
Aku memilih untuk berdiam diri di dalam kamar. Dalam keadaan ketakutan seperti itu aku meringkuk di pojok ruangan di sebelah lemari peninggalan orang tuaku yang selalu aku bawa dimana pun aku tinggal. Sementara aku mengatur napasku sendiri, di luar sana suara ketukan pintu itu semakin keras terdengar. Gilanya lagi, suara ketukannya tidak seperti suara orang yang sedang berharap pintu segera dibuka, melainkan lebih ke arah menakut-nakuti orang yang berada di dalamnya. Agak jarang tetapi cukup keras, dan tidak dibarengi suara orang yang sedang mengetuk pintu selayaknya orang yang sedang mengetuk pintu. Hal itu membuatku semakin meringkuk ketakutan di sudut kamar.
Setelah berdiam diri cukup lama, akhirnya suara ketukan di pintu depan itu pun tidak terdengar lagi. Harusnya aku senang karena tidak terganggu lagi dengan suara ketukan yang membuat ciut nyaliku itu. Namun, aku salah menduga, justru ketika suara ketukan itu tidak lagi terdengar dari pintu depan dan suasana menjadi hening tanpa suara sedikitpun, ketakutan lain tiba-tiba menyeruak ke dalam batinku.
"Bagaimana kalau sosok misterius di depan tidak pergi, melainkan dengan kemampuan magic-nya sudah berada di ruangan ini dan mengamati kegelisahanku?" pikirku di dalam hati.
"Aaaaaah ...." Aku jengah sendiri membayangkan hal itu.
Dengan posisi masih meringkuk di pojok ruangan, aku menggunakan ekor mataku untuk memastikan bahwa dugaanku salah. Kulirik ke sebelah kiri yaitu tempat tidurku. Syukurlah, tidak ada yang mencurigakan di sana. Semuanya terlihat normal, bantal, selimut, dan guling masih tertata dengan apik. Tidak ada makhluk aneh yang terlihat di sana.
Lensa mataku beralih ke sebelah kananku, yaitu lemari peninggalan bapak dan ibu. Dari sudut mataku juga tidak terlihat penampakan atau apapun yang tentunya tidak ingin aku lihat dengan mataku. Namun, ...
[Kretek ... kretek ... kretek]
Telingaku tiba-tiba mendengar suara cukup berisik dari dalam lemari bajuku itu. Aku berusaha untuk berpikiran positif dan menenangkan diriku. Mungkin itu hanya suara serangga saja, tetapi sekuat apapun aku menolak pikiran-pikiran buruk itu, tapi alam nampaknya sedang berpihak kepada pikiran burukku. Suara itu semakin keras. Tidak mungkin suara serangga bisa sekeras itu. Aku masih menduga itu suara tikus, namun lagi-lagi suara dari dalam lemari itu semakin keras. Lebih keras dari suara gaduh tikus yang pernah kudengar. Aku tidak mau menyerah. Aku beralih menduga itu suara kucing peliharaanku yang sedang terperangkap di dalam lemari. Cukup lama aku mempertahankan analisaku tersebut. Hingga akhirnya, aku mendengar suara tersebut berubah kembali. Lebih keras dari sebelumnya, seolah-olah ditimbulkan oleh sesosok makhluk yang beratnya lebih dari dua puluh lima kilogram. Apalagi ketika alu menoleh ke samping kanan untuk memastikannya. Tiba-tiba pintu lemari itu seperti didorong dari arah dalam. Akibat dorongan itu pun bagian tengah pintu itu pun terdorong ke luar dan sesaat lagi makhluk yang ada di dalamnya pasti akan berhasil keluar.
"Tidaaaaaaak!!!!" Aku menjerit sambil berlari ke arah pintu kamar. Aku tarik gagang pintu tersebut dengan kuat. Aku panik, saking paniknya aku sampai lupa kalau pintu itu aku kunci dari dalam. Aku tidak berani menoleh ke belakang karena takut. Aku langsung berlari ke luar kamar begitu pintu kamarku berhasil kubuka.
Sesampai di luar kamar, kepanikanku bukannya berkurang melainkan bertambah. Di satu sisi aku takut makhluk misterius yang berada di dalam lemariku sudah keluar dan sedang mengejarku. Sementara di sisi yang lain, aku takut sosok misterius yang tadi mengetuk pintu rumahku juga berdiri menungguku di balik pintu.
__ADS_1
[Gubrak]
Suara keras terdengar dari kamarku yang sangat mengagetkanku dan membuat tak bisa berpikir jernih kembali. Saat itu aku tidak punya pilihan lain lagi. Yang ada di pikiranku saat itu adalah segera lari ke luar rumah menjauhi makhluk misterius di kamarku itu.
"B-bism-millah ..." Ucapan itulah yang keluar dari bibirku yang sedang bergetar saat aku memutuskan untuk memutar anak kunci dan menarik gagang pintu depan.
[Plak]
Suara anak kunci yang jatuh ke lantai karena kegugugpanku. Alu segera mengambil anak kunci tersebut di lantai dan memasukkannya kembali ke lubang kunci. Meskipun berkali-kali aku gagal memasukkannya, akhirnya aku pun berhasil juga.
[Kletek]
"C-Clara!!!!" pekikku.
"Iya, Mbak. Saya datang ke sini untuk mengembalikan kedua benda yang saya pinjam tadi," jawab Clara enteng.
"Kenapa kamu buru-buru mengembalikannya, Clara? Saya kan sudah bilang, kamu boleh meminjamnya agak lama karena saya masih punya persediaannya," ujarku.
"Iya, Mbak Terima kasih atas kebaikannya. Namun, kebetulan pas bersih-bersih tadi, secara tidak sengaja saya menemukan ada beberapa sapu dan alat kebersihan yang lain di balik lemari. Jadi, saya berpikir untuk mengembalikan barang millik Mbak Sinta," jawabnya enteng.
__ADS_1
"Baiklah Clara, saya terima barangnya. Ngomong-Ngomong, kamu mulai tadi ya berdiri di balik pintu?" tanyaku untuk memastikan bahwa memang Claralah yang mengetuk pintu rumahku itu berkali-kali.
"Waduh! Enggak, Mbak. Saya baru saja datang, kok! Pas saya mau mengetuk pintu, secara kebetulan Mbak Sinta juga membuka pintu," jawabnya agak keheranan dengan pertanyaanku.
"Oooo begitu, ..." jawabku spontan.
"Aduh!!!" pekik perempuan tersebut secara tiba-tiba.
"Kenapa, Clara?" tanyaku padanya.
"I-Itu, Mbak!" jawabnya sambil menunjuk ke arah belakang tubuhku. Hal itu mengingatkanku pada makhluk misterius yang tadi mengejarku. Namun, karena penasaran dengan reaksi Clara yang seperti sangat ketakutan, aku pun menoleh ke arah belakang tubuhku. Belum seratus delapan puluh derajat putaran yang dilakukan oleh leherku, aku dikejutkan dengan suara keras. Ternyata makhluk yang ada di belakangku sedang melompat ke arahku sambil mengeluarkan suara yang sangat keras seolah-olah sedang marah.
"Aaaaaaaaargh!!!" suara yang dikeluarkan oleh mulut kami berdua. Kami benar-benar terkejut saat itu. Saking terkejutnya, Clara sampai lari tunggang langgang menuju rumah kontrakannya meninggalkan aku yang berdiri terpaku di pintu bersama dengan makhluk penghuni lemari antik warisan orang tuaku itu.
Bersambung
Jangan lupa untuk membaca novel berjudul KAMPUNG HANTU (sudah tamat season kesatu dan kedua). Terima kasih.
Like, vote, dan komennya saya tunggu!
__ADS_1