
Minul pulang ke rumahnya diantar oleh Pak Ratno. Sedangkan Jamila pulang diantar oleh Pak Salihun. Pak Ratno sengaja menggandeng tangan Minul untuk membakar hati Jamila, Minul pun merasa bahagia karena merasa Pak Ratno mulai tertarik padanya. Minul pun memegang erat tangan Pak Ratno sebagai perwujudan bahwa ia menyambut hangat perasaan yang dicurahkan oleh Pak Ratno. Pak Ratno memang belum mengucapkan kata sayang atau cinta kepada Minul, tapi dari gelagatnya sudah bisa dinilai bahwa sebentar lagi Pak Ratno akan mengungkapkannya dan tentu saja Minul akan dengan senang hati menyambut cinta dari Pak Ratno. Minul benar-benar merasa bahagia saat itu karena impiannya selama ini akan segera tercapai.
Jamila yang melihat Pak Ratno menggandeng tangan Minul pun langsung terbakar hatinya. Ingin sekali ia menjambak rambut Minul yang begitu menikmati saat dimanja oleh Pak Ratno, tapi ia sadar Minul seperti itu karena Pak Ratno yang juga bersikap mesra terhadapnya. Dengan penuh emosional, Jamila pun menggandeng tangan Pak Salihun dan dengan sengaja ia tunjukkan kepada Pak Ratno.
“Pak, aku tidak mau lewat jalan sana!” ucap Jamila pada Pak Salihun sambil menunjuk ke arah jalan yang sedang dilewati oleh Pak Ratno dan Minul.
“Kenapa, Mil? Lewat sana kan lebih dekat?” jawab Pak Salihun.
“Aku trauma kalau lewat situ, Pak. Soalnya di situ ada setannya! Sereeeem!!!!” jawab Jamila sengaja dikeraskan untuk menyindir Minul dan Pak Ratno.
Pak Ratno terang saja marah karena disindir sebagai ‘setan’ oleh Jamila. Sedangkan Minul malah menahan tawa karena ia ingat saat mengerjai Jamila dengan menyamar menjadi kuntilanak.
“Kamu nggak usah takut ya, Nul! Ada aku yang akan melidungi kamu nanti kalau ketemu setan!” sahut Pak Ratno dengan sengaja dikeraskan untuk melawan omongan Jamila yang menyakitinya barusan.
“Wah, terima kasih banyak, Pak Ratno. Pak Ratno ini memang laki-laki yang macho yang selalu siap melindungi wanita,” puji Minul dengan tulusnya.
“Mau lewat mana pun, aku akan siap menemanimu, Mil!” jawab Pak Salihun seolah-olah menenangkan hati Jamila yang semakin memanas.
“Pak Salihun ternyata nggak cuma cakep, tapi juga baik banget!” jawab Jamila kemudian.
Mereka pun akhirnya harus pulang dengan melalui jalur yang berbeda. Pak Ratno dan Jamila sama-sama menoleh ke arah pasangan yang lain sebelum mereka berjalan pulang seolah-olah mereka tidak rela orang yang mereka sayang sedang bergandengan tangan dengan orang lain.
“Yang lurus jalannya, Mil! Nggak usah tolah-toleh! Ntar kesandung,” ucap Pak Salihun sambil menarik lengan Jamila.
“Iya, Pak!” sahut Jamila secara lembut.
“Pak Salihun nggak usah tolah-toleh lagi! Ntar aku kalau kesandung siapa yang megangi?” tegur Minul.
“Iya, Nul. Maaf!” jawab Pak Ratno datar.
Jamila pun berjalan meninggalkan rumah Bu Dewi menuju rumahnya dengan diantar oleh Pak Salihun melalui jalan memutar yang cukup sepi dari rumah penduduk. Suasana dusun Delima yang minim penerangan di malam hari membuat Jamila merasa menyesal lewat di jalan sepi tersebut. Entah kenapa berjalan dengan diantar Pak Salihun berbeda dengan waktu semalam ia berjalan diantar oleh Pak Ratno. Saking bahagianya semalam, ia tidak memikirkan tentang cerita-cerita seram yang beredar dari mulut ke mulut warga dusun Delima. Tapi, berjalan dengan Pak Salihun, perempuan itu merasa seram saja.Terlebih lagi Jamila sudah melepas gandengan tangannya sejak di tikungan tadi. Karena ia yakin Pak Ratno sudah tidak dapat melihat kemesraannya lagi bersama Pak Salihun.
“Kamu kok kayak ketakutan begini, Mil?” tanya Pak Salihun pada Jamila karena melihat perempuan di sebelahnya sesekali menoleh ke kiri dan ke kanan.
__ADS_1
“Iya,Pak. Apa Pak Salihun tidak takut dengan rumor yang beredar selama ini?” tanya Jamila.
“Maksud kamu rumor tentang Mbak Laras?” tanya Pak Salihun.
“Sssst!!! Nggk usah keras-keras, Pak. Aku takut!” tegur Jamila.
“Kamu nggak usah takut, Mil! Sini, gandengan sama aku kalau kamu takut!” jawab Pak Salihun sambil berusaha menjulurkan tangannya kepada Jamila.
“Tidak, Pak! Nggak enak dilihat tetangga,” jawab Jamila sambil terus berjalan dengan sesekali menoleh ke belakang.
“Mil, kamu nggak usah terlalu takut sama cerita orang-orang. Orang-Orang itu hanya iri dengan Mbak Laras karena Bu Dewi itu sangat baik memperlakukan Mbak Laras,” jawab Pak Salihun berusaha menghibur Jamila.
“Sudah, Pak. Jangan sebut-sebut nama itu lagi. Aku jadi tambah ngeri,” jawab Jamila.
“Dasar kamu ini, Mil. Sudah aku temani masih saja takut!” jawab Pak Salihun sambil tertawa.
Setelah berjalan selama kurang lebih sepuluh menit, akhirnya mereka berdua sudah sampai dijalan yang benar-benar sepi dari rumah penduduk. Tiba-Tiba Pak Salihun dan Jamila melihat seseorang sedang berdiri di tengah jalan pada jarak kurang lebih sepuluh meter di depan mereka.
“Mana, Pak?” tanya Jamila sambil memusatkan penglihatannya.
“Itu di depan,” jawab Pak Salihun sambil menunjuk ke arah depan.
“Nggak ada siapa-siapa, Pak, di depan,”jawab Jamila sambil memusatkan penglihatannya.
“Itu orangnya sedang berdiri di tengah jalan,” jawab Pak Salihun degan kekeuhnya.
“Jangan ngaco ah, Pak! Jangan bikin aku tambah takut!” bantah Jamila.
“Kamu kok nggak percaya sama aku, Mil! Ayo, kita dekati orangnya. Palingan itu tetangga kita sendiri,” ucap Pak Salihun.
Jamila pun tidak bisa berbuat apa-apa saat itu. Ia mengikuti instruksi Pak Salihun saja untuk terus berjalan ke depan. Setelah mereka melangkah sekitar lima belas langkah, tiba-tiba Pak Salihun berkata seolah-olah menyapa seseorang.
“Loh, kamu, Nul? Ngapain kamu di sini? Kok cepet banget kamu jalannya?” ucap Pak Salihun seolah-olah ia sedang berbicara dengan Minul.
__ADS_1
Jamila yang tidak melihat Minul di tempat itu pun kebingungan dengan aksi yang dilakukan pria tua di sebelahnya itu.
“Pak, kamu sedang berbicara dengan siapa? Di sini nggak ada siapa-siapa,” tegur Jamila sambil merapat ke arah Pak Salihun.
“Aku bicara dengan Minul, Mil! Ini Minul di depan kita. Masa kamu nggak kelihatan?” jawab Pak Salihun tegas.
“Tidak ada siapa-siapa di sini, Pak. Minul tadi pulang sama Pak Ratno lewat jalan sana. Nggak mungkin dia tiba-tiba nongol di depan kita. Pak Salihun pasti salah lihat. Ayo, Pak kita buru-buru pergi dari tempat ini! Sepertinya ada yang tidak beres di sini. Ayo, kita pergi, Pak!” Ajak Jamila sambil menarik tangan Pak Salihun dengan kuat agar bisa segera berlari meninggalkan tempat tersebut.
“Kamu nggak usah bercanda, Mil! Jelas-Jelas ini Minul. Loh, Nul … kamu mau ke mana?” teriak Pak Ade sambil menoleh ke arah samping kiri.
“Ayo, kita secepatnya pergi meinggalkan tempat ini! Tidak ada siapa-siapa di sini, Pak!” Jamila berusaha menarik tangan Pak Salihun agar mau menurut padanya. Namun, tenaga Pak Salihun jauh lebih kuat darinya sehingga Jamila gagal menarik tangan pria tua itu.
“Nul, kamu mau ke mana?” Tunggu! Di sana nggak ada orang! Nanti kalau terjadi apa-apa sama kamu bagaimana?” teriak Pak Salihun dengan penuh kepanikan.
“Pak, ayo kita pergi dari sini!” Jamila terus menarik tangan Pak Salihun dengan sekuat tenaga dan penuh kepanikan.
“Mil! Ngapain kamu ini narik-narik tanganku? Kamu ini teman macam apa, sih? Masa kamu membiarkan Minul pergi ke tempat gelap itu sendirian? Kalau terjadi apa-apa sama dia, bagaimana?” suara Pak Salihun cukup tinggi membentak Jamila.
Jamila pun tertegun dan kaget karena dibentak oleh Pak Salihun.
“Pak …,” pekik Jamila tertahan. Ia tidak menyangka Pak Salihun bisa bersikap kasar terhadapnya.
“Sebaiknya kamu pulang saja dulu! Biar aku yang akan mengejar Minul ke sana. Aku tidak mau kalau sampai terjadi apa-apa sama Minul!” lanjut ucapan Pak Salihun dengan nada emosi.
Jamila saat itu benar-benar syok. Di satu sisi ia yakin Pak Salihun sedang diganggu makhluk halus, tapi di sisi lain ia tidak bisa menyadarkan pria tua itu sendirian. Maka Jamila pun memilih untuk segera berlari meninggalkan tempat itu untuk mencari pertolongan.
“Toloooooooooong!!!!!” teriak Jamila sambil berlari menuju pemukiman warga.
Sementara itu Pak Salihun yang sangat mencemaskan Minul pun berlari mengejar Minul menuju tempat gelap yaitu ke area kuburan dusun Delima.
“Minuuuuuuul!!!!” teriak Pak Salihun dengan perasaan cemas.
BERSAMBUNG
__ADS_1