MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 66 : TIPU MUSLIHAT


__ADS_3

Setelah ditinggal pergi oleh Jatmiko dan ibunya,  Pak Ade sibuk mengatur strategi bagaimana caranya agar istri dan anaknya dapat meminum dengan dicampuri abu bekas bakaran bunga tujuh rupa itu. Sejak tadi Bu Nisa dan Revan terus saja berjaga di dekat Pak Ade, makanya Pak Ade tidak ada peluang untuk mencampurkan abu bunga itu ke dalam minuman dua orang itu. Kalau Pak Ade berkata jujur kepada istrinya, pasti istrinya akan menolaknya mentah-mentah. Selain karena istrinya tidak begitu percaya klenik, ia juga orangnya jijikan. Pasti ia tidak akan sanggup meminum air yang dicampur dengan abu bunga tujuh rupa itu.


“Duh, apa yang harus aku lakukan sekarang? Kalau aku tidak segera melakukannya, mereka berdua bisa saja dibunuh oleh arwah Laras. Kamu sih, Dik Nisa, nggak percaya sama beginian. Aku yang repot jadinya!” gerutu Pak Ade di dalam hatinya.


Bu Nisa yang melihat suaminya seperti kebingungan sejak tadi itu pun tak tahan untuk menanyakannya langsung kepada suaminya itu.


“Mas, kamu kenapa kok kayak orang bingung aku perhatikan sejak tadi?” tegur Bu Nisa.


Pak Ade yang sedang berpikir keras itu pun terkejut mendapat teguran telak seperti itu.


“Eh … Enggak kok, Dik. Aku tidak bingung. Aku hanya haus saja,” jawab Pak Ade spontan.


“Haus? Itu kan ada air di sebelahmu, Mas? Aku ambilin, ya?” jawab Bu Nisa sambil bangkit dari atas karpet dan berniat untuk membantu mengambilkan air untuk Pak Ade.


Revan yang sejak tadi duduk di atas karpet bermain kartu dengan ibunya pun menghentikan aktifitasnya dan menengok ke arah ibunya yang sedang berjalan ke arah ayahnya.


“Tidak, Dik. Aku nggak mau minum air putih ini. Rasanya asing di tenggrokanku,” jawab Pak Ade sambil memegang tenggorokannya dengan menggunakan tangan kanannya.


“Terus, Mas Ade mau minum apa? Kalau tidak mau sama air putih itu?” jawab Bu Nisa.


“Aku ingin meneguk minuman yang manis, Dik?” jawab Pak Ade dengan nada polos.


“Loh, Mas. Mas kan masih dalam tahap pengobatan. Jadi, belum boleh minum minuman yang manis-manis dulu. Takutnya ntar malah mengganggu kinerja obatnya. Kalau kadar gula Mas Ade naik, bagaimana? Ntar malah nggak sembuh-sembuh lukanya. Iya, kan?” protes Bu Nisa.


“Iya, Dik. Tapi, gimana, ya? Kerongkongan mas ini pait banget rasanya. Kalau harus minum air putih itu terus, mas jadi mual dan kayak mau muntah begitu. Ijinkan mas minum yang manis-manis dikit, ya?” rengek Pak Ade.


“Mas mau cepet sembuh atau mau berlama-lama di rumah sakit ini?” jawab Bu Nisa dengan tegas.


“Tega banget sih kamu, Dik, sama mas!” gerutu Pak Ade.


“Mas kok ngomong begitu? Ini aku lakukan buka karena aku tega sama Mas Ade, tapi ini demi kebaikan Mas Ade juga,” jawab Bu Nisa sambil menyungging senyuman.


“Ah, kamu ini ceramah terus sama mas. Coba, seandainya ada air putih yang rasanya agak sedikit manis. Pasti enak kali, ya?” gerutu Pak Ade sambil menunduk.


Bu Nisa menyimak perkataan suaminya dengan saksama. Kemudian perempuan itu pun menyungging senyuman seolah-olah ia sedang menemukan sebuah ide segar. Sementara itu Pak Ade diam-diam juga tersenyum karena rencananya sepertinya akan berjalan mulus.


“Mas …,” panggil Bu Nisa kemudian pada suaminya.


Pak Ade yang sudah menduga hal itu pun tersenyum senang di dalam hatinya, tapi ia pura-pura memasang wajah lesu seolah-olah ia masih kesal keinginannya tidak dituruti oleh istrinya.


“Apa, Dik?” sahut Pak Ade ogah-ogahan.


Bu Nisa melebarkan senyuman kepada suaminya sebagai tanda ia akan menyampaikan berita menyenangkan untuk suaminya.


“Mas, aku ada ide, nih!” ucap Bu Nisa dengan penuh semangat dan mata berbinar.


“Ide apaan sih, Dik? Malas aku mendengar ide Dik Nisa. Yang ada di otakku Cuma minuman manis saat ini nggak ada yang lain,” ucap Pak Ade dengan nada malas.


“Tunggu dulu, Mas! Mas tahu kan, sekarang ada minuman air mineral kemasan yang katanya rasanya agak manis? Gimana kalau Mas Ade aku kasih minuman itu?” jawab Bu Nisa dengan gembira.


“Ah, itu kan  adanya di Jakarta, Dik! Kalau di kota kecil kita ini nggak mungkin ada,” jawab Pak Ade.


“Ada, Mas! Tadi aku melihat air mineral itu ada di rak pajangan kantin,” sahut Bu Nisa dengan antusias.


“Oh ya?” pekik Pak Ade pura-pura terkejut padahal ia sudah merencanakan hal itu sebelumnya dan istrinya telah masuk perangkapnya.


“Iya, Mas! Aku belikan sekarang kamu tiga botol sekaligus! Kamu mau, kan?” sorak Bu Nisa dengan gembira.


“Mau, Dik … Aku mau banget! Makasih banyak, ya!” teriak Pak Ade pura-pura gembira.


“Oke, aku berangkat sekarang! Tapi, Mas nggak apa-apa aku tinggal sendirian di sini?” ucap Bu Nisa pada suaminya.


Pak Ade berpikir sejenak. Sebenarnya ia awalnya memang takut ditinggal sendirian di kamar tersebut, tapi setelah dijampi-jampi oleh ibunya Jatmiko, pria itu merasa lebih percaya diri.Toh, ia sudah berkeyakinan bahwa selama tiga hari ke depan, arwah Laras tidak akan bisa menyentuhnya.


“Iya. Nggak apa-apa, Dik! Kamu buruan saja ke kantin! Bawa Revan juga!” ucap Pak Ade dengan ekspresi wajah tenang.


Bu Nisa senang sekali melihat perubahan Pak Ade yang awalnya sangat penakut mendadak berubah lebih tenang dari sebelumnya.

__ADS_1


“Oke, aku ke kantin dulu ya, Mas! Ayo, revan ikut ibu!” ucap Bu Nisa sambil menggandeng Revan meninggalkan kamar VIP tersebut.


Pak Ade melepas kepergian istrinya dengan sedikit was-was namun lega karena akhirnya ia punya waktu untuk mencampuri minuman anak dan istrinya itu dengan abu sisa bakaran bunga tujuh rupa yang ia simpan.


“Iya, Dik! Hati-Hati!” sahut Pak Ade.


Setelah istri dan anaknya pergi, Pak Ade buru-buru membuka kresek putih yang ada di sebelah dipannya. Di dalam kresek putih itu ia menemukan ada satu botol minuman teh manis dan satu botol minuman anak-anak. Ia pun segera memutar tutup kedua botol tersebut dan dengan buru-buru ia pun memasukkan abu bakaran bunga tujuh warna ke masing-masing botol itu. Ia melakukannya dengan sangat terburu-buru karena khawatir istri dan anaknya tiba-tiba muncul di depannya. Setelah berhasil memasukkan abu itu ke dalam botol, ia pun mengocok-ngocok kedua botol itu agar bercampur dengan sempurna. Setelah cukup lama ia mengocok kedua botol itu, Pak Ade pun memasukkan kembali dua botol minuman itu ke dalam kresek putih seperti sedia kala. Selanjutnya ia menyembunyikan wadah bulat bekas abu bunga itu ke dalam laci meja di sebelahnya itu. Selanjutnya pria itu pun menunggu kedatangan istri dan anaknya sambil menyandarkan punggungnya ke bantal yang ia susun di belakang punggungnya itu.


“Syukurlah, aku sudah selesai memasukkan abu itu ke dalam botol minuman Nisa dan Revan. Tinggal aku mengtur strategi bagaimana supaya mereka bisa segera menenggak minuman itu supaya mereka juga aman sepertiku,” ucap Pak Ade pada dirinya sendiri.


Pak Ade terus saja menunggu kedatangan istri dan anaknya dengan rasa tidak sabar. Meskipun ia sudah cukup berani berada sendirian di dalam kamar VIP itu, tapi ketika ia benar-benar sedang berada sendirian di tempat itu, rasa takut itu juga lama-lama ia rasakan juga.


“Duh, kok lama banget sih Nisa dan Revan perginya?” pikir Pak Ade.


Grak!


Tiba-Tiba terdengar pintu dibuka oleh seseorang.


“Kamu, Dik?” teriak Pak Ade dengan cukup keras.


Tidak ada sahutan, namun terdengar derap langkah menuju ke dalam kamar. Pak Ade ragu itu adalah suara langkah istrinya karena suara derap langkah itu seperti seseorang yang memakai sepatu. Baru saja Pak Ade bimbang dengan hal itu, orang itu sudah muncul di hadapannya.


“Dokter Marni!” pekik Pak Ade sedikit terkejut.


“Iya. Ini saya, Pak Ade. Saya datang ke sini untuk memberikan injeksi terakhir untuk Pak Ade. Besok siang Pak Ade sudah bisa pulang kalau kondisi Pak Ade sudah membaik,” jawab dokter Marni sambil melangkah secara pelan namun pasti menuju Pak Ade.


“Apa benar besok saya sudah boleh pulang, Dok?” tanya Pak Ade tidak percaya.


“Iya. Ngomong-Ngomong ke mana istri Pak Ade, kok Pak Ade ditinggal sendirian?” tanya dokter Marni sambil menarik cairan berwarna kuning dari dalam botol ke dalam alat injeksi yang ia pegang.


Pak Ade memperhatikan saat dokter Marni secara perlahan menaikkan alat injeksi itu ke atas menuju botol infus yang digantung di alat khusus untuk menggantung botol infus. Entah kenapa Pak Ade tiba-tiba teringat dengan mimpinya beberapa waktu yang lalu. Ia mulai meragukan apakah perempuan di depannya itu benar-benar dokter Marni atau bukan. Karena ragu, ia pun berusaha untuk mengulur waktu setidaknya sampai istrinya datang dari kantin.


“Tunggu, Dok!” cegah Pak Ade sambil menahan tangan dokter Marni.


“Ada apa, Pak Ade?” tanya dokter Marni dengan wajah kurang senang.


“Loh, kok tumben Pak Ade sekarang akut diobati melalui selang infus? Kemarin-Kemarin Pak Ade tidak kenapa-kenapa,” protes dokter Marni pada Pak Ade.


Kembali Pak Ade harus memikirkan alasan untuk menjawab pertanyaan perempuan itu.


“Anu, Dok! Entah kenapa, obat yang terakhir Dokter MArni suntikkan itu agak kerasa sakit di tangan saya,” jawab Pak Ade berbohong.


“Ah, itu biasa saja, Pak. Nanti juga ilang-ilang sendiri sakitnya,” jawab dokter Marni sambil berusaha kembali mengangkat injeksi ke atas.


“Jangan, Dok!” cegah Pak Ade lagi.


“Loh, Pak Ade mau cepat sembuhm, nggak? Masa sama obat takut? Saya keburu memeriksa pasien lain, nih!” desak dokter Marni tak mau kalah.


Akhirnya, Pak Ade pun tak punya alasan lain untuk menolak pemberian injeksi itu ke tubuhnya melalui botol infus. Padahal saat itu Pak Ade masih sangat meragukan apakah perempuan di depannya benar-benar dokter Marni atau arwah Laras yang sedang menyamar menjadi tenaga medis itu.


Tangan dokter Marni sudah mulai naik ke atas untuk mengangkat alat injeksi berisi obat untuk kesembuhan Pak Ade. Pak Ade tidak bisa lagi menolak pemberian obat itu. Secara perlahan cairan infus bercampur dengan obat yang disuntikkan oleh perempuan itu turun dari botol infus melalui selang menuju urat nadi Pak Ade. Pada saat kritis seperti itu, tiba-tiba Bu Nisa dan Revan datang ke dalam kamar.


“Dokter Marni?” sapa Bu Nisa.


“Iya, Bu. Ini saya menyuntikkan obat injeksi terakhir kepada suami Ibu sebelum Pak Ade pulang besok siang,” jawab dokter Marni dengan tenangnya.


Pak Ade bernapas lega karena perempuan itu benar-benar adalah dokter Marni.


“Oh ya? Jadi, suami saya beneran bisa pulang besok siang?” tanya Bu Nisa.


“Iya, Bu. Asalkan sampai besok tidak ada gejala apa-apa, berarti besok siang Pak Ade sudah boleh pulang,” jawab dokter Marni serius.


“Syukurlah kalau begitu. Terima kasih banyak, Dok!” jawab Bu Nisa.


“Sama-Sama. Tapi, barusan Pak Ade sepertinya keberatan saya menyuntikkan obat ini,” ucap dokter Marni.


“Loh, kenapa kamu keberatan, Mas?” tanya Bu Nisa tidak percaya.

__ADS_1


“Bukan begitu, Dik. Mas hanya bilang kalau suntikannya itu terasa agak panas kalau lewat di nadi lenganku,” jawab Pak Ade.


“Itu mah biasa, Mas. Tapi, kan, suntikan itu untuk menyembuhkan kamu,” jawab Bu Nisa.


“Iya sih, Dik. Aku cuma bilang saja kok ke dokter Marni. Buktinya, aku sudah disuntik barusan. Iya kan, Dok?” sahut Pak Ade.


Dokter Marni tidak menyahut. Dia buru-buru merapikan peralatan medisnya dan segera pamit kepada mereka berdua untuk memeriksa pasien di kamar yang lain.


“Saya pamit dulu, Pak … Bu …,” ucap dokter Marni dengan ekspresi datar.


“Sekali lagi saya mohon maaf atas kelakuan suami saya ya, Dok!” ucap Bu Nisa.


Dokter Marni tidak menyahut dan ia langsung pergi begitu saja. Bu Nisa langsung saja mengomeli suaminya yang menurutnya bertindak kurang sopan terhadap dokter Marni.


“Mas, lain kali jangan kayak gitu sama dokter Marni, ya?” ucap Bu Nisa.


“Tadi, aku hanya khilaf, Dik. Oh ya, mana minuman pesenanku?” tanya Pak Ade mengalihkan pembicaraan.


Bu Nisa menaruh kresek warna putih yang ia bawa dari kantin tepat di sebelah kresek putih yang ia taruh di sana sebelumnya.


“Ini, Mas! Ayo buruan diminum! Katanya kamu haus,” ucap Bu Nisa sambil mengambilkan satu botol air mineral kepada suaminya itu.


Pak Ade menerima pemberian istrinya itu dengan senang hati. Namun, ia tidak langsung menenggak minuman itu. Ia justeru berkata kepada istrinya.


“Dik, kia sudah lama ya tidak jalan-jalan?” ucap Pak Ade.


Bu Nisa tertegun dengan perkataan suaminya.


“Iya, Mas. Kenapa emangnya? Mau ngajak jalan-jalan? Kamu masih sakit, kan? Tunggu kamu sehat dulu ntar kita jalan-jalan lagi,” jawab Bu Nisa.


“Dik, maafkan mas ya karena jarang sekali ngajak kamu dan Revan jalan-jalan!” ucap Pak Ade dengan eksresi wajah sedih.


“Nggak apa-apa kok, Mas. Mas kan sibuk dengan pekerjaan,” sahut Bu Nisa.


“Nggak gitu juga, Dik. Seharusnya mas itu sesibuk apapun tetap meluangan waktu untuk mengajak kalian berdua jalan-jalan seperti dulu waktu Revan masih TK,” jawab Pak Ade.


“Sudahlah, Mas. Nggak usah miki kayak gitu. Nanti, kalau Mas sudah sembuh dan ada waktu, Mas bisa mengajak kita jalan-jalan lagi,” jawab Bu Nisa.


“Iya. Mas janji, Dik. Oh ya, kamu ingat nggak waktu kita jalan-jalan ke alun-alun pertama kali mengajak Revan?” tanya Pak Ade.


“Inget, Mas. Kenapa?” tanya Bu Nisa sambil mengenang kejadia beberapa tahun yang lalu itu waktu suaminya masih belum punya banyak uang seperti sekarang.


“Mas kangen masa-masa itu, Dik. Inget, nggak? Waktu itu kita hanya mampu membelikan minuman untuk Revan. Sedangkan kita berdua hanya minum air teh yang kita bawa dari rumah?” ucap Pak Ade dengan nada sendu.


“Iya, Mas. Tapi, itu pengalaman berkesan buat aku, Mas,” sahut Bu Nisa dengan nada getir.


“Dik, aku ingin mengulang masa-masa itu. Kita minum bertiga bareng, yuk, sekarang!” ujar Pak Ade mulai melancarkan aksinya.


“Mas serius?” tanya Bu Nisa terharu.


“Iya, Dik. Mas benar-bena kangen mengenang masa itu,” jawab Pak Ade sambil mengeluarkan botol-botol minuman milik istrinya dan Revan.


“Sini, Revan. Kita minum bareng, yuk! Sambil mengenang masa-masa dulu!” ajak Pak Ade.


“Iya, Yah!” sahut Revan sambil berjalan mendekati ayahnya.


Bu Nisa benar-benar terharu dengan sikap suaminya itu. Ia benar-benar terkenang dengan kenangan manis itu. Sejujurnya kehidupan sederhana keluarganya dulu lebih indah dibanding kehidupan mewah sekarang. Meskipun uang pas-pasan, tapi Pak Ade dulu betah berada di rumah dan tidak pernah pulang larut malam.


“Ayo, Dik!”tegur Pak Ade pada istrinya yang sedang melamun.


“Eh, iya, Mas!” jawab Bu Nisa sambil membuka tutup botol minuman yang ia pegang.


Mereka bertiga pun membuka botol secara bersama-sama dengan disambut senyuman renyah Pak Ade. Senyuman yang membuat Bu Nisa dan Revan tak sadar kalau botol minumannya sudah terbuka segelnya dan juga mereka pun menenggak minuman di dalam botol dengan tanpa curiga apapun padahal rasa minuman itu berbeda dari biasanya. Curahan kasih sayang Pak Ade waktu itu benar-benar membuat Bu Nisa dan Revan seperti dihipnotis untuk meminum cairan di dalam botol tanpa ada rasa curiga sedikitpun. Pak Ade pun merasa senang setelah kedua orang yang ia cintai itu pun sudah terlindungi oleh jampi-jampi perlindungan dari ibunya Jatmiko.


Pak Ade menyandarkan tubuhnya kembali setelah minuman di botol anak dan istrinya kosong. Kali ini ia merasa jauh lebih tenang dari sebelumnya. Tinggal ia menunggu kesempatan untuk menjelaskan kepada istri dan anaknya tentang khasiat dan dampak meminum ramuan ajaib itu.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2