MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 8 : SAKIT


__ADS_3

Dalam hati aku bertanya, siapa yang sedang merintih-rintih di dalam kamar itu. Sebenarnya mudah saja bagiku jika ingin segera mengetahui sumber suara itu. Namun, tidak sopan tentunya jika aku langsung masuk dan menengok ke kamar di sebelah ruang tamu itu. Hanya satu yang bisa aku lakukan yaitu memberitahu Clara, sebagai penghuni rumah tersebut. Anehnya, sudah aku panggil berkali-kali, dengan suara keras pula, tapi Clara tak kunjung keluar. Rasanya tidak mungkin Clara tidak mendengar teriakanku, karena aku melakukannya dengan keras.


[Krieeeeeet]


Pintu kamar di sebelah ruang tamu berderit. Alu terhenyak, karena tiba-tiba suara rintihan itu tidak terdengar lagi. Kali ini ada suara yang lebih menyita perhatianku, yaitu suara derap langkah kaki yang terdengar seperti sedang berlari. Tidak, suara langkah kaki itu tidak berasal dari dalam kamar misterius di sebelah ruang tamu, melainkan berasal dari ruang tengah. Suara derap langkah kaki itu semakin keras seolah akan menuju ke tempatku duduk. Ternyata, suara itu berhenti tepat di depan pintu kamar sebelah yang mungkin sudah terbuka.


Dari tempatku duduk, aku dapat melihat siluet tubuh seorang perempuan membayang pada tirai yang membatasi ruang tamu dengan ruang tengah. Pintu kamar misterius itu mengarah ke ruang tengah. Sosok bayangan itu tepat berdiri di depan pintu kamar misterius itu.


"Claraaaaa!!" panggilku sekali lagi.


Kutunggu selama beberapa detik. Namun, tidak juga terdengar sahutan dari dalam. Aku mulai tak tahan berada dalam kungkungan rasa penasaran. Secara perlahan aku pun berjalan ke arah tirai. Dengan segenap keberanian yang masih tersisa, aku pun menyingkap bagian tengah tirai itu, dan saat tirai itu tersingkap, sosok perempuan yang berjarak dua meter di depanku tiba-tiba berteriak dengan keras.


"STOP, Ibu!!!!"


Perempuan yang tak lain adalah Clara itu kemudian berlari ke dalam kamar misterius itu. Aku yang kebingungan dengan tingkah Clara pun secara refleks menyusul Clara masuk ke dalam kamar itu. Dan ketika aku sampai di depan pintu, aku terperanjat melihat seseorang yang sedang dipapah oleh Clara. Dia adalah nenek tua yang beberapa kali aku lihat. Namun, bahasa tubuh nenek tua itu jauh berbeda dengan yang aku ligat sebelumnya. Tatapan matanya saat ini sendu, seolah sedang meratapi rasa sakit. Tidak ada kesan menakutkan yang terlihat, justru rasa iba lah yang hinggap di dada. Tubuh nenek tua itu terlihat kurus dan mukanya agak pucat.


"Bukankah sudah Clara bilang, Ibu jangan banyak bergerak dulu? Kondisi Ibu masih belum pulih betul. Kalau kambuh lagi, bagaimana?"


"Saya mau buang air, Nak!" pekik nenek tua itu.


"Kenapa Ibu tidak memanggil saya? Kalau Ibu turun sendiri dari tempat tidur, Ibu bisa terjatuh"


"Sudah, Nak. Tadi ibu sudah memanggil namamu, tapi kamu tidak mendengar panggilan ibu,"


"Clara tidak kemana-mana, kok, Bu. Ibu pasti habis mengigau, ya?" ujar Clara tidak percaya.


"Benar kata ibumu, Clara. Tadi saya mendengar suara rintihan ibumu. Bahkan saya juga berteriak berkali-kali memanggil namamu, tapi kamu tidak mendengar teriakan saya," sergahku.

__ADS_1


Clara yang sedang berusaha memapah ibunya itu, menoleh sebentar ke arahku. Ada rona mencurigakan yang terpancar di wajahnya.


"Mungkin suara blender jus buah tadi yang menghalangi pendengaranku," jawabnya datar.


"Kamu membuat jus buah, Clar?"


"Iya, kebetulan saya memiliki beberapa semangka sebesar kepala manusia yang isinya merah seperti darah," jawab Clara yang menurutku agak ganjil untuk didengar.


Aku membantu Clara memapah ibunya menuju kamar mandi di belakang. Ada rasa yang mengganjal ketika secara tidak sengaja aku menyentuh kulit nenek tua itu. Dingin ... seperti mayat saja.


Setelah membantu Clara memapah ibunya menuju ke kamar mandi dan kembali ke kamarnya lagi, aku pun duduk berdua dengan Clara di ruang tamunya dengan dua buah gelas berisi jus semangka yang berwarna merah darah seperti yang dikatakan oleh Clara tadi. Entah kenapa, setiap mereguknya ke tenggorokanku, aku merasa agak ngeri. Mungkin terpengaruh perkataan aneh Clara tadi.


"Dia itu bukan ibu saya, Mbak" ujarnya tiba-tiba.


"Apa maksud kamu, saya tidak mengerti?" Aku bertanya dengan penuh rasa penasaran.


"Dia itu ibu mertua saya, Mbak. Lebih tepatnya lagi dia itu pelakor, yang merebut ayah dari pelukan ibu mertua saya," ujar Clara dengan tatapan mata sinis.


"Kalau dia pelakor, kenapa kalian berdua mau menjaga dan merawatnya?" tanyaku semakin penasaran.


Clara menarik napas dalam-dalam.


"Dia merebut ayah mertua ketika suamiku masih berada di dalam kandungan ibunya. Ayah mertua berubah perangainya semenjak berselingkuh. Ayah mertua yang awalnya adalah lelaki penuh tanggung jawab dan setia, tiba-tiba menjadi orang yang mudah marah dan sering main tangan terhadap ibu. Konon, ayah sudah kena lintrik waktu itu,"


Clara menarik napas dalam-dalam.


"Ibu mertua tidak tahan dengan perlakuan ayah mertua yang semakin hari semakin merajalela. Tubuh ibu mertua semakin kurus dan sakit-sakitan, padahal ia dalam kondisi hamil fua saat itu. Puncaknya adalah itu harus meregang nyawa di meja operasi ketika melahirkan suamiku, Mbak," ujar Clara dengan wajah emosi.

__ADS_1


"Innalillahi wainna ilaihi rojiuuun," pekikku.


"Suamiku selamat, tetapi ibunya meninggal dunia. Belum genap empat puluh hari, ayah mertua menikahi ibu mertua yang sekarang itu," tutur Clara.


"Lantas, suamimu dirawat siapa?" Aku bertanya dengan nada penasaran.


"Suamiku dirawat oleh ibu sambung ini semenjak balita. Ibu merawat suamiku dengan penuh kasih sayang karena ia memang tidak memiliki keturunan, baik dengan suami sebelumnya maupun dengan ayah mertuaku," ujar Clara lagi.


Aku hanya bisa melongo mendengar cerita dari Clara. Sungguh rumit kisah perjalanan hidup keluarga suaminya Clara.


"Ibu sambung ini adalah teman satu pabrik dengan ayah dan ibu mertua ketika sama-sama masih bujang. Konon, ibu sambung ini sudah lama naksir dengan ayah mertua, tapi cintanya bertepuk sebelah tangan. Ayah memutuskan menikahi almarhum ibu mertua. Mungkin ibu sambung tidak rela dengan hal itu, makanya ia memakai guna-guna untuk merebut cinta ayah mertua. Sayangnya, setelah menikah, pengaruh pelet itu lambat laun menghilang. Akhirnya, ayah menjadi seorang pemurung dan merasa menyesal telah menghianati cinta ibu mertua. Ketiak suami saya masih SMP kelas tiga, ayah mertua menghembuskan napas terakhir setelah sakit berbulan-bulan. Sejak saat itulah ibu sambung secara penuh merawat dan menyekolahkan suami saya," ujar Clara perlahan takut didengar oleh nenek tua itu.


"Apa suamimu tahu, ia dibesarkan oleh perempuan yang telah memporak-porandakan keluarganya?" tanyaku penasaran.


"Tidak! Setelah menikah lagi, mereka tinggal di kota yang berbeda dengan kota sebelumnya," jawab Clara.


"Kapan suamimu tahu?" tanyaku semakin menelisik.


"Saat kuliah semester akhir. Kebetulan waktu itu ada teman kuliah suami saya yang bersilaturahmi ke rumah suami bersama keluarganya. Saat itulah ibu teman suami saya bertatap muka dengan ibu sambung suami saya. Dan terjadi sedikit percekcokan saat itu. Suami saya sempat syok waktu itu,"


Perasaanku semakin tidak karuan mendengar cerita Clara.


Saat asik-asiknya bercerita, tiba-tiba terdengar bunyi barang jatuh.


[Krompyang!!! ]


Bersambung

__ADS_1


Salam maranti, ya, Kak?


Jangan lupa baca novel berjudul KAMPUNG HANTU.


__ADS_2