MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 30 : DUA SAHABAT


__ADS_3

Pak Salihun dan Pak Ratno sudah hampir sampai di area pemakaman dusun Delima. Saat itu matahari masih belum terbit, jadi pandangan masih remang-remang. Pak Ratno yang lebih penakut daripada Pak Salihun itu pun tak mau jauh-jauh dari temannya itu.


“Rat, jangan nempel-nempel lah! Ntar dilihat orang kayak apaan?” protes Pak Salihun sambil menghindar dari temannya itu.


“Mataku agak rabun, Hun. Kalau aku kesandung gimana?” jawab Pak Ratno berusaha menutupi rasa ketakutannya.


“Nggak usah alasan, Rat! Kamu takut, kan?” ujar Pak Salihun.


“Enggak kok, Hun. Beneran aku agak rabun. Jadi, ijinkan aku pegangin tangan kamu biar aku nggak jatuh atau kesandung,” jawab Pak Ratno sambil berusaha menarik lengan Pak Salihun.


“Apaan kamu ini, Rat! Aku bilang risih ya risih,” bentak Pak Salihun.


“Ya sudah kalau begitu, aku mau pulang saja. Biar agak siang saja aku ke sawah agar tidak kesandung-sandung di jalan,”omel Pak Ratno.


Pak Salihun menoleh sejenak ke arah Pak Ratno. Ia tidak menduga Pak Ratno akan mengatakan hal itu. Ia sadar betul kalau dalam hal di lapangan, Pak Ratno lebih cekatan dari dia sendiri. Kalau sampai Pak Ratno tidak ikut ke sawah, bisa-bisa ia akan kelelahan di sawah Pak Herman karena bekerja sendirian. Memikirkan hal itu, akhirnya Pak Salihun menurunkan egonya. Pak Ratno tersenyum penuh kemenangan terhadap temannya. Sepertinya pria tua itu sudah bisa menebak bahwa Pak Salihun akan mengalah kepadanya jika ia mengancamnya.


“Ayo sini, buruan dah!” ujar Pak Salihun dengan kesal.


“Makasih ya, teman!” jawab Pak Ratno sambil menggandeng lengan temannya dan melanjutkan perjalanan melewati area pemakaman umum dusun Delima desa Sido Mekar.


“Hun, perasaanku kok agak tidak enak, ya?” ujar Pak Ratno setelah melangkah beberapa kali.


“Kamu ngomong apa sih, Rat? Aku yang nggak enak perasaan, takut ada orang yang melihat kita berdua gandengan kayak gini,” jawab Pak Salihun masih dengan rasa kekesalannya.


“Beneran loh, Hun. Aku ngerasa kayak ada yang nggak beres di sini,” ujar Pak Ratno.


“Sudah kamu diam saja, Rat. Kamu diam saja! Nggak ada apa-apa kok di sini. Nih, aku lihat ke arah makam, nggak ada siapa-si-“ jawab Pak Salihun sambil menoleh ke arah makam.


Pak Salihun menghentikan langkahnya sehingga Pak Ratno pun turut menghentikan langkahnya. Pak Ratno kaget kenapa Pak Salihun menghentikan langkahnya.

__ADS_1


“Ada apa, Hun? Kamu kok tiba-tiba diam?” tanya Pak Ratno.


“Rat .. Rat … coba kamu lihat ke sana!” jawab Pak Salihun menjawab dengan terbata-bata sambil memutar kepala Pak Ratno ke arah dalam area pemakaman.


Pak Ratno menurut saja ketika kepalanya diputar sembilan puluh derajat sehingga menghadap ke dalam area pemakaman. Pak Ratno yang sebenarnya tidak rabun itu pun memfokuskan matanya ke area yang dimaksudkan oleh temannya itu. Dan betapa terkejutnya laki-laki tua itu setelah melihat sosok mencurigakan yang ada di dalam area pemakaman itu.


“Hun, itu siapa? Itu hantu apa orang, Hun?” ucap Pak Ratno terbata-bata.


“Entahlah, Rat. Tidak begitu jelas. Tapi, rasanya nggak mungkin ada manusia yang masuk ke dalam area pemakaman jam-jam segini,” jawab Pak Salihun dengan sedikit terbata-bata juga.


“Maksud kamu yang kita lihat sekarang ini hantu?” tanya Pak Salihun dengan tetap memandang ke arah sosok misterius itu.


“Kayaknya iya, Rat,” jawab Pak Salihun pendek.


“Terus, kita mau tetap di sini atau mau lari saja, Hun?” tanya Pak Ratno.


“Kita lari saja, Rat! Sepertinya sosok itu mengetahui keberadaan kita, Rat. Kamu lihat, sosok itu akan menoleh ke arah kita, kan?” ujar Pak Salihun.


“Saya hitung satu sampai tiga, ya! Sa-tu … du-a … ti-gaaa!!!” kedua pria itu pun langsung lari begitu hitungan ketiga selesai diucapkan.


“Aaaaaaaaa!!!” teriak Pak salihun dan Pak Ratno sambil lari meninggalkan area pemakaman tersebut.


Pak Ratno lari ke arah sawah sedangkan Pak Ratno lari ke arah rumah. Baru berlari tiga langkah, kedua pria itu baru menyadari bahwa mereka berdua sama-sama lari ke arah yang berlawanan.


“Loh, aku kan mau ke sawah!” pikir Pak Salihun.


“Loh, Salihun kok lari ke rumah? Kalau di sawah aku ketemu hantu itu bagaimana?” pikir Pak Ratno.


“Aku lari ke sawah saja biar bisa bareng dengan Ratno,” pikir Pak Salihun kemudian.

__ADS_1


“Aku balik arah saja, biar ketemu sama Salihun,” pikir Pak Ratno.


Kedua pria tua itu pun memutar badan dan berlari ke arah sebaliknya.


“Aaaaaa!!!!” teriak mereka sambil berlari ke arah sebaliknya.


Pada saat melewati pintu gerbang, Pak Salihun melihat Pak Ratno juga berlari ke arah sebaliknya dengan penuh kepanikan. Kali ini ia tidak mau ambil pusing, ia pun menarik tangan Pak Ratno untuk berbalik arah menuju sawah kembali. Alhasil, selama beberapa detik Pak Ratno harus berlari mundur akibat tangannya ditarik oleh Pak Ratno. Namun, selanjutnya Pak Ratno berbalik dan berlari sambil dipegangi tangannya oleh Pak Salihun menuju ke sawah. Kedua pria tua itu sampai di sawah dengan keadaan ngos-ngosan. Mereka menghentikan larinya setelah sampai di tengah sawah.


“Kira-Kira hantunya mengejar ke sini nggak, ya?” tanya Pak Ratno.


“Semoga enggak, Rat! Lagipula di sini kan lebih terang daripada di sana. Sebentar lagi matahari pasti terbit, Rat! Nggak mungkin hantu berani muncul kalau sudah ada sinar matahari,” jawab Pak Salihun berusaha menenangkan temannya dan juga dirinya sendiri.


“Tapi, apa benar yang kita lihat barusan itu beneran hantu?” ujar Pak Ratno sambil duduk di atas galengan.


“Entahlah, Rat. Tapi, masa manusia biasa mau masuk ke area makam dalam kondisi seperti itu?” jawab Pak Salihun sambil duduk juga di atas galengan.


“Iya juga, sih. Semoga saja sosok itu tidak mengikuti kita ke sini,” jawab Pak Ratno.


“Iya, Rat,” jawab Pak Ratno sambil mengatur napas.


Selama beberapa detik mereka berdua sibuk mengatur napas mereka yang tersengal karena berlari dari makam. Pada saat mereka mengatur napas, tiba-tiba terdengar suara derap langkah kaki menuju ke arah mereka berdua. Pak Ratno dan Pak Salihun saling berpandangan dengan mata terbelalak begitu mendengar suara derap langkah yang semakin dekat ke arah mereka. Sepertinya mereka berdua sama-sama merasa ketakutan saat itu. Mereka berdua khawatir bahwa itu adalah derap langkah sosok yang mereka temui barusan di area pemakaman dan mengejar mereka sampai ke sawah.


“Hun …,” bisik Pak Ratno dengan gemetar.


“Rat …,” bisik Pak Salihun juga dengan perasaan takut.


Sementara suara derap langkah itu semakin dekat ke arah mereka berdua dan kali ini suara derap langkah itu tepat berada di belakang Pak Ratno. Langkah itu terhenti begitu sudah sampai di belakang pria tua penakut itu.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Kira-Kira, Readers sendiri punya pengalaman apa dengan sahabatnya? Cerita dikit, dong!


__ADS_2