
Setelah sarapan Mas Diki dan Nur pun pamit untuk berangkat. Tak lupa aku pun berpesan kepada Mas Diki agar pulang kembali ke rumah setelah mengantar anak semata wayang kami itu ke sekolah. Mas Diki pun mengiyakan hal itu. Sementara Mas Diki berangkat ke sekolah Nur, aku di rumah beberes dapur dan urusan rumah lainnya. Saat aku beberes rumah tiba-tiba ada WA masuk dari Pak RT.
"Jadi, kan?" bunyi WA tersebut.
"Jadi. Saya diantar suami," balasku sengaja menyebut kata suami agar Pak RT bisa menjaga sikapnya terhadapku.
"Iya," jawabnya sangkat.
Aku pun melanjutkan kembali mengerjakan pekerjaan rumah hingga selesai. Setelah selesai, aku pun bersiap-siap untuk menunggu kedatangan Mas Diki. Tiba-Tiba saat aku mempersiapkan diri, pintu rumahku diketuk dari luar.
"Assalamualaikum ...," teriak seorang perempuan.
"Waalaikumsalam ...," jawabku.
"Alhamdulillah, akhirnya ketemu sampean, Mbak," sapa Jeng Fitri.
"Hm ... sudah kuduga kamu yang datang, Jeng Fitri. Siapa lagi kalau bukan kamu yang punya suara senyaring itu? Monggo, silakan duduk, Jeng!" balasku.
"Terima kasih, Mbak. Ah, Mbak Sinta ini ada-ada saja," jawab Jeng Fitri malu-malu.
"Tumben pakaiannya tertutup begini, Jeng?" tanyaku keheranan.
"Ah, Mbak Sinta ini. Saya kan dikit-dikit mau berubah, Mbak. Kebetulan nih My Darling ingin saya berubah, Mbak," jawab Jeng Fitri.
"My Darling yang mana lagi ini? Hm ... Yang kapan hari itu, kan?" tanyaku sambil mengingat-ingat wajah pria yang mengantar Jeng Fitri mengambil pesanan di sini.
"Duh, jangan bahas si brengsek itu lagi, Mbak," jawab Jeng Fitri ketus.
"Loh, kok Jeng Fitri manggil dia si brengsek? Kayaknya bulan kemarin pas ke sini sama pria itu, kalian mesra sekali malah kalau tidak salah kalian sudah nikah sirih, ya?" ujarku.
__ADS_1
"Duh, lupakan sudah bandot tua itu. Saya sudah buang-buang kenangan buruk tentang dia. Bikin sakit hati saja. Saya sekarang mau fokus sama My Darling saja, Mbak. Yah, meskipun kita baru kenalan lewat Sosmed, tapi saya sudah bisa menilai dia orangnya seperti apa? Yah, meskipun tidak seloyal si brengsek itu, tapi setidaknya My Darling ini setia banget," jawab Jeng Fitri.
"Hm ... Emangnya yang kemarin nggak setia?" desakku.
"Banget, Mbak. Pokoknya sakit kalau diingat-ingat," jawab Jeng Fitri.
"Dia selingkuh, Jeng?" tanyaku tak tahan karena jiwa kepoku meronta-ronta untuk tahu.
"Aduh, Mbak Sinta ini. Saya sebenarnya sudah tidak mau mengingat-ingat hal itu lagi. Tapi, Mbak Sinta malah nginget-ngingetin lagi. Gimana saya nggak sakit, Mbak. Si brengsek itu malah selingkuh dengan sepupu saya. Sepupu saya itu awalnya kan bingung kerjaan kemudian saya berusaha mencarikan pekerjaan di kantor si brengsek itu. Ealah, ternyata malah kebaikan saya dibalas dengan air tuba. Tuh, kan, saya jadi nangis lagi, Mbak," tutur Jeng Fitri panjang lebar sambil mengusap air matanya.
"Oh, ya. Kamu yakin kalau suami sirihmu itu selingkuh sama sepupumu? Jangan-Jangan kamu hanya termakan isu yang tidak bertanggung jawab, yang bertujuan merusak rumah tanggamu?" jawabku.
"Awalnya saya juga ngira begitu, Mbak. Saya ngiranya isu itu dihembuskan karena karyawan si brengsek itu iri pada sepupu saya yang langsung kerja begitu saja tanpa adanya seleksi masuk. Ternyata, itu bukanlah isu semata. Pada saat saya sedang mengikuti acara seminar kewirasahaan di sebuah hotel ternama, saya melihat ada mobil si brengsek itu parkir. Nah, saya kan penasaran kok bisa ada mobilnya di situ. Saya sempat tanya ke resepsionis, tapi saya gagal mendapatkan info karena alasan privasi customer. Nah, saya pun tak ambil pusing, saya meminta teman-teman akrab saya yang ikut seminar untuk sliwar-sliwer di hotel tersebut. Dan benar saja, teman saya melihat si brengsek itu sedang berada di sebuah kamar. Ia pun memberitahukan nomor kamar tersebut. Saya dan teman-teman saya pun beraksi. Teman saya mengetuk pintu kamar hotel dan berpura-pura menjadi petugas hotel. Dan benar saja, begitu pintu dibuka, saya pun memaksa masuk ke dalam. Ternyata di atas kasur ada sepupu saya hanya mengenakan selimut saja," lanjut cerita Jeng Fitri.
"Ya Tuhan ...," pekikku.
"Yang bikin saya sakit hati. Ternyata si brengsek itu ketika melihat saya mencakar-cakar sepupu saya itu, ia malah memukul saya dan mengatakan bahwa ia lebih memilih sepupu saya itu," lanjut cerita Jeng Fitri sambil berurai air mata.
"Kata orang-orang, sih, sepupu saya itu main dukun, Mbak. Jadi, ia mengguna-gunai si brengsek itu. Hal itu didukung oleh ibunya, yang notabene adalah bibi saya sendiri," jawab Jeng Fitri.
"Wah, benarkah itu, Jeng? Kenapa mereka begitu tega melakukannya pada kamu yang masih saudaranya?" tanyaku.
"Kalau saya sih, nggak begitu memikirkan hal itu. Bagi saya, mau diguna-guna atau tidak, malau pasangan sudah berani selingkuh berarti dia menanggapi. Tidak usah menyalahkan guna-gunanya. Berarti bukan jodoh saya, Mbak. Biar sudah mereka bahagia dengan cara itu. Saya nggak mau ambil pusing. Mungkin ini juga cara Allah SWT menyadarkan saya. Buktinya setelah kejadian itu saya merasa lebih tenang dan akhirnya bertemu dengan My Darling lewat Sosmed," jawab Jeng Fitri dengan senyuman manisnya.
"Iya, Jeng. Saya hanya bisa mendoakan semoga yang sekarang ini akan menjadi jodoh sampai akhir hayat bagi Jeng Fitri. Aamiiin," jawabku.
"Aamiiin ... Makasih, Mbak. Doakan saya ya, Mbak. Insyaallah My Darling ini akan datang ke kota ini bulan depan untuk melamar saya," ujar Jeng Fitri.
"Alhamdulillah, saya turut senang mendengarnya. Jangan lupa kabar-kabar kalau sudah mau diresmikan," jawabku.
__ADS_1
"Iya, Mbak. Saya sekarang nggak mau lagi dinikah sirih oleh laki-laki. Habis manis sepah dibuah, sama kayak daun sirih itu, habis dibuat minang, ealah ampasnya dilepeh," ujar Jeng Fitri.
"Jeng Fitri ini ada-ada saja. Nggak kok, Jeng Fitri meskipun janda tapi cantik dan elegan sekali. Pasti banyak pria yang antri ingin menjadi suami Jeng Fitri. Ya kan?" ujarku.
"Iya, tapi kebanyakan mereka itu cuma mau menghisap madunya saja, Mbak. Jarang banget laki-laki yang benar-benar serius menikahi saya. Buktinya si brengsek itu sudah. Tapi, kalau My Darling ini kayaknya beda banget dengan yang lainnya, Mbak," jawab Jeng Fitri.
"Iya deh. Tapi tetap hati-hati ya, Jeng. Sekarang itu banyak penipuan melalui Sosmed. Sudah banyak korbannya," jawabku.
"Iya, makasih atas nasihatnya, Mbak. Mbak Sinta tenang saja. Insyaallah My Darling ini memang jodoh terakhir saya, Mbak," jawab Jeng Fitri.
"Aaamiiiin ...," jawabku.
"Mbak juga harus hati-hati. Mas Diki tuh cucok meong loh. Siapa sih yang nggak mau sama Mas Diki. Ganteng iya ... harta iya ... apalagi? Ibarat nilainya itu seratus sepuluh. Mbak harus hati-hati menjaga Mas Diki pokoknya, jangan sampai ketemu sama perempuan seperti saya jaman dulu. He he he ...," cetus Jeng Fitri.
"Jeng Fitri ini ada-ada saja ...," jawabku.
"Beneran, Mbak. Saya nggak bohong, tapi saya meskipun dulu pernah nakal. Saya mah ogah jadi perusak rumah tangga orang. Mantan-Mantan saya semuanya bujang atau duda. Nggak ada yang berstatus suami orang. Tapi, kalau Mbak Sinta mengijinkan Mas Diki menikah lagi, saya mau daftar, Mbak," ujar Jeng Fitri spontan.
"Jeng Fitri mau tonjok-tonjokan sama saya?" ujarku sambil mengepalkan tinju.
"Ogah, Mbak. Saya tahu Mbak Sinta jago silat. Saya kan diceritai sama kakak saya yang kebetulan satu sekolah dengan Mbak Sinta. Ampun, Mbak. Saya hanya bercanda, kok," jawab Jeng Fitri.
"Ayo, langsung ke butik saja, dah!" ajakku langsung diiyakan Jeng Fitri.
BERSAMBUNG
Jangan lupa membaca karyaku yang lain.
KAMPUNG HANTU
__ADS_1
HANTU SEKOLAH