yang jelas, ketika aku bangunaku terkejut karena aku sudah tidak berada di hotel melati itu lagi. Melainkan aku sudah berada di hotel mewah yang aku baru tahu namanya setelahnya yaitu Hotel Bunga. Dan yang bikin aku terkejut adalah di dalam hotel tersebut aku tidak sendirian melainkan ada seorang pria lain yang tidak kukenal. Aku marah kepada pria itu, tetapi dia enteng menjawab katanya aku ini sudah diberikan oleh Pak Ade kepada pria itu sebagai hadiah. Ya Tuhan! Betapa marah dan hancurnya aku saat itu karena sudah direndahkan oleh tetanggaku sendiri itu. Tapi, lagi-lagi aku tidak berani melawan karena foto tak senonohku ada pada Pak Dimas dan Pak Ade. Dan Pak Dimas sudah mengancamku untuk tidak melaporkan perbuatan jahat mereka kepada polisi.


Aku bingung dengan apa yang harus aku lakukan saat itu. Akhirnya aku memilih untuk kabur jauh-jauh dari mereka berdua karena kalau mereka sampai melihatku lagi maka mereka pasti akan memanfaatkanku. Aku tidak mau hal itu terjadi.


Aku pergi ke luar kota. Tepatnya di daerah dekat pantai. Aku pikir dengan tinggal di daerah pantai tersebut aku bisa memenangkan diriku dan memulai lembaran hidup yang baru tanpa dibayang-bayangi oleh masa laluku yang kelam.


Namun, malang tak dapat ditolak. Untung tak dapat diraih. Satu bulan setelah kejadian itu aku mual-mual dan menunjukkan gejala kehamilan. Ibu kosku mempertanyakan keadaanku saat itu. Aku bilang masuk angin  biasa. Ternyata, aku benar-benar hamil. Hancur hatiku saat itu. Aku tidak tahu ini anak siapa. Apakah anak Pak Hartono, anak Pak Dimas, anak Bapak Tua itu, atau anaknya Pak Ade karena bisa saja Pak Ade juga melecehkanku saat aku dalam pengaruh obat terlarang yang diberikan oleh Pak Dimas saat itu. Nyatanya, aku tidak ingat kapan aku dipindahkan dari hotel melati ke Hotel Bunga.


Semakin lama, perutku semakin membesar. Aku tidak berniat sama sekali untuk menggugurkannya karena aku tidak ingin menjadi seorang pembunuh. Namun, orang-orang yang tinggal di sekitar tempat kosku pun semakin mempergunjingkan aku. Ibu kos yang sangat peduli padaku pun mulai kebingungan menjawab pertanyaan orang-orang. Ibu kos mendesakku untuk menjelaskan tentang kehamilanku ini. Aku pun terpaksa berbohong kepada ibu kosku bahwa aku sudah menikah siri dengan seorang laki-laki yang sedang bekerja di luar kota. Dan suami siriku itu sudah berjanji untuk datang kalau sudah pulang bekerja dari luar kota.


Waktu pun bergulir. Ibu kos mulai mempertanyakan kenapa suami siriku tak kunjung datang. Hingga suatu hari tanpa diduga aku bertemu dengan seseorang yang sangat aku hormati dan kagumi di dalam hidupku. Pria tersebut tak sengaja datang ke pantai karena sedang mendapat tugas dari tempatnya bekerja untuk mengambi ikan hasil tangkapan nelayan untuk diolah di pabrik tempatnya bekerja. Pria tersebut kaget melihatku dalam keadaan hamil seperti itu. Aku sebenarnya berusaha kabur dari pria itu, namun aku kalah cepat karena ia memegokiku lebih dulu. Dalam keadaan perut besar seperti itu pun aku tidak bisa kabur darinya. Terpaksa aku harus menghadapinya. Ia memberondongku dengan berbagai macam pertanyaan seputar kehamilanku. Aku berbohong kepadanya bahwa aku menikah dengan salah satu nelayan di sana. Ia pun percaya dan memaksa untuk mampir ke rumahku untuk bertemu dengan suamiku.


Aku tidak bisa menolaknya karena aku tidak ingin ketahua berbohong. Aku pun mengajaknya mampir ke tempat tinggalku. Sesampai di tempat tinggalku dia menanyakan di mana suamiku? Aku bilang bahwa suamiku sedang berlayar. Ia percaya saja dan mengatakan ia akan datang lagi ke tempat tinggalku bersama istrinya. Aku iyakan saja padahal aku sudah berencana untuk pergi mencari tempat tinggal lain agar tidak bertemu lagi dengan pria itu apalagi istrinya.

__ADS_1


Namun, hal di luar dugaan terjadi ketika kami sedang asyik mengobrol. Tiba-Tiba ibu kosku datang bersama Pak RT ….”


BERSAMBUNG


__ADS_2