MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 99 : RUANG PEMBATAS


__ADS_3

Pak Ade dan Bu Nisa pun masuk ke dalam rumah Jatmiko dengan perasaan lega karena keinginan mereka untuk buang air sudah terselesaikan. Mereka langsung mengecek ke dalam kamar, ternyata Revan baru saja terbangun dari tidurnya.


“Bapak dan Ibu dari mana? Pas aku bangun kalian berdua sudah nggak ada,” tanya Revan pada kedua orang tuanya.


“Kami berdua habis buang air di kamar mandi, Nak. Maaf kalau kami nggak pamitan ke kamu soalnya tadi kamu pas nyenyak tidurnya. Jadi kami tidak tega untuk membangunkanmu,” jawab Bu Nisa.


“Iya, Bu Revan capek banget. Oh ya, barusan ada orang ketuk-ketuk pintu di depan, tapi aku nggak berani keluar,” ujar Revan.


“Ketuk pintu? Siapa?” Pak Ade dan Bu Nisa saling bertanya-tanya.


“Revan juga nggak tahu, Bu. Cuma Revan beranikan mengintip dari jendela ini, tapi Revan tidak melihat siapa-siapa di depan. Malah, Revan dibuat kaget karena pada saat kepala Revan nempel ke kaca ini malah kaca ini yag diketuk dengan keras,” jawab Revan dengan polosnya.


“Hah! Sini Revan!” ucap Bu Nisa sambil menjulurkan kedua tangannya pada Revan.


Revan pun menghambur pada ibunya.


“Revan takut, Bu! Apakah hantu tante-tante yang ada di rumah sakit itu mengikut Revan ke sini?” keluh Revan sambil memeluk ibunya.


“Kamu tenang ya, Nak! Nggak sah takut. Ada bapak dan ibu yang akan selalu melindungimu,” ucap Bu Nisa sambil memeluk erat tubuh Revan.


Pak Ade yang ada di sebelah Bu Nisa pun merasa sedih karena telah melibatkan keluarganya dalam mara bahaya yang disebabkan olehnya. Pria itu pun mengelus kepala Revan. Ia tahu bahwa tidak ada gunanya lagi untuk menyesali sesuatu yang sudah terjadi. Yang penting ke depannya ia akan memastikan bahwa anak dan istrinya akan baik-baik saja.


Pak Ade pun memeluk anak dan istrinya.


“Maafkan aku ya, Dik!” ucap Pak Ade pada istrinya.

__ADS_1


Bu Nisa tidak menyahut. Ia mengelus pundak suaminya sebagai tanda bahwa ia sudah memaafkan suaminya dan siap menghadapi risiko ke depan secara bersama. Tanpa mereka sadari Jatmiko sudah hadir di tengah-tengah mereka. Jatmiko awalnya menunggu ketiga anggota keluarga itu saling menguatkan satu dengan lainnya. Namun, karena mereka lama sekali berpelukannya, ia pun berdehem.


“Ehem …,” Jatmiko memberi kode kepada mereka bertiga tentang kehadirannya.


Bu Nisa dan Pak Ade menoleh ke arah sumber suara dan mereka pun mengetahui bahwa itu adalah Jatmiko. Bu Nisa dan Pak Ade pun sama-sama mengusap air matanya.


“Kamu, Jat?” tegur Pak Ade.


“Iya, De. Makan malam sudah siap. Ayo, kita segera makan! Jangan sampai kalian sakit karena perutnya terlambat diisi!” ucap Jatmiko.


“Iya, Mas Jatmiko. Terima kasih, ya!” jawab Bu Nisa.


“Saya tunggu di belakang, ya! Kalian masuk saja ke belakang! Ruang makannya ada di sebelah dapur,” jawab Jatmiko sambil berbalik dan berjalan ke belakang meninggalkan ketiga orang itu.


“Ayo, kita segera menyusul Mas Jatmiko! Nggak enak sudah ditawari seperti itu,” ajak  Bu Nisa.


“Tapi, aku belum mencuci mukaku,” sela Revan.


Bu Nisa dan Pak Ade saling bertatapan. Pikiran mereka saat itu sama yaitu mereka ragu apakah sekarang sudah magrib apa belum? Baru saja mereka memikirkan hal itu, tiba-tiba mereka mendengar sayu-sayup suara azan Magrib dari desa sebelah. Dan itu bersamaan dengan ditutupnya pintu-pintu rumah warga desa Curah Putih, tempat mereka akan menginap malam ini.


“Revan, kita ke belakang saja dulu! Kita tanyakan kepada Om Jatmiko apakah ada tempat untuk mencuci mukamu di belakang,” jawab Bu Nisa untuk melegakan hati Revan.


“Iya, Bu,” jawab Revan dengan polosnya.


Bu Nisa menatapa Revan dengan penuh rasa kasih sayang. Revan memang belum diberitahu oleh kedua orang tuanya tentang bahaya yang sedang mengancam keluarga mereka. Bu Nisa tidak mau kejiwaan anak itu terganggu karena hal itu. Ia lebih memilih melindungi anak itu tanpa memberitahu apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


“Ayo!” ajak Pak Ade pada Bu Nisa dan istrinya.


“Ayo!” jawab Bu Nisa.


“Ayo!” jawab Revan dengan polosnya.


Baru saja mereka akan melangkah  menuju ke bagian belakang rumah Jatmiko, mereka dikejutkan dengan suara ketukan cukup keras dari jendela kamar yang terbuat dari kaca.


Dar Dar Dar!!!


Mereka menoleh secara bersamaan. Revan memeluk ibunya karena takut. Pak Ade yang menyadari bahwa ketukan itu bukanlah dilakukan oleh manusia pun buru-buru menggiring anak dan istrinya berjalan menuju ke belakang.


“Ayo! Kita jalan saja!” perintah Pak Ade yang lagngsung diikuti oleh istri dan anaknya.


Mereka bertiga pun berjalan meninggalkan ruang tengah menuju ruang belakang secara beriringan. Bu Nisa dan Revan berjalan di depan. Sedangkan Pak Ade membimbing mereka dari belakang. Untuk sampai di ruang belakang, mereka harus melewati ruangan pembatas yang merupakan akses keluar dari dua buah kamar yang kemungkinan adalah kamar orang tuas Jatmiko dan kamar Jatmiko. Di ruang pembatas itu pencahayaannya sangatlah minim karena lampunya belum dinyalakan. Bu Nisa yang baru pertama kali masuk ke rumah itu pun merasa agak ngeri berada di ruang pembatas itu. Catnya sudah usang dan ruangannya agak gelap. Bu Nisa sampai harus meraba-raba tembok untuk berjalan ke depan. Ia jadi teringat dengan kenangan waktu sekolah dulu pas masuk ke wahana rumah hantu di pasar malam. Keadaan di ruang pembatas itu mengingatkan Bu Nisa pada momen di wahana rumah hantu itu. Pada saat itu, Bu Nisa bersama ketiga temannya masuk ke wahana rumah hantu. Keempatnya semuanya perempuan. Mungkin karena iseng, hantu-hantu yang seharusnya tidak keluar dari kerangkeng itu begitu melihat keempat gadis itu malah keluar dari kerangkeng dan berusaha menakut-nakuti keempat gadis itu. Alhasil, Bu Nisa dan ketiga temannya itu pun menjerit histeris dan menarik perhatian orang-orang di pasar malam itu. Sejak saat itu Bu Nisa trauma masuk ke wahana rumah hantu apalagi  di pasar malam. Menurutnya para pemeran hantunya yang rata-rata laki-laki kadang memanfaatkan kesempatan untuk bisa menggoda gadis-gadis cantik yang masuk ke sana.


Bu Nisa dan keluarganya masih berada di ruang pembatas itu. Perasaannya makin tidak enak saja harus berada di ruang gelap itu. Di rumahnya sendiri, Bu Nisa terbiasa menggunakan lampu yang watt-nya besar untuk mengusir rasa takut. Tapi, apalah daya. Sekarang dia harus menginap di rumah teman suaminya. Ia harus bisa menerima apapun keadaan di rumah itu yang fasilitasnya jauh berbeda dengan di rumahnya sendiri.


“Mas, gelap amat, ya? Apa tidak ada lampunya?” tanya Bu Nisa.


“Mungkin belum dinyalakan oleh Jatmiko, Dik. Kan baru gelap,” jawab Pak Ade.


Bu Nisa terus meraba-raba tembok sambil berusaha mencari saklar dan juga menjaga keseimbangan tubuhnya sendiri yang juga memegangi tangan Revan. Pada saat perempuan itu hampir sampai di ujung ruangan, tiba-tiba ia mendengar langkah terseret dari balik tembok. Bu Nisa memusatkan pendengarannya sambil terus berjalan dan betapa terkejutnya perempuan itu ketika dari balik pintu muncul sesosok wajah keriput dengan tatapan mata tajam ke arahnya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Monggo yang belum ikutan game NOVEL KAMPUNG HANTU buran ikut, ya? Like dan komentar di setiap BAB novel KAMPUNG HANTU. Untuk bab terakhir wajib komenar baru, ya? Desember 2022. Kalau BAB lain g masalah


__ADS_2