
Pagi itu juga kami sekeluarga langsung berangkat menuju rumah Bude Yati. Toko grosir di pasar tetap beroperasi karena sudah ada Siti sebagai manajernya, sedangkan butik yang di rumah tentunya ditutup. Mas Diki juga urung berangkat ke Solo untuk bertemu pengrajin daster, dan Nur pun juga ijin untuk tidak masuk sekolah.
Untunglah aku masih sempat untuk ikut memandikan jenazah Bude Yati saat itu. Ada beberapa lebam di perut dan dada Bude Yati. Aku nggak tega melihat tubuh Bude Yati seperti itu. Aku masih tidak percaya kalau Bude Yati harus pergi secepat ini padahal tadi malam beliau masih sehat wal afiat ketika bertandang ke rumahku. Aku tidak menyangka ternyata kunjungan tadi malam adalah kunjungan terakhir Bude di rumahku.
"Apa sebelumnya Bude mengidap darah tinggi, Mbak Ning?" tanyaku pada anak perempuan Bude Yati yang dini hari tadi mengabariku melalui sambungan telepon.
"Tidak, Dik Sin. Ibu itu darahnya normal. Paling-Paling dia itu kalau pas kecapekan malah darah rendah. Tau sendiri, kan, gimana ibu itu nggak begitu suka makanan berlemak tinggi? Sukanya sayur atau buah," jawab Mbak Ning anak sulung Bude Yati.
"Kenapa bisa terkena stroke, Mbak?" tanyaku penasaran.
"Entahlah, Mbak. Saya juga kurang paham. Pas tengah malam suami saya mendengar suara ibu memanggil-manggil. Tapi suaranya tidak jelas. Suami saya langsung bangunin saya. Pas bangun, saya sudah melihat ibu wajahnya tidak simetris. Ibu merintih kesakitan di bagian dada dan perutnya. Kalau ingat itu saya nggak tega, Dik Sin. Buru-Buru saya dan suami membawa ibu ke rumah sakit, tapi ibu keburu meninggal sebelum kami sampai di rumah sakit," tutur Mbak Ning dengan air mata berderai.
"Sabar, ya, Mbak. Insyaallah bude adalah calon penghuni surga. Beliau adalah orang baik dan sangat sayang pada keluarganya," ujarku sambil mengelus pundak Mbak Ning.
"Terima kasih, Dik Sin," jawab Mbak Ning.
"Harusnya kamu nggak usah bahas-bahas hal itu lagi, Sin. Kasihan Ning malah jadi ingat-ingat terus sama ibunya," sela Bulek Darsih tiba-tiba.
"Eh, Bulek Darsih. Kapan datang?" sapa Mbak Ning.
"Maaf, saya baru datang, Ning. Jalan pas macet tadi," jawab Bulek Darsih.
"Iya, nggak apa-apa, Bulek. Yang penting acara pemakamannya berjalan dengan lancar," jawab Mbak Ning.
"Sisa hutang ibumu yang dua juta nggak usah dibayar, Ning. Saua sudah ikhlasin," ujar Bulek Darsih lagi.
"Jangan begitu, Bulek. Biar, nanti saya yang bayar, Bulek. Tapi, nggak sekarang. Nunggu selesai tujuh harinya saja," jawab Mbak Ning.
"Sudah. Lupakan saja. Anggap itu sumbangan saya untuk selamatan ibumu. Kasihan suamimu kalau harus bayar. Saya tahu penghasilan suamimu nggak seberapa, kan?" ujar Bulek lagi.
"Nggak apa-apa, Bulek. Nanti, insyaallah saya akan berusaha mencicilnya," jawab Mbak Ning.
"Kamu ini nggak usah ngeyel kenapa, sih, Ning? Sama kayak suamimu, tak suruh ikut kerja bantuin saya malah nggak mau. Kalau kamu tetap ngeyel, nanti saya nggak mau ke sini lagi," ujar bulek dengan suara ketus.
"Inggih. Terima kasih atas kebaikan Bulek Darsih," jawab Mbak Ning.
__ADS_1
"Nah ... gitu. Nggak usah ngeyelan sama orang tua," jawab Bulek Darsih.
Aku memegang paha Mbak Ning untuk memberi kode kepadanya untuk lebih sabar menghadapi Bulek Darsih yang omongannya memang agak kasar.
"Ini tak tambahi sedikit untuk selametan," ujar Bulek Darsih lagi sambil menyodorkan amplop ke tangan Mbak Ning.
"Sampun, Bulek ... Sampun ...Sudah banyak yang diberikan Bulek," ujar Mbak Ning.
"Sudah, terima saja. Banyak loh kebutuhane orang kepaten itu. Kamu nyumbang berapa, Sin? Sumbangen mbakmu iki. Gini-Gini, dia itu juga saudaramu. Jangan cuma ponakane Diki saja yang kamu openi. Pedulikan juga saudaramu sendiri," ujar bulek lagi. Kali ini omongannya diarahkan kepadaku.
Aku sebenarnya terkejut mendapat omongan kurang enak dari bulekku itu. Tapi, aku sudah hapal tabiatnya. Ia hanya berlaku manis kalau sedang ada Bude di sebelahnya. Tapi, sekarang karena Bude sudah tiada, cara ngomongnya yang kasar kembali lagi.
"Inggih, Bulek, sampun," jawabku kalem.
"Jangan sampun-sampun saja! Ngasihnya lumayan apa tidak? Jangan cuma sekadarnya saja. Saya dengar kamu yang membiayai kukiah dan sekolah keponakan suamimu itu, ya?" ujar bulek dengan nada lebih meninggi dari sebelumnya.
"Tidak begitu, Bulek. Keponakan Mas Diki itu punya warisan usaha yang kebetulan statusnya bagi hasil dengan Mas Diki. Toh, keponakan Mas Diki beraryi keponakan saya juga, kan?" jawabku kalem.
"Nggak usah ngajari bulek kalau urusan kayak gitu. Bulekmu ini sudah tua. Saya sudah lebih banyak makan asam garam daripada kamu yang anak kemarin sore. Bulek cuma ngingetin, jangan jadi orang kaya yang pelit. Terutama pada saudaramu," ujar bulek dengan nada ketus.
"Ning, adikmu mana?" tanya bulek kemudian.
"Ada di belakang, Bulek," jawab Mbak Ning.
"Panggilin sana. Saya mau minta antar ke kuburan ibumu," kata bulek.
"Iya, Bulek. Sebentar saya panggilkan," jawab Mbak Ning.
"Monggo, silakan diminum dulu airnya, Bulek dan dimakan kuenya," kata Mbak Ning lagi.
"Iya," sahut bulek.
Mbak Ning memang tidak menawariku makan atau minum karena ia memang sudah mengetahui kalau aku menghindari makanan hidangan orang mati.
"Ikbaaaaal, keluar dulu, Dik. Bulek Darsih minta anterin ke kuburan," ujar Mbak Ning.
__ADS_1
Tak lama berselang, sosok remaja berperawakan tinggi pin keluar dari kamarnya.
"Duh, gantengnya ponakan bulek," sapa Bulke Darsih begitu melihat adiknya Mbak Ning yang bernama Ikbal keluar dari kamar.
Ikbal pun langsung bersalaman dengan Bulek Darsih dan juga denganku.
"Mau kan kamu nganterin bulek ke makam ibumj?" tanya bulek.
Ikbal hanya mengangguk tak bersuara sedikitpun.
"Ayo dah, bulek buru-buru. Ada urusan dengan guru-guru di sekolahnya Bulek," tukas Bulek Darsih kemudian.
Ikbal pun langsung bangkit dan mengantar Bulek Darsih ke makam ibunya meninggalkan kami berdua untuk melanjutkan obrolan.
"Dik, jangan diambil hati, ya, omongan Bulek Darsih," ujar Mbak Ning sepeninggal adik laki-laki dan bulek.
"Enggak, Mbak. Bulek Darsih, kan emang begitu," jawabku.
"Padahal dulu bulek nggak begitu, ya?" ujar Mbak Ning.
"Hus! Masa kita mau gosipin bibi kita sendiri?" ujarku.
"Beneran, Dik. Dulu waktu sebelum sekaya sekarang. Waktu suaminya masih hidup, bulek orangnya ramah dan nggak ketus? Semenjak tajir melintir, saya sering takut kalau ketemu bulek, Dik Sin. Sekarang karena kepaten saja, nggak mungkin, kan saya menghindarinya?" ujar Mbak Ning.
"Sudah ... Sudah ... Nggak baik ngomongin orang apalagi saudara sendiri. Saya permisi pulang dulu. Sepertinya Nur dan Mas Diki sudah beres-beres alat pemakaman di depan," ucapku.
"Mau ke mana sih, Dik? Nggak menginap saja?" ujar Mbak Ning.
"Besok saja nginepnya, ya, Mbak? Kalau sudah ada waktu. Lagipula kalau menginap malam pertama, berarti harus menginap sampai malam ketujuh, kan?" ujarku.
"Iya juga, sih. Hati-Hati, ya, Mbak? Makasih atas kedatangannya," ujar Mbak Ning.
Setelah bersalaman, kami bertiga pun pulang ke rumah.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Like dan komentarnya ditunggu, ya?