
"Assalamualaikum ...," sapaku melalui sambungan telepon.
"Waalaikumsalam ... Mbak, Sin, saya mau minta tolong sama sampean, pentiiiing!" seru Bu Rini dengan suara tergopoh-gopoh.
"I-iya, Bu. Ada apa, sepertinya Bu Rini sangat kebingungan?" tanyaku dengan penuh rasa penasaran.
"Begini, Mbak Sin. Tadi saya dapat info dari mbak-mbak yang membantu menjaga anak-anak di panti. Katanya ia melihat anak panti yang pernah saya ceritakan ke Mbak beberapa waktu yang lalu itu," jawab Bu Rini dengan satu tarikan napas.
"Anak panti yang diadopsi seseorang yang memiliki perilaku aneh itu?" potongku.
"Iya, Mbak, benar sekali. Salah satu mbak yang menjaga asrama panti melihat anak tersebut di dekat sekolahnya Nur itu," ujar Bu Rini lagi.
"Oh ya? Kenapa nggak dikejar saat itu atau diteriaki maling?" ujarku lagi.
"Nggak nutut, Mbak. Mbak naik sepeda ontel sedangkan anak itu masuk ke mobil. Di samping itu mbak masih ragu awalnya apa benar anak yang masuk ke mobil itu mantan anak asuh kami, tapi setelah diperhatikan dengan teliti, mbak baru yakin kalau anak itu adalah mantan anak asuh kami karena sepatu yang dipakai anak itu adalah hadiah ulang tahun mbak untuknya. Memang sebelum anak itu diadopsi, mbak pernah memberikan hadiah ulang tahun untuknya berupa sepatu dengan ukuran sengaja dibesarkan beberapa ukuran di atas ukuran sepatu anak itu," jawab Bu Rini dengan berapi-api.
"Waktu itu apakah anak itu terlihat tertekan atau bagaimana, Bu?" tanyaku lagi.
"Mbak nggak begitu jelas melihat kondisinya saat itu. Namanya juga hanya melihat sekilas, Mbak. Tapi kami sebagai pengurus panti harus tahu betul keadaannya sekarang, Mbak. Mengingat kami mendapat info dari masyarakat di sekitar rumah lama keluarga pengadopsi itu bahwa keluarga mereka sangat aneh dan mencurigakan. Kami ingin tahu kemana mereka pindah, Mbak. Kalau seandainya anak itu baik-baik saja, kami akan merasa lebih tenang. Tapi, kalmi takut malah sebaliknya, Mbak," jawab Bu Rini sambil terisak.
"Apa yang bisa saya lakukan, Mbak?" tanyaku lagi di sela-sela tangisan Bu Rini.
"Saya minta tolong sama Mbak, Mas Diki, dan Nur, barangkali melihat anak itu pas di jalan atau di manapun untuk memberi kabar kepada saya. Kalau kondisi memungkinkan sih, bisa melacak tempat tinggal mereka sekarang," jawab Bu Rini dengan nada meminta.
"Iya, Mbak. Kami siap membantu Bu Rini. Tapi-" jawabku.
__ADS_1
"Tapi, kenapa, Mbak?" tanya Bu Rini.
"Tentunya kami harus tahu ciri-ciri anak tersebut atau keluarga yang mengadopsinya. Kami takut salah orang," jawabku.
"Iya, Mbak. Insyaallah besok atau lusa saya akan mengirim foto anak tersebut kepada Mbak Sinta. Nanti akan saya cari fotonya di kantor panti soalnyafoto di laptop saya habis dirusak virus," jawab Bu Rini.
"Siap, Mbak. Saya tunggu fotonya, ya?" ujarku.
"Makasih banyak, ya, Mbak," ujar Bu Rini.
"Sama-Sama, Mbak" jawabku.
"Salam buat Mas Diki dan Nur," ujar Bu Rini.
"Oke," jawabku.
"Assalamualaikum ...,"
Dan sambungan telepon dengan Bu Rini pun putus.
Sore harinya kami pun pulang ke rumah melewati jalan yang ada gorong-gorong. Entah kenapa setiap melewati jalan tersebut, terutama di bagian lubang itu, bulu kudukku meremang dan aku seperti mendengar suara desahan dari dalam lubang tersebut.
"Tolooooooooong!!!!"
Aku sudah berusaha menutup telingaku kuat-kuat, namun hal itu percuma saja. Suara itu masih saja bisa kudengar. Seolah-olah suara minta tolong itu memang ditujukan kepadaku, bukan ke orang lain.
__ADS_1
*
Sang surya tenggelam di ufuk barat dan malam pun menjelang. Mungkin karena kecapekan, kami semua tidur sekitar jam setengah delapan malam. Seperti biasa, suasana malam di sekitar rumahku cenderung sepi dan mencekam. Memiliki tetangga baru di depan tidak menambah keramaian karena orangnya jarang keluar rumah.
Entah berapa lama aku tertidur, yang jelas aku bermimpi melihat Nur berdiri di atas sebuah bukit. Nur memandang ke arah awan yang terukir indah di langit. Tiba-Tiba di belakang Nur muncul sesosok laki-laki bertubuh tambun dengan memakai capil. Tanpa sepengetahuan Nur, laki-laki itu mendekati Nur secara perlahan. Dan kali ini laki-laki itu sudah berada tepat di belakang Nur. Nur masih tidak menyadari kehadiran laki-laki tersebut. Ia masih saja asyik menikmati barisan awan indah yang terukir indah di langit. Laki-Laki itu mengangkat kedua tangannya sejajar dengan bahu anak laki-lakiku itu. Setelah kupandangi dengan teliti, aku berkeyakinan bahwa laki-laki itu akan mencelakai Nur. Aku pun berteriak sekencang-kencangnya memanggil nama anakku itu. Sayangnya, Nur tidak mendengar teriakanku. Saat itu aku berada di antara sadar atau tidak. Aku merasa ini hanya mimpi, tapi mimpi itu terasa begitu nyata. Kembali aku pun berteriak dengan lebih kencang supaya didengar oleh anakku. Akhirnya Nur pun mendengar panggilanku. Sayangnya, ketika ia menoleh, tangan laki-laki itu sudah mendorong bahu Nur ke depan sehingga Nur pun kehilangan keseimbangan dan jatuh ke jurang.
"Tidaaaaaaaaak!!!!!"
Aku berteriak dengan kuat karena melihat anakku yang terjatuh ke jurang. Entah kenapa, aku sudah berusaha berlari untuk mendekati posis mereka berdua, tapi aku seperti berlari di tempat saja. Aku bingung, aku mensugesti diriku sendiri bahwa ini hanyalah mimpi. Akunjuga mensugesti diriku supaya bisa bangun dari tidurku, tapi aku tidak bangun-bangun. Malahan kali ini laki-laki yang memakai capil itu berbalik ke arahku. Ia mendekatu secara perlahan. Aku menahan napas karena merasa aku akan berhadapan dengan orang yang mendorong anakku ke dalam jurang.
"Sini kamu! Kenapa kamu mendorong anakku? Aku akan mendorongmu juga ke dalam jurang!" teriakku dengan emosi dan berani.
"Kenapa aku bisa seberani ini? Apa karena ini hanya mimpi, ya? Tapi, kenapa aku tidak bisa bangun dari mimpi ini?"
Laki-Laki itu semakin mendekat ke arahku. Nyaliku tidak ciut sama sekali. Justeru di dalam dadaku muncul rasa ingin balas dendam terhadapnya karena telah mendorong anakku. Aku sebenarnya juga ingin berjalan mendekati orang tersebut, tapi tidak bisa. Aku hanya bisa berjalan di tempat saja. Hal itu semakin membuatku yakin bahwa ini semua hanyalah mimpi.
Nyaliku yang semula bangkit, tiba-tiba menciut tatkala pria dengan topi berbentuk capil itu hanya berjarak beberapa meter di depanku. Kali ini aku dapat melihat dengan jelas sosok yang sudah mendorong anakku ke jurang. Ternyata pria bercapil itu adalah pria yang beberapa kali muncul secara misterius di hadapanku.
"PAK HANDOKO!!!!" pekikku dengan lemah tatkala pria itu sudah tepat berdiri di hadapanku. Sementara itu, tangannya sudah diangkat setinggi bahuku. Apa yang ia lakukan persis dengan yang ia lakukan tadi terhadap Nur. Tangannya yang kuat berusaha mendorong tubuhku ke jurang. Aku meronta dan membela diri, sayangnya dorongannya terlalu kuat bagiku.
BERSAMBUNG
Yang belum order novel cetak KAMPUNG HANTU, kutunggu orderanmu, ya. Ada bonus-bonus spesial loh!
__ADS_1
Yang suka give away, tunggu kehadirannya, ya? Silakan follow akunku terlebih dahulu dan masuk ke group chat JUNAN. Terima kasih.