
Sebuah benturan di kepala Diki akibat pukulan benda tumpul membuat kepala pria tersebut terluka. Darah pun mengucur dengan deras dari kepala belakang suami Sinta tersebut. Akibat pendarahan di kepala tersebut, ia pun mengeluh sakit dan terjerembap di kap mobil depan miliknya sendiri.
Dalam keadaan sakit seperti itu, ia melihat seseorang berpakaian serba hitam sedang berusaha melukai istrinya. Ia sebenarnya sangat ingin menolong perempuan yang sangat ia cintai itu, tapi ia sendiri tidak dapat menahan betapa sakitnya luka di kepalanya. Ia juga tidak memiliki tenaga untuk sekedar berdiri. Mungkin ada bagian syaraf kepalanya yang rusak akibat benturan benda tumpul di kepalanya.
Ia bersyukur karena sosok hitam itu gagal melukai istrinya. Istrinya memang perempuan yang hebat. Ia buru-buru mengunci pintu mobilnya dari dalam sehingga sosok hitam itu kesulitan untuk masuk. Tak kehabisan akal, sosok hitam itu pun berusaha merusak kaca mobil tapi selalu gagal. Akhirnya sosok hitam itu mengancam istrinya dengan mengangkat kepala Diki kemudian diacungkan ke arah istrinya seolah-olah ia mengatakan bahwa ia akan membunuh Diki apabila perempuan itu tidak menyerahkan diri.
Diki semakin mencemaskan istrinya yang masuk dalam jebakan sosok hitam itu. Istrinya menyerahkan diri dan sosok hitam itu pun berjalan mendekati istrinya dengan terlebih dahulu melepas tubuh Diki yang lemah sehingga kembali jatuh terjerembap ke tanah. Diki semakin merasakan sakit.
Untunglah, ternyata itu hanyalah siasat istrinya. Saat sosok hitam itu lengah, istrinya buru-buru menginjak gas dan menabrak sosok hitam sehingga terpental dengan jarak yang lumayan jauh. Sosok hitam itu pun pingsan. Sinta menuntun suaminya menuju ke dalam mobil dengan sangat berhati-hati. Darah yang mengucur dari kepala Diki semakin banyak. Mereka berdua berpikir bahwa mereka akan selamat. Ternyata tidak! Sosok hitam itu tiba-tiba muncul di jok belakang dan menempelkan pisau kecil ke leher istrinya. Setelah itu ia pun mengancam istrinya untuk menyetir mobilnya menuju ke suatu tempat.
Karena dianggap bukan ancaman lagi, Diki yang kehabisan banyak darah ditinggal begitu saja di dalam mobil. Diki tidak sadar selama beberapa menit akibat mengeluarkan banyak darah. Saat Pak Seno melihat keadaannya, Diki dikira sudah mati oleh guru sekte sesat itu.
Dalam keadaan pingsan tersebut Diki bermimpi bertemu dengan seseorang perempuan tua dengan pakaian kebaya putih berjarik cokelat.
"Diki ... bangun, Nak!" panggil sosok perempuan tua itu.
"Ka-kamu siapa?" tanya Diki agak bingung dan takut.
"Kamu jangan takut, Nak. Aku ini masih orang tuamu. Kamu harus bangun dan menyelamatkan istrimu. Istrimu sedang dalam bahaya. Kalau sampai kamu terlambat untuk menolongnya, maka kamu akan kehilangan ia untuk selamanya," lanjut perempuan tua itu.
__ADS_1
"Maksud Ibu apa? Aduh, kepalaku sakit!" ucap Diki sambil memegangi kepalanya.
"Bangunlah, Anakku," ucap perempuan tua itu sembari memegangi kepala Diki.
Keajaiban terjadi tatkala perempuan tua itu memegangi kepala Diki. Rasa sakit di kepala Diki tiba-tiba sirna dan Diki pun terbangun dari pingsannya. Kemudian Diki merobek pakaiannya sendiri dan digunakan sebagai perban untuk menutup luka di kepalanya.
Tidak menunggu waktu lama, Diki pun secara perlahan-lahan turun dari mobil untuk mencari istrinya yang sedang dibawa oleh sosok hitam ketika ia pingsan tadi. Tapi, pada saat Diki baru keluar dari mobilnya ia mendengar bunyi langkah seseorang sedang menuju ke tempat itu. Diki pun buru-buru bersembunyi di semak-semak.
Betapa terkejutnya ia ketika ia mengetahui bahwa seseorang yang baru datang itu adalah Wisnu, suami Ningsih. Hampir saja ia memanggil saudaranya itu untuk memberitahukan semua kejadian yang ia alami bersama Sinta. Namun, ia mengurungkan niatnya karena ia melihat gelagat mencurigakan dari Wisnu. Wisnu memeriksa isi mobilnya, setelah melihat banyak darah di mobil itu, pria itu tidak menunjukkan reaksi kebingungan. Wisnu tidak berteriak memanggil-memanggil namanya atau istrinya atau berusaha menelpon siapa pun. Wisnu justru berjalan mengendap-endap menuruni bantaran sungai seolah-olah ia sudah sering ke tempat itu.
Sambil mengamati sekitar, Diki pun ikut mengendap-endap menuruni bantaran sungai itu untuk mengetahui kemana arah perginya Wisnu dan juga sambil mencari kemana sosok hitam itu membawa Sinta.
Diki terkejut setelah mengintip ke dalam. Di dalam sana ia melihat Wisnu, sosok hitam, dan satu orang laki-laki lain sedang berada di depan sebuah altar. Dan di atas altar itu ada seorang perempuan yang sedang dibelenggu.
"Ya Tuhan, bukankah itu istriku? Kenapa Mas Wisnu tidak menyelamatkan istriku? Jadi, benar dia adalah salah satu dari mereka. Apa yang akan mereka lakukan terhadap istriku? Aku harus segera menolongnya?" ucap Diki pada dirinya sendiri.
Diki kemudian berpikir bagaimana caranya agar ia bisa melawan ketiga laki-laki itu. Secara kebetulan Diki menemukan sebuah pisau kecil yang tadi digunakan oleh sosok hitam untuk mengancam istrinya. Mungkin pisau itu tidak sengaja terjatuh atau sengaja dibuang karena tangan istrinya sudah berhasil diborgol dan tidak mungkin bisa melawan.
Diki pun bergegas mengambil pisau itu. Sementara di dalam sana ia melihat sosok hitam sudah membuka topengnya dan ia akhirnya mengetahui bahwa sosok hitam itu adalah Pak RT.
__ADS_1
"Keparat kamu, Pak RT!" umpat Diki di dalam hati.
Diki menyadari bahwa ketiga orang itu sedang melakukan ritual dengan istrinya sebagai tumbal. Diki melihat dengan mata kepalanya sendiri, istrinya ketakutan dan terus meronta. Tapi, mereka bertiga tetap melanjutkan ritualnya. Memandikan istrinya dengan air darah ayam yang telah dibacai mantra-mantra.
Ia juga melihat istrinya sempat berdebat dengan mengumpat Wisnu karena dialah orang yang selama ini menjadi musuh di dalam selimut. Diki benar-benar jengah melihat istrinya dianiaya seperti itu. Ia menunggu waktu yang tepat untuk menyerang mereka bertiga.
Akhirnya pada suatu titik, ia tidak tahan lagi melihat aksi kebiadaban orang-orang itu. Ia pun menyabetkan pisau kecilnya ke area perut bawah Pak RT yang sedang berusaha menjalankan ritual terakhirnya. Diki pun merasa puas karena telah memberi pelajaran buat pria yang berusaha merusak keharmonisan keluarganya itu. Dengan terluka seperti itu tentunya pria itu tidak akan bisa lagi laki-laki bejat yang akan merusak kehormatan wanita manapun.
Setelah itu, Diki pun harus berjibaku dengan Wisnu dan laki-laki satunya yang ia ketahui setelahnya bernama Seno, gurunya Wisnu dan Pak RT. Wisnu tewas terkena senjata Seno dan Seno juga tewas terkena serangan Sinta saat ia berusaha membunuh Diki. Sedangkan Pak RT akhirnya juga tewas ditembak oleh polisi yang datang bersama Bulek Darsih.
*
Hm .... sudah loh, ya, ekstra part edisi DIKI. Apa masih perlu ekstra part yang lain? Tukis kmentar kamu di bawah, ya?
Jangan lupa membaca novelku yang lain
DARAH INDIGO
TERPAKSA DINIKAHI PALYBOY KAYA
__ADS_1