
Tolong klik gambar "jempol" dulu, ya! Like dari Kakak adalah semangat buatku.
Aku kaget karena Nur tidak ada di kamarnya. Padahal semenit yang lalu ia masih berada di kamar ini sebelum aku membukakan pintu untuk Bu Rini.
"Kemana Nur, Mbak?" tanya Bu Rini spontan.
"Saya juga kaget, Bu. Barusan dia ada di sini. Lagi tiduran di kasur itu," jawabku dengan halus.
TEK TEK TEK
Terdengar suara piring beradu dengan sendok dari ruang makan. Aku bergegas berjalan menuju ruang makan yang terletak di balik ruang tamu.
"Nuuuur!!!" teriakku sambil berjalan ke arah ruang makan. Bu Rini mengikuti di belakangku.
"ASTAGFIRULLAH!!! ternyata kamu di sini, Nak!" teriakku pada anakku.
"Nur masih laper, Bu. Jadi Nur ke sini untuk melanjutkan makan siang," jawab anakku sambil meletakkan piring yang sudah ia lahap habis isinya.
"Iya, Nak. Tapi ibu dan Tante Rinimu ini kaget karena kamu menghilang dari kamarmu dengan cepat sekali," terangku pada anakku yang terlihat kebingungan.
"Maaf, ya, Bu!" jawabnya lagi.
"Ya sudah, buruan ke kamar lagi biar badanmu segera diperiksa oleh tantemu ini!" perintahku pada Nur.
"Iya, Bu!" Nur menjawab sambil melangkah ke kamarnya. Sedangkan aku bergegas mengambil piring dan sendok yang baru dipakai anakku barusan untuk kucuci di belakang.
*
Bu Rini baru saja selesai memeriksa kondisi Nur. Ia sudah duduk di ruang tamu kembali sambil meletakkan kembali stetoskop dan peralatan lain yang baru ia gunakan. Aku mengambil tempat duduk di depannya Bu Rini.
"Gimana kondisi Nur, Bu Rini?" tanyaku penasaran.
Bu Rini menarik napas dalam-dalam, kemudian ia pun berkata,
"Anak itu nggak apa-apa kok, Mbak! Tensi, denyut nadi, suhu tubuh, dan lain-lain semuanya normal," jawab Bu Rini enteng dnegan tersenyum.
"Benar begitu, Bu? Terus, tadi malam kenapa badannya panas sekali, ya, Bu? Sampai-Sampai ia mengigau," jawabku.
"Itu efek kecapekan atau masuk angin saja, Mbak," jawab Bu Rini dengan yakin.
"Beneran nih, Bu? Saya khawatir Nur kenapa-kenapa, Bu," ujarku.
"Tenang, Mbak. Nur sudah saya injeksi vitamin. Dan ini obat Nur untuk memperkuat daya tahan tubuhnya. Mbak minumkan padanya secara rutin setelah makan. Kalau ada apa-apa, Mbak nggak usah segan-segan menghubungi saya," ujar Bu Rini.
"Makasih banyak, ya, Bu," ujarku.
"Sama-Sama, Mbak. Oh ya, Mas Diki biasanya pulang jam berapa, Mbak?" tanya Bu Rini.
"Nggak mesti, Bu. Kadang jam lima sore sudah pulang. Kadang hampir isya. Tergantung ramainya pembeli di pasar," jawabku.
__ADS_1
"Oo ... Mas Diki jadi nerusin usahanya almarhumah Yu Darmi, ya?" tanya Bu Rini.
"Iya, Bu. Mau gimana lagi, anak-anak Yu Darmi masih masa-masa menuntut ilmu. Toh, dari hasil toko Yu Darmi juga sebagian untuk biaya sekolah mereka berdua, Bu," jawabku.
"Iya, benar, Mbak. Kalau sudah ngomongin Yu Darmi, saya jadi sedih, Mbak," ujar Bu Rini dengan mata berkaca-kaca.
"Monggo diminum tehnya, Bu. Mumpung masih anget," ucapku.
"Makasih, Mbak. Kok, repot-repot sih, sampean ini!" jawab Bu Rini.
"Manis, Bu?"
"Alhamdulillah, manisnya pas. Oh, ya, saya pamit pulang, ya, soalnya sudah janjian mau meriksa salah satu tetangga yang terkena vertigo," ucap Bu Rini.
"Waduh, kok buru-buru sih, Bu. Padahal rencananya mau tak ajak makan siang bareng," ujarku.
"Lain kali saja, Mbak. Kasihan tetanggaku itu kalau menunggu terlalu lama," jawab Bu Rini.
"Berapa, Bu?"
"Apanya, Mbak?"
"Biaya berobatnya."
"Nggak usah, Mbak."
"Jangan begitu, Bu."
"Oke, ini saya nggak ngasih buat Bu Rini. Saya ngasih buat anak asuh Bu Rini. Mohon untuk diterima,"
Bu Rini lama menatap amplop yang aku tempelkan ke tangannya.
"Makasih banyak, ya, Mbak!" ucapnya kemudian.
"Sama-Sama. Ngomong-Ngomong, anak asuh Bu Rini sehat semua, kan?" tanyaku.
"Nah, itu dia, Mbak. Saya baru dengar kabar kalau salah satu orang yang pernah mengadopsi anak asuh saya, ternyata berkepribadian kurang baik," jawabnya.
"Maksudnya gimana, Bu? Apa orang itu memperlakukan anak adopsinya dengan kurang baik?" Aku bertanya.
"Entahlah, saya baru saja mendengar tabiat buruk orang itu baru-baru saja, padahal setiap datang ke panti, orang itu terlihat baik dan welas asih, makanya kami ikhlas melepas salah satu anak asuh kami untuk diadopsi oleh orang tersebut. Ketika saya mendatangi rumahnya, ternyata rumahnya sudah kosong tidak ada penghuninya. Kata tetangganya, orangnya sudah pindah dengan membawa anak itu juga," jawab Bu Rini sambil terisak.
"Ya Tuhan ... Yang sabar ya, Bu. Semoga anak asuh Bu Rini yang diadopsi oleh orang tersebut, baik-baik saja di sana," cetusku spontan.
"Aamiiin ... Makasih banyak, ya, Mbak. Saya pamit dulu ... Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam Warohmatullahi Wabarokatuh,"
Aku mengantar Bu Rini ke depan sampai ia menghilang di tikungan.
__ADS_1
Rasa sedih tiba-tiba menjalar ke sanubariku
*
"Bu, ini gelang apa? Ibu, ya, yang memasangnya pada saat Nur sednag tidur?" tanya anakku sebelum ia tidur malam.
"Iya, Nur. Itu gelang pemberian seseorang. Kamu pakai saja dulu, ya! jawabku.
"Saya tidak suka modelnya, Bu. Nyeremin ... Ntar kalau teman-teman tahu saya pakai gelang ginian, saya bisa diolok-olok," protes anakku sambil berusaha melepas gelang di pergelangan tangannya.
"Jangan dilepas dulu, ya, Nak! Kamu pakai dulu sementara waktu. Toh, bapakmu belum mengijinkan kamu bersekolah besok. Biar kamu benar-benar sehat dulu, kata bapak," jawabku sambil menahan gelang itu supaya tidak dilepas oleh Nur.
"Terserah bapak sama ibu, deh!" jawab Nur sambil menggerutu dan membalik badan memunggungiku.
Aku meninggalkan Nur yang sednag bersiap untuk tidur. Mas Diki sedang asyik menonton televisi di ruang tamu.
"Gimana kondisi anak kita, Dik?" tanyanya dengan nada cemas.
"Alhamdulillah badannya sudah tidak panas lagi, Mas. Dia lagi bersiap untuk tidur sekarang," jawabku sambil merebahkan kepalaku di pundaknya.
"Bu Rini tadi datang, kan?" tanya suamiku.
"Datang kok, Mas. Kata Bu Rini, anak kita hanya kecapekan dan masuk angin biasa saja," jawabku sambil menatap lekat mata teduh Mas Diki.
"Syukurlah kalau begitu, Dik" Ujar suamiku seraya membalas tatapan mataku.
"Akhirnya, malam ini saya tidak perlu begadang lagi, Mas!" seruku.
"Kata siapa kamu tidak begadang, Dik?"
"Ya kataku, Mas. Kan, anak kita sudah enakan badannya, jadi insyaallah dia bisa tidur nyenyak malam ini,"
"Kamu lupa, ya? Yang kamu urusin itu bukan hanya anak kita, tapi suamimu juga."
"Maksud, Mas?"
"Kalau tadi malam kamu begadang jagain anak kita. Malam ini, kamu harus begadang lagi untuk ...,"
"Untuk apa, Mas?"
"Untuk nemenin mas, dong. Bukankah kita sudah lama tidak ...,"
"Tidaaaaaaaak!!!!?"
Aku pun kabur ke dalam kamar karena ketakutan dengan tatapan aneh Mas Diki.
Bersambung
View-nya banyak, tapi yang like dan komen kok cuma segitu, ya?
__ADS_1
Plis, like dan komen yang banyak dong! Supaya author tambah semangat untuk update sampai tamat.