
Bu Dewi sudah mempersiapkan sarapan yang istimewa untuk Pak Herman. Ia juga sudah mempersiapkan kata-kata yang baik untuk meminta maaf kepada suaminya. Sebagai pelengkap, ia pun sudah mempersiapkan air hangat untuk digunakan suaminya tersebut untuk mandi pagi. Sebenarnya Bu Dewi tidak senang membiarkan suaminya tidak menunaikan salat Subuh, tapi kali ini ia sedikit mengalah karena ia yakin nanti suaminya akan menyadari kesalahannya itu setelah mereka berdua berdamai.
Krieeeet …
Terdengar bunyi pintu kamarnya dibuka oleh suaminya dari dalam dan kemudian terdengar suara derap langkah kaki dari ruang tamu menuju ke dapur. Bu Dewi bersiap-siap untuk menyambut kedatangan suaminya.
“Air hangatnya sudah aku siapkan, Mas! Silakan kalau mau mandi dulu,” sapa Bu Dewi begitu melihat suaminya masuk ke area dapur.
Tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari mulut suaminya. Tatapan mata suaminya saat itu pun kosong dan terlihat angkuh. Bu Dewi seperti kehilangan sosok pria hangat yang selama ini selalu menghargainya sebagai seorang istri. Dengan entengnya Pak Herman masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa handuk di pundaknya.
Bu Dewi saat itu merasakan sakit di hatinya.
“Ada apa dengan Mas Herman? Tidak biasanya ia seperti ini?” tanya Bu Dewi pada hatinya sendiri.
Perempuan berhati lembut itu tak kuasa menahan air matanya. Pipinya menjadi sembap seketika. Dengan sisa-sisa energinya ia pun menata ruang makan yang sebenarnya sudah ia tata sebelumnya dengan rapi. Hanya dengan cara itu ia bisa sedikit mengobati rasa sakit di dadanya.
__ADS_1
Beberapa detik selanjutnya Bu Dewi yang sedang menggendong Panji itu pun dibuat kaget dengan suara suaminya yang seperti sedang berbincang dengan seseorang di dalam kamar mandi.
“Apa yang dilakukan Mas Herman di kamar mandi?” Bu Dewi bertanya-tanya di dalam hatinya.
Awalnya ia mengacuhkan suara itu. Namun, suara itu lama-lama membuat pikirannya terganggu. Maka perempuan itu pun memilih untuk mengintip suaminya sendiri. Sesuatu yang sangat tabu untuk dilakukan oleh seorang perempuan terhormat seperti Bu Dewi. Namun apalah daya, perilaku aneh suaminya semenjak semalam membuat perempuan itu nekad untuk melakukan hal buruk itu.
Dengan berjingkat-jingkat, Bu Dewi berjalan menuju ke pintu kamar mandi. Perasaan perempuan itu tidak enak karena harus melakukan hal yang tidak sesuai dengan hati nuraninya. Ia harus melakukannya secara hati-hati karena suaminya pasti akan marah besar kalau ia sampai ketahuan.
Bu Dewi mengatur napasnya agar lebih tenang. Kali ini ia sudah berada tepat di depan pintu kamar mandi. Perempuan itu mencari lubang di daun pintu yang bisa ia gunakan untuk mengintip ke dalam. Jantung Bu Dewi semakin tidak karuan saja mana kala ia lebih jelas mendengar suara suaminya. Ternyata suaminya tidak sedang berbicara di dalam kamar mandi, melainkan seperti sedang melakukan aktifitas yang aneh. Dengan membulatkan tekad, Bu Dewi pun mendekatkan matanya ke arah lubang kecil di dekat gagang pintu kamar mandi itu. Dan ia pun memberanikan diri menempelkan matanya ke dalam lubang kecil itu. Alhasil, ia pun dapat melihat pemandangan yang ada di dalam ruangan sempit itu
Hati Bu Dewi benar-benar hancur saat itu terlebih ketika ia dapat mendengar dengan jelas bahwa suaminya sedang menyebut nama Laras. Bu Dewi kemudian lari ke kamarnya dan menangis tersedu-sedu sambil memeluk Panji.
Pak Herman yang tidak mengetahui apa yang menyebabkan istrinya menangis hanya cuek saja. Dikiranya istrinya menangis karena sudah ia cueki sejak semalam. Bahkan pria itu juga tidak memakan sarapan yang disiapkan oleh istrinya sendiri.
“Lusa aku tidak pulang. Bosku mengirimku tugas ke luar kota,” ucap Pak Herman singkat sambil mempersiapkan diri untuk berangkat bekerja.
__ADS_1
Bu Dewi tidak menyahut. Hatinya semakin kecewa saja dengan suaminya. Perilaku suaminya jauh berbeda dengan yang selama ini ia temui. Biasanya kalau mau ke luar kota, suaminya itu akan memanjakannya dan membelikan barang-barang kesukaan Bu Dewi. Tapi, kali ini jangankan memanjakan, yang ada malah acuh tak acuh dan berperilaku yang membuat hati istrinya sakit.
Selepas suaminya pergi, Bu Dewi kemudian menghubungi sahabatnya yang bernama Sinta. Ia mengatakan kepada sahabatnya itu bahwa lusa ia akan datang ke rumahnya. Sahabatnya menyambut baik maksud dan tujuan perempuan itu. Bu Dewi pun mempersiapkan semua keperluannya untuk pergi ke rumah sahabatnya itu. Ia sudah tidak kuat menahan perasaan sakit di hatinya. Kalau sudah demikian, ia butuh seorang sahabat untuk mendengarkan curhatannya.
Malam harinya Bu Dewi tidak bisa tertidur dengan nyenyak karena ia teringat dengan kejadian aneh semalam dan tadi pagi yang dilakukan suaminya. Bu Dewi sengaja menidurkan Panji di kamar, sedangkan ia sendiri tetap duduk di ruang tamu dengan lampu ruang tamu sengaja dipadamkan. Agar keberadaan dirinya di ruang tamu tidak diketahui oleh suaminya nanti kalau datang.
Pukul dua belas malam, Bu Dewi mendengar suara motor suaminya. Bu Dewi pun buru-buru untuk bersembunyi di belakang bufet. Suaminya memarkirkan motornya di sebelah rumahnya. Namun, Pak Herman ternyata tidak langsung masuk ke dalam rumah, melainkan ia melangkah ke luar pekarangan. Bu Dewi mengamati gerak-gerik suaminya dari kejauhan. Ternyata Pak Herman berjalan menuju ke rumah Laras. Karena takut kehilangan jejak, Bu Dewi pun keluar dari rumah secara mengendap-endap sambil mengintai Pak Herman.
Ternyata dugaan Bu Dewi terbukti. Pak Herman benar-benar sedang masuk ke rumah Laras dengan menggunakan kunci yang ia bawa. Bu Dewi dengan perasaan takut bercampur penasaran pun terus mengikuti pergerakan Pak Herman. Dan, ketika ia sudah sampai di depan rumah Laras, kejadian seperti semalam dan pagi tadi kembali terjadi di hadapan Bu Dewi. Kali ini perempuan itu tidak masuk ke dalam untuk memastikannya. Bu Dewi memilih untuk pulang ke rumahnya lagi dengan perasaan hancur. Ia benar-benar kecewa dengan perbuatan suaminya. Ia tidak habis pikir dengan apa yang sedang diperbuat oleh suaminya itu.
“Apakah suamiku sudah menjadi orang yang gila? Bagaimana bisa dia melakukan perbuatan di luar nalar orang waras? Ya Tuhan … Apa yang harus aku lakukan sekarang?” Bu Dewi bertanya-tanya pada dirinya sendiri sambil meneteskan air mata di atas bantal.
Semalaman Bu Dewi tidak bisa tidur karena memikirkan perilaku aneh suaminya. Bahkan, ketika suaminya membuka pintu depan, ia masih belum tertidur saat itu. Hatinya benar-benar jengah dan lelah dengan semua yang terjadi di depan mata kepalanya sendiri. Ia tidak menyangka akan mengalami ujian hidup seperti itu.
BERSAMBUNG
__ADS_1