MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 32


__ADS_3

"Tidaaaaaaaaak!!!!" Aku berteriak dengan kuat sehingga suaraku menggema di udara. Wajah Pak Handoko semakin lama semakin jauh, sedangkan aku merasa terbang bebas di udara dan di sekitarku hanya terlihat hamparan lagit saja. Saat itu aku benar-benar takut dan memaksa diriku bangun dari alam mimpi.


Berkali-kali aku berusaha bangun dari alam mimpi, tetapi usahaku gagal. Yang ada tubuhku semakin terperosok jauh ke dalam jurang menuju kegelapan, dan ...


"Ya Allah ...," pekikku.


Tubuhku banjir dengan keringat dan napasku terengah. Sudah kuduga semua yang aku alami barusan hanyalah mimpi belaka, meskipun rasa ketakutannya benar-benar nyata. Perlu beberapa menit bagiku untuk mengatur napas dan menenangkan diri setelah mengalami mimpi buruk tersebut. Aku menoleh di sebelahku Mas Diki masih terlelap dalam tidurnya. Aku sempat tercenung sesaat dan memikirkan apakah tadi sewaktu aku bermimpi buruk, aku menjerit seperti yang aku lakukan di dalam mimpiku. Melihat Mas Diki yang masih terlelap seperti itu, rasanya aku hanya berteriak di dalam mimpi saja.


Beberapa menit kemudian aku pun turun dari pembaringan. Aku bermaksud untuk buang air kecil di kamar mandi. Sudah menjadi kebiasaanku kalau terbangun di tengah malam, aku harus ke kamar mandi untuk menunaikan hajatku sendiri.


Aku beringsut meninggalkan suamiku yang sedang terbaring dengan mulut menganga. Dia kelihatan jelek kalau tidur, tapi aku tetap mencintainya karena dia adalah tipe suami yang sangat baik bagiku. Sengaja pintu kamar kubiarkan terbuka supaya aku tidak begitu merasa takut harus berada di area dapur sendirian. Paling tidak, kalau aku berteriak memanggil nama suamiku, suamiku bisa langsung melihat ke arah dapur melalui lubang pintu yang menganga. Sebenarnya bisa saja aku membangunkan suamiku untuk menemaniku ke kamar mandi, tapi aku kasian dengannya. Toh, Mas Diki juga tidak pernah membangunkanku kalau ia butuh apa-apa sedangkan aku sedang tertidur.


Ada rasa tidak nyaman ketika aku berada di dalam kamar mandi. Bukan bulu kuduk yang merinding, melainkan perasaan gelisah. Kalau bulu kuduk yang merinding bisa dipastikan sedang ada makhluk tak kasat mata di dekatku. Tapi kegelisahan yang aku rasakan saat ini seperti aku melupakan sesuatu, tapi aku tidak tahu apa yang terlupakan itu.


Aku sedikit lega ketika aku sudah berada di depan kamarku dan tidak terjadi apa-apa selama aku di belakang barusan. Sebelum aku masuk kembali ke dalam kamar, aku melihat ada kejanggalan di ruang tamu. Ada segaris sinar di ruang tamu yang setelah aku amati dengan saksama, segaris sinar itu berasal dari pinggiran pintu yang tidak menutup sempurna.


"Oh tidak! Aku yakin betul aku telah menutup pintu rapat-rapat dan menguncinya sebelum tidur tadi. Lantas, siapa yang telah membuka pintu itu? Atau jangan-jangan ada pencuri yang telah mencongkelnya dari luar. Ya Tuhan! Di manakah pencuri itu sekarang? Apakah ia sekarang ada di dekatku?"


Keringat dingin tiba-tiba membanjiri tubuhku. Selama beberapa detik aku mengedarkan pandangan ke sekelilingku untuk mencari keberadaan orang asing di rumah ini. Dan aku tidak melihat siapa pun di sana, suara-suara aneh pun tidak terdengar selain suara napasku sendiri. Rasa ketakutanku pun semakin memuncak dan aku segera masuk ke dalam kamar untuk membangunkan suamiku.


"Mas! Mas! Bangun!" Aku membangunkan suamiku dengan suara pelan takut didengar pencuri yang mungkin sudah berada di rumahku.


"Mas! Mas!" panggilku lagi sambil menggoncangkan tubuh suamiku dengan kuat.

__ADS_1


"Apa, Dik?" suamiku terbangun dan bersuara. Segera kututup mulutnya dengan tanganku. Mas Diki kebingungan dengan aksiku tersebut. Lalu aku berbisik ke telinganya.


"Ada yang membuka pintu depan, Mas!" ucapku.


"Apa???" Mas Diki terkejut dan segera bangkit dari tidurnya. Ia kemudian merogohkan tangannya ke bawah tempat tidur. Ia mengambil sesuatu dari tempat tersebut. Sebuah pentungan yang terbuat dari kayu. Aku baru tahu kalau Mas Diki menyimpan benda tersebut di sana. Mas Diki kemudian berjalan mengendap-endap meninggalkan tempat tidur menuju ruang tamu. Aku mengekor di belakangnya dengan perasaan khawatir. Pikiranku berkecamuk, otakku berkelana kemana-mana. Bagaimana seandainya pencuri itu tiba-tiba menyerang kami dari tempat yang tidak terduga? Atau bagaimana seandainya jumlah mereka lebih dari satu orang dan suamiku tidak mampu menghadapi mereka? Bagaimana dengan nasib kami nantinya?


KLEK!


Mas Diki menyalakan saklar lampu dan ruang tamu pun menjadi terang benderang. Mas Diki tidak buru-buru melangkah setelah lampu menyala. Mungkin ia sedang menunggu reaksi pencuri itu setelah lampu dinyalakan. Mas Diki mengedarkan pandangannya, sedangkan aku juga memeriksa area di belakang kami berdua. Tidak ada siapa-siapa.


Setelah beberapa detik, Mas Diki mulai melangkah ke depan menuju ruang tamu dengan tetap mewaspadai adanya penjahat yang bisa saja muncul secara tiba-tiba. Sampai kami berada di dekat pintu depan, kami tidak menjumpai seorang pun di sana. Dan Mas Diki pun mendorong pintu depan itu supaya tertutup rapat kembali. Kali ini kami dapat melihat dengan jelas bahwa tidak ada kerusakan pada pintu tersebut.


"Mungkin kamu lupa menguncinya karena kecapekan, Dik," ucap suamiku.


"Di mana kamu meletakkan kuncinya, Dik? Biar mas kunci lagi sekarang dan kita lanjutkan istirahat kita kembali," ucap Mas Diki.


"Eee ... tadi malam saya meletakkan kuncinya di ...," Aku berusaha mengingat-ingat kembali letak kunci tersebut.


"Nah, lupa, kan?" sergah suamiku.


"Oh ya, saya tadi malam meletakkannya di sana, Mas!" Aku menunjuk ke arah pesawat televisi di ruang tamu kami. Kami terkadang memang meletakkan kunci pintu di bawah kain penutup televisi. Aku berjalan secara perlahan menuju pesawat televisi tersebut dan menyingkap kain penutupnya. Sayangnya, tidak ada benda yang kami cari di sana.


"Loh, kok nggak ada, Mas?" Aku memekik tidak percaya.

__ADS_1


Mas Diki menatapku keheranan.


"Benar dugaan mas, kan? Kamu pasti lupa mengunci pintu ini semalam," ujar suamiku dengan penuh keyakinan.


"Tidak, Mas. Saya yakin telah menguncinya semalam dan meletakkan anak kuncinya di sini," jawabku kekeuh.


"Buktinya, kuncinya tidak ada, kan?" ujar suamiku lagi membikin aku kesal.


"Tunggu, Mas!" pekikku.


"Ada apa, Dik?"


Aku tiba-tiba mencurigai sesuatu. Aku berjalan meninggalkan pesawat televisi menuju ke arah kamar anakku, Nur. Mas Diki mengamati pergerakan langkahku dengan bertanya-tanya. Aku melanjutkan langkahku sehingga aku sudah tepat berada di depan pintu kamar anakku tersebut. Sepertinya Mas Diki sudah mulai mengetahui apa yang aku pikirkan.Aku menarik knop pintu kamar Nur dan mendorongnya secara perlahan. Betapa terkejutnya aku setelah pintu itu terbuka dengan sempurna.


"Ya Tuhan!!!"


Bersambung


Mohon maaf lama updatenya karena banyak hal.


Yang ikutan program give away KAMPUNG HANTU masih sedikit loh dengan alasan tidak memiliki akun instagram.Supaya lebih rame aku tambahin cara lain untuk ikutan give awaynya yaitu dengan memajang gambar berikut di dinding FACEBOOK kalian


__ADS_1


Gambar boleh diberi caption tulisan ajakan untuk membaca novel KAMPUNG HANTU di aplikasi Noveltoon. Setelah kalian memajang foto tersebut di akun kalian, silakan kalian kirim bukti screenshotnya melalui wa 085236533388. Nanti yang aku save adalah nama akun fb yg mengupload gamabr di atas.


__ADS_2