
Gempa dengan kekuatan lebih dari sembilan skala richter pun tak terelakkan lagi malam itu dan disusul dengan gelombang tsunami yang maha dahsyat. Setelah kedua hal itu terjadi, pantai pun porak poranda dan laut pun kembali tenang. Aku berbaring di bahu Mas Diki.
"Makasih ya, Sayang," ucap lembut Mas Diki sambil membelai rambutku.
"Mas, besok saya ikut Mas ke sekolahannya Nur atau Mas balik lagi ke rumah setelah mengantar Nur?" tanyaku.
"Enaknya gimana, Dik?" tanya balik Mas Diki.
"Kalau kita langsung berangkat bareng, ya, tentunya saya nggak sempat mencuci piring dan membersihkan rumah. Dan tentunya kita harus mampir dulu ke rumah Jeng Fitri, tadi dia WA ke saya untuk mengambil baju pesanan ibu-ibu pengajian kampung sebelah. Tapi, kalau Mas berangkat sendiri mengantar Nur, tentunya semua pekerjaan rumah akan beres dan kita nggak perlu mampir ke rumah Jeng Fitri," jawabku.
"Jeng Fitri yang bawel itu, kan?" tanya suamiku.
"Bukan bawel, Mas. Dia itu emang pinter ngomong. Dia kan reseller terbaik di butik saya, loh," jawabku.
"Mas ogah ketemu dia, Dik. Dia kalau ketemu mas selalu tanya macam-macam. Mas risih jadinya," jawab Mas Diki.
"Lah terus gimana, Mas?" tanyaku.
"Ya, biar mas antar Nur dulu ke sekolah, kemudian baru mas balik lagi ke rumah untuk menjemputmu. Oke?" ucap Mas Diki sambil tersenyum.
"Ya udah deh kalau begitu," jawabku.
"Oh ya, Dik. Besok itu kita mau ke mana, sih?" tanya Mas Diki tiba-tiba mengagetkanku.
Aku menarik napas sekali kemudian menghembuskannya secara perlahan.
"Begini, Mas. Mas ingat nggak, kejadian aneh yang pernah saya ceritain kepada Mas Diki beberapa hari yang lalu di rumah Mbak Ning tentang benda aneh di depan rumah Mbak Ning yang muncul di tengah malam dan tidak menyisakan bekas secuil pun keesokan harinya?" ucapku sambil menatap mata teduh suamiku.
__ADS_1
"Iya. Kenapa, Dik?" tanya Mas Diki penasaran.
Aku membenarkan letak tidurku sehingga bisa berhadapan dengan lelaki pemilik mata setajam elang ini.
"Begini, Mas. Setelah kejadian itu saya dan Mbak Ning, kan pergi ke rumah Pak RT untuk memeriksa CCTV yang dipasang di rumahnya. Barangkali CCTV itu merekam gerak-gerik mencurigakan seseorang pada jam-jam itu. Setelah saya periksa isi rekaman CCTV-nya meskipun belum 100 persen, tapi saya belum menemukan apa-apa. Nah, ternyata ada orang lain yang memasang CCTV yang menyorot lebih dekat ke arah halaman Mbak Ning. Orang tersebut adalah pemilik rumah di dekat rumah Mbak Ning. Namanya Pak Seno yang rumahnya selalu tertutup itu Mas karena orangnya tidak tinggal di situ lagi. Nah, besok itu Pak RT mengajak saya untuk ke rumah Pak Seno untuk meminta rekaman CCTV-nya. Makanya saya meminta ditemani Mas Diki. Mau minta ditemani Mbak Ning, Mbak Ning sedang sakit," jawabku dengan kuatur nada bicaraku takut Mas Diki marah.
"Apa tidak bisa lain hari, Dik?" Mas Diki berbalik bertanya. Ada pandangan kurang enak dari aorot mata Mas Diki saat itu.
"Nggak bisa, Mas. Memory yang digunakan di CCTV rumah Pak Seno itu terbatas. Kalau besok saja kita ke sana, kemungkinan rekaman pada hari itu sudah terhapus," jawabku.
"Tidak bisakah kita meminta bantuan Pak Seno melalui telepon?" tanya Mas Diki persis pertanyaanku waktu itu kepada Pak RT.
"Nggak bisa, Mas. Kami semua tidak ada yang mengetahui nomor pribadi Pak Seno semenjak ia pindah rumah," jawabku kalem.
"Hm ... gimana kalau kita minta alamatnya kepada Pak RT dan kita berangkat sendiri biar tidak merepotkan Pak RT?" tanya Mas Diki lagi persis dengan pertanyaanku waktu itu kepada Pak RT.
"Pak RT tidak hapal lokasinya, Mas. Katanya jalan ke rumah Pak Seno itu berbelok-belok dan sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata atau tulisan. Gimana, Mas? Mas bisa kan ikut saya besok jam delapan? Kalau Mas nggak bisa, ya sudah saya nggak jadi berangkat," jawabku.
"Asal apa Mas?" Aku bertanya dengan menatap tajam ke arah Mas Diki.
"Asal ada gempa dan tsunami susulan, Dik ...," jawab Mas Diki dengan entengnya sambil tersenyum ke arahku.
"Mas, gempa dan tsunami yang tadi sudah menghancurkan pantai, masa harus ada gempa dan tsunami susulan, Mas?" rengekku berusaha menolak
"Kan biasanya emang begitu, Dik. Setiap ada gempa dan tsunami, biasanya kan emang ada gempa dan tsunami susulannya?" jawab Mas Diki.
"Iya, Mas. Tapi-," jawabku.
__ADS_1
Belum selesai aku berbicara, Mas Diko sudah buru-buru melancarkan aksinya padaku sehingga aku pun tidak bisa berbuat banyak. Akhirnya pantai yang semula sudah porak-poranda itu pun kembali diguncang oleh gempa dan tsunami susulan yang ternyata frekuensinya di luar dugaanku. Bukannya malah menurun, juateru lebih dahsyat dari gempa dan tsunami utama. Dasar, adiknya Yu Darmi ...
*
Keesokan harinya hampir saja kami berdua bangun kesiangan. Untunglah jam alarm di Ponselku berbunyi sehingga kami tidak ketinggalan waktu untuk salat Subuh, meskipun Mas Diki tidak bisa ikutan salat berjamaah di mesjid karena ia harus mandi terlebih dahulu. Hanya Nur yang salat jamaah di mesjid. Aku bergantian mandi dan salat Subuh setelah Mas Diki selesai. Badanku rasanya sakit semuanya setelah peperangan semalam. Mas Diki tersenyum meledekku tatkala aku mengkretek-kretekkan sendi-sendi tubuhku di depannya. Aku membalasnya dengan tersenyum saja.
Setelah salat, aku langsung menuju dapur untuk menyiapkan sarapan pagi. Mas Diki biasanya mengutak-atik buku agendanya dan juga berkas-berkas laporan dari anak buahnya. Kusuguhkan secangkir kopi di depannya agar ia bisa lebih fokus memeriksa berkas-berkas itu. Kurang lebih satu jam kemudian, masakan yang aku buat pun beres. Mas Diki dan Nur pun sudah bersiap dengan pakaian dan perlengkapan mereka masing-masing.
"Ayo, sarapan dulu!" panggilku pada mereka berdua.
"Siaaaaap!!!" jawab mereka berdua dan segera mengambil kursinya masing-masing.
"Wah, sayur lodeh kesukaanku. Makasih ya, Bu, sudah masakin ini," ujar Nur.
"Iya. Ibu memang sengaja masak sayur lodeh hari ini supaya kamu banyak makannya," jawabku sambil membelai rambut anak laki-lakiku itu.
"Wah, ternyata ada sambel terasi sama tahu gorengnya juga. Ini nih kesukaan bapak," celetuk Mas Diki.
"Iya. Kebetulan tadi ada Mang Karyo bawa tahu yang ukurannya jumbo. Saya jadi penasaran, deh," balasku.
"Makasih ya, Dik. Sudah mau capek-capek masak untuk saya dan Nur," balas Mas Diki sambil tersenyum dan salah satu matanya dikedipkan.
Aku mengerti Mas Diki sedang meledekku dengan kata 'capek' itu. Ia ingin mengingatkan kejadian semalam yang membuatku capek. Kali ini aku tidak mau mengalah lagi.
"Nggak apa-apa, Mas. 'Capek' kan ibadah banyak pahalanya. Lagipula saya senang kok masak buat kalian berdua," jawabku dengan suara sengaja aku manjain dan juga dengan ekspresi wajah yang juga aku buat-buat untuk menggoda Mas Diki.
Mas Diki pun jadinya geram kepadaku. Aku tersenyum-senyum melihat aksi raut wajahnya yang terlihat geram. Ia memberi kode kepadaku bahwa ia akan membalasnya nanti. Aku pura-pura acuh tak acuh dan menikmati kemenanganku kali ini. Ya, di depan Nur, Mas Diki tentunya tidak bisa berbuat banyak. He he he ...
__ADS_1
BERSAMBUNG
No baper ya ....