
Tiga orang itu menunggu Bu Dewi mengatakan sesuatu. Raut kecemasan menghiasi wajah ketiganya karena khawatir Bu Dewi mengatakan bahwa suaminya belum pulang sejak pergi bersama Pak Salihun dan Pak Ratno. Apalagi Bu Dewi tiba-tiba berkata, "Pak Salihun dan Pak Ratno ini bagaimana,sih? Bukankah tadi kalian berdua keluar bersama suami saya? Kok, bisa Anda berdua ini juga bertanya tentang suami saya."
"Ja-di Pak Herman tidak ada di rumah, Bu?" tanya Pak Salihun dengan perasaan takut.
"Loh, Pak Salihun ini bagaimana sih? Tadi Anda ke kuburan bersama suami saya, kan?" B dewi mengulangi perkataannya.
"Iya benar, Bu. Tadi Pak Herman memang minta antar kepada kami berdua untuk menemani beliau ke makam Mbk Laras, tapi ...," jawab Pak Salihun terbata-bata karena merasa bersalah dengan istri Pak Herman tersebut.
"Tapi kenapa? Tapi, Bapak-Bapak tidak tahu suami saya setelah pulang dari kuburan Laras mau lanjut pergi ke mana?" balas Bu Dewi mempertegas omongannya.
"Maksud Bu Dewi, tadi Pak Herman sudah pulang dari kuburan?" tanya Pak Salihun karena ia sulit mencerna ucapan majikan perempuannya itu.
"Loh, Pak Salihun ini gimana, sih? Lah iya toh, suami saya tadi emang pulang dari kuburan, tapi suami saya langung berangkat ke tempat kerjaannya. Emangnya suami saya tidak bilang kepada Bapak-Bapak berdua kalau sehabis dari kuburan langsung mau berangkat bekerja?" ujar Bu Dewi memperjelas perkataannya.
Wajah ketiga orang yang duduk di depan Bu Dewi yang semula pias langsung ceria seketika setelah mendengar jawaban lugas dari istri Pak Herman itu.
"Alhamdulillah!!!!" teriak ketiganya merasa girang mendengar jawaban Bu Dewi.
"Loh, Bapak-Bapak ini kok kayak senang begitu mendengar ucapan saya. Ada apa sih sebenarnya?" tanya Bu Dewi dengan wajah polosnya.
"Begini, Bu Dewi. Kedatangan kami bertiga di sini sebenarnya kami ingin memastikan saja apakah Pak Herman sudah pulang dari kuburan apa belum? Karena menurut keterangan Pak Salihun dan Pak Ratno, Pak Herman hilang di kuburan. Mereka berdua kehilangan jejak Pak Herman saat mau keluar dari area pemakaman. Bahkan kami bertiga sudah mencari Pak Herman di sekeliling area pemakaman sebelum datang ke sini sekarang. Syukurlah kalau Pak Herman memang sudah pulang dan sekarang sedang berada di tempat kerja," jawab Ustad Andi.
__ADS_1
"Ya Allah ... jadi Ustad Andi dan Bapak-Bapak ini sampai mencari suami saya di kuburan? Duh, mohon maaf Ustad Andi ... Pak Salihun ... Pak Ratno ... suami saya tidak menyangka kalau akan seperti ini akhirnya. Suami saya tadi memang bilang kalau habis mengerjai Pak Salihun dan Pak Ratno pas pulang dari kuburan. Kata suami saya dia sengaja kabur diam-diam melompati pagar pembatas kuburan karena Pak Salihun dan Pak Ratno nggak mau jauh-jauh dari suami saya. Biar nanti saya bilangi suami saya itu untuk minta maaf kepada Bapak-Bapak ini," ujar Bu dewi dengan ekspresi rasa bersalah.
"Tidak usah Bu Dewi. Mendengar Pak Herman tidak kenapa-kenapa saja kami sudah senang. Kalau masalah mencari di kuburan. Saya kok yang menyuruh Bapak-Bapak ini. Awalnya sebenarnya mereka mau melapor langsung ke Bu Dewi, tapi saya cegah," jawab Ustad Andi.
"Iya, Bu Dewi. Nggak usah bilang-bilang sama Pak Herman. Kami nggak apa-apa kok. Lagipula dengan keliling kuburan sama saja dengan olahraga. Sudah lama kami berdua tidak berolahraga. Kalau dipikir-pikir kami juga bersalah karena bertingkah seperti anak kecil sehingga membuat Pak Herman tidak nyaman," ujar Pak Salihun.
"Tidak, Ustad Andi ,,, Pak Salihun ,,, bagaimanapun apa yang diperbuat suami saya itu sebuah kesalahan. Dia harus meminta maaf kepada Bapak-Bapak ini. Memang suami saya itu orangnya agak iseng. Saya saja sering diisengi sama suami saya," jawab Bu Dewi.
"Biar sudah, Bu Dewi. Anggap tidak ada apa-apa. Yang penting kita semua diberi keselamatan dan kesehatan," jawab Ustad Andi.
"Iya, Ustad. Oh ya, tadi suami saya bilang. Dia sehabis dari kuburan mampir ke rumah Pak RT untuk membicarakan isu yang berhembus di masyarakat tentang Laras," ujar Bu Dewi.
"Iya, Bu. Bagaimana hasil pertemuan Pak RT dengan Pak Herman?" tanya Ustad Andi.
"Iya, Bu Dewi. Istilahnya belum ada bukti dan saksi yang cukup untuk membuktikan kebenaran isu tersebut," sahut Ustad Andi padahal Ustad Andi sendiri pernah mengalaminya, tapi ia sengja bilang seperti itu kepada Bu Dewi karena ia takut terjerumus pada tipu daya jin yang dapat memutuskan siaturahmi dengan keluarga Pak Herman.
"Terima kasih banyak Ustad atas dukungannya. Sejak pagi tadi jarang sekali orang yang lewat di depan. Mungkin sudah banyak orang yang termakan dengan isu tersebut. Kan, eman sekali Ustad masa keluarga saya susah payah mewakafkan tanah untu jalan malah nggak dilewati," keluh Bu Dewi.
"Iya benar, Bu. Semoga isu tersebut segera berlalu dan aktifitas warga kembali seperti semula," ujar Ustad Andi.
"Aamiin ...," jawab ketiga orang yang lain.
__ADS_1
"Kami ijin pamit dulu, Bu Dewi," ujar Ustad Andi.
"Waduh, mau ke mana, Ustad? Nggak nemu apa-apa ini?" ujar Bu Dewi.
"Nggak apa-apa, Bu. Ketemu kabar baik sudah senang, kok!" jawab Ustad Andi.
"Sekali lagi kami mohon maaf, Ustad," kata Bu Dewi.
"Sama-Sama, Bu Dewi. Assalamualaikum ...," salam Ustad Andi.
"Waalaikumsalam ...," sahut Bu Dewi.
Ketiga orang tersebut pun meninggalkan rumah Bu Dewi dengan perasaan lega.
Setelah ditinggal oleh ketiga Bapak-Bapak barusan, Bu Dewi baru ingat kalau ia sedang meninggalkan Panji di dalam kamar. Ia pun buru-buru lari ke kamar untuk mengecek keadaan anak angkatnya tersebut. Takut Panji bangun dan jatuh dari atas kasur. Namun, baru saja ia akan sampai di pintu kamar, ia mendengar suara cekikikan Panji seolah sedang dikudang oleh seseorang.
Bu Dewi tiba-tiba merinding di sekujur tubuhnya ketika mendengar suara cekikikan Panji. Biasanya Panji cekikikan beitu kalau sedang digodain oleh Pak Herman. Sedangkan ia tahu saat ini Panji sedang sendirian di dalam kamar. Menyadari hal itu, Ia pun secara perlahan mengintip keadaan Panji melalui balik kusen. Dan Bu Dewi pun terkesiap begitu melihat keadaan Panji di atas kasur. Saat itu Panji menghadap ke arah samping tempat tidur padahal Bu dewi tidak melihat siapa-siapa di sana selain tirai yang terbuka karena tertiup angin sehingga menampakkan bagian luar rumah Bu dewi. Tidak ada siapa-siapa di luar jendela itu hanya deretan bunga yang tiap hari dirawat oleh Bu Dewi.
"Panji, Maafkan ibu ya, Nak! Ibu sudah ninggalin kamu sendirian. Nggak ada siapa-siapa di sana, Nak," bisik Bu Dewi sambil merengkuh Panji ke dalam pelukannya.
Angin sepoi-sepoi pun berhembus dan menggoyang-goyangkan tanaman Bu dewi yang berada di balik jendela. Bu Dewi menutup tirai itu kembali karena ia merasa tidak nyaman.
__ADS_1
BERSAMBUNG