
Jantungku berdegup dengan kencang dan darahku mendesir karena merasa takut.
[Tok tok tok]
Ketukan dipintu kembali terdengar. Kali ini lebih keras. Aku melangkah dengan berat ke arah pintu depan. Dengan perjuangan yang cukup berat, akhirnya aku sudah sampai tepat di depan pintu. Aku putar anak kuncinya dengan berat hati. Kemudian, gagang pintunya kuputar. Ternyata, ada tangan lain di luar yang juga memutar gagang pintu, sehingga aku tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk memutar gagang tersebut. Dengan perasaan was-was, aku menarik gagang pintu ke dalam, sehingga pintu pun terbuka dan sosok di balik pintu dapat kulihat dengan jelas di mataku.
Sosok di balik pintu menatapku dengan tatapan yang tidak enak. Kerutan di dahinya menunjukkan kalau ia sedang marah.
"Kuncinya kok digantungin di lubangnya sih, Dik? Jadinya Mas tidak bisa memasukkan kunci serepnya dari depan?" ujar suamiku yang baru datang tersebut.
"Aduh, Mas. Maaf! Tadi habis ada tamu terus pintunya aku kunci dari dalam, kuncinya lupa kutarik dari lubangnya," jawabku merasa tidak enak kepada suamiku.
"Tumben, biasanya pintunya tidak pernah dikunci?" ujar suamiku lagi.
"Anu, Mas. Tadi-" jawabku.
"Sudahlah, Mas mau mandi. Sudah gerah sekali," potong suamiku sambil berjalan menuju ke dalam.
"Mau aku siapin air hangat, Mas?" teriakku dengan lembut.
"Em ... nggak usah deh, Dik. Yang penting ...," jawab suamiku.
"Yang penting apa, Mas?" Aku bertanya dengan penasaran.
Suamiku menoleh sambil berkata, "Mas mau hangat-hangat yang lain saja," jawabnya dengan tersenyum.
"Oke deh, habis ini saya siapin kopi hangat, ya?" jawabku pura-pura tidak mengerti maksudnya.
"Ais ...," pekik suamiku kesal seraya berlalu menuju kamar untuk berganti baju. Aku senyum-senyum sendiri melihat reaksi kekecewaannya.
Setelah melepas semua pakaiannya, mas Diki hanya membalut tubuh kekarnya dengan handuk. Saat ia menuju ke kamar mandi, aku baru saja selesai berwudlu di keran di luar kamar mandi.
"Mas, aku sholat Magrib dulu, ya?" teriakku pada mas Diki yang sedang bersiap-siap untuk mandi.
"Nggak mau nunggu jamaah sama mas saja?" teriak balik suamiku dari dalam kamar mandi.
"Enggak wes. Kelamaan kalau harus nunggu Mas. Aku keburu mau bikinin minuman 'hangat' untuk mas Diki," jawabku dengan suara sengaja dicentilin pada saat mengucap kata 'hangat'.
__ADS_1
"Awas kamu nanti, ya! Berani berbuat nakal sama aku," teriak mas Diki dari dalam kamar mandi kembali.
Kembali aku tertawa kecil mendapat reaksi lucu dark suamiku.
Aku pun menuju ke dalam kamar dan menggelar sajadah di samping tempat tidur. Selanjutnya, aku pun menunaikan kewajibanku sebagai muslim yaitu menunaikan salat tiga rekaat.
Setelah berzikir dan berdoa, aku kembali merapikan mukena dan sajadah yang telah kupakai dan meletakkannya di tempatnya semula. Selanjutnya, aku berjalan menuju dapur yang letaknya di sebelah kamar mandi. Aku masih mendengar suara kucuran air dari dalam kamar mandi. Hal itu menandakan bahwa mas Diki belum selesai acara mandinya. Benar dugaanku, tiap mandi sore mas Diki selalu lama karena biasanya ia juga buang air besar sebelum mandi.
Aku mengambil teko dari rak kemudian aku mengisi teko tersebut dengan air keran. Aku hanya mengisi sepertiganya saja. Setelahnya, aku meletakkan teko berisi air tersebut di atas kompor gas dan aku pun memutar pemantik api yang knopnya berada di ujung kiri. Setelah terdengar bunyi 'kretek-kretek', aku pun memutar knop pengatur besarnya api. Dan setelah api kompor menyala, aku menyiapkan bubuk kopi dan gula beserta muk dan gelasnya. Petang itu aku sengaja membuat kopi agak banyak soalnya aku juga ingin minum kopi bersama suamiku dan juga nanti kalau Nur sudah pulang dari lesnya, ia bisa ikut menikmati kopi juga.
[Krieeeeet]
Suara derit pintu kamar mandi yang sedang dibuka oleh mas Diki.
"Nur belum datang, Dik?" tanya mas Diki sambil melangkah keluar kamar mandi.
"Belum, Mas. Biasanya ia pulang menjelang isya soalnya ia sholat Magrib berjamaah dulu di rumah guru lesnya," jawabku.
"Kasian juga anak itu, ya? Akhir-Akhir ini banyak sekali kegiatannya," jawab suamiku sambil melangkah menuju kamar.
"Iya, tapi aku khawatir ia sampai lupa makan dan kurang istirahat," jawab mas Diki.
"Tadi anak kita bawa bekal kok, Mas," jawabku.
"Oh, ya sudah kalau begitu," jawab mas Diki.
"Eh, Mas!" pekikku sambil mengamati sekujur badan suamiku itu.
"Ada apa, Dik? Kok, kamu mantengin badan mas sampai kayak gitu? Ada yang aneh tah?" tanya suamiku tersebut dengan rasa penasaran.
"Lain kali kalau mandi jangan hanya berbalut handuk begitu, ya?" jawabku serius.
"Kenapa, Dik? Kamu tergoda, ya? Habis sholat Isya saja, ya?" ujar mas Diki dengan wajah mesumnya.
"Bukan itu maksudku, Mas. Takutnya kalau mas pas pakai handuk begitu, tiba-tiba ada tamu bagaimana?" ujarku serius.
"Emang kenapa? Ini kan masih menutup aurat? Pusar dan lutut mas, kan masih tertutup handuk?" protes mas Diki.
__ADS_1
"Emang mas Diki nggak malu kalau ada tamu ibu-ibu yang ngeliatin ***** mas Diki itu? Atau ngeliatin tonjolan aneh itu?" jawabku sambil menunjuk ke arah benda yang kumaksud.
"He he he ... Iya, Dik. Lain kali aku mau pake baju, deh!" jawab mas Diki sambil menutupi dadanya dan menundukkan badannya ke depan. Ia pun berjalan ke kamar dengan masih menutupi dada dan agak menunduk seperti itu. Aku yang melihat tingkah lucu suamiku itu pun tertawa-tawa sendiri di dapur.
Sambil menunggu air mendidih, aku mencuci piring-piring yang kotor, sedangkan mas Diki menunaikan salat Magrib di dalam kamar. Saat air sudah mendidih, aku segera mematikan kompor gas dan menuangkan air panasnya ke dalam muk yang berisi bubuk kopi dan gula, dan kemudian kuaduk sehingga bercampur dengan rata. Setelah itu, aku melanjutkan pekerjaan mencuci piring kotor sambil menunggu mas Diki keluar dari kamar. Saat mas Diki keluar dari dalam kamar, mendadak aku ingin buang air besar. Aku pun melangkah menuju kamar mandi, sempat kulirik mas Diki sedang duduk di ruang tamu sambil menyalakan televisi. Aku pun menunaikan hajatku, setelah selesai aku menuju dapur kembali untuk mengambil kopi yang akan kubawa ke ruang tamu.
"Mas, ini kopinya?" sapaku pada mas Diki.
"Taruh di sana saja. Kamu duduk di sebelah mas. Ayo nonton tivi sambil minum kopi bareng!" jawab mas Diki.
"Baiklah, Mas!" jawabku.
Aku pun duduk di sebelah mas Diki.
"Mas, kita punya tetangga baru, loh" Aku membuka obrolan.
"Iya, mas sudah tahu, kok. Barusan orangnya ke sini minta tiga buah bunga kamboja yang kita tanam, katanya untuk salah satu pelengkap acara selamatan tinggal di rumah baru," jawab suamiku.
"Ooo kok aneh ya, Clara menggunakan bunga kamboja untuk selametan tinggal di rumah baru?" tanyaku penasaran berharap mas Diki bisa menjawab rasa penasaranku.
"Clara? Kamu nggak salah memanggilnya dengan sebutan 'Clara' saja?" suamiku balik bertanya dengan tatapan aneh kepadaku.
"Iya, Mas. Nama perempuan muda itu Clara. Tadi sore aku sudah bertemu dengannya. Ia meminjam sapu dan kemocing kita.
" Tapi-" pekik mas Diki.
"Tapi apa, Mas?" Aku bertanya.
"Yang datang ke sini waktu aku makan kue di meja itu adalah seorang nenek tua dengan rambut putih beruban," jawab mas Diki dengan terbata-bata.
"Apa????" Aku terkejut mendengar jawaban mas Diki. Bulu kudukku tiba-tiba merinding. Bau bunga kamboja tiba-tiba menyeruak ke dalam indra penciumanku.
Bersambung
Klik like, komentar, dan vote, ya! Biar Author tahu seberapa banyak pembaca yang menunggu kelanjutan cerita ini.
Salam ngeri dan bahagia
__ADS_1