
Setelah membantu mencuci perkakas dapur, Mas Diki meminta izin kepadaku untuk membantu membersihkan rumah. Tentu saja aku tidak menolaknya. Sedangkan Nur mandi pagi dan memakai seragam sekolahnya. Sekitar pukul enam pagi, Mas Diki pun selesai membersihkan rumah dan aku pun sudah selesai menyiapkan sarapan.
"Nur, jangan lupa baju-bajunya disiapkan, ya? Kita akan menginap di rumah Bude Ning selama dua hari," ujarku pada Nur yang sedang berada di dalam kamarnya.
"Sudah semua, Bu. Nur sudah menyiapkan semuanya di dalam tas," jawab anakku.
"Syukurlah. Kalau kamu sudah siap, ayo segera sarapan! Kamu diantar bapakmu, kan?" ujarku lagi.
"Bu, hari ini saya dijemput Zainal. Kemarin kami sudah janjian," jawab Nur.
"Loh, kamu sudah bilang bapakmu?" tanyaku.
"Belum, Bu. Sebentar lagi biar saya yang bilang sendiri ke bapak," jawab Nur.
"Sudah. Bapak sudah tahu, kok! Oke tidak apa-apa. Tapi, temanmu punya SIM, nggak?" sambung Mas Diki tiba-tiba muncul dari pintu depan.
"Kamu beneran nggak apa-apa Nur tidak diantar bapakmu? tanyaku cemas.
" Tidak apa-apa, Bu," jawab Nur.
"Ya sudah. Tapi, kamu sarapan dulu, ya?" ucapku.
"Baiklah, Bu!" sahut Nur.
Akhirnya Nur pun selesai berganti baju seragam dan berjalan ke meja makan. Mas Diki menyusul berjalan ke meja makan.
"Mas Diki nggak mau mandi dulu?" tanyaku.
"Mandinya nanti saja, Dik. Toh, Nur nggak jadi diantar kan? Biar nggak apa-apa, saya berangkat agak siang saja,
" Ya sudah kalau begitu. Ayo, kita sarapan bareng-bareng!" jawabku.
Kami pun secara bersama-sama menyantap makanan yang ada di meja makan.
"Banyak banget masakannya, Dik?" tanya Mas Diki.
"Iya, Mas. Sekalian buat bekal nanti perjalanan ke rumah Mbak Ning," jawabku.
"Ooooo ... Nur, kamu nanti pulang jam berapa?" tanya Mas Diki.
"Seperti biasa, Pak. Jam satu siang," jawab anakku.
"Ya sudah. Nanti Bapak jemput kamu sekitar jam segitu, ya," jawab Mas Diki.
TIN TIN ...
Tepat saat Nur menyelesaikan makannya, datang seorang remaja berpakaian seragam ke rumah kami. Sepertinya itu adalah Zaenal, teman Nur di sekolah.
__ADS_1
"Iya, Zain!" teriak Nur sambil bergegas meninggalkan meja makan. Tak lupa ia bersalaman denganku dan Mas Diki.
"Hati-Hati, Nur!" pekikku.
"Iya, Bu. Nur Pamit. Assalamualaikum ...," ucap Nur.
"Waalaikumsalam ...," jawabku dan Mas Diki.
"Selepas makan, aku bergegas mencuci piring dan perkakas dapur. Mas Diki membantuku membawakan piring-piring kotor dari meja makan menuju dapur.
" Sudah, Mas. Kamu mandi saja dulu biar kita berangkat tidak terlalu siang," ujarku.
"Nggak apa-apa berangkat agak siang. Toh, jam-jam segini palingan di rumah Mbak Ning belum banyak pekerjaan. Dan juga kalau saya mandi sekarang, berarti mandi dua kali dong," jawab Mas Diki.
"Maksudnya mandi dua kali?" Aku bertanya.
"Ya, karena saya masih ingin membuat acara sama kamu, Dik!" jawab Mas Diki sambil menggendong tubuhku.
"Ih! Apa-Apaan kamu, Mas? Turunin!" teriakku sambil berusaha lepas dari pegangan Mas Diki.
"Sudaaah! Kamu nurut saja. Mas nggak akan menyakiti kamu kok!" jawab suamiku.
"Enggak! Pokoknya turunin!" Aku terus meronta.
Percuma saja aku meronta untuk dilepaskan. Tenaga Mas Diki jauh lebih kuat daripada tenagaku. Akhirnya aku pasrah saja ketika digendong oleh Mas Diki sampai ke atas kasur di kamar pribadi kami.
"Maafin tindakan Mas semalam, ya? Mas janji tidak akan mengulanginya lagi," ujar pria di depanku ini.
Aku tidak menyahut. Aku pasrah saja dengan keadaanku saat itu. Yang jelas, sebelum Mas Diki meminta maaf, aku sudah memaafkannya.
"Apakah boleh Mas memperbaiki kesalahan Mas tadi malam?" tanya Mas Diki dengan polos.
Mendengar ucapannya, rasanya aku ingin tertawa saja. Tapi, tidak mungkin aku melakukannya saat Mas Diki berkata serius seperti ini. Diamku adalah jawabannya dan saya yakin Mas Diki sangat mengerti dengan hal itu.
Mas Diki pun melakukan apa yang ia inginkan. Mas Diki memainkan intronya dengan sangat baik. Jemarinya sangat piawai memainkan alat musik milikku. Dan musikpun mengalun dengan nada yang sangat harmoni. Saat itu aku benar-benar merasakan betapa Mas Diki memang ingin menebus kesalahannya semalam. Tak sedetik pun ia menyia-nyiakan waktu untuk membuaiku dengan lagu yang sedang ia mainkan.
Dan, saat yang aku tunggu-tunggu pun tiba. Saat di mana Mas Diki membuat kesalahan fatal semalam. Saat di mana selama bertahun-tahun menikah denganku ia tidak pernah false di titik paling kritis itu. Titik reff yang seharusnya menjadi titik ternikmat bagi setiap penikmat musik.
Dadaku berdegup kencang saat menghadapi momen-momen kami akan sampai pada reff lagu yang sedang kami mainkan. Jujur, ada rasa ketakutan menyeruak di dadaku. Ketakutan akan terulangnya kesalahan yang kedua yang bisa jadi dilakukan kembali oleh suamiku.
"Dik, bolehkah Mas masuk ke reff-nya?" pinta Mas Diki.
"Booleh, Mas!" jawabku kalem.
Laksana orang yang tidak pernah memainkan lagu, aku menunggu Mas Diki untuk memasuki Reff lagu. Aku bersiap menyambut hal itu. Dan ...
"Pooooo!!" pekik Mas Diki.
__ADS_1
Aku terkejut. Tubuh Mas Diki bergetar seperti orang yang sedang ketakutan.
"Maaaaassss!!" pekikku.
Tubuh Mas Diki masih saja bergetar. Bukan bergetar akibat menikmati lagu yang sedang dimainkan. Tetapi lebih ke arah bergetar karena melawan rasa takut. Mas Diki terus berusaha untuk melawan rasa takutnya itu. Namun, sayangnya hal itu justru membuat tembakan nada Mas Diki tidak optimal.
Aku memeluk tubuh suamiku untuk mengurangi ketakutan yang ia rasakan. Namun, sayangnya itu tidak berpengaruh banyak terhadap Mas Diki. Mas Diki tetap saja menggigil ketakutan.
Akhirnya, aku pun kehilangan gairah untuk melanjutkan lagu tersebut. Mas Diki menangis tersedu-sedu akibat gagal untuk menyanyikan lagu tersebut. Ia meminta maaf kepadaku karena hal itu.
"Dik, maafin Mas, ya?" ucap Mas Diki lirih.
"Mas. Sebenarnya apa yang terjadi? Berterusteranglah kepada saya. Siapa tahu saya bisa membantu memecahkannya," ujarku.
"Dik, maafin Mas, ya?" ucap Mas Diki.
"Mas Diki ini kenapa sebenarnya?" tanyaku sambil menahan hasrat.
"Mas ...," jawab Mas Diki terbata-bata seolah-olah menyembunyikan sesuatu.
"Katakan, Mas!" Aku mendesak Mas Diki.
"Tidak, Dik. Biar Mas coba sekali lagi, ya!" Mas Diki mengalihkan pertanyaanku.
"Percuma, Mas! Stik gitar Mas Diki sudah patah, tuh. Dan aku sudah kehilangan hasrat untuk bernyanyi lagi," jawabku kesal.
Mas Diki duduk tercenung di pinggir ranjang. Aku menatap suamiku dengan tatapan kesal sekaligus iba. Kubuang egoku dan aku pun bersandar di punggung suamiku.
"Kita masih bisa ke dokter, Mas!" ucapku lirih.
"Mas tidak sakit, Dik!" Mas Diki berkata dengan suara agak keras mengagetkanku.
"Tapi, Mas tahu sendiri, kan ...." Aku tidak melanjutkan kata-kataku karena takut menyinggung perasaannya sebagai laki-laki.
Setelah meresakan emosiku, aku pun berkata lagi.
"Kita ke klinik dokter Tedy tidak hanya berkonsultasi masalah Mas Diki, tapi juga sekalian aku mau program kehamilan. Nur sudah besar, kan, Mas?" ujarku.
"Baiklah, Dik!" jawab Mas Diki dengan mata berbinar. Memang ia sudah sangat ingin memiliki anak kedua dariku sejak lama.
BERSAMBUNG
Jangan lupa membaca novelku yang lain yang berjudul :
KAMPUNG HANTU
SEKOLAH HANTU
__ADS_1
Mohon maaf kalau pemisalan adegan terlalu menyimpang. Mohon dimaklumi.