MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 101: PERDEBATAN


__ADS_3

Cintia dan Herman membaca semua isi tulisan pada potongan buku harian itu. Mereka benar-benar terkejut dengan tulisan yang ada di dalamnya. Di satu sisi mereka senang mendapatkan petunjuk tersebut, tetapi di satu sisi mereka juga merasa ngeri.


“Her …,” ucap Cintia dengan terbata-bata setelah membaca semua isi potongan buku harian itu.


“Iya, Cin?” sahut Herman.


“Ber-arti … perempuan yang kita temui barusan itu a-dalah NONA LARASATI???” tanya Cintia dengan terbata-bata.


Pikiran polisi perempuan itu teringat pada kejadian beberapa menit yang lalu saat ia menyentuh tangan dingin perempuan misterius itu. Jantung Cintia mendadak berdegup dengan kencang dan kepanikan mulai melanda dirinya.


“Bukankah Cintia sudah meninggal tujuh hari yang lalu? Tadi kita berdua malah ikut mendoakan Nona Larasati, kan? Tidak mungkin orang yang sudah mati bisa hidup lagi, Cin. Kamu nggak usah mengada-ada, Cin!” tegur Herman.


“Tapi, Her … Kamu baca sendiri , kan? Buku harian ini ditulis oleh Nona Larasati dan perempuan tadi meminta kepadaku untuk menyerahkan buku ini kepada budenya,” protes Cintia dengan bibir bergetar.


“Iya, aku tahu. Tapi, bukan berarti perempuan tadi adalah Nona Larasati, kan? Bisa jadi dia itu sahabat atau saudara Nona Larasati yang ingin membantu kita memecahkan kasus ini?” tutur Herman dengan kekeuh.


“Apa kamu tidak menyadari tangan perempuan tadi itu sangat dingin seperti mayat, Her?” protes Cintia.


“Iya, aku tahu.Tapi, sekali lagi aku bilang, bukan berarti perempuan tadi itu arwah? Pasti ada alasan untuk itu semuanya,” jawab Herman dengan tegas.


“Kamu itu emang nyebelin ya, Her? Ya udah, pokoknya ayo buruan kita cabut dari sini! Seandainya saja di sini ada CCTV pasti bakal ketahuan perempuan tadi itu emang beneran hantunya Nona Larasati,” gerutu Cintia.


“Ayo!” sahut Herman sambil memasang sabuk pengaman.


Namun Herman teringat dengan sesuatu.


“Tunggu!!! CCTV????” gumam Herman sambil mengedarkan pandangan matanya yang tajam ke arah depan mobilnya.


Beberapa meter di depan tempat ia memarkir mobilnya, ada sebuah warung di kiri jalan yang sekarang dalam keadaan tertutup. Mata lelaki itu memusatkan pandangan untuk mencari CCTV di warung tersebut. Dan, akhirnya Herman pun menyungging senyuman.

__ADS_1


“Ada apa, Her? Kamu kok senyum-senyum sendiri? Nggak tahu orang lagi ketakutan?” tegur Cintia sambil sesekali menoleh ke jok belakang.


Cintia merasa Parno sendiri. Takutnya perempuan tadi tiba-tiba muncul lagi di belakangnya.


“Kamu mau CCTV, kan?” tanya Herman.


“Iya. Kenapa?” tanya Cintia.


“Lihat baik-baik warung di depan itu! Sepertinya ada CCTV di warung itu. Kita bisa memeriksanya nanti,” jawab Herman.


“Dimana, Her? Aku tidak bisa melihatnya,” jawab Cintia.


“Itu, Cin. Di tiang sebelah pinggir,” jawab Herman sambil mendekatkan badannya ke badan Cintia agar Cintia bisa mengetahui arah yang ditunjuk oleh pria itu.


Cintia cukup terkejut mendapat perlakuan seperti itu. Akibatnya wajahnya dan wajah Herman hanya berjarak beberapa senti saja. Cintia pun merasa malu. Apalagi ketika ia tidak sengaja bertatapan dengan Herman dalam jarak yang lumayan dekat.


Cintia pun menarik wajahnya menjauh dari wajah Herman.


Cintia tidak menyahut. Pikirannya jauh melayang ke mana-mana. Antara senang dan malu menjadi satu. Ia memang sudah lama dekat dengan Herman, tapi ia emang masih belum mau untuk berhubungan serius dengan laki-laki. Namun, dalam kondisi seperti itu, wanita mana yang tidak berdebar jantungnya. Apalagi Herman juga bukanlah laki-laki biasa. Ia cukup tampan dan mempesona sebagai seorang laki-laki yang masih bujang.


Selama beberapa detik mereka berdua sama-sama kikuk. Herman pun langsung menstarter mobilnya kembali.


“Kita pulang saja dulu! Besok, baru kita ke sini lagi untuk memeriksa CCTV ini dan juga mencari informasi tentang budenya Nona Larasati,” ujar Herman.


Cintia tetap tidak menyahut. Ia masih malu dengan apa yang baru saja terjadi pada mereka berdua barusan.


Setelah berkendara selama beberapa menit, sampailah mereka di kantor. Kapten Yosi sudah pulang lebih dahulu. Hanya tinggal beberapa petugas yang berjaga di sana. Cintia dan Herman sudah bisa menormalkan kembali kekikukan di antara mereka.


“Her, sepertinya kita harus bertindak cepat! Pak Ade sepertinya berada dalam bahaya!” ucap Cintia pada Herman.

__ADS_1


“Kamu meyakini bahwa hantu Nona Larasati yang telah membunuh Pak Dimas? Dan hantu itu juga akan membalas dendam kepada Pak Ade?” tanya Herman.


Cintia menatap mata Herman dalam-dalam.


“Apapun analisa kamu tentang perempuan tadi, faktanya Pak Dimas memang telah tewas dan dari tulisan yang ada di dalam potongan buku harian itu, kejadian munculnya hantu di Hotel Bunga yang diceritakan oleh manajer hotel itu, sama persis dengan isi buku harian ini, kan? Hantu atau ulah manusia itu tidaklah penting, Her! Yang penting bagi kita adalah menyelamatkan nyawa manusia! Jangan sampai ada korban lagi setelah Pak Dimas! Bukankah itu tugas kita sebagai polisi?” jawab Cintia dengan nada meninggi.


“Oke! Aku sepakat dengan kamu, tapi kalau kita melaporkan hal ini kepada Kapten Yosi? Apa kita tidak akan ditertawakan? Hanya berbekal tulisan dari perempuan misterius, kemudian kita meminta tolong Kapten Yosi untuk mengerahkan anggota untuk membantu kita, itu adalah sebuah lelucon besar, Cin?” protes Herman.


“Kita tidak perlu melibatkan teman-teman yang lain, Her! Kita akan mengerjakannya berdua saja! Bagaimana? Kalau kamu tidak mau ikut, biar aku jalan sendirian!” jawab Cintia sambil menekan jempolnya ke alat finger print yang ada di dinding sebelah pintu keluar.


Herman terpaku sejenak dengan omongan Cintia. Kemudian ia merasa khawatir dengan perempuan yang ia sayangi itu. Ia pun mengejar Cintia setelah melakukan check log di alat finger print yang sama dengan Cintia. Ternyata Cintia sangat cepat berjalannya, sehingga ia ketinggalan jauh. Cintia sudah menyeberang jalan dan menghentikan kendaraan umum ketika Herman masih berlari menuju mobil pribadinya.


“Cin!” teriak Herman pada Cintia, tapi tidak digubris oleh perempuan itu.


“Dasar, perempuan keras kepala!” gerutu Herman sambil memukul-mukul setir.


Percuma saja apa yang dilakukan olehnya. Ia masih harus memutar mobilnya, sedangkan Cintia sudah berada di dalam angkutan umum menuju rumahnya untuk beristirahat. Namun Herman terkejut ketika ia menoleh ke arah Cintia yang berada di dalam angkutan umum. Ada sesosok wanita yang duduk tepat di sebelah Cintia. Postur perempuan itu sama persis dengan perempuan misterius yang mereka temui tadi di dusun Delima. Karena cemas, Herman pun bermaksud untuk memberitahukan kecurigaannya kepada Cintia melalui sambungan telepon.


“Sial! Baterai ponselku habis! Mana charger-nya lupa aku bawa,” gerutu Herman sambil melempa Ponselnya ke dashbord.


Tanpa babibu lagi, Herman pun mengejar mobil angkutan umum yang membawa Cintia ke rumahnya. Meskipun tertinggal cukup jauh, ia berusaha mengejar angkutan umum itu dan dengan kepandaiannya menyetir, ia pun dapat mengejarnya. Ia terus membuntuti angkutan umum itu sampai ke rumah Cintia. Anehnya, perempuan yang tadi ia lihat di sebelah Cintia ternyata sudah tidak ada lagi.


“Ngapain kamu ngikuti saya sampai ke rumah?” omel Cintia setelah turun dari angkutan umum.


“Ta-tadi, aku melihat perempuan itu ada di sebelahmu,” jawab Herman terbata-bata.


“Alasan! Kamu sendiri, kan, yang bilang tidak percaya begituan? Sudah! Aku mau istirahat!” jawab Cintia dengan nada emosi sambil meninggalkan Herman di depan rumahnya.


Herman pun hanya bisa melongo setelah diomeli Cintia. Ia pun hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya dan masuk kembali ke dalam mobilnya untuk pulang.

__ADS_1


Cintia yang sudah masuk ke dalam rumahnya ternyata diam-diam mengintip Herman dari balik gorden. Giliran perempuan itu yang terkejut saat melihat sesosok mirip dengan perempuan misterius tadi sedang duduk di sebelah Herman. Karena penasaran ia pun mengucek matanya sendiri dan ternyata sosok perempuan itu juga tidak ada lagi di sebelah Herman. Cintia pun buru-buru mengunci pintu dan masuk kamarnya dengan perasaan was-was.


BERSAMBUNG


__ADS_2