
Pak Hartono sudah bersiap-siap untuk berangkat ke tempat kerja. Ia sudah bersiap memakai seragam Satpamnya saat Bu Reni dan Ibnu sedang menonton televisi di ruang tamu. Bu Reni meoleh ke arah belakang dan melihat suaminya sudah bersiap-siap.
"Loh , Mas mau ke mana?" tanya Bu Reni.
"Kerjalah, Dik. Mau ke mana lag?" jawab Pak Hartono sambil merapikan pakaiannya.
"Mas ini gimana, sih? Masa Mas tega ninggalin aku di rumah sendirian? Mas kan sudah tahu semalam aku didatangi arwahnya Laras? Kalau dia datang lagi gimana, Mas?" protes Bu Reni.
"Kan ada Ibnu, Dik. Lagipula masa orang yang sudah mati bisa hidup lagi. Enggak, kan? Itu hanya halusinasimu saja," jawab Pak Hartono dengan nada agak meninggi.
"Ibnu itu masih anak-anak, Mas. Masa bisa jagain aku? Kamu pikir aku ini mengada-ada, Mas? Apa gunanya buat aku? Aku benar-benar didatangi hantunya Laras, Mas," protes Bu Reni.
"Oke. Terus bagaimana dengan pekerjaanku? Temanku sudah berjaga dua puluh empat jam. Nggak mungkin aku libur lagi, Dik. Aku bisa dipecat kalau libur terus-terusan apalagi alasannya jagain kamu yang takut sama hantu. Aku bisa dianggap cari alasan saja. Sekarang ini susah sekali mencari pekerjaan, ini sudah ada malah mau disia-siain. Kalau kamu takut didatangi hantu, gampang kok. Kamu tinggal masuk kamar sama Ibnu terus kamu tidur di kamar nggak usa keluar kamar," jawab Pak Hartono.
"Kalau hantunya masuk ke dalam kamar, aku mau lari ke mana, Mas?" protes Bu Reni.
"Oke. Begini saja, Dik. Al-Qur'an yang dipakai Ibnu buat mengaji itu kamu pegang terus saja. Nggak mungkin hantu itu akan datang mengganggumu kalau kamu pegang Al-Qur'an," usul Pak Hartono.
"Emang bisa tah, Mas. Aku kan ngak pernah membacanya," jawab Bu Reni.
"Bisa kok, Dik. Kamu tenang saja. Kalau kamu masih takut, kan, kamu ada Ponsel yang bisa kamu gunakan untuk menelponku kalau ada apa-apa," jawab Pak Hartono.
"Okelah kalau begitu. Tapi, Ponsel Mas jangan dimatikan, ya?" rengek Bu Reni.
"Oke," jawab Pak Hartono sambil mngusap kening istrinya.
Sebenarnya Pak Hartono juga asal saja ngomong seperti itu karena ia sendiri memang tidak percaya adanya hantu dan juga ia tidak pernah membaca Al-Qur'an sejak lama. Jangankan membaca Al-Qur'an, salat saja enggak.
"Mas pamit ya, Dik?" ucap Pak Hartono sambil mendekati istrinya yang sedang berdiri di pintu kamar bersama Ibnu. Perempuan itu sudah bersiap menjalankan pesan suaminya.
"Hati-Hati di jalan ya, Mas," jawab Bu Reni.
Sejenak Pak Hartono merasa bahwa istrinya tidak seburuk yang ia kira selama ini. Ternyata, ia juga bisa menjadi seorang yang penurut. Kalau dipikir-pikir dulu Bu Reni memang awalnya adalah perempuan yang halus budi pekertinya dan tidak pernah berkata kasar kepada suaminya meskipun penghasilan Pak Hartono saat itu hanya cukup untuk makan. Perangai Bu Reni banyak berubah semenjak Pak Hartono memiliki pekerjaan tetap sebagai Satpam perumahan. Uang memang bukan masalah lagi bagi Bu Reni, tapi ia semakin jarang bertemu dengan suaminya. Apalagi selain kerja malam, Pak Hartono juga mulai belajar minum-minuman keras dan main perempuan karena diajak oleh Pak Ade, orang yang banyak membantunya dalam segi keuangan.
"Dik, Mas minta maaf, ya?" ucap Pak Hartono tiba-tiba tanpa ada angin maupun hujan.
"I-iya, Mas. Sama-Sama. Aku juga minta maaf kalau selama ini aku sering kasar sama Mas," jawab Bu Reni.
__ADS_1
"Tolong Ibnu dijaga baik-baik ya, Mas.," ujar Pak Hartono.
"Mas ini ngomong apaan, sih? Ibnu kan anak kita, Mas. Pasti aku akan menjaganya dengan baik. Sudah, Mas berangkat saja. Hati-Hati di jalan. Besok pagi akan aku masakin masakan kesukaan Mas," jawab Bu Reni dengan berbunga.
"Kalau aku maunya masakn yang lain gimana?" goda Pak Hartono.
"Ya, besok saja," jawab Bu Reni sambil melempar senyum.
Pak Hartono pun mengecup kening istri dan anaknya dan kemudian keluar dari rumah dengan membawa motor kesayangannya. Ia membawa kunci rumah sendiri dan ia menyuruh istrinya untuk buru-buru masuk ke kamar untuk beristirahat.
Bunyi motor yang meninggalkan rumah tersebut membuat Bu Reni merasa agak takut berada berdua saja dengan Ibnu. Entah kenapa perasaannya malam itu tidak enak sekali.
Pak Hartono melewati jalan yang sepi untuk menuju tempat tugasnya di perumahan. Sesampai di jembatan yang menghubungkan antara dusun Delima dengan kota, Pak Hartono menghentikan motornya untuk buang air kecil di pinggir jalan. Pada saat Pak Hartono buang air kecil, tiba-tiba bulu kuduk Pak Hartono merinding dan pria itu merasa seperti ada sesosok bayangan lewat di belakangnya. Pak Hartono langsung menoleh ke belakang, ternyata tidak ada siapa-siapa di belakangnya.
Setelah membuang jauh-jauh pikiran buruknya, Pak Hartono pun melanjutkan perjalananya menuju perumahan tempat ia berjaga. Tak sampai setengah jam, akhirnya ia pun sampai di pos penjagannya.
"Syukurlah kamu datang, Har. Kirain kamu libur lagi," sapa temannya.
"Iya, Far. Kasihan kamu kalau aku libur lagi," jawab Pak Hartono.
"Kamu malam ini jaga sendirian soalnya si Hasan sakit," balas Pak Ghofar.
"Tipes kayaknya. Efek dari kecapekan kayaknya. Ya sudah aku pulang dulu, ya?" ujar Pak Ghofar.
"Oke. hati-hati, ya!" jawab Pak Hartono kemudian.
Setelah Pak Ghofar pulang, Pak Hartono pun mulai berjaga di pos. Hingga akhirnya waktu menunjukkan pukul sebelas malam, Pak Hartono pun menutup portal menuju ke dalam perumahan. Pak Hartono memiliki kebiasaan kalau sudah tengah malam, ia menutup pos Satpam dan menguncinya dari dalam. Pada saat Pa Hartono baru selesai mengunci pintu pos, ia membalikkan badan dan ia terkejut dengan kemunculan seorang perempuan cantik dengan pakaian seksi berdiri tepat di depan kaca tempat ia biasa duduk dan melihat ke arah portal.
"Astaga!" pekik Pak Hartono.
"Mas, mobil saya mogok di depan. Apa Mas bisa membantu membetulkan mobil saya?" sapa perempuan itu dengan kenesnya.
Pak Hartono tergagap sesaat karena kemunculan gadis yang tiba-tiba itu.
"Bisa, Mbak. Bisa," jawab Pak Hartono kemudian.
Pak Hartono pun buru-buru keluar dari dalam Pos dan menyusul perempuan muda itu ke depan.
__ADS_1
"Di mana mobilnya yang mogok, Mbak?" tanya Pak Hartono sambil melempar senyuman.
"Di situ, Mas!" tunjuk perempuan muda itu ke arah jalan.
"Monggo. Mbak saya perbaiki," jawab Pak Hartono sambil berjalan ke arah mobil yang diparkir oleh perempuan muda itu.
Setelah sampai di tempat mobil yang ada di pinggir jalan, Pak Hartono pun meminta perempuan itu untuk mengambil peralatan. Perempuan muda itu pun mengambilkan satu set peralatan untuk diberikan kepada Pak Hartono. Tak sampai sepuluh menit mobil perempuan itu pun sudah bisa berfungsi normal.
"Mobilnya sudah bisa, Mbak," ujar Pak Hartono.
"Waduh, Mas ini pinter banget. Makasih banyak, ya?" jawab gadis muda itu.
"Sama-Sama, Mbak," jawab Pak Hartono.
"Tapi, aku nggak bisa ngasih apa-apa untuk Mas sebagai ucapan terima kasih," ucap gadis itu dengan kenesnya.
"Nggak usah, Mbak. Kayak gitu saja, kok," jawab Pak Hartono.
"Oh, begini saja. Aku mau ngasih hadiah spesial buat Mas. Mas mau kan?" ucap gadis itu.
"Hadiah apa, Mbak?" tanya Pak Hartono.
"Mas pejamin mata dulu ya?" ucap gadis itu sambil menutup mata Pak Hartono dengan syalnya.
Pak Hartono manut saja dengan aksi gadis itu. Bahkan kali ini Pak Hartono direbahkan di atas aspal oleh gadis itu.
"Mau diapain saya, Mbak?" tanya Pak Hartono.
"Tenang, Mas.Ini kejutan buat Mas pokoknya, jawab gadis itu sambil mengikat tangan dan kaki Pak Hartono.
Setelah selesai mengikat tangan dan kaki Pak Hartono, gadis itu pun melepas penutup mata Pak Hartono.
"Sekarang buka matamu, Hartono! Hi hi hi hi hi ..." suara gadis itu tiba-tiba berubah mengerikan.
Pak Hartono membuka matanya dan ia terkejut karena gadis di depannya telah berubah menjadi sosok mengerikan yang wajahnya mirip dengan Laras.
"Tidak, Laras! Jangaaaaaan!" teriak Pak Hartono dengan keras. Namun, terlambat. Sebuah truk gandeng sudah menggilas badannya yang terbaring di tengah jalan.
__ADS_1
Soso mengerikan itu pun tertawa cekikikan melihat raga Pak Hartono yang meregang nyawa dan tewas di tempat itu dengan seketika.
BERSAMBUNG