
Kami berdua terkejut mendengar suara lengkingan binatang buas tadi. Kami pun semakin mempercepat lengkap menuju bagian belakang rumah ini. Aku sempat melirik ke pintu dapur rumah Pak Handoko yang ternyata terbuka. Tidak ada siapa-siapa di sana. Hal itu menandakan bahwa Pak Handoyo dan Clara sudah tidak berada di sana kembali, melainkan mereka sedang berada di sungai belakang. Kami semakin mempercepat langkah untuk mengejar mereka berdua. Tapi, kami tetap berhati-hati agar kehadiran kami tidak diketahui oleh mereka.
Akhirnya kami sudah berada cukup dekat dengan sungai. Kami berdua bersembunyi di belakang semak-semak. Dari posisi kami bersembunyi, kami dapat melihat secara keseluruhan pemandangan yang ada di sungai tersebut. Pak Handoyo sedang berdiri bersama Clara. Di depan mereka berdua ada dua buah kotak berukuran cukup besar. Kedua kotak tersebut dihubungkan dengan sebuah papan dan susunan katrol yang terlihat rumit. Sepertinya Pak Handoyo sengaja merancangnya untuk sebuah permainan saja.
"Pa, apa isi kotak-kotak itu?" tanya Clara kepada suaminya.
"Kamu beneran mau tahu, Sayang?" Pak Handoyo balik bertanya.
"Iya, Pa," jawab Clara.
"Baiklah, saya akan membukanya sekarang," jawab Pak Handoyo sambil berjalan menyusuri salah satu papan. Clara masih berdiri di atas bantaran sungai. Pak Handoyo berjalan di atas papan-papan kayu yang berada di atas sungai.
"Aaaaaaaaaaaaargh!!!" suara yang terdengar dari baeah sungai.
"Tenang, Mbah. Sebentar lagi Mbah Bajol akan mendapatkan tumbal istimewa," teriak Pak Handoyo ke bawah sungai.
Kemudian Pak Handoyo audah berada di dekat salah satu kotak. Ia menarik sebuah pelatuk dan terbukalah kotak kayu tersebut. Di dalamnya ada anakku yang sedang terikat kedua tangannya pada sebuah batang kayu.
"Ya Tuhan!!! Nur!!!" pekikku dengan terkejut. Mas Diki membekap mulutku supaya tidak menimbulkan suara keras. Clara nampak terkejut dengan pemandangan asing di depannya.
"Tanteeeeee ... tolong akuuu ...," teriak anakku begitu mengiria hati.
"Iya, Nur. Aku akan menolongmu. Lepaskan Nur, Pa!" teriak Clara pada suaminya. Clara reflek berjalan mendekati Nur.
"Berhenti! Kalau kamu terus melangkah, maka aku akan membunuh anak itu sekarang!" teriak Pak Handoyo.
Ternyata ancaman Pak Handoyo berhasil menyiutkan nyali Clara. Perempuan muda itu menghentikan langkahnya. Pak Handoyo berjalan menuju kotak yang lain yang letaknya terpisah sekitar lima meter dengan kotak pertama. Kami menebak-nebak di dalam hati apa isi kotak kedua tersebut. Tak lama berselang, Pak Handoyo sudah membuka kotak kayu tersebut. Benar saja, di dalamnya ada Riki yang juga terikat kedua tangannya pada batang kayu.
"Rikiiiii!!!" pekik Clara.
__ADS_1
Clara berlari menuju Riki. Pak Handoyo membiarkan Clara mendekati Riki. Calara berusaha melepas ikatab tangannya pada Riki. Tapi tak lama kemudian Pak Handoyo berdiri di pinggir bantaran sungai.
"Clara, cepat ke sini! Kalau tidak, kamu dan anakmu akan jatuh ke bawah," teriaknya sambil tangannya mememgang sebuah batang pengunci.
"Tidaaaaaak!!! Jangaaaaan!!!" teriak Clara sambil berlari menuju Pak Handoyo. Tingkahnya ditertawakan oleh pria jahat itu.
"Tolong selamatkan mereka berdua, Pa!!" rengek Clara.
"Tidaaaak!!! Salah satu dari mereka akan menjadi tumbal pesugihanku. Malam inj adalah tumbal terakhir untuk Mbah Bajol. Ha ha ha ha ha ...," jawab Pak Handoyo dengan terkekeh-kekeh.
"Jangan, Paaaaa. Jangaaaaan!!!" teriak Clara.
"Kamu harus memilih salah satu dari mereka untuk dibiarkan hidup. Ha ha ha ha ha," teriak Pak Handoko.
Clara menangis sesegukan, tapi tidak dipedulikan oleh suaminya.
Pak Handoyo berjalan ke pinggir bantaran. Ia melepas kedua tuas yang menahan pergerakan kedua kotak tersebut. Pak Handoyo sudah mengatur agar kedua kotak tersebut seimbang. Setelah dilepas kedua pengunci khususnya oleh Pak Handoyo, kedua kotak itu pun berayun-ayun dengan seimbang. Pak Handoyo melempar pengunci itu ke bawah sungai.
"Ha ha ha ha ha ...," tawa Pak Handoyo terkekeh-kekeh.
Setelahnya ia pum merapal mantra.
"Clara, sekarang sudah tiba giliranmu untuk memilih, siapa yang akan kamu pertahankan untuk hidup. Apakah Riki, anakmu? Atau anak tetanggamu itu?" teriak Pak Handoyo.
Clara tersentak mendapat perkataan seperti itu. Ia tidak bisa memoercayai bahwa ia sedang dijadikan algojo oleh Pak Handoyo. Clara menangis sesenggukan.
"Cepaaaaaaat kamu pilih! Kalau tidak, kedua anak itu akan saya korbankan semuanya malam ini,” ucap Pak Handoyo lagi.
"Jangaaaan! Bagaimana caranya aku memilih?" tanya Clara kemudian.
__ADS_1
"Kamu perhatikan papan di sebelah kotak-kotak itu. Jika kamu memilih salah satu dari mereka, berdirilah di papan yang dekat dengan mereka. Otomatis kotak yang lain akan turun ke bawah dan kalian berdua akan selamat," teriak Pak Handoyo.
Clara pun berjalan menuju pinggiran bantara sungai. Kali ini ia berada tepat di tengah-tengah papan. Ia memperhatikan kedua anak kecil di depannya. Kedua anak itu sama-sama menangis dna mengharapkan pertolongannya.
"Nur, maafkan tante, ya?" pekik ara kemudian sambil berjalan menuju papan di yang letaknya bersebelahan dengan Riki.
"Tidaaaaaaaaaak!!!!" teriak anakku, Nur saat kotaknya mulai turun ke bawah.
"Maafkan tante, Nur!" teriak Clara.
"Ha ha ha ha ...," tawa Pak Handoyo semakin keras. Ruoanya ia sangat menikmati permainannya sekarang.
"Seharusnya aku menggunakab alat ini sejak dulu. Ternyata sangat menyenangkan menyerahkan tumbal dengan alat rancanganku ini. Ha ha ha ha ha," tawanya keras memekakkan telinga.
Aku tidak tinggal diam. Melihat Nur di dalam bahaya, aku pun berlari menuju papan yang letaknya di sebelah Nur. Aku datang tepat pada waktunya, sehingga kotak Nur yang bergerak ke bawah dan hampir diterkam oleh buaya, kembali bergerak ke atas setelah ad aku berdiri di papan di sebelah kotak Nur.
"Mbak Sinta!!!" pekik Clara terkejut dengan kedatanganku.
"Tidak apa-apa, Clara. Ini bukan keinginanmu," ucapku mengerti rasa bersalah Clara.
Kembali kedua kotak itu berayun-ayun dengan seimbang. Buaya putih di bawah urung mendapatkan santapan malamnya.
"Wah-Wah, ternyata kamu datang juga, Sinta!" teriak Pak Handoyo kepadaku.
"Iya, Bajingan. Saya pasti akan datang menyelamatkan anak saya," jawabku.
"Di mana suamimu yang jelek itu? Saya yakin ia juga ada di sini menemanimu?" teriak Pak Handoyo lagi.
"Apa pria bangsat! Saya ada di sini untuk menghabisimu!" teriak Mas Diki muncul dari balik semak-semak.
__ADS_1
"Bagus, kalau begitu. Malam ini aku akan membunuhmu. Dan istrimu yang cantik itu akan kujadikan maduku menemani Clara. Ha ha ha ha ha ...," teriak Pak Handoyo membuatku muak.
Bersambung